Palembang Trip: Kisah Kasih Tragis di Pulau Kemaro

Mendung menggayut di langit Palembang saat saya dan teman-teman travel blogger lainnya menaiki kapal dari dermaga di Kawasan Benteng Kuto Besak. Walaupun mendung, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk naik ke atas kapal yang akan membawa kami ke tujuan wisata berikutnya yaitu Pulau Kemaro. Hup! Saya pun meloncat ke dalam kapal.

Sebenarnya Pulau Kemaro ini bukan pulau sih melainkan delta kecil yang berjarak sekitar 7km dari Palembang. Bisa ditempuh dengan kapal mesin berukuran sedang yang muat sekitar 20 orang, bisa juga sewa perahu bermotor yang muat 6-8 orang, penduduk setempat menyembutnya ‘perahu ketek atau jukung’. Biaya sewa perahu ketek berkisar antara 150 sampai 200 ribu tergantung kesepakatan.

Denyut kehidupan di sekitar Sungai Musi
Denyut kehidupan di sekitar Sungai Musi

Sepanjang perjalanan membelah Sungai Musi, mata saya disuguhi denyut kehidupan yang berbeda dari yang biasanya saya lihat di Jawa. Perahu-perahu kecil hilir mudik, perahu besar ada yang nongkrong bahkan saya juga melihat para penyelam tradisional yang mencari harta karun. Well, Kerajaan Sriwijaya dulu kan sangat Berjaya di masanya dan banyak pedagang yang datang menggunakan perahu. Di antara perahu-perahu tersebut ada yang karam dan meninggalkan barang bawaannya di dasar sungai. Itu yang dicari oleh para penyelam tersebut. Wow banget ya? Saya pikir hal yang seperti ini hanya ada di luar negeri, nggak nyangka saya bisa melihat para pemburu harta karun ini dari dekat begini.

Kapal-kapal kecil dengan para penyelam amatir yang memburu harta karun. Mereka menyelam tanpa perlengkapan memadai lho, hanya dengan peralatan seadanya gitu; kompresor dan selang panjang.
Kapal-kapal kecil dengan para penyelam amatir yang memburu harta karun. Mereka menyelam tanpa perlengkapan memadai lho, hanya dengan peralatan seadanya gitu; kompresor dan selang panjang.

Anw, menempuh perjalanan sekitar 30an menit, akhirnya kami sampai juga ke Pulau Kemaro. Asal muasal nama ini dari kata kemarau alias kekeringan karena walaupun Sungai Musi sedang pasang dan meluap namun Pulau ini tetap kering dan nggak pernah kebanjiran. Makanya tidak sedikit orang yang mengkeramatkan pulau ini. Di Pulau Kemaro ini terdapat vihara yang merupakan tempat ibadah agama Tridharma yaitu agama Tao, Budha dan Konghucu.

Pulau Kamaro Palembang 9

Saya menyempatkan diri untuk masuk ke dalam vihara, setelah permisi dan meminta ijin saya pun memotret bagian dalam vihara. Vihara ini cukup special bagi masyarakat keturunan Tionghoa, pada saat Imlek atau perayaan Cap Gomeh, banyak yang datang beribadah dan juga berziarah di Pulau Kemaro ini.

Selain vihara, juga terdapat pagoda 9 lantai di bagian belakang. Sayang banget pagodanya terkunci, penasaran deh pengen masuk :).

Jalan menuju ke area belakang vihara. Teduh!
Jalan menuju ke area belakang vihara. Teduh!

Pohon Cinta Pulau KamaroSetelah puas berpotret di pagoda, saya melangkahkan kaki menuju bagian belakang pagoda, di sana terdapat Pohon Cinta yang merupakan simbol cinta kasih dari dua orang berbeda bangsa dan keyakinan yang menjadi legenda terbentuknya Pulau Kemaro ini. Pssst, katanya sih jangan macam-macam atau bertingkah laku aneh di Pohon Cinta ini, bisa kualat lho! Tiga teman saya putus cinta setelah mampir dan agak-agak gimana di Pohon cinta ini :D.

Legenda Pulau Kemaro: Kisah kasih yang Berakhir Tragis

Ada dua versi yang menjadi legenda terbentuknya Pulau Kemaro ini, versi masyarakat Melayu dan versi masyarakat Tionghoa. Bedanya dikit aja sih. Jadi ceritanya, dahulu kala ada seorang Putri bernama Siti Fatimah yang cantik dan baik hati. Seorang Saudagar kaya bernama Tan Bun An (weiiits yang orang Batak jangan GR dulu, namanya Tan Bun An, bukan Tambunan ya :mrgreen: ) pun jatuh cinta. Kalau versi Melayu, ayahanda Siti Fatimah kurang setuju lalu untuk menggagalkan lamaran Tan Bun An, sang raja meminta Tan Bun An membawakan mahar perhiasan-perhiasan mahal dari tanah Tiongkok. Tak dinyana Tan Bun An pun menyanggupi! Ia balik ke negerinya lalu membawa 7 drum besar sebagai mahar. Untuk mengecoh perompak yang dulu itu terkenal ganas banget, drum itu pun diisi dengan sayur mayur. Saat sampai di Palembang, Ayahanda Siti Fatimah tersinggung karena dihadiahi sayur-mayur busuk, jadi drum-drum itu ke Sungai Musi. Tan Bun An berusaha menyelematkan drum berisi perhiasan dengan melompat ke dalam sungai, diikuti oleh Siti Fatimah. Namun malang, mereka tidak pernah muncul kembali. Lalu muncullah delta ini dan dibuatlah vihara untuk mengenang mereka.

Legenda Puau KamaroNah, itu adalah legenda versi Melayu, kalau legenda Pulau Kemaro yang versi Tionghoa bisa dibaca di prasasti ini.

Bye Pulau Kamaro! Sampai bertemu lagi.
Bye Pulau Kemaro! Sampai bertemu lagi.

Phew… Mengunjungi Pulau Kemaro ini semacam wisata ziarah yang menyenangkan. Andai saja ada penyewaan baju-baju tradisional Cina maka berfoto di sini akan menambah kenangan manis nih. (Halah, bawaaannya mau poto narsis molo 😛 Hehehe). Hampir satu jam kami berada di sini. Satu jam yang membawa saya ke masa lampau dengan kisah cinta suci dua anak manusia. Ohiya, tanggal 8-9 Maret 2016 ini ada Gerhana Matahari Total (GMT) di Palembang lho. Jadi selain bisa mampir ke Pulau Kemaro bisa ikutan rame-ramean GMT Festival. Bakal ada banyak acara menarik untuk menyambut fenomena alam yang cantik ini. Akan ada Glowing Nite Run Road to GMT 2016, pelepasan balon dan lampion sampai lomba foto segala. Seru!

Selamat hari Kamis, Sobat CE yang manis. Semoga semua dipeluk dengan cinta kasih yang hangat dari orang yang disayangi ya :* muach!

.

.

.

Baca Juga:
  1. Hunting Kuliner di Palembang
  2. Ayo ke Palembang Lihat Gerhana Matahari Total
  3. Menyusuri Jejak Sejarah Sriwijaya
Iklan

49 respons untuk ‘Palembang Trip: Kisah Kasih Tragis di Pulau Kemaro

Add yours

  1. sama kita, Eka… aku jg blm pernah sukses masuk ke dalam pagoda. Wkt ke Semarang jg gagal total masuk ke pagodanya… BTW, Eka bakal di sana smp GMT ya?

    1. Hehehe… Udah beberapa kali ke Pagoda and belom pernah masuk. Bhiks. Enggak, Kak. aku pengen banget liat GMT tapi ada kerjaan tanggal segitu. Namun aku masih tak berhenti berharap, kali aja semesta mendukung pas akhir-akhir malah bisa liat GMT. *amiiin*

  2. Palin senang kalo ke palembang atw kota sejenis yang ada sungai nya seperti pontianak dengan kapuas dan samarinda dengan mahakamnya… adalah makan di restoran di atas kapal yang berjalan menyusuri sungai… 😀

    1. Barti mesti main sini lagi kaaaak. Tapi emang gitu sih ya kak, sering banget kejadian orang-orang yang ada di sekitar malah nggak main ke tempat wisata dekat situ, mainnya yang jauh. Demikian juga sebaliknya. Btw berapa lama dulu di Palembang kak?

  3. Manarik sekali cerita tentang pulau kemaro, ternyata disana juga terdapat pohon cinta yang juga dipercaya setiap pasangan yang datang di sana akan putus mungkin ini terdengar sangat menakutkan bagi setiap pasangan yang akan datang kesana, tapi satu hal yang harus di ketahui semua tergantung dari kenyakinan setiap masing2 orang,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: