7 Huruf Bernama Cemburu


Wanita dengan kulit gelap duduk manis di pojok sofa yang cozy dengan sejuk AC dan sweet jazz yang terdengar mengalun. Di hadapan Wanita terhidang beberapa potong kue Opera lezat yang layer-layer lapisnya dipastikan dapat membuat jarum timbangan bergeser ke kanan. Tidak, tidak lebay koq. Minimal bergeser 1 bar ke kanan deh itu timbangan! Sorot mata... Continue Reading →

Sederhana Saja


Cintaku sederhana, Sesederhana kecup pagi selepas dibuai mimpi Tanda aku membutuhkanmu. . Cintaku sederhana Sesederhana bekal siang yang kusiapkan untukmu. Tentu, telah kumantrai sayang juga ribuan jampi agar kamu sehat selalu. . Cintaku sederhana Sesederhana manis teh yang kusiapkan Menghangatkan sel-sel lelah tubuhmu selepas kerja . Cintaku sederhana Sesederhana rindu yang cepat menyembul, padahal baru... Continue Reading →

Gadis Muda dengan Segudang Tanya


“Katakan padaku apakah cinta itu.” Seorang gadis muda bertanya dengan binar mata yang lebih terang daripada bintang. “Usiaku sudah dua puluh, sepertinya jiwaku siap berkenalan dengan cinta,’ katanya menambahkan. Kupandangi wajah oval dengan rona sawo matang khas kulit suku Jawa itu. Sorot matanya penuh rasa ingin tahu, sedikit bimbang namun juga sarat gejolak ngotot untuk... Continue Reading →

Dua Puluh Purnama


Membangkitkan kenangan lama saat mereka dulu bercumbu di sofa. Ketika dengan suka rela Jeje melepaskan helai demi helai pakaiannya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya.... *** Jessica Priandani atau yang akrab dipanggil Jeje, diam dalam kelu. Sibuk jemarinya memainkan cincin, sementara bulat matanya tak lepas menatap ke arah pintu. Jelas, ia terlihat resah. Entah apa atau siapa... Continue Reading →

Cinta Dalam Sepotong Sushi


Minggu lalu kamu complain. Sederhana saja, mempertanyakan isi postingan-postingan di blog ini. Mengapa begitu banyak cerita tentang orang lain disitu, tentang teman yang dimabuk cinta, yang terselingkuhi, berselingkuh, atau apapun juga. Begitu tanyamu. Namun minim sekali cerita tentang kita, terlebih tentang kamu. Aku terhenyak, dahiku sedikit berkerut. Mencoba mengingat, benarkah yang kamu katakan. Malam itu,... Continue Reading →

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: