Mengintip Rehabilitasi dan Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok Bersama Pertamina Eco Camp

Kapan terakhir kali kamu kemping? Tidur dengan beralaskan tanah dan beratapkan bintang sambil menyeruput kopi pahit dan jagung bakar? 😀 Tidak lupa ditemani suara kicau burung dan gemerisik daun yang membuat hati teduh dan tenang? Kapan?

—-

Saya sih, baru minggu lalu dong  kemping di pinggir pantai setelah hampir 15 tahun nggak pernah tidur di tenda. (Kalo glamping alias glamour camping sih nggak masuk hitungan ya 😛 hahaha). Rasanya bersemangat banget saat menerima undangan dari pihak Pertamina yang menanyakan kesediaan saya untuk mengikuti Pertamina Eco Camp di Pulau Kotok pada 4-5 April 2018 lalu. Langsung packing begitu baca itinerary-nya!

Pertamina Eco Camp: Kemping 2 hari di Pulau Kotok di bawah bintang sambil mempelajari konservasi Elang Bondol dan Revitalisasi Terumbu Karang.

Ada begitu banyak pengalaman keren yang saya alami bareng teman-teman jurnalis, CJA dan blogger lainnya yang menjadi peserta Eco Camp. Jujur, saya datang tanpa ekspektasi apa pun namun pulang dengan segudang tambahan ilmu yang bermanfaat banget.

 

YANG SERU DAN ASYIK DARI #PERTAMINAECOCAMP

Satu yang bikin excited bahkan sebelum keberangkatan adalah para peserta diminta untuk membawa peralatan makan & botol minuman sendiri. Tujuannya apa? Jelas untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Wah, wajah saya langsung sumringah. Sebagai mamak-mamak yang sering bawa tas kain sendiri bahkan saat ke supermarket, jelas hal yang begini dapat dukungan saya sampai 200%. Sesuai banget sama semangat kempingnya: Eco Camp. Tahu kan bahwa plastik itu baru dapat terurai di tanah lebih dari 100 tahun? Senang-senang kemping boleh, tapi harus tetap memerhatikan keberlangsungan sekitar. Kalo bukan kita, siapa lagi? Betul?

Biasanya geret koper, sekarang pake carriel dolo 😀

Bau khas laut yang sarat garam dan angin pantai yang segar langsung menyapa bersama es kelapa muda sesaat begitu kami sampai di Pulau Kotok.  Rasa es kelapanya segar di tenggorokan setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Ancol. Setelah itu hal pertama yang kami lakukan adalah bagi kelompok dan bangun tenda sendiri. Yes, you read that right.

#1 BANGUN TENDA SENDIRI!

Walaupun terdengar menyenangkan dan menantang, sesungguhnya saya sedikit gentar saat dibilang mesti bangun tenda sendiri. Anuh, dulu pas lagi giat-giatnya naik gunung selalu ada (mantan) pacar yang bikin dome. Saya mah tau beres. Maklum, putri raja! Hahahaha. Lha sekarang? Errr, yakin nih saya bisa? Bisa nggak ya? Hihihi, beruntung  semangat dan kerjasama dari teman setim yaitu Gita, Claudya dan Khaerunnisa bikin nyali saya batal ciut 😛

Good job, gals!

Dengan tertatih-tatih, akhirnya kami berempat sukses bangun tenda (tentu sambil sebentar-sebentar berseru minta bantuan sama siapapun yang bisa dimintain bantuan :mrgreen: hihihi).

 

#2 KOBARKAN SEMANGAT KEBAIKAN DENGAN BRIGHT CAN: MASAK NASI GORENG DENGAN BUMBU SEADANYA

Selesai membangun tenda, saya kembali menyeruput kelapa muda yang tadi diberikan sebagai welcome drink. Eh, lagi asyik-asyiknya menikmati pemandangan pantai, tiba-tiba dapat perintah untuk memasak nasi goreng. Well, saya suka sekali masak bahkan suami aja dulu jatuh hati gara-gara saya kirimi makanan terus :mrgreen: jadi pas dibilang ada lomba masak, saya pun tepuk dada. Sini, saya aja yang masak! 😛

Cowok-cowok juga bisa masak. Bright Can ringkas dibawa ke mana-mana bahkan saat kemping.

Tapi kesenangan itu tak bertahan lama karena ternyata ini lomba masak dengan bumbu seadanya. 😀 LOL. Cuma disediakan bawang merah (tanpa bawang putih), cabe, dan telur. Itu pun telurnya cuma dijatah satu. Hahaha. Gimana mau masak yang enak? Tapi lagi-lagi berkat kerjasama tim, masakan yang kami namakan Nasi Goreng Kepulauan meraih juara 3! Yeay. Hahaha. Untung ya masih menyabet juara, kalo sampe kalah telak bisa-bisa saya nggak dipercaya masak lagi di rumah. Hahaha.

Setelah kekenyangan dan hampir susah berdiri, kami masuk ke acara inti. Workshop, guys!

 

#3 WORKSHOP MENGENAI ELANG BONDOL

Tahukah kamu bahwa Pulau Kotok ini dulunya bernama Pulau Elang? Saking banyaknya elang yang berterbangan di sini. Namun sekitar tahun 80an Elang Bondol perlahan menghilang dan sekarang IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan statusnya sebagai Least Concern (rentan kepunahan). Sedih nggak sih? 😦

Hah? Rentan punah? Lho kok bisa? Ya jelas gimana populasinya nggak menurun kalau banyak masyarakat menangkapinya lalu dipelihara dan dijadikan koleksi? Padahal sejak tahun 1989 Elang Bondol bersama dengan Salak Condet ditetapkan menjadi  maskot Jakarta lho. Makanya gambarnya banyak menghiasai badan bus Transjakarta.

Fun facts tentang Elang Bondol:

  1. Elang bondol itu monogami.  Setia sama satu pasangan hingga salah satu meninggal. Hayo, elang aja bisa setia masa kamu enggak.
  2. Sarang Elang Bondol biasanya ada di pohon dengan ketinggian 25 s/d 30 m dan berada di tengah hutan.
  3. Merupakan jenis elang yang sangat sensitif tapi friendly jadi mudah ditangkap manusia.
  4. Elang bondol melakukan ritual kawin di angkasa. Namun karena hal ini juga membuat peneliti kesulitan mendeteksi mana elang betina atau jantan. Harus dilakukan tes DNA di Belanda karena tidak ada perbedaan ciri-ciri fisik.
  5. Elang Bondol memiliki bentang panjang sayap 110 cm dengan panjang dari kepala sampai ujung ekor 50 cm. Gede yaaa.
  6. Paruh berwarna abu-abu dan ini yang membedakan Elang Bondol dengan Elang Amerika yang paruhnya kuning. Nah, seharusnya gambar yang ada di badan Transjakarta adalah elang dengan paruh abu-abu.
  7. Elang Bondol adalah Jenis Burung pemangsa (Reptor) dengan tubuh lebih kecil dari elang namun lebih besar dari alap-alap.
  8. Berkembang biak pada bulan january – agustus, mengerami secara bergantian selama 28-35 hari
  9. Berburu ikan segar, cicak hutan, kadal, burung kecil dan juga jangrik sebagai makanannya

Kisah Kelam Elang Bondol: Tak Seindah Sayapnya

Jadi, nature-nya elang itu adalah hidup di alam bebas, namun elang-elang yang sudah terlalu lama berinteraksi dengan manusia biasanya lupa akan insting liarnya. Satu kenyataan pahit dari orang-orang yang mengoleksi Elang Bondol atau memeliharanya, kadang mereka bosan. Lalu Elang Bondol dilepaskan. Namun Elang yang sudah lama berinteraksi dengan manusia ya seperti manusia. Instead of cari ikan, malah makan tahu. Di mana di laut bisa cari tahu? Atau yang lebih menyedihkan lagi, banyak Elang yang sayapnya dipatahkan agar tidak bisa terbang saat dipelihara tapi kemudian pas bosan dilepaskan.

Coba gimana Elang Bondol cari makan kalau nggak bisa terbang? Selain itu Elang Bondol kan kawinnya di angkasa, kalau sayapnya dipatahkan gimana mau berkembang biak? Oleh karenanya status mereka saat ini rentan punah.

 

Program CSR Pertamina MOR 3 Kolaborasi Pertamina dan JAAN

Nah, untuk mengembalikan kemandirian elang agar bisa kembali hidup liar maka mereka dimasukkan ke dalam program rehabilitasi yang digarap oleh JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan semenjak tahun 2017 Pertamina menjadikan Pulau Kotok sebagai salah satu program CSR-nya hingga 5 tahun ke depan yaitu 2021. Program rehabilitasi Elang Bondol ini bukan hal yang sederhana karena ada begitu banyak tahapan yang perlu dilalui. Mulai dari medical check-up hingga dimasukkan ke dalam kandang sosialisasi.

Kandang Sosialisasi pertama, di mana para elang masih dimanja. Makanan dapat diraih dengan mudah.
Menuju Kandang Sosialisasi berikutnya. Psst, tidak sembarang orang bisa masuk ke sini. The perk of being blogger!
Kandang sosialisasi kedua di mana para Elang sudah harus berusaha untuk menangkap ikan sendiri di kolam yang dangkal. Tidak ada waktu yang pasti berapa lama seekor elang tinggal di kandang sosialisasi. Cepat atau lamanya tergantung dari kemampuan elang tersebut beradaptasi. Lihat saja, di kandang ini bahkan ada elang yang tinggal di sana dari 10 tahun lalu! 😦

Kandang Pre-Release Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok. Di sini, Elang sudah hidup di laut dan berusaha menangkap ikan sendiri dari air laut.

Kami hanya melihat 2 kandang sosialisasi dari beberapa tahapan rehabilitasi, namun hal itu sudah memberikan gambaran yang cukup bikin hati saya campur aduk. Antara sedih melihat keadaan mereka namun juga salut terhadap JAAN dan Pertamina. Anw, program rehabilitasi Elang Bondol ini nggak sebentar, rata-rata seekor elang butuh minimal 2 tahun bahkan ada yang lebih sebelum sebelum akhirnya insting liar mereka tumbuh lagi. Saat ini di Pulau Kotok hanya terdapat 34 ekor elang saja. 25 ekor Elang Bondol, 8 ekor Elang Laut, dan 1 ekor Elang Kepala Abu. Ohya di Pulau Kotok ini juga terdapat Sanctuary alias Rumah Jompo Elang Bondol di mana para elang yang karena kondisinya (sayapnya patah, cakarnya tidak ada atau perubahan gaya hidup yang memang sudah tidak bisa diperbaiki, dll) dipelihara hingga mereka tiada nantinya.

So, masih mau memelihara hewan liar? Please don’t. Set them free, karena Elang Bondol lebih indah jika hidup di alam bebas.

 

#4 WORKSHOP TERUMBU KARANG: KARANG ITU HEWAN ATAU TUMBUHAN?

Hal seru berikutnya adalah workshop mengenai terumbu karang. Hayooo, menurut kalian karang itu hewan atau tumbuhan? Yang menjawab tumbuhan, sini tos dulu sama saya. Tos sama-sama salah! :mrgreen: Karena terumbu karang itu hewan tidak bertulang belakang yang tinggal di dasar laut. Cup cup cup, nggak usah malu kalau salah. Saya juga baru tau kemarin kok. Hahaha.

Lho apa hubungannya terumbu karang dengan Elang Bondol? Tadi katanya ke Pulau Kotok mau mempelajari pelestarian Elang Bondol? Kok malah ikutan workshop terumbu karang? Yang satu hidup di laut, yang satu terbang di udara. Nggak nyambung.

 Weits, sabar dulu. Baca terus ceritanya biar tahu apa korelasi antara terubu karang dan Elang Bondol ya.

Workshopnya berlangsung seru, diajar langsung oleh anggota mariner Angkatan Laut. Beneran dapat banyak ilmu deh. Tahukan kamu bahwa terumbu karang merupakan tempat bertelurnya ikan? Jadi jika terumbu karang sehat maka akan ada banyak ikan berkeliaran. Artinya apa? Hewan lain yang menggantungkan makanannya dari ikan segar seperti Elang Bondol pun dapat survive karena rantai makanannya tidak terputus.

Namun seperti halnya Elang Bondol yang memiliki kisah kelam, terumbu karang di Kepulauan Seribu pun juga punya kisah sedih: banyak yang sudah rusak bahkan mati. Ada yang karena nelayan, namun banyak juga karena ulah wisatawan yang menginjak karang seenaknya. Karang patah lalu mati 😦 Nah, jika ingin menyelamatkan Elang Bondol, artinya kita mesti memastikan bahwa rantai makanan mereka tersedia. Oleh karena itu terumbu karang pun mesti direvitalisasi agar ada banyak ikan yang menjadi makanan elang ada di situ.

Latihan menanam terumbu karang di Biorock

Kami pun berlatih mengikatkan terumbu karang ke biorock. Karena masih latihan maka dilakukan di darat. Pada dasarnya terumbu karang ini direvitalisasi dengan cara stek. Namun yang perlu diperhatikan saat melakukan revitalisasi adalah bahwa karang hanya dapat berada di luar laut itu maksimal satu jam. Kalau tidak bisa mati. Anw, di bawah ini beberapa hal yang dapat saya sarikan dari workshop mengenai terumbu karang:

Ciri-ciri terumbu karang yang hidup:

  1. Mengeluarkan lendir
  2. Berwarna cerah

Manfaat terumbu karang:

  1. Tempat bertelurnya ikan sehingga merupakan sumber keanekaragaman hayati yang tinggi.
  2. Bermanfaat sebagai habitat dan sumber makanan (rantai makanan) bagi mahluk lain
  3. Terumbu karang juga merupakan pelindung ekosistem di sekitarna lainnya seperti hutan bakau, melindungi pantai dari abrasi karena mampu menahan sebagian ombak.
  4. Terumbu karang juga bermanfaat bagi penelitian

Faktor yang memengaruhi penanaman terumbu karang:

  1. Arus laut tidak terlalu keras supaya nggak lepas
  2. Tidak dilalui jalur kapal dan dipasang penanda bahwa ini merupakan area terumnu karang
  3. Terkena banyak sinar matahari agar terumbu kaarang dapat melakukan fotosintesi dan bertumbuh dengan maksimal
  4. Diauhkan dari hama baik hama kepala hitam (alias manusia) atau bulu babi yang dapat menusuk dan melukai terumbu karang.

Transplantasi terumbu karang minimal membutuhkan waktu sekitar 5-6 tahun. Dengan panjang karang tumbuh sekitar 5-9cm saja per tahun. Jadi kalau ada manusia yang menginjak terumbu karang dan menghancurkannya, sebenarnya ia bukan hanya merusak karang tapi membahayakan keseluruhan ekosistim di sekitarnya. Masih mau snorkeling sembarangan? Plis jangan yaaa.

 

#5 PENANAMAN DAN PELETAKKAN TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU KOTOK

Setelah latihan di darat tentang bagaimana melakukan penanaman terumbu karang, tiba waktunya kami praktek langsung! Duh, saya excited banget. Bersama-sama kami menuju ke perairan dangkal Pulau Kotok dan mulai menanam. Jika di darat tadi kami nggak ada masalah mengikatkan terumbu karang ke biorock maka begitu praktek di air, susahnya langsung muncul. Kami mesti menanam terumbu karang di bawah air sementara secara alami tubuh itu pengennya ngambang. Belum lagi pandangan buram dan juga mata perih terkena air laut (snorkel saya bocor). Hahaha. Seru, menantang dan jujur bikin ketagihan!

Setelah 2 biorock terisi penuh dengan terumbu karang maka biorock tersebut dibawa oleh tim diving didampingi oleh mariner ke tempat revitalisasi. Nah karena saya nggak punya lisence diving maka saya pun pergi snorkeling sama yang lain namun tetap kecipratan menikmati poto-poto peletakkannya.

 

 #6 PELEPASLIARAN ELANG BONDOL DI PULAU KOTOK OLEH BAPAK IRMANSYAH, BUPATI KEPULAUAN SERIBU

Keesokan harinya, saya menjadi saksi penting lainnya yaitu pelepasanliaran Elang Bondol bernama Lipi dan Miryam yang dilakukan oleh Bapak Irmansyah, Bupati Kepulauan Seribu. Kami mendekati kandang pre-release kemudian Pak Irmansyah pun membuka kandang pelan-pelan. Untuk beberapa detik tidak ada elang yang keluar, semua peserta Ecocamp menahan nafas. Kami deg-deg.an, bagaimana jika para Elang itu tidak mau keluar? Bagaimana jika mereka maunya di kandang saja terus? Program rehabilitasi ini gagal dong?

Wajah Bupati Kepulauan Seribu dan peserta Pertamina Eco Camp yang tegang menanti detik-detik pelepasliaran Elang Bondol di Pulau Kotok.

Beberapa saat kemudian, Lipi mengepakkan sayapnya dan melesat keluar kandang. Terdengar sorak gemuruh dari seluruh peserta. Lipi terbang tinggi ke angkasa, seolah menyambut gembira kebebasannya. Namun sebentar saja ia terbang tinggi lalu kembali terbang rendah berputar-putar di atas kandang karena pasangannya, Miryam, tidak mau keluar. Saya paham sekali kenapa Miryam tidak mau keluar, bisa saja takut akan sesuatu yang baru, atau terlalu lama di kandang makanya sudah merasa nyaman. Well, nggak mudah lho keluar dari zona nyaman itu.

Tapi Lipi tidak menyerah!

Ia terus terbang berputar-putar di atas kandang. Mengepak-ngepakkan sayapnya dengan keras bahkan saya dapat melihat jelas hentakan kepakan sayapnya seolah ingin meyakinkan Miryam bahwa terbang bebas itu enak dan indah!

Lipi, Elang Bondol yang dilepasliarkan pada tanggal 5 April 2018. Ia terbang rendah menunggu Miryam, pasangannya, untuk mengikuti jejaknya hidup bebas.

Hati saya gelisah, takut Miryam nggak mau keluar. Elang itu kan berpasangan, kalo satu nggak mau keluar, yang satunya gimana? Tapi Lipi terus setia terbang berputar-putar. Kemudian Miryam akhirnya mulai melebarkan sayapnya, awalnya kecil saja, pelan lalu tiba-tiba melesat keluar!

Mata saya basah saat melihat dua elang itu dapat terbang bebas bersama. Baik-baik ya Lipi dan Maryam, nikmati kehidupan baru yang bebas. Beranakpinaklah dan ramaikan Pulau Kotok dengan anak-anakmu nanti. Saking terharunya, saya sampai tidak menghiraukan kaki yang berdarah terkena batu sebelumnya. Semua perhatian, pikiran dan hati saya fokus pada Lipi dan Maryam.

It was one great experience, dada saya rasanya meluap dengan rasa bangga, haru dan bahagia karena ikut menjadi bagian dari Eco Camp ini. Mulai dari revitalisasi terumbu karang, pelepasliaran Elang Bondol hingga kebersamaan melalui liwetan dan api unggun.  Terima kasih Pertamina karena sudah melibatkan saya dalam hal ini.

Cara Memasuki Pulau Kotok

Just in case ada yang tertarik buat main ke Pulau Kotok, well, pulau ini merupakan konservasi alam maka tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini. Diperlukan ijin dan ada prosedur yang harus dilalui. Masyarakat umum dapat datang namun harus melalui tahapan tes kesehatan,  mengurus simaksi alias surat ijin masuk kawasan konservasi yang bisa diajukan ke TN Kep. Seribu dan BKSDA DKI JKT. Atau bisa juga dengan menjadi volunteer mengurus para Elang Bondol ini.

 

Dibuang sayang

Api unggun pada malam kebersamaan dengan Rikas Harsa – host MTYMA- berbagi cerita soal coffee dripping.
Mengejar sunrise di Pulau Kotok
Menikmati pantai Pulau Kotok.
liwetan!

Hampir jam makan siang saat saya selesai menuliskan artikel ini. Perut keroncongan lalu jadi inget satu hal seru yang kami lakukan saat Eco Camp kemarin: LIWETAN! Maaak, rasanya menyenangkan banget duduk memanjang dengan nasi dan segudang lauk-pauk berjajar di depan mata di atas daun pisang. Kebersamaannya mantep banget mana sambalnya juara. Hahaha, pengen lagi. Ditunggu undangan lainnya ya, Pertamina!

 

Selamat Hari Kamis, Sobat CE. Apakah masih mau menjadikan satwa liar sebagai hewan peliharaan?

 

Baca juga kisah perjalanan saya yang lain bersama dengan Pertamina:

  1. Jelajah Energi Cirebon: Cari Minyak itu Nggak Mudah, Gunakan dengan Bijak
  2. Ekowisata Mangrove Karangsong: Konservasi dan Rehabilitasi yang Mendayagunakan Masyarakat Sekitar
Note: Sebagian besar foto adalah koleksi saya pribadi, beberapa adalah foto dari WA group Green Energy Ecocamp. Kegiatan ini juga disebarkan langsung melalui Twitter dan Instagram dengan hashtag #PertaminaEcoCamp #KobarkanKebaikan #ElangBondolPulauKotok #EcoCampDay1 #EcoCampDay2
Iklan

47 respons untuk ‘Mengintip Rehabilitasi dan Konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok Bersama Pertamina Eco Camp

Add yours

  1. Ikut terharu membaca saat-saat pelepasan Elang Bondol kembali ke habitat moyangnya, Mbak Eka. Semoga mereka kuat, survive lalu berkembang biak dan mengembalikan kejayaan spesiesnya di Pulau Kotok atau kepulauan Seribu umumnya. Amin

    1. Amiiin. Iya, Mbak. Aku sampe speechless pas lihat akhirnya mereka terbang bebas. Huhuhu.
      Sebagai blogger, bagian kita ikut menyuarakan hal-hal positif seperti ini agar makin banyak orang yang tahu.

      Salam,
      ESS

  2. Wahhh.. pengalaman yang luar biasaaaa..
    Pasti seru banget ya. Memang perlu banget kegiatan pelestarian alam dan hewan seperti ini. Jempol deh buat pihak penyelenggara dan semua peserta (“,)

    Btw saya juga baru tau terumbu karang termasuk binatang. Saya pikir tumbuhan hahaha

  3. bersyukur aku baca ini mbak eka, semoga banyak elang-elang seperti dulu, semoga gak punah, kegiatan kaya gini sangat bermanfaat dan juga seru pastinya, kemping asyik ya di pantai hehe

  4. Kegiatan seperti ini semoga bisa mengembalikan dan menjaga kelestarian Elang Bondol dan satwa liar lainnya yang jug mengalami nasib yang sama.

    Kegiatan kemping seperti ini semakin mempermuda jiwa, walau capek tapi puasnya itu ga cukup dengan kata2 ya mba 🙂 .

  5. Seruuu!! Semoga elang yg di lepas bisa survive dan berkembang biak ya.
    Baca ttg elang bondol ini nasibnya serupa dgn binatang2 lain yg nasibnya terancam punah, dijadiin peliharaan-bosen-dilepaskan dgn tidak bertanggung jawab. Tega banget. Edukasi perlu terus digalakan ya, masih peer banget

  6. Seru ya kegiatannya

    Jadi ingat pertama kali ikut workshop fotografi duluuu banget salah satunya belajar motret Elang Bondol di kepulauan Seribu. Pun kemping terakhir kali pas jelang lebaran 2010 juga di kepulauan seribu, di Semak Daun dan Perak.

  7. Asik bgt acaranya mb, selalu suka acara seperti camping dan konservasi, saya juga baru tahu sayap elang sengaja dipatahin begitu, ya ampunnn egonya manusia!!, yang bikin ikutan terharu ketika Lipi dan Maryam mencoba untuk terbang, ooh senangnya 🙂

  8. Subhanallah, ternyata banyak keindahan di alam fauna. Elang bondol nya bagus mbak. Adakah syarat untuk ikut acara seperti itu mbak. Saya baru tahu.
    Salam mbak saya syafiq. dari Kota Kediri

  9. wah, baru tau mbak kalau ternyata terumbu karang itu hewan >.<
    makasih infonya mbak.

    aku jadi sedih pas tau tentang elang bondol, tetangga juga seneng pelihara burung.
    jadi kasian, seharusnya mereka bisa terbang bebah, eh malah dikurung demi kesenangan manusia.
    apa lagi kalo udah bosen dibuang 😦

    ceritaliana.com

  10. salut buat pertamina..sy sih berharap lebih banyak lagi daerah ekowisata seperti ini.belajar dari negara2 yg lebih maju, mereka concern banget dengan konservasi alamnya.dan mereka menuai manfaat yg jauh lebih banyak dibanding negara lain yg terlalu berat ke sektor wisata komersil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: