Sini, aku peluk..

Aku tergolek lemah diatas tempat tidur. Keringat mengalir deras dari seluruh pori-pori dibawah lapisan kulit ari. Ku cek temperatur AC, angka 20 celcius tertera jelas pada papan digitalnya. Jadi bukan panas ruangan yang membuat kelenjar-kelenjar keringat seolah berkejaran menghasilkan air asin dan menghadirkan perasaan tak nyaman yang sungguh membuat hati susah.

Suara pintu berderit dari engsel besi yang telah setahun tak tersentuh oli pelumas. Kubalikkan badan untuk melihat siapa yang datang. Tapi gerakkanku tertahan oleh rasa sakit yang luar biasa hebat. Seolah ribuan jarum menusuk – nusuk usus halus dalam perut. Ouch…. Mengerikan, sungguh mengerikan rasa sakit yang aku rasakan. Sedikit tertahan aku meringis menahan sakit. Kucoba sekali lagi memutar raga, kali ini pelan-pelan. Dan akhirnya aku pun menyerah, aku mengerang kesakitan karena memang rasa sakit ini sudah tak tertahankan. Walau lirih tapi siapapun yang mendengarnya pasti tahu betapa tidak nyamannya aku, betapa tidak enaknya sakit itu. Di masa-masa saat aku diuji begini maka sungguh aku rindu nikmat sehat yang kadang abai aku syukuri. Manusia itu memang lucu. beberapa nikmat yang sesungguhnya krusial kadang dianggap enteng, seperti udara segar yang dihirup atau kesehatan yang sepertinya adalah hal lumrah. Namun begitu ada kebakaran dan udara terkena polusi atau terkulai tak berdaya karena sakit, barulah manusia ingat nikmat-nikmat yang Tuhan karuniakan. Orang Londo bilang, sometimes people just take thing for granted, once it was lost then regretting it. Banyak orang mempunyai kelakuan begitu, bukan?

Kembali ke laptop. Sudah beberapa hari ini aku terbaring sakit. Namun tidak sepatah kata keluhan pun keluar dari bibir ini. Perihnya perut aku tahan dalam diam, lemasnya tubuh aku rasakan tanpa suara. Tidak, aku tidak mau mengeluh. Aku tidak mau menambah susah perasaan suamiku. Dari sudut mata, kornea ini aku lihat suamiku berdiri dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat. Ia sudah sangat telaten merawatku. Melihatku terbujur lemah begini saja telah meremukkan hatinya. Tadi tak sengaja aku mendengar ia memanjatkan doa bagi kesembuhanku. Suaranya begitu halus, kata-katanya begitu tulus. Tak aku dengar ketegaran khas seorang pria yang senantiasa hadir melalui suaranya. Mungkin ia mengira aku tidur terkena pengaruh obat sehingga ia berdoa dengan sangat khusuk. Sedemikian khusuk hingga bagian rapuh hatinya pun tersingkap. Suami mana yang tak sedih melihat istri yang dikasihinya terbaring tak berdaya. Kami memang dua pribadi yang berbeda. Namun istri atau garwo dalam bahasa jawa yamg memiliki arti sigaranne nyowo -separuh nyawa- menjadikan kesakitan yang menimpaku dirasakan juga oleh suamiku. Karena kami adalah satu, dipersatukan Tuhan dalam sakral pernikahan. Bukankah jika tangan terjepit maka mulut yang menjerit? Karena tangan dan mulut adalah satu tubuh, demikian juga kami telah menjadi satu jiwa. Jadi aku tak mau mengeluh, kusimpan rapat semua rasa yang menggerogoti raga agar hati suamiku tak bertambah remuk.

Namun setelah 3 hari menggigit bibir bawah tiap kali ribuan jarum itu menusuk, akhirnya pertahananku jebol. Untuk pertama kalinya aku mengeluhkan sakitku.
Lirih ku berkata,“bang, perutku sakit sekali.”
Dan meneteslah air mata yang selama ini tertahan dibalik sikap kuatku. Kulihat mata suamiku berkaca-kaca, walau ia berusaha keras menyembunyikannya.
Pelan ia berbisik, “sini, aku peluk.”

Diletakkannya baki makanan di meja dan ia pun naik ke atas tempat tidur. Hati-hati lengan kekarnya ia taruh di bawah kepalaku, sangat hati-hati seolah takut menyakitiku. Kemudian ia merangkul dan mengeloniku. Kutemukan damai dalam peluknya, kunikmati setiap rasa aman yang tercipta. Pelukan hangat dari suami tersayang memang memiliki efek yang luar biasa. Mungkin malah lebih hebat daripada obat dari dokter paling mahal sekali pun.  Rasa nyaman itu, rasa tenang itu, rasa teduh yang tercipta dari sebuah pelukan lembut sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Hanya dengan pelukan saja sepertinya semangat untuk sehat terpompa sangat banyak. Irama detak jantungnya menenangkanku, hangat uap nafasnya menjagaiku.

Pernah aku membaca manfaat pelukan di sebuah artikel di majalah, memang berpelukan dengan pasangan itu memiliki banyak manfaat. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Pelukan itu meningkatkan hormon baik seperti oksitosin dan serotonin sehingga membuat tubuh merasa tenang dan aman serta tidak kesepian.
  2. Pelukan menjadikan kita rileks, otot-otot melemas sehingga sirkulasi jaringan menjadi lebih baik dan yang sakit bisa merasa lebih sehat.
  3. Pelukan juga bermanfaat untuk menyeimbangkan pikiran. Pada saat berpelukan, rangsangan antar kulit menghantarkan kelembaban serta arus listrik positif yang menyeimbangkan kondisi kejiwaan dan mental seseorang.
  4. Pelukan juga mengeratkan pertalian emosi dan spiritual dengan pasangan yang merupakan modal rumah tangga.
  5. Berpelukan juga meningkatkan empati, membuat hati melembut dan bisa merasakan apa yang dirasakan pasangan.

Baca juga:

  1. Cerita Manja

  2. Cerita Jomblo

Aku menangis dalam pelukan lembut tubuh suamiku. Namun air mata ini bukan timbul karena sakit tapi lebih karena rasa bersalah yang menyerang nurani.

Terbayang saat ia mengingatkan untuk aku tidak makan hanya karena rasa tapi dengan mempertimbangkan kondisi pencernaanku yang memang dari dulu sangat sensitif. Terbayang pula saat aku tak mengindahkan pesannya itu. Melahap habis makanan pedas, asam dan berminyak yang terasa sangat lezat menggoyang lidah. Dan inilah ganjaran yang kudapat; infeksi saluran pencernaan. Itulah buah yang kupetik dari benih kengeyelan yang ku tanam. Tumbang. Sakit sampai tak bisa melakukan apa-apa bahkan yang sederhana sekalipun seperti makan atau mandi. Apa-apa mesti dilayani. Aku sungguh malu dan merasa tak enak.

Tangisku kian menjadi diterpa rasa bersalah yang kian meninggi.
“Sssh jangan nangis lagi, kan udah dipeluk,” ucapnya lembut seraya mengusap anak poni di dahi. Ach suamiku, tidak ada kalimat menyalahkan meluncur dari bibir padahal peringatanmu seringkali ku langgar. Dan ketika ku terkapar guna membayar akibat makanan yang dengan sembrono ku telan, engkau tetap setia mengayomiku.

“Mana yang sakit?” tanyanya dengan nada penuh kekuatiran tatkala bulir air terus mengalir dari jendela wajah. Kutatap kedua bola matanya, dan lembut ku berkata, “sayangku, mari peluk aku lebih erat lagi. Karena hangat cinta dalam pelukmu merasuk hingga dasar relung jiwa.” Selesai ku berkata begitu, ia memelukku erat. Sangat erat. Hingga air mata yang mengair di pipiku mengering dengan sendirinya karena bahagia.

Eka Situmorang-Sir,
sebuah surat cinta dan rasa syukur karena kebaikanmu, karena Tuhan menjadikan kita satu. Untuk suamiku terkasih Adrian Suryono-Sir.

 

Iklan

54 respons untuk ‘Sini, aku peluk..

Add yours

  1. Moga2 cepet sembuh deh. Aku jg sering banget sakit perut, dari maag, infeksi pencernaan, sampe gasthritis. Sampe ga tau lg bedanya satu sama lain. Yg penting memang istirahat total, dan setelah itu hrs jaga makanan. Tetap semangat ya!

  2. Eda, emang klo lg sakit plg mantap dipeluk….apalagi klo diusap2 perutnya pasti lebih nyaman…

    Cepet sembuh Da, biar bawel lagi…..huahahahahah

  3. Wah,, aku juga punya sakit infeksi saluran pencernaan Mb’ …
    Hwaaa,,, aku bisa merasakan kesakitanmu..
    Dan aku bisa memaklumi kengeyelanmu makan-makanan itu …
    Dan aku tau gimana pelukan bisa menawar sakit,, walau dalam kasusku itu pelukan Mama
    hehee 🙂
    Cepet sembuh Mb’ …..
    Cepat kembali pada kami 😀

  4. Aku sudah anti cabe … untuk bikin warna merah, aku selalu pakai paprika … sehingga semua orang bisa makan nasi gorengku.

    Semoga cepet sembuh… ditunggu ngeblognya!

  5. Nice story…mudah2an mengilhami kaum lelaki di jaman sekarang, istrinya sakit dilempar ke dokter (maksudku di bawa ke dokter) Syukur syukur kalo dokternya nggak jatuh hati…kalau ke jadian repooooot ha ha ha ha…besok kalau dia asakit aku peluk aaaaaah…nggak usah di bawa kedokter (eh salah deng)
    Salam saya Eka

  6.         semoga cepat sembuh ya kak.... 
    

    membaca tulisannya duhhh jadi pengen cepet2 ada yg ngelonin juga…. hehehhe….

  7. Infeksi saluran pencernaan? Uh, aku tau betul rasanya seperti apa. Mengerikan memang!

    …ucapnya lembut seraya mengusap anak poni di dahi.

    Ih, suka sekali aku kalimat itu. Terutama pada ‘anak poni’. Terdengar sweet.

    Cepat pulih ah.

    *pergi nyari istri buat dipeluk*
    Hahahaha! Becanda.

  8. Woogh.. romantis sekali.. jadi pengen cepet sembuh kan sesudahnya?? hehehe..
    Cepat sembut ya mbak..

    Thanks lho udah main ke blogku.
    God Bless.. 😀

    @DM..
    ck..ck..ck.. beneran lah itu ya.. nyari istri.. kekekeke

  9. Semoga semua lelaki membaca ini, karena suami mba Eka adalah contoh nyata yg harus diperbuat oleh seorang Suami jika Istrinya sakit.

    Salam hangat buat Suaminya mba, dan semoga cepat sembuh yach… Saya juga ada penyakit itu kok kadang2 hehehe…

  10. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

    (reply)

  11. hehe…
    ito.. ito…

    lagi sakit, bisa juga merayu ..

    hehe…
    tak menyanyi saja ito,,
    atau berbisik saja..

    holongi rohaku tu au..?? (eh betul kah?? hahaha,,, susah kali menulisnya)

  12. Oh indahnya bahtera hidup kalian. Selalu ingin saling menyayangi dan tak ingin menyakiti satu sama lain. Benar2 sebuah keindahan dalam rumah tangga. Salam hangat dan bahagia selalu buat mbak serta mas adrian. Mudah2an cepat diberi kesembuhan oleh Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Salam.

  13. huhuhuhuhuhuhu.. terharu.. (berkaca-kaca mode on).. semoga cepat sembuh jeng.. nanti kukasih review makanan enak di semarang deh.. semangat!!

  14. Hyah..akir-akir ne kq malah musim sakit yah..
    Semoga cepet sembuh aja yah Buk..,sini-sini aku peluk..wakxkxkxkx..,sebelum di lempar batako ama suami mending kabor ah..larrriiiii..wakxkxkxkxkx..

  15. akh.. aku terlambat.. Semoga sekarang sudah sembuh yang Eka..

    Hmm that was so sweet..
    Very nice to see the romatic moment. Such small thing in life means BIG thing to refresh and maintain a strong spouse relationship. Keep it like that.. 🙂

  16. Disaat kubutuh dipeluk seseorang..selalu bantal Yang kupeluk…Dan menangis…tak Ada seorang pun Yang disampingku memelukku…Ku merasa hampa…tak Ada arti kuhidup didunia ini…Dari kecil Ku jarang merasakan pelukan….ingin kulari tangisi ke tumpukan laut Dan berteriak..kulelah Dengan semua ini…ingin tidur tak bangun lagi..APA dosaku…yaaa bagus lo ada Yang pendamping Saat butuh dipeluk….sedangkan WA Aku mau harap siapa memelukku…suami Dr merid selalu dingin terhadapku…bahkan kunangis disamping dia..dia az tak tau klo Ku nangis…🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: