Sanctuary


  Rumahku adalah kumpulan cinta Siapapun boleh singgah disana . Wangi terbuai, mayang terurai Diberanda, sayang pun bersemai Berselempang asa, juga kadar percaya Meresapi arti pulang sesungguhnya . Perkakas dapur, ragam furnitur Diruang jiwa silahkan terpekur Semua selubung, luruh terjatuh Disini duduk diam bersimpuh Nikmati imaji, dihantarkan janji Reguk madu, puaskan rindu Menyegarkan kosong dalam... Continue Reading →

Sekayuh Untukmu


“Kamu sekolah yang tinggi nak,” begitu kata bapak padaku setiap hari, setiap pagi, setiap Ia selesai sarapan. Dan setelah berkata begitu, selalu Ia tersenyum sembari menepuk pundakku kemudian menghampiri sepeda tuanya. Meninggalkan rumah hingga sore menyapa. Setelah itu aku sendiri mesti bergegas ke sekolah, jika tidak, tentu aku akan mendapat tatapan mata tajam yang sungguh... Continue Reading →

Bermain dengan Waktu


Suara – suara sumbang itu terus berdengung. Persis seperti dengungan nyamuk di telinga menjelang tidur. Menganggu dan menyebalkan! Mulai dari mengingatkan untuk makan, mandi, membaca hingga nonton TV. Mulai dari nada lembut, kesal, marah, hingga akhirnya datar tak bernada. Kenapa semua orang tiba-tiba begitu memperhatikanku? Begitu peduli? Begitu repot? Apa karena sudah lima hari aku... Continue Reading →

Cerita Lalu


Masih ingatkah kau padaku? Pada seragam putih biru yang kita kenakan dulu?  Kita diam saling melempar senyum, tak ada rasa. Namun diam – diam, ku akui kau telah mulai mencuri perhatian. Masih ingatkah kau padaku? Pada debat panjang dalam bahasa asing yang tidak dimengerti murid lain? Tak peduli bagaimana semua mata memandang, kita hanyut dalam... Continue Reading →

I B U


Ibu mengapa engkau membenciku? Mengapa kata pedas dan makian tajam selalu terlontar atas tindakku? Mengapa sebuah piring lebih mendapat kasihmu dibandingkan aku? Maafkan aku ibu, licin sekali piring itu . Ibu mengapa matamu nanar tiap kali aku ingin mendekatimu? Mengapa tanganmu terjulur selalu untuk menjewer bukan memelukku? Hingga ku percaya keberadaanku adalah bayang semu .... Continue Reading →

malam PERTAMA


Bukan untuk anda yang dibawah umur. Perhelatan yang telah dirancang masak - masak itu berlangsung lancar. Dua jam resepsi yang persiapannya sendiri memerlukan waktu satu tahun, belum lagi puluhan kali rapat panitia, pencarian tema, seragam, pemilihan gedung, catering dan masih banyak lagi tetek bengek lainnya. Tidak terhitung pula cekcok keluarga karena beda selera (heran kan,... Continue Reading →

suami PERTAMA


Sayup kudengar denting piano dialunkan, tanda untukku memasuki gedung gereja. Melodi indah mengiringi langkah kaki ini. Sampai di pintu gereja, dapat kulihat semua mata memandangku, semua mengarahkan perhatiannya kepadaku. Binar bahagia terlihat jelas di mata semua kerabat dan jemaat yang ada. Akhirnya mereka dapat bernafas lega; berkurang satu jumlah perawan tua di silsilah keluarga !... Continue Reading →

selalu ada yang PERTAMA


Postingan ini sepertinya akan terasa lebih enak dibaca sembari mendengarkan alunan merdu duet James Ingram dan Anita Baker -  When You Love Someone. “Dingin ya,” gumamku pelan. “Namanya juga musim hujan,” jawabmu seraya merapatkan tubuh besarmu kepadaku. Belum pernah ada lelaki berada sedekat ini denganku. Karena engkau adalah pacar pertamaku. Dada ini berdegup kencang, saking... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: