Wanita dengan kulit gelap duduk manis di pojok sofa yang cozy dengan sejuk AC dan sweet jazz yang terdengar mengalun. Di hadapan Wanita terhidang beberapa potong kue Opera lezat yang layer-layer lapisnya dipastikan dapat membuat jarum timbangan bergeser ke kanan. Tidak, tidak lebay koq. Minimal bergeser 1 bar ke kanan deh itu timbangan! Sorot mata... Continue Reading →
Sederhana Saja
Cintaku sederhana, Sesederhana kecup pagi selepas dibuai mimpi Tanda aku membutuhkanmu. . Cintaku sederhana Sesederhana bekal siang yang kusiapkan untukmu. Tentu, telah kumantrai sayang juga ribuan jampi agar kamu sehat selalu. . Cintaku sederhana Sesederhana manis teh yang kusiapkan Menghangatkan sel-sel lelah tubuhmu selepas kerja . Cintaku sederhana Sesederhana rindu yang cepat menyembul, padahal baru... Continue Reading →
Gadis Muda dengan Segudang Tanya
“Katakan padaku apakah cinta itu.” Seorang gadis muda bertanya dengan binar mata yang lebih terang daripada bintang. “Usiaku sudah dua puluh, sepertinya jiwaku siap berkenalan dengan cinta,’ katanya menambahkan. Kupandangi wajah oval dengan rona sawo matang khas kulit suku Jawa itu. Sorot matanya penuh rasa ingin tahu, sedikit bimbang namun juga sarat gejolak ngotot untuk... Continue Reading →
Cinta Gak Sih?!
Cinta… Cinta… Cinta… DUH! 3 kata itu sangat powerful, hingga bisa bikin orang sulit bedain mana kotoran kuda dan mana coklat import dari Perancis atau yang ekstrim malah mati bunuh diri karena cinta :mrgreen:. Cinta tuh complicated, cinta tuh soal rasa yang bisa beda cara mengekspresikannya. Di otak saya, kalo cinta tuh harus rajin... Continue Reading →
Cinta Dalam Sepotong Sushi
Minggu lalu kamu complain. Sederhana saja, mempertanyakan isi postingan-postingan di blog ini. Mengapa begitu banyak cerita tentang orang lain disitu, tentang teman yang dimabuk cinta, yang terselingkuhi, berselingkuh, atau apapun juga. Begitu tanyamu. Namun minim sekali cerita tentang kita, terlebih tentang kamu. Aku terhenyak, dahiku sedikit berkerut. Mencoba mengingat, benarkah yang kamu katakan. Malam itu,... Continue Reading →
Sanctuary
Rumahku adalah kumpulan cinta Siapapun boleh singgah disana . Wangi terbuai, mayang terurai Diberanda, sayang pun bersemai Berselempang asa, juga kadar percaya Meresapi arti pulang sesungguhnya . Perkakas dapur, ragam furnitur Diruang jiwa silahkan terpekur Semua selubung, luruh terjatuh Disini duduk diam bersimpuh Nikmati imaji, dihantarkan janji Reguk madu, puaskan rindu Menyegarkan kosong dalam... Continue Reading →
Sekayuh Untukmu
“Kamu sekolah yang tinggi nak,” begitu kata bapak padaku setiap hari, setiap pagi, setiap Ia selesai sarapan. Dan setelah berkata begitu, selalu Ia tersenyum sembari menepuk pundakku kemudian menghampiri sepeda tuanya. Meninggalkan rumah hingga sore menyapa. Setelah itu aku sendiri mesti bergegas ke sekolah, jika tidak, tentu aku akan mendapat tatapan mata tajam yang sungguh... Continue Reading →


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.