Surga


Sore itu rumahku ramai. Gaduh oleh suara gadis kecil dengan rambut kuncir dua. Wajahnya bulat, hidungnya tidak mancung namun juga tidak pesek tapi yang jelas kulitnya coklat terbakar matahari hasil banyak bermain bola, gadis ini tomboy soalnya. Bibir mungilnya sibuk bercerita, tak henti bicara mengenai sekolah TK yang baru ia jalani beberapa minggu saja. Ceria... Continue Reading →

Vanya Bertanya (1)


Serebrum otakku masih merekam dengan baik kejadian 5 tahun lalu di sofa ruang depan. Maya duduk menunduk sementara Tante Febri ibunda Maya terlihat tegang. Dalam dekapan Maya tidur bayi merah yang usianya tak lebih dari seminggu. Aku dan suamiku diam seribu bahasa, entah harus bersikap bagaimana. Dengan suara parau menahan tangis, Maya berkata lirih,” Mbak... Continue Reading →

I B U


Ibu mengapa engkau membenciku? Mengapa kata pedas dan makian tajam selalu terlontar atas tindakku? Mengapa sebuah piring lebih mendapat kasihmu dibandingkan aku? Maafkan aku ibu, licin sekali piring itu . Ibu mengapa matamu nanar tiap kali aku ingin mendekatimu? Mengapa tanganmu terjulur selalu untuk menjewer bukan memelukku? Hingga ku percaya keberadaanku adalah bayang semu .... Continue Reading →

Ayam Goreng buatan Ibu


h "Sayang, kenapa sich kamu selalu repot - repot memasak buatku?" tanya suamiku lembut. Kubalikkan punggungku hingga dapat kutatap wajahnya lekat-lekat. Senyum kecil tersungging dibibirku dan kutorehkan adonan tepung ke hidung besarnya. "Sebab aku gak mau kamu sakit karena jajan sembarangan, ntar gak bisa cari duit untuk beli kalung berlianku !" jawabku terkekeh. Ia tergelak... Continue Reading →

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

<span>%d</span> blogger menyukai ini: