Ayam Goreng buatan Ibu

“Sayang, kenapa sich kamu selalu repot – repot memasak buatku?” tanya suamiku lembut. Kubalikkan punggungku hingga dapat kutatap wajahnya lekat-lekat. Senyum kecil tersungging dibibirku dan kutorehkan adonan tepung ke hidung besarnya.

“Sebab aku gak mau kamu sakit karena jajan sembarangan, ntar gak bisa cari duit untuk beli kalung berlianku !” jawabku terkekeh.

Ia tergelak dan berkata, “Gold digger !”

“No honey I ain’t a gold digger, I am a diamond hunter !” koreksiku cepat sambil memeletkan lidahku. Secepat ia merengkuh pinggangku dan semakin tergelak. Oh betapa aku suka dipeluk seperti ini ! Sepertinya dunia ini memang cuma milik kami berdua dan yang lain ngontrak di planet pluto !

“Serius nih, aku kasian lihat kamu mesti bangun pagi-pagi ngalahin ayam jago buat menyiapkan bekal makan siangku, aku bisa beli di kantin.” Alisku sedikit naik mendengar ucapannya, apakah baru saja aku mendengar ia meragukan kelezatan masakanku ? Sadar ia bisa membuat impresi yang salah, buru-buru ia menambahkan,Don’t take me wrong coz I loveee your food, its damn delicius ! Kalah dech koki Marriot.” Aku cuma bisa nyengir bahagia mendengar pujian gombalnya itu tapi belum sempat aku menjawab ia meneruskan ucapannya, “aku cuma gak tega lihat kamu capek”

Kata-katanya itu membuatku merenung. Teringat pembicaraan sepuluh tahun lalu dengan ibu di dapur. Biasanya tiap Sabtu saat libur kuliah aku selalu menyempatkan diri menemani ibu berkutat dengan panci, penggorengan, cobek, dan kawan-kawan perkakas dapur lainnya. Ketika itu ibu akan membuat ayam goreng pedas. Ku lihat ibu mengeluarkan potongan daging ayam dari freezer dan merendamnya ke dalam kuali dengan air sulingan yang katanya asli dari pegunungan Bogor. Kemudiaan ia memintaku untuk membantunya mengupas bawang bombay. Ya ! Bawang yang selalu membuatku mencucurkan air mata tapi tanpanya masakan seperti hambar. Tiap hari ibu selalu setia menyediakan makanan buat kami sekeluarga. Ibu bukan wanita yang mempunyai banyak waktu luang, beliau adalah wanita karier : nine to five woman. Pun diluar dinner meeting yang terkadang mengorupsi jatah waktu bersama ayah dan aku putri tunggalnya. Sempat ku bertanya mengapa Ibu selalu semangat memasak bekalku, tak direlakannya bibi memasuki teritorial sakralnya: DAPUR. Jika bibi berkeras membantu, maka dengan cemberut ibu berkata itu sama dengan menginvasi kedaulatan negara ! 😉 Sekalipun tak pernah ibu terlihat capek meski harus berjibaku dengan wajan setiap pagi buta. Selalu aku bertanya – tanya dan jawaban ibu mengubah pandanganku mengenai dunia masak yang dulu ku anggap rendah dengan bau amis ikan, panas kompor atau bekas kuning kunyit yang menjijikkan.

“Anakku, memasak itu bukan sekedar menggoreng ayam, ikan, atau tempe. Bukan juga cuma mempertemukan bawang merah, bawang putih dan tomat ke dalam kuali lalu di campur dengan sayur mayur kemudian ditumis hingga matang. Bukan itu sayang. Kita bisa belajar banyak dari kegiatan memasak, ini bukan hanya ritual kegiatan yang harus lakukan agar tidak kelaparan.”

Senyum ibu sungguh lembut. Sepertinya aku berada di surga melihat kearifan senyum itu. Teduh sekali.

“Ada filosofi hidup di dalam memasak. Kamu suka makan ayam goreng kan? Dengan sambal terasi yang pedas dan membuat keringatmu jatuh bercucuran dan nafas termegap-megap karena enaknya?”

Aku mengangguk cepat menahan malu. Aah ibu benar-benar tahu makanan kesukaan dan kebiasaan rakusku.

“Ayam yang lezat itu tidak turun dari langit (walaupun bisa saja kamu tinggal pencet no telepon restoran untuk layanan antar saji). Tapi untuk membuat ayam itu butuh proses, ibu harus mengeluarkannya dari kulkas, di rendam air dulu agar bunga – bunga es yang membuat ayam tidak basi itu mencair. Butuh lebih dari 3 jam dari ayam beku hingga siap untuk dibumbui. Itu mengajarkan sebuah proses. Hidup ini adalah proses anakku yang cantik, ingat itu. Untuk mendapatkan sesuatu yang kamu impikan tentu saja ada rangkaian hal yang harus kamu jalani. Harus sabar adanya. Jangan tergoda untuk mengambil jalan pintas. Coba apa jadinya kalau ibu langsung menggoreng ayam itu tanpa menunggu ia mencair terlebih dahulu? Ayam itu pasti cuma matang di luar tapi bagian dalamnya masih mentah ! Pasti masih ada darah-darah beku yang membuatmu enggan melahap ayam itu sampai ke tulang-tulangnya. Nikmati proses hidup itu sayang. Agar jiwamu matang penuh kedewasaan dan kebijaksanaan.”

Nah, setelah ayam itu dibumbui, apa iya langsung di goreng? Ibu pasti menunggu dulu hingga bumbunya meresap. Sambil menunggu bumbunya meresap biasanya ibu mengerjakan hal lain: menyiapkan piring saji, gelas minum atau yang lainnya.

“Bidadariku, terkadang untuk mendapatkan karakter yang baik, butuh waktu yang lama. Sementara karaktermu dibumbui kerjakan hal lain yang berguna. Jangan hanya fokus untuk menunggu bumbu ayam meresap karena pasti kamu cepat bosan. Warnai hidup selagi proses itu berjalan. Bertemanlah dengan banyak orang, dengan berbagai macam latar belakang dan lakukan apa yang kamu impikan.”

Aku mengangguk – angguk tanda setuju.

“Ketika kamu mencoba hal – hal baru, tanpa sadar waktu berjalan dengan cepat dan kamu bisa mendapatkan banyak pengalaman : memperindah batinmu. “

Setelah sekian waktu menunggu, ayam pun siap di goreng. Ibu memintaku memasukkan ayam yang telah dibumbui tersebut ke dalam wajan penuh minyak mendidih. Tak lupa diingatkannya agar aku memasukkannya pelan-pelan. Aku bergidik ketakutan merasakan hawa panasnya.

Photobucket

“Nak, minyak ini panas. Bahaya jika kulit terejang panasnya. Tapi kita butuh panas minyak ini untuk menghasilkan ayam gurih yang renyah di lidah. Ini berbicara kemurnian karakter. Kepribadianmu teruji dengan tempaan masalah dan panasnya minyak pencobaan. Jangan mengeluh dan gegabah, jalani pelan-pelan. Ketika kamu terburu – buru, cipratan minyak panas itu bisa melukai tanganmu. Dalam tekanan, jikalau gegabah tindakan kita mungkin dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain yang berada di sekitar kita.”

Aku tersenyum mendengar nasihat ibu. Tercium wangi ayam goreng yang menggugah selera. Sudah tak sabar rasanya ingin

cepat-cepat menikmati ayam itu.” Jadi anakku, ini bukan sekedar memasak, ada banyak filosofi yang bisa kita pelajari. Kamu belajar mengikuti proses hidup. Bahkan ada seni tersendiri ketika kamu menghidangkannya di atas meja.” Ibu menutup acara Memasak bersama di Sabtu yang cerah itu dengan kesimpulan indah.

“Honey, koq bengong sich, “ ciuman mesra suamiku membawakukembali dari sekeping memori di dapur ibu.

“Hon, ini bukan cuma sekedar memasak. Ada filosofi hidup yang bisa di pelajari dari memasak,” kataku tanpa mau menjelaskan apa maksudnya. Sebentar ia mengeryitkan dahinya – gak ngerti dan merasa gak nyambung – namun tanpa banyak tanya segera ia bergegas menyambar handuk menuju kamar mandi. Kulihat ia nyengir sendiri, mungkin dipikirnya aku kesambet penunggu dapur.

Kembali ku tenggelam dalam seni kupas mengupas bawang. Terima kasih ibu, tidak hanya engkau telah mengajari aku memasak makanan yang membuat suamiku ketagihan namun juga engkau mengajariku filosofi hidup. Malam ini, sepulang kantor kan kubawakan ayam goreng sambal terasi untuk lauk nasi putih makan malam. Tapi sesungguhnya aku punya alasan lain, binar mata bahagia suami karena kekenyangan adalah cambuk untuk terus memasak sendiri semua masakan yang terhidang di meja rumahku.

“Sayaaaaang nanti malam kita kunjungi ibu yuk !,” teriakku dari dapur. Entah ia mendengar atau tidak karena yang kudengar hanya debur air mengguyur 🙂 Tapi ku tahu ia tak akan menolak ajakku.

Eka Situmorang – Sir
April 2009

Iklan

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Pos ini dipublikasikan di Literature dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

35 Balasan ke Ayam Goreng buatan Ibu

  1. Ikkyu_san berkata:

    Sederhana tapi dalam sekali Eka. Dan kamu pintar sekali merawinya. Aku suka sekali tulisan ini (tentu saja tulisan lainnya)
    EM

  2. frozzy berkata:

    wakz…lagi2 tulisannya bikin saya cuma bisa terdiam….dalem….jleb…..plus saya ga bisa masak blassss….. hikz

  3. masadien berkata:

    duh mbak Eka….apik tenan..seneng aku mocone..

  4. Gloria berkata:

    jadi makin semangat belajar masak ni kak eka.
    🙂

  5. omiyan berkata:

    hhhmmmm laperrrrr dah

  6. chie berkata:

    duhh..gR2 baCa tuLisaNx mBa’…
    jdi piNgin masaK baReng iBu lgi…
    ^walopuN sy cuMa motoNg2 bahaNx doaNk ;p ^

  7. Iwen berkata:

    a ‘Must Read’ Story !

  8. Murid Baru berkata:

    Tulisan dan ayam gorengnya sama-sama enak pastinya. Salam kenal, salam hangat 🙂

    Artikel tarbaru Murid Baru: Kepedulian pada Bencana Mungkin Sekadar Pola Hidup Topikal

  9. gadisayu18 berkata:

    aahh..mba eka ini…pas bgt saya lagi ditinggal ibu saya yang sedang 2 minggu beribadah di makkah.. jadi rindu masakan ibu ^^..terimakasih mbaaa tulisannya sungguh bermakna dan bermanfaaat.. soalnya saya suka malas masak..padahal bisa, dan yang ga bisa masak malah pengen bisa masak..manusiaaaa hehehe

  10. Daniel Mahendra berkata:

    Sejak kali pertama datang, aku tau aku baru saja menemukan blog dengan rawian kata yang indah.

    Aku baca cerita-ceritamu. Dan postingan ini, betul kata Mbak Imel, racikan bumbunya sederhana, namun terasa dalam dengan filosofi yang pas ketika disuguhkan.

    Weh, aku suka sekali tulisan ini, Ka…

  11. novnov berkata:

    baagus banget mbak….salam kenal ya..btw jadi laperrrrr

  12. mangkum berkata:

    Wah bukan sekedar ayam goreng nih.
    Hebat sekali ibumu!
    Kalau masakan gini, mba Imel langsung nyambung deh… hehehe..

  13. muzdalifahmuhlan berkata:

    Mba’ Ekaaaa….
    Tu kan,, aku makin kangen ma Mama..

    ThQ Mba’,, ThQ ..
    Luv ur story, luv u Mba’,, hehee…
    Mellow-nya over ni aku kaya’nya..

  14. Ade berkata:

    Dalem banget nih mba eka ceritanya.. Membuat saya ga nyesel bisa belajar masak setelah di sini.

  15. wierki berkata:

    yap…. prosess… !

    proses bikin hidup lebih hidup.

    apalagi kalau disajikan ayam goreng itu buat semua yang comment disini.. :))

  16. grosirpakaiananak berkata:

    satu yang bikin saya pengen liat web ini, judul masakannya…ehm….dari judulnya saja sudah mengundang selera, apalagi kalau mengundang makan2 nich…hihihi

  17. kejujurancinta berkata:

    ternyata membuat ayam goreng
    juga seperti menjalani hidup ini ya mbak
    tampak mudah tp ga gampang untuk membuatnya
    mama mbak eka bener2 ibu yang bijak

    btw, aku jadi pengen nih ma ayam gorengnya 🙂

  18. japspress berkata:

    iya mba, bukan sekedar memasak ternyata… tapi ada filosofi yang dalam dan luhur didalamnya… rasanya hanya mampu diresap oleh orang-orang yang senantiasa melihat sesuatu yang dalam dalam sebuah kesederhanaan, Salam untuk Ibu tercinta. Jadi pingin masak ayam goreng. Terima kasih untuk sebuah cerita yang indah…

    -japs-

  19. om-blog berkata:

    nyam… kriuk2…

  20. Ria berkata:

    mmm..ceritanya mengharukan
    *aku jadi kangen masakan mamaku*
    sengsaranya ngekost ya begini.

    Mbak tulisanmu bagus banget, kata2nya indah dan penuturannya lepas…

  21. Devi Girsang berkata:

    Hi Eka, thanks for dropping by and leaving a comment in my blog. 🙂 Anyway, just wanted to say that you have such a great talent in writing! I love how you pick the unpredictable words to describe the story! Keep writing and I’ll be here often. X

  22. mrpall berkata:

    membuat tulisan serasa ayam goreng neh

  23. Paluhlimbuy berkata:

    Sebuah pandangan hidup dari penggorengan, disertai kalimat yg renyah utk di santap.

    Thx bu.. semua kalimat terkandung manfaat.

  24. alex berkata:

    bagus juga tulisannya. smoga aja tulisan ini menjadi inspirasi bagus kehidupan.

  25. suwung berkata:

    SAYANG MBOKE RANGGA JAUHAN AMA DIRIKU
    COBA DEKAT PASTI DIMASAKIN MAKAN SIANGKU
    JADI NGIRI

  26. mas stein berkata:

    saya baru tau kalo banyak filosofi dari memasak 😆
    saya pernah masak sendiri jaman masih kuliah dulu, pelajaran yang saya petik waktu itu, kita ndak bisa menghargai masakan kalo kita blom pernah masak. makanya kadang saya suka jengkel sama orang-orang yang mencela masakan, lebih-lebih masakan rumah…

  27. ira firdauzi berkata:

    bagus.. 🙂

  28. marsa berkata:

    ekaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……bgussss bngt 😉

  29. Ikkyu_san berkata:

    Ekaaaaaa nyamber terus dia hihihi

  30. fachrielantera06 berkata:

    sometimes we must learn from a little thing to understand the big one 😀

  31. catastrovaprima berkata:

    ya ampyun.. romantissssssssss.. xixixixi salam kenal mba.. makasih udah mampir ke tempatku..

  32. ayi berkata:

    ini cerita superb banget!
    salam kenal Mba Eka^^
    cerita-ceritanya inspiratif banget..

  33. notebook berkata:

    I have added your link in my Link list. Please check it and add mine too, thank you before

  34. wandy berkata:

    jangan panjang 2 buat cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s