Ekowisata Mangrove Karangsong: Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan yang Mendayagunakan Masyarakat Sekitar

Selesai kunjungan di drilling site Pertamina EP Asset 3 Jatibarang dalam rangka Jelajah Energi Cirebon, rombongan blogger dibawa mengunjungi Ekowisata Mangrove Karangsong yang terletak di Indramayu. Ekowisata Mangrove Karangsong ini merupakan kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan dari PT Pertamina melalui unit pengolahan RU VI Balongan. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai ekowisata tersebut dan dalam perjalanan kami melihat Kilang Minyak Balongan dari kejauhan serta menyempatkan diri bertandang ke Rumah Berdikari.

Rumah berdikari ini merupakan semacam tempat berkumpul para warga. Di sini mereka dilatih dan diberikan ketrampilan untuk mengembangkan hasil dari tanaman mangrove sehingga mereka bisa mendapatkan peghasilan tambahan. Anw, di sini saya bau tau kalau mangrove itu bukan cuma bakau aja tapi semua tumbuhan yang terpengaruh pasang surut air laut maka dapat dikategorikan sebagai mangrove. Hahaha, doh… kemana aja gue 😛

Hasil olahan mangrove

Mangrove diolah menjadi berbagai macam panganan seperti sirup, dodol, kecap bahkan peyek. Saya sempet nyicipin sirupnya, beuh.. Seger! Apalagi di tengah terik matahari Indramayu, itu sirup kayak pelepas dahaga yang paripurna banget. Dari hasil ngobrol dengan Bapak Adiatma Sardjito, Vice President Corporate Communication PT. Pertamina yang tak pernah absen menemani Blogger Touring Jelajah Energi Cirebon ini, beliau mengatakan bahwa ada banyak banget dampak positif yang bisa dirasakan masyarakat melalui CSR Pertamina Hijau. CSR ini dimulai dari tahun 2010 lalu saat ditemukan adanya abrasi pantai dari hasil survey. Telah ditanam lebih dari 15.000 pohon mangrove di lahan seluas 50 ha tersebut. Dampak positif dari konservasi dan rehabilitasi terhadap lingkungan bukan cuma terhadap alam tapi juga dirasakan masyarakat dalam hal perekonomian. Saya mengangguk-angguk setuju. Lha itu sirup, kecap,dodo lama peyek hasil olahan mangrove itu enak lhooo, bisa jadi komoditas ekspor.

Selain itu, ada banyak pelatihan yang silih berganti diberikan kepada masyarakat agar mereka bisa berdikari. Yang baru-baru ini dilakukan adalah pelatihan tour guide yang mendapat animo tinggi dari masyarakat. Lho, tour guide? Di Indramayu? Wisata apa yang bisa dilihat di sini? Ya Ekowisata Mangrove Karangsong ituuuu. Jadi, Pertamina berhasil melakukan konservasi dan rehabilitasi lingkungan serta menghadirkan berbagai macam kegiatan yang bisa dinikmati masyarakat. Bahkan Ekowisata Mangrove Karangsong menjadi ikon wisata Indramayu. Wajar sih kalau jadi ikon wisata, saat kami mampir ke sana rasanya seru banget bisa naik kapal kayu ke hutan mangrove dan keliling berjalan kaki serta mempelajari ilmu pengetahuan baru tentang mangrove, flora dan fauna serta manfaat dari tanaman bakau tersebut.

Selesai dari Rumah Berdikari, kami pun mengunjungi Ekowisata Mangrove Karangsong dengan kapal kayu. Ekowisata ini terbuka untuk umum dan untuk masuk ke dalamnya dikenakan biaya Rp. 15.000 sudah termasuk ongkos kapal. Setelah mengenakan jaket pelampung, kapal kayu kami pun bertolak melalui jalur yang tidak terlalu lebar sehingga kalo berpapasan sama kapal lain goyangan airnya itu kerasa banget 😀 Bukannya takut, kami yang di kapal malah ketawa-ketawa senang soalnya lucu aja gitu. Hehehe.

naik kapal kayu menyusuri ekowisata mangrove

Sekitar 10 menit aja perjalanan di kapal dan kami pun sampai di wilayah mangrove yang memberikan edukasi kepada masyarakat. Setelah itu baru memasuki wilayah ekowisata mangrovenya. Yang beda dari hutan mangrove Karangsong ini adalah jalan setapaknya. Well, biasanya kan jalan setapak di hutan mangrove itu pakai kayu tapi yang ini menggunakan pilinan bamboo yang dikerjakan oleh masyarakat sekitar. Wah, lagi-lagi memberi dampak positif bagi perekonomian lokal ya. Bravo!

Anw, sebelumnya saya terkesan dengan safety SOP dari Pertamina, tapi setelah mampir ke Ekowisata Mangrove Karangsong, kali ini saya terkesan dan bahkan kagum dengan CSR Pertamina yang menurut pendapat saya berjalan dengan baik. Banyak CSR yang berjalan searah lho, tapi CSR Pertamina Hijau ini sukses merangkul masyarakat sekitar bukan hanya untuk berperan serta namun juga menjadi lebih berdaya guna.

Selamat Hari Jumat, Sobat CE. Sudah pernah main ke hutan mangrove?

 

Iklan

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jawa, Lingkungan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

28 Balasan ke Ekowisata Mangrove Karangsong: Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan yang Mendayagunakan Masyarakat Sekitar

  1. mysukmana berkata:

    baru tau kalau mangrove ternyata bisa di jadikan bahan dasar makanan..

  2. adelescarlet berkata:

    di Balikpapan juga ada kawasan mangrove, yuk jalan2 ke sini kak 😀

  3. Ria berkata:

    lebih cakep dari yg ada di Jakarta… mudah2an kebersihannya jg terjaga ya… yg di Pantai Indah Kapuk itu parah booo sampahnya 😦

  4. Monda berkata:

    ke kawasan mangrove yang dikelola sih belum pernah Eka, tapi jaman kecil sih biasa masuk2 ke hutan bakau asli walau cuma di pinggir2nya doang..
    jadi kepengen ih nyoba sirup dari buah mangrove..

  5. Dewi Rieka berkata:

    Asyik banget ni wisata di karangsong, tak cuma wisata, dapat banyak ilmu yaa..edukatif..

  6. omnduut berkata:

    Sepertinya aku pernah jalan-jalan ke mangrove ini dari salah satu tayangan di televisi 😀

    Sejak diajakin ke Mangrove Tapak yang ada di Semarang, aku jadi menambah satu destinasi wisata lain yang rasanya wajib dikunjungi jika ada di satu kota. Suka banget kalau udah perahuan di mangrove gitu, serasa masuk ke “dunia lain”

  7. Di tempat saya sekarang juga banyak mangrove ny, tapi belum dikelola dengan baik dan belum menjadi tempat ekowisata..

  8. Johanes Anggoro berkata:

    Selain wisata gardu pandang ala mangunan, sekarang mangrove juga lagi hits dmn2 nih kak. Aku sukanya sih yg udah rimbun gitu jadi adem kalo jalan siang.
    Banyak juga yg baru dirintis jadi semacam mangrove trail. Alternatid baru buat wisata murah meriah hehe.

  9. Inayah berkata:

    kalau sirop mangrove aku kebayang, tapi peyek? hmm penasaran

  10. Deddy Huang berkata:

    pas liat foto paling akhir, berasa pengen difotoin di antara pohon 😀

  11. pemupukan kelapa sawit berkata:

    Ternyata sudah banyak olahan dari mangrove. Masukkan list jalan-jalan hehe

  12. Anip berkata:

    Boleh juga dicoba, kebetulan di tempat saya di Trenggalek ada juga kawasan hutan Mangrove. tapi belum terkelola dengan baik. coba kapan2 kesini gan siapa tau bisa memaksimalkan potensi yang ada disini.

  13. yoonciang berkata:

    keren kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s