Fragmen Manja

Aku memilin-milin kelim rok merah muda dengan corak bunga-bunga itu pelan. Sepelan semut yang berjalan malu mendekati  butiran gula di ujung meja.
“Eh, tau gak kalau…”
“Enggak! Aku gak tau,” tukasku ketus pada sebuah pertanyaan yang belum selesai ditanyakan itu. Ya, ya.. Sudah jadi kebiasaanku jika kesal maka tak akan mau aku diajak bicara. Jangankan bicara, tidak diprenguti saja sudah bagus deh. Namun yang bertanya bukannya kesal mendengar ketus suaraku malah tergelak riang.
“Ha ha ha, kamu masih marah ya?”  Suara bariton itu bertanya lagi dengan nada geli sambil membelai rambut ikalku. Aaaaaaa, lelaki ini keterlaluan banget sih. Sudah tau ngambek dan sudah tau pula apa penyebabnya koq ya bisa-bisanya malah menggoda? Malah tertawa diatas kesalnya hati. Dasar Pria! Koq ya gak ngerti hatinya perempuan. Huh! Biar! Biar rasa ini pria, aku akan melakukan gerakan tutup mulut, mogok bicara dan mogok ciuman (yang terakhir sih tidak janji sukses ya :mrgreen:).
Aku pura-pura sibuk membaca barisan kalimat di majalah wanita yang terbit setiap Kamis itu ketika sebuah boneka dengan telinga panjang dan buntut bulat pendeknya menciumi pipiku. Boneka kelinci yang bulu-bulu halusnya membuatku geli. Boneka kelinci terus beraksi, bicara dengan suara dewasa yang dimanja-manjakan, suara yang walaupun aneh tapi terdengar lucu ditelinga. Suara yang mampu menarik bibir atasku untuk tersipu walau sedikit saja.
“Cantiiik, jangan ngambek donk, kalau kamu ngambek nanti siapa yang tidur peluk-peluk Bunny? Kalau kamu ngambek nanti siapa ya yang pijitin Abang?”
Heh? Alisku naik. Apa tidak salah dengar? Si boneka ini koq ya kurang ajar! Aku yang ngambek koq tetap aku yang disuruh mijitin si Abang? Tapi boneka itu terus bicara, merayu dengan segala cara. Aku menahan tawa. Walaupun suaranya terdengar aneh karena mirip cicak kejepit tapi tetap terdengar jenaka.
Bibirmu, bibirku. Bertemu dalam kumparan rindu
Pics are taken from here.
Dan ketika dari balik boneka itu tersembul wajah suamiku, tawaku pecah. Aku tergelak. Bagaimana tidak, wajah polosnya terlihat takut-takut mengecek kadar ngambekku. Lucu. Berpura-pura bicara sambil menggerak-gerakkan boneka kesayanganku, that was a smart move! Luluh sudah pertahanan ngambek yang susah payah dibangun dari ancaman tidak mau ciuman. Ah, memang aku tak pandai menahan marah. Lelaki yang menyematkan cincin di jari manis 34 bulan lalu itu tau betul celah lemahku.  Cerdik mengambil hati dan melelehkan beku amarah. Segera aku menghambur ke arah dua tangan gelap yang terulur menawarkan pelukan. Bibirnya mendarat lembut di kening dan aku diam. Menikmati indah rekonsiliasi cinta seraya bergelanyut manja di dada bidangnya.
Iklan

54 respons untuk ‘Fragmen Manja

Add yours

  1. Hai kak eka.. Been reading your ceritaeka.com this couple months and I love it! Think you should make a novel! A comedy-romantic one! Hehehe 🙂

  2. huakakkakakakakkakakakkakaka….
    berarti gak cuma aq yang begitu yaa?
    yg sudah bersuamipun ternyata masih manja jg
    xixixixixiixxi

    suaminya lucu kak 😀 jd inget power rangerku yg konyol juga 😀
    hehehehhee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: