Ratu Boko: Tolong, Saya Tersesat

Sudah lama saya mendengar cerita tentang keelokan Ratu Boko. Ada yang bilang cantik, ada yang kasih testi (duh berasa jaman Friendster :P) bilang auranya menenangkan, sementara teman yang lain malah bersumpah kalau Ratu Boko adalah tempat yang bagus untuk menikmati matahari terbenam. Ah, ada begitu banyak komentar positif yang membuat saya ingin segera mampir ke situs arkeologi peninggalan kerajaan Mataram Kuno ini.

Ratu Boko, sisa-sisa kejayaan masa lalu.
Ratu Boko, sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Ratu Boko terletak di pinggir kota Yogyakarta. Tidak jauh dari Candi Prambanan, sekitar 3 km saja. Bahkan terdapat tiket terusan dan shuttle khusus dari Candi Prambanan menuju Candi Ratu Boko. Lumaya banget buat yang nggak ada kendaraan atau memang pencinta candi ^_^

Tiket masuk
Tiket masuk
Yuk olahraga!
Yuk olahraga!

Memasuki areal Ratu Boko, saya disapa hijaunya dedaunan dan hembusan angin lembut memainkan anak poni saya. Setelah membayar tiket dan melewati gerbang masuk, sebuah pohon dengan buah hijau besar menyita perhatian saya. Hasil bertanya sana-sini, saya baru tau kalau itu adalah buah majapahit. Hmmm, rasanya saya makin terseret ke dalam masa lalu saja.

Imajinasi yang Mulai Liar 😛

Matahari masih agak tinggi sore itu. Mungkin karena puasa, suasana jadi sangat sepi. Tapi bukan sepi yang mencekam, justru sepi yang memberikan aura damai yang sangat menyenangkan. Walaupun namanya Ratu Boko, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa pemimpin kerajaan ini dulunya adalah perempuan. Ratu Boko sendiri berasal dari cerita rakyat setempat yang di dalam bahasa Jawa bermakna ‘Raja Heron.’ Ia adalah ayah dari Roro Jonggrang yang menjadi nama candi utama di kompleks candi Prambanan.

Candi Ratu Boko 6I love the peace offered by this Ratu Boko. 

Menapaki tangga demi tangga menuju komplek areal Ratu Boko, saya menengok ke kanan dan ke kiri mencari pemandu wisata atau orang yang bertugas yang dapat saya tanya soal reruntuhan keajaan Mataram kuno ini. Sayangnya saya harus kecewa karena tidak ada orang. Tak habis akal, saya mencoba bicara dengan penjual kelapa muda yang saya temui. Dalam pikiran saya, orang lokal tentu tahu lebih banyak soal ini, bukan? Lagi-lagi saya mesti kecewa, ibu penjual tidak banyak tahu bahkan informasinya cenderung menyesatkan. Rasanya saya jadi kayak tersesat di areal ini 😀 memang sih keindahan Ratu Boko tetap dapat dinikmati, tapi rasanya ada yang kurang karena tidak mengetahui kisah latar belakangnya secara pribadi. Terlepas dari itu, saya tetap menjelajahi Ratu Boko dengan imajinasi yang berloncatan di kepala saya. Menebak-nebak. Oooh, mungkin di sini dulu si Raja makan malam, di sana si Raja bersembahyah, di sebelah sanaan lagi mungkin tempat Raja bercumbu sama ratunya 😛 eh, maaaf. Namanya imajinasi kadang jadi liar. Hehehe. Walau begitu, saya harus mengapresiasi pemda Yogya untuk kebersihan dan kerapihan candi ini. Semog dapat terus dipelihara.

Tips mengunjungi Candi Ratu Boko:

  1. Datanglah menjelang sore. Tidak lebih dari pukul 16.00 agar kompleks masih terlihat terang namun juga tidak perlu menunggu terlalu lama untuk melihat hadirnya sunset.
  2. Gunakan sandal atau sepatu yang nyaman, plus pakaian yang menyerap keringat. Jalan jauh gitu panas dan keringatan bok.
  3. Bawa buku atau majalah. Kedamaian di Ratu Boko ini cocok banget buat duduk bersantai piknik baca buku.
  4. Nikmati Ratu Boko dengan orang terdekat, rasanya lebih syahdu.
  5. Kalau kesorean dan tidak bisa masuk ke areal Ratu Boko, masih bisa duduk-duduk di restoran dan menikmati makanan khas Indonesia dan kota Yogya yang terlihat manis dari atas.
Terdapat arca di area Panorama. Namun karena minimnya informasi yang tersedia, saya nggak tau kisah arca ini :(
Terdapat arca di area Panorama. Namun karena minimnya informasi yang tersedia, saya nggak tau kisah arca ini 😦

Area yang paling saya sukai adalah ujung bukit bernama Panorama. Dari atas tempat tersebut, Candi Prambanan terlihat eksotis dank arena lokasinya yang agak tinggi, tidak banyak orang yang mau mendaki ke atas. Terdiam sejenak, saya membebaskan diri saya menyatu dengan sekeliling dan menikmati keheningan alam. Sangat damai!

Candi Ratu Boko
Candi Ratu Boko
Wait for me, Ratu Boko. I'll be back! :*
Wait for me, Ratu Boko. I’ll be back! :*

Rasanya ingin berlama-lama di Ratu Boko ini, terlebih tinggal beberapa waktu saja sebelum matahari terbenam. Tapi karena saya pergi bersama teman dengan selera yang bermacam-macam, keingingan melihat matahari terbenam dari Ratu Boko terpaksa saya urungkan, walau dalam hati saya berjanji akan kembali lagi ke sini. Pengen tau bagaimana Raja Heron dulu menikmati sunset dari keraajaannya. ^_^

Selamat hari Jumat, Sobat CE. Sudahkah kamu mengunjungi Ratu Boko?

 

 

Ratu Boko
Ph. 0274 496 402
Buka setiap hari pkl. 06.00 – 17.00
Harga tiket
Rp. 25.000/dewasa
Rp. 10.000/anak
USD 13/WNA (entitled for dinner at the restaurant)
Iklan

57 respons untuk ‘Ratu Boko: Tolong, Saya Tersesat

Add yours

  1. Baru sekali ke candi ratu boko dan langsung terkesima. Memang paling tepat menikmatinya bersama orang dekat yang dapat bisa turut berbagi syahdu dan tenggelam dalam imajinasi kehidupan masa lalu.

    Jadi pengen lagi..

      1. Sendiri bo. Ngenes banget kan? Satu hal yg gengges adalah perilaku fotografer yg kayaknya dari majalah travel gitu. Dgn congkaknya dia nyuruh orang2 utk nunduk2 & menyingkir spy dia bisa ambil gambar candinya utuh.

        Gw? Jutek as usual. Kayak elo, gw keluarin buku dan mulai membaca dgn santainya di tengah-tengah. Ini tempat umum wey!

        1. Hahaha. Judesnya keluar! Yes! Kalo mau keliatan sepi ya mesti ngakalin datang di hari dan jam sepi atuuuh.
          Kapan sih kita ngetrip bareeeeeng? Udah lama banget boook.

  2. tutupnya jam 17:00, tapi kok bisa liat matahari terbenam? maksudnya gimana ya? *penasaran*

    btw, dulu beberapa kali ke Prambanan tapi ga pernah sempet ke sini. next time ke sini dulu ah, baru ke Prambanan.

  3. Wah, saya sudah ke sana :hehe, dan saya gempor karena ternyata areal Ratu Boko itu luas banget, satu istana lengkap dengan pendopo, paseban, keputren, goa, sampai tempat pemujaan kecil dengan miniatur candi yang kini kayaknya menjadi asal-usul pelinggih di Bali. Satu lagi, di sana ada juga peninggalan Budha yang berpadu dengan sisa-sisa Hindu, satu bukti lagi kalau dulu Mataram Kuno telah begitu mengakomodir kebebasan beragama, baik Hindu maupun Budha.

    Soal arca, dari cakra dan sangkha yang dipegangnya, besar kemungkinan itu Wisnu–satu keunikan lagi mengingat Mataram Kuno adalah kerajaan bercorak Siwaistis. Sebenarnya ada Durga dan Nandi juga ditemukan di sana, kalau saya tidak salah, tapi kini sudah entah ada di mana. Bertanya pada si ibu penjual makanan di Pendopo dan ia mengatakan semua arca lain sudah dibawa, entah dibawa ke mana.

    Yang jelas, saya menyesal karena mengira Ratu Boko itu kecil… kalau kecil tak mungkin ia dinamai Keraton!

    1. Aku nggak ke Kaputren. Temen tripku nggak mau 😐 next time deh. Waktu itu abis dari Ratu Boko, pijet?

      Btw aku agak bingung term-nya. Ini bisa disebut candi nggak sih?

      Btw kamu kuliah jurusan sejarah?

      1. Menurut saya sehari itu kurang Mbak untuk mengunjungi Ratu Boko :huhu.

        Setahu saya, berhubung candi sampai saat ini hanya dipakai untuk mengistilahkan monumen untuk pemujaan atau pendharmaan, maka menurut saya untuk kompleks ini lebih tempat disebut keraton, meskipun di dalam Ratu Boko sebenarnya ada juga candinya, seperti candi untuk pembakaran jenazah itu :hehe.

        Nggak Mbak, saya kuliahnya jurusan yang jauh banget dari sejarah :hihi.

  4. Dalam bahasa jawa, “ratu” artinya sama dengan raja. Entah dari mana asalnya kata ratu berarti queen hehe.

    Kalau di Candi Ratu Boko, saya paling seneng di “panggung besar”. Kayaknya seru banget kalau dibikin pagelaran tari di panggung tersebut.

    1. Aaaaak dikomen Sandaaal. Lho aku baru tau dalam bahasa Jawa gitu.
      Kalo sampe ada pagelaran tari atau musik di sini, bakalan makin terkenal ini Ratu Boko deeeeh ^_^

  5. Hallooo, Kak Eka. Kak, bagus sekali foto-fotonya.

    Kak Eka, ada info jalan-jalan gratis, nih.
    Kesempatan untuk ikut ekspedisi Kalimantan bersama New Daihatsu Terios #Terios7Wonders.

    Dimulai dari Palangkaraya, Kruing, Pulau Kaget & Kandangan, Amuntai & Balikpapan, Samarinda, Tn. Kutai dan berakhir dengan melihat cantiknya pulau Surga, Maratua.

    Caranya, ikutan lomba blog “Borneo Wild Adventure”
    Untuk info lebih lengkapnya,

    http://bit.ly/terios7wonders2015
    Ada Grand Prize MacBook Pro juga, lho!

    Ayo ikutan, Kak! Jangan sampai ketinggalan, ya!

    1. Sebenernya arealnya luas. Tapi menang yang tersisa reruntuhannya sedikit. Anw, walo kecil tetap harus ada pemandu (paling enggak dari pemda/pengelola) untuk memberikan info menurutku.

  6. aku belum pernah kesna, tapi obsesi aku ingin bisa tinggal di daerah dekat prambanan dan situs boko, entah apa yg menjadi daya tarik aku ingin kesana, yang pasti bisa menyentuh bangunan disana dan mendapat visual lgsung dr sekian lama aku mndapat potongan gambar dari mimp.. hehee maaf

  7. bagus kok lokasinya ada 2 (dua) pohon beringin yang di tanam pd era Presiden Soeharto, dan sy sempat gelantungan di pohon beringin yg katanya merupakan symbol pohon ibu Tien Soeharto

  8. Berkali2 ke jogja, tp aku jg blm pernah ke candi ini mba. Jujurnya, candi bukan objek wisata favoritku sih. Tp tetep aja kalo ke suatu candi aku juga penasaran ama sejarahnya, trutama dr sisi pembuatan candinya. Gimana bikinnya, teknologi dulu blm canggih tp kok bisa, brp lama, bahan2nya dr mana aja :D. Lebih ksana penasarannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: