Jelang Asian Para Games 2018: Disabilitas Bukan Halangan untuk Berprestasi

Terik matahari yang menyengat tidak menyurutkan semangat Ijah Khadijah untuk berlatih. Tangannya kokoh memegang grip busur sementara jemari lainnya mengambil barisan anak panah di sisi kanannya. Kemudian dengan penuh percaya diri ia mengangkat busur, merentangkan string, memperkirakan sudut antar celah dengan matanya sebelum akhirnya melepaskan string yang sedari tadi ditahannya. Anak panah di tangannya melesat. Lugas menembus angin, mengeluarkan desing khas yang halus sebelum akhirnya menancap tepat di bulatan kuning papan target.

Senyum sumringah gadis manis berkulit coklat terkembang saat ia meletakkan busurnya. Dibantu pelatihnya, Ijah Khadijah, pemudi asal Indramayu ini mendorong kursi rodanya untuk mengambil anak panah yang tadi dilepaskan. Sebelah kakinya tidak ada sehingga ia harus duduk di kursi roda. Namun keterbatasan tidak mengurangi tekadnya. Ia terus berlatih demi harapan meraih prestasi.

Tepat sasaran!
Dukungan penuh dari pelatih dan teman-teman membuat Ijah semangat berlatih

Ditemui di sela-sela istirahat latihannya, Ijah mengatakan bahwa ambisinya tak muluk-muluk untuk Asian Paragames 2018 ini. “Saya hanya ingin memberikan yang terbaik, Mbak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Ini kali pertama saya ikut kejuaran.”

Seketika pena yang saya pegang hampir jatuh. Pertama kali ikut kejuaraan namun langsung tingkat Asia? Gila!

Mas Agus Budiraharjo, pelatihnya, menyela, “Ijah baru berlatih 2 bulan di pelatnas ini, Mbak. Ia menggantikan atlet lain. Saya melatihnya dari nol. Semangat Ijah tinggi, selalu ingin tahu dan pantang menyerah. Makanya walau pun masih baru, ia kami ikut sertakan pada ajang kejuaran ini. Kami optimis!” Kata Mas Agus penuh percaya diri yang diiyakan oleh Ijah.

 

Kecelakaan Motor Ditabrak Truk Muatan

Saat ditanya asal muasal terjun ke cabang olahraga panahan, Ijah sempat menunduk sebentar memainkan ujung anak panahnya sebelum kemudian mulai bercerita.

“Panahan menyelamatkan saya, Mbak. Karena panahan akhirnya saya merasa hidup kembali bermakna,” kata Ijah tulus.

Ijah terlahir lengkap bahkan sebelumnya sempat bekerja menjadi TKW di Oman selama 2 tahun. Mimpi buruk (yang sekarang berakhir manis) itu berawal dari keisengannya pergi plesiran naik motor bersama temannya. Di tengah jalan, motor yang ditumpanginya ditubruk truk muatan yang memang banyak wara-wiri di Jalur Pantura Indramayu. Ijah tidak terlalu ingat detil kecelakaan yang merenggut kaki kirinya itu, yang ia ingat saat kejadian ia berusaha keras melindungi kepalanya. Ia sempat sadar berada di kolong truk sebelum akhirnya pingsan dan bangun di rumah sakit tanpa kaki kiri lagi.

Selama 7 tahun Ijah berdiam diri di dalam rumah tanpa mau keluar bersosialisasi. Malu, minder, marah, semua emosi berkumpul jadi satu. Bahkan sempat terlintas di pikirannya kenapa ia tidak mati saja daripada harus hidup namun difabel. Beruntung Noor, kawan satu kotanya yang juga atlet panahan, mengenalkannya kepada Bapak Supriyanto (NPC Indramayu) yang memang sedang mencari bibit-bibit atlet difabel. Awalnya Ijah menolak ajakan tersebut namun Bapak Supriyanto tidak menyerah, ia menemui orang tua Ijah dan mengutarakan niatnya merekrut Ijah menjadi atlet. Dengan restu dan dorongan orangtuanya akhirnya Ijah mulai melakukan pengenalan alat panahan. Pelan tapi pasti, Ijah meraih kepercayaan dirinya lagi.

“Tujuh tahun saya ngedekem doang di rumah. Saya minder karena udah nggak kayak dulu. Saya udah beda. Padahal itu cuma di kepala saya aja. Begitu saya memberanikan diri keluar, ternyata semua menerima saya bahkan sekarang saya jadi atlet.” Senyum Ijah mengembang lebar saat mengatakan hal itu.

Panahan mengembalikan rasa percaya diri Ijah. Bergaul dan bersosialisasi memupuk semangat hidupnya.

“Sekarang masih kepengen mati, nggak?” Tanya saya iseng.

“Ya enggaklah, Mbak.” Jawab Ijah malu-malu sambil tertawa kecil.

“Saya mau hidup, saya mau berjuang buat merah putih. Saya tahu saya bisa berguna bahkan berguna buat bangsa,” lanjut Ijah lagi. Senyum malu-malu yang tadi menghiasi bibirnya sirna berganti dengan tekad membaja. Kemudian ia berpesan,

“Buat teman-teman difabel, jangan malu. Ayo keluar rumah, gabung dengan komunitas. Kita tetap bisa punya masa depan.”

 

Berlatih Tak Kenal Lelah

Untuk mengejar kawan-kawan satu timnya yang sudah berlatih di pelatnas Solo mulai dari awal Januari 2018, Ijah tak kenal lelah merentangkan busur 6 jam sehari, 7 hari seminggu. Di saat yang lain istirahat di akhir pekan, Ijah terus datang ke lapangan alias tidak mengenal hari libur. Walau begitu keceriaannya tak pernah pupus, bahkan saat kami mengambil gambar bersama ia memasang wajah gembira walaupun kelelahan dan kepanasan.

Ijah, semangatnya berlatih dan berusaha mengukir prestasi sungguh menginspirasi.

***

Baca juga:

1. Keraton Mangkunegaran yang Unik

2. Benteng Vastenburg, Riwayatmu Kini

Selepas dari Lapangan BBRSBD yang menjadi tempat latihan para atlet panahan, saya dan Bobby yang berada di Solo atas undangan INAPGOC meluncur ke Kantor NPC Indonesia guna meliput persiapan para atlet angkat beban berlatih. INAPGOC adalah panitia penyelenggara Asian Para Games ke-3 yang akan dilaksanakan pada 6-13 Oktober 2018 yang akan datang.

Semakin Marah, Semakin Kuat

Berbeda dengan di lapangan panahan yang suasananyaa teduh dan mendayu, aura penuh kompetisi langsung tercium saat saya sampai di lantai 3 Kantor NPC Indonesia yang menjadi tempat latihan para atlet  angkat besi. Terdapat 6 tempat tidur khusus yang berjajar menjadi alas buat atlet berlatih mengangkat barbel besi. Dari seluruh penjuru ruangan terdengar teriakan-teriakan meledek yang berfungsi memotivasi.

“Paksa!”

“Sarapan apa tadi pagi? Angkat!”

“Kamu bisa!”

“Angkat sampe mencret! Kalo belum mencret jangan berhenti!”

“Menang itu keputusan. Kamu putuskan angkat yang berat, kamu menang!”

Kalimat-kalimat di atas lazim terdengar. Menurut pelatih lifter difabel Coni Ruswanta, angkat besi itu unik. Semakin marah, semakin bagus karena atlet akan semakin kuat mengangkat beban.

“Kalau dipancing marah, tenaga tersembunyinya keluar lalu bisa angkat yang berat,” papar pelatih kekar yang mengatur strategi para atlet secara keseluruhan.

Berlatih jelang Asian Para Games ke-3. Saling ledek dan menyemangati demi medali!
“Paksa! Angkat terus!” Pelatih tak henti-hentinya memotivasi agar atlet berusaha menembs batas dirinya sendiri.

Cabang olahraga angkat beban tak pernah absen mengharumkan nama bangsa Indonesia. Ni Nengah Widiasih merupakan lifter peraih medali perunggu Paralimpiade 2016 di Brasil. Paralimpiade ini olimpiadenya atlet difabel lho. Kelas dunia! Kemudian pada ASEAN Para Games di 2017 lalu di Malaysia ia meraih emas bahkan memecahkan rekornya sendiri dengan angkatan seberat 96kg, 19kg lebih berat dari rekornya sendiri. Selain Widiasih, terdapat Anto Boi penyumbang emas dan Atmaji Priambodo yang mempersembahkan perak pada AGP 2017 tersebut. Tak heran Coni Ruswanta optimis akan membawa medali pada perhelatan Asian Para Games 2018 nanti.

Kenalkan, ini namanya Pak Coni Ruswanta. Abaikan wajah kocaknya ya, kalau lagi melatih mah nggak ada kocak-kocaknya, sangarnya keluar semua. Btw, pssst, itu otot tangan kenapa bikin minder yaaaa. Hahaha.

Melihat betapa kerasnya mereka berlatih setiap hari di pagi dan sore hari, saling teriak, saling menyemangati saya pun optimis perolehan medali dari cabor ini. Ah, salut banget deh sama perjuangan tak kenal lelah dan pantang menyerah dari para atlet kita.

Tentang Asian Para Games 2018

Empat hari menyaksikan bagaimana mereka berlatih tanpa kenal lelah, membuat saya menanti-nantikan para atlet kita yang selalu push themselves to the limit untuk berlaga di Jakarta. Asian Para Games merupakan even olahraga terbesar kedua setelah Paralimpiade. Pesta olahraga manusia-manusia hebat yang pantang menyerah pada disabilitas ini merupakan perhelatan ketiga setelah yang pertama di Guangzhou, China dan yang kedua di Incheon, Korea Selatan. Sungguh menginspirasi!

Mengusung konsep harmoni yang dipadu dengan Tekad (determination), Keberanian (courage), Kesetaraan (equality), dan Inspirasi dengan maskotnya MoMo (Motivation & Mobility) si Elang Bondol, Asian Para Games yang akan dilaksanakan pada 6-13 Oktober 2018 ini bakal menjadi ajang unjuk sportifitas, menghargai satu sama lain sekaligus pembuktian bahwa Disabilitas Bukan Halangan untuk Berprestasi.

Pertandingannya sendiri akan dipusatkan di Gelora Senayan Bung Karno dan beberapa tempat lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan cabor-nya sendiri. Untuk tahu lebih lengkap silakan intip web INAPGOC ya.

Ohya, jelas saya pengen banget kasih dukungan dengan nonton langsung pertandingan Asian Para Games ini khususnya cabor angkat beban dan panahan. Tiketnya bisa di beli di sini.

Ada yang mau bareng nonton Asian Para Games? Yuks janjian.

Baca Juga:

1. Kuliner Eka di Solo

2. Blusukan ke Pasar Gede

Iklan

16 respons untuk ‘Jelang Asian Para Games 2018: Disabilitas Bukan Halangan untuk Berprestasi

Add yours

  1. Aku juga ada tuh kenal atlet difabel kayak ijah. Tantangan terbesar mereka emang malu setelah kecelakaan yang naas. Manusiawi sih tapi jangan sampai berlarut-larut karena meski mereka berkebutuhan khusus mereka tetap punya potensi, bahkan melebihi manusia normal seperti kita.

    Semangat terus para atlet inspirasiku 🙂

  2. Gaung Asian Para Games 2018 harusnya gak boleh kalah sama Asian Games sebelumnya. Ketika kemarin kita bisa merasakan haru dan bangga pada perjuangan atlet, kali ini pun mestinya juga. Bahkan lebih! Sangat terharu dan mewek kalau lihat semangat mereka di tengah keterbatasan. :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: