Tetesnya Mengantarkan Rindu

Kau dengar gumam desau angin itu? Hawa dinginnya mengantarkan pertanyaan, kapan aku terakhir ke Jogja. Aku ingat, di Jogja, di kota labuhan rindu itu, di rumah dengan dua kamar itu, masa kecilku terlalui dengan segala macam rasa.
Dear Mom, thank u for giving me a colorful childhood ^_^
Di sudut kamar selalu ada yang menunggu, mamakku dengan setumpuk buku. Membacakan aku cerita, menepuk-nepuk bokong hingga aku tertidur pulas. Lalu di sore hari, dengan sepeda motor Honda berwarna biru tua, mamak mengantarkan aku les menari. Kegiatan yang hingga sekarang masih saja aku sukai walau mungkin badanku tidak selentur dulu lagi. Tapi memori itu tersimpan, membekas nyata, gurat-guratnya mentransferkan rasa gembira bahkan hingga berpuluh tahun sesudahnya. Kau lihat butir air mata itu? Tetesnya mengantarkan rindu. Andai aku bisa tinggal di Jogja lagi. Andai saja.
Lalu suatu malam, mamak mengenakan aku pakaian yang bagus dan membawaku ke balairung. Entah balairung apa, sudah tak ingat. Dengan mata kecilku, aku terheran-heran melihat banyaknya orang berpakaian menarik serta dandanan ciamik. Namun sekejab kemudian aku sudah terlena dengan penampilan mereka membacakan larik-larik indah dengan intonasi berbeda-beda. Baru kemudian aku tau, itu namanya membaca sajak.
Remember, that any given moment there are thousand things you can love. And I love the way my mom did my hair.
Esok paginya, matahari masih malu-malu bersinar saat jemari mamak mengelus-elus kepala ini. Menyisiri helai demi helai rambutku, mencari-cari jika ada kutu nakal terselip atau sekedar memeriksa mungkinkah ada luka tersembunyi di kepala. Luka yang bisa saja aku peroleh karena tidak hati-hati bermain bersama kawan. Kemudian mamak bertanya akan dibuat apakah rambutku yang panjang itu. Kadang aku minta dikuncir atau dikepang dua, terkadang mengikatnya kebelakang persis ekor kuda. Jarang sekali mamak membiarkan rambutku tergerai. Bahaya katanya, kuatir rambutnya terselip di motor, di kipas angin atau di mana gitu. Sesi salon gratisan biasanya ditutup dengan pertanyaan, mau pita apa hari ini.  Jika sudah begitu,  artinya aku siap berangkat ke sekolah. Ah bahagia, dengan centil aku akan menggoyang-goyangkan kepala ke kiri ke kanan. Senang saja rambutnya rapi dengan model-model lucu yang tidak semua anak di kelasku bisa begitu. Dulu, berapa sih anak kecil yang punya rambut panjang? Jika dipikir-pikir, mungkin sedikit kegemaranku bersolek diawali oleh hal ini. Mungkin.
Ah, keping-keping memori itu berkelebat cepat di rongga kepala. Memori bersama mamakku, memori masa kecil dulu ^_^

SELAMAT HARI IBU

Apakah kenanganmu bersama mamak, umi, ibu atau mamimu?

Pics are borrowed from here and here.
Iklan

30 respons untuk ‘Tetesnya Mengantarkan Rindu

Add yours

  1. Asem…. mbikin aku kangen simbokku! Tulisan yang sangat menarik..
    Aku tiba-tiba teringat momen dengan Simbokku itu waktu beliau mengikat kakiku sebelum memboncengkannya naik sepeda supaya tak kena jeruji besi….

    Good one, Eka!

  2. Memang surga ada ditelapak kaki ibu namun yang perlu dingat juga bahwa untuk menuju surga tersebut diperlukan jembatan, yang mana jembatan menuju surga ibu adalah Bapak kita sendiri..

    Jadi intinya tidak cukup mencintai ibu untuk mendapatkan surga, namun untuk mendapatkannya dengan mencintai kedua orang tua kamu 🙂

  3. Selamat Hari Ibu juga buat Eka, kamu juga pasti jadi ibu yang terbaik seperti si mamak.
    Mamaku juga suka nyisirin rambut dan mencari kutu di kepalaku, padahal manalah ada kutu di kepalaku kalau setiap keramas selalu bersih dibikin mama.
    Kesal, tapi entah kenapa setiap dipegang kepala sama mama, pasti tertidur di pangkuannya 😀

  4. Bikin merenung mba tulisannya.. 🙂
    jadi inget Mamaku dulu jg suka ngepangin rambutku. Bahkan sampe SMA aku potong rambutnya sama Mamaku lhoo! Pdhl Mamaku bukan org salon. *ups, malah curcol :)) *

  5. terlalu banyak hingga sekarang, kadang dia bossku, sahabatku, pendebatku, pengkritikku. aku suka pembicaraanku dengan mama sebagai wanita dewasa, intens, hangat, lucu, kadang aku melihat sebagian diriku padanya.

  6. so sweet to remember the moment with mom in the last 🙂
    aku paling kangen saat habisin waktu di teras belakang rumah sama mama, yang menyulam dan aku main boneka kertas.
    Selamat hari ibu

  7. Senangnya mengingat masa lalu yang menyenangkan…dan bersyukurlah punya mamak yang mengajarkan kebaikan.
    Setelah sekarang ini, kadang saya banyak bersyukur punya masa kecil yang bahagia, karena tak semua orang bisa menikmati kebahagiaan itu.
    Hari ibu kali ini, pagi-pagi mendapat sapaan sms dari suami (karena di luar kota), kecupan sayang dari anak sulung, menantu…dan juga telepon dari si bungsu.

  8. Kenangan seperti itu sulit dilupakan, Apalagi bersama dengan mama, maka dari itu layaklah jika menyebut mama sebagai wanita mulia yang pernah dititipkan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: