Aura Magis Danau Tamblingan

Mata saya nyalang melihat pepohonan besar di kiri dan kanan jalan yang membawa kami ke Danau Tamblingan. Sesekali kali kami melewati rumah-rumah penduduk yang jaraknya tidak terlau dekat satu sama lain. Hmmm, kalo ada apa-apa susah deh minta tolong tetangga, begitu gumam saya dalam hati 😀 Jadi, siang menjelang sore selepas kami Trekking di Air Terjun Banyumala, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Tamblingan. Kata Rico, sobat saya di Komunitas Travel Blogger Indonesia, Danau Tamblingan itu nggak jauh dari Twin Waterfalls itu. Saya buta arah dan buta peta jadi ya nurut aja sama itinerary yang diusulkan oleh Rico ini. Nurut yang bikin terkesima!

Kurang lebih 15 menit kami menyusuri jalan mulus di punggung gunung selepas air terjun. Kami disuguhi pemandangan Danau Buyan yang terlihat romantis dan teduh dengan pepohonan hijau yang elok. Saya menikmati betul suasana Bali yang berbeda seperti ini. Bali identic dengan pantai padahal wisata pesona danaunya juga luar biasa. Tak berapa lama kami berbelok ke jalan kecil yang sangat sepi.  Jalan tanah yang lebarnya kurang lebih 5 meter itu tidak beraspal mulus atau tertata rapi. Tanahnya keras dengan bekas ban mobil besar di sana sini yang menyisakan kubangan sehingga sedikit menyulitkan mobil kami bergerak. Beruntung, pengemudi mobil yang kami sewa cukup handal sehingga kami tidak menemui kesulitan yang berarti.

Danau Tamblingan Bali

Om Swastiastu: Penyambutan yang Tak Biasa

Jika di punggung bukit selepas Air Terjun Banyumala tadi pepohonan tidak terlalu rapat sehingga sinar matahari pun leluasa menyelip di sela-selanya, maka begitu kami berbelok turun ke jalan menuju Danau Tamblingan, pohon-pohon besar berjajar tak mau ada jeda. Suasana jadi sedikit gelap dan jujur agak membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Mencekam. Ada energi lain yang sangat besar bersemayam di sini, menghadirkan aura magis yang susah dijelaskan. Aura magis yang agung, yang membuat saya merasa kecil. Sangat kecil.

Tidak pakai lama akhirnya mobil pun berhenti di parkiran rumput yang luas. Pengemudi mobil menyilakan kami turun. Saya diam terpana melihat Danau Tamblingan yang dikelilingi oleh gunung-gunung ini. Energi agung yang tadi sempat saya rasakan kembali menyapa. Saya tersenyum dan merasa bersyukur karena mendapat sambutan yang sungguh tak terduga. Ya, buat saya, jika datang berkunjung ke suatu tempat lalu disapa oleh yang tinggal di situ adalah kehormatan. Tidak semua yang mampir akan disapa bukan?

“Kulonuwon,” begitu bisik saya saat turun dari mobil dan menginjakkan kaki di Danau Tamblingan. Seharusnya saya bilangnya “Om Swastiastu” sebagai tanda permisi kepada siapapun yang bersemayam di sini, namun saya lupa jadi saya menggunakan bahasa yang biasa saya pakai saja. Saya pikir, para Dewa pun mengerti. Tidak peduli bahasa apa yang digunakan, aura hati pasti terpancar dan dirasakan bukan? 😉

Sore itu Danau Tamblingan sedang luber airnya, mungkin akibat hujan yang turun deras sebelumnya. Hal itu membuat kami kesulitan untuk datang sowan ke dalam pura. Jalanan menuju pura yang ada persis di bibir danau ini sudah tenggelam tertutup air. Dasarnya tidak kelihatan. Tidak mau mengambil risiko karena kami tidak tahu kedalamannya maka kami pun memilih mengagumi pura dari kejauhan saja. Tidak banyak gambar yang kami abadikan di sini karena… Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya Well, pengemudi kami sudah bilang dari awal perjalanan kalau daerah Bedugul dan Singaraja itu memang sering turun hujan.

Sepenggal Kisah Danau Tamblingan

Btw saat sampai di hotel saya baru mengerti mengapa beberapa energi silih berganti menyapa saya. Di Danau Tamblingan memang ada begitu banyak pura tempat bersembahyang. Danau Tamblingan berasal dari dua kata Bahasa Bali; Tamba yang berarti obat dan Elingang yang bermakna ingat atau kemampuan spiritual. Kalau ngintip di Wikipedia, dikisahkan pada Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul kalau dulu itu ada epidemic yang menyerang warga. Lalu seseorang yang sudah disucikan pergi turun ke danau di bawah desa dan mengambil air untuk obat. Warga desa yang sakit tersebut dapat sembuh berkat doa dan kemampuan spiritual tersebut. Ohya kata Tamba dan Elingang lama-lama dilafalkan menjadi Tamblingan.

Sebuah kisah yang menurut saya syahdu, apalagi suasana di Danau Tamblingan yang penuh kabut dan sangat sunyi itu juga syahdu. Sayang sekali saat itu kami tidak menemukan tur guide atau apalah yang dapat kami tanyai soal sejarah danau dan pura ini. Sungguh, saya ingin duduk ngobrol dengan masyarakat sekitarnya. Errr, atau mungkin ini pertanda untuk saya balik lagi ke sana? 😛 Who knows ya?

Danau Tamblingan

Take me back to Danau Tamblingan, please.

Anw, jika mau ke Danau Tamblingan bisa siapkan waktu satu hari ya dan jangan lupa mengeksplorasi tempat-tempat di sekeliling. Ini itinerary gaya saya kemarin…

One Day Trip Itinerary di Bali

09.00 – 11.00 Perjalanan Denpasar-Bedugul

11.00 – 12.00 Pura Ulun Danu, Danau Beratan

12.00 – 12.30 Perjalanan ke Danau Buyan

12.30 – 13.30 Makan siang sambil menikmati pesona Danau Buyan dari atas

13.30 – 14.00 Perjalanan ke Air Terjun Banyumala

14.00 – 16.00 Trekking dan menikmati eloknya panorama Air Terjun Banyumala

16.00 – 16.15 Perjalanan menuju Danau Tamblingan

16.15 – 17.00 Danau Tamblingan

17.00 – 19.00 Perjalanan kembali ke Denpasar

 

Selamat Hari Kamis Sobat CE, pernah punya pengalaman magis di suatu danau?

Iklan

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bali dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

30 Balasan ke Aura Magis Danau Tamblingan

  1. Mase berkata:

    Ada magisnya… Sereeemmm…

  2. felyina berkata:

    Alamaaaaak. Aku baca postingan ini jadi merinding-merinding sendiri sekaligus kepo. “mengapa beberapa energi silih berganti menyapa saya” huhuw…… gimana ini maksudnya? Ceritaiiiin. *takut tapi kepo

    • Ceritaeka berkata:

      Hahaha, kalo kata temanku, energi yang menyapa itu biasanya adalah cerminan energi hati kita juga saat itu. 😊 i felt good sih waktu itu, jadi gpp laaah. Hehehe

  3. inayah berkata:

    Damai banget kayaknya mba,,,

  4. Arman berkata:

    kok gak ada foto danaunya?

  5. Iwan Tantomi berkata:

    Aku kira magisnya keluar makhluk apa gitu kak. Eh, tapi, aksesnya gampang nggak menuju ke sana? Terus apa perlu bayar ongkos atau semacamnya gitu?

    • Ceritaeka berkata:

      Aksesnya gampang kok, lebih gampang daripada Air Terjun Banyumala walo memang jalannya agak ajrut/ajrutan ya. Tapi paling enggak, kiri kanannya bukan jurang 😜
      Nggak ada bayar apapun, parkir aja gratis

  6. BaRTZap berkata:

    Kayaknya aku pernah liat danau ini, tapi dari atas bukit gitu. Waktu dalam perjalanan dari Singaraja kembali ke selatan Bali. Hmmm magis ya ternyata penampilan aslinya dari dekat.

  7. PutriKPM berkata:

    Tapi pemandangannya kayaknya bakal ngalahin aura magisnya deh. Secara ini cantik amat sih tempatnya walaupun mungkin kalau aku yang ‘disapa’ nggak akan betah berlama – lama disitu 😦 *cemen*

  8. Yudi berkata:

    menurutku, bali memang lebih keren dataran tingginya sih kak.. dibandingkan di pesisir pantai.. menurutku loh yaaa

  9. rizzaumami berkata:

    Dan pas banget kesitunya sore mbak, jadi tambah kerasa gitu aura magisnya.

  10. nh18 berkata:

    Huhuhu nasibku …
    Saya ke Bali itu (seluruhnya) dalam rangka Dinas…
    nggak bisa ke mana-manaaaa …
    Padahal ini tempatnya bagus banget

    Pengen juga eksplor Bali secara lebih rileks dan personal. Pengen banget sepedaan di pedesaan / Banjar-banjar di Bali

    Salam saya

  11. Mas Dillah berkata:

    Widihhh, mengerikan euy…

    Ada yang lebih mengerikan, makan puyuh ungkep dengan 15 cabe wkwkwkwk

  12. alihamdan berkata:

    liburan depan maen ksna laaaah
    itu gambar yang ada di uang 1000 kan yaa

  13. Ping balik: Bali Tastes Better at Berry Glee Hotel | Ceritaeka

  14. liannyhendrawati berkata:

    Aku pernah ke Bedugul tapi cuma sebentar karena hujan, jadi langsung balik menuju ke Lovina waktu itu. Kurang puas sih di sana, pengin kesana lagi 😀

  15. Fajrin Herris berkata:

    Ah kapan ya bisa ke Bali.. 😢

    Itu benaran Mbak tempat nya agak mistik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s