When You Have 8 Hours only in Yogyakarta

Yogyakarta, suatu kota yang seolah selalu melambaikan tangan mengajak pulang, kota yang riuh dengan banyak pendatang namun tetap kental dengan istiadatnya sendiri. This beautiful city is too large to be explored in 8 hours only. I have no idea why but I always fall in love with it, always feel homey, always feel welcomed here. Once there was time I only got 8 hours here and these were things that I did:
Shop till you drop at Jalan Malioboro and Mirota
Yogyakarta itu terkenal banget dengan jalan Malioboro, suatu jalan yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Dulu waktu kecil saya sering diajak mamak ke kantor pos ini, di depannya ada sebuah bank (yang gak kalah besarnya) dan entah mengapa saya selalu terpesona dengan dua bangunan ini. Jalan Malioboro ini secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani, katanya sih ketiga jalan ini adalah poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta. Amazing, bukan?
Jalan Malioboro yang femes ituh! Gambar yang ini boleh minjem dari wikipedia_maliobor_street.
Saya selalu menyenangi melangkahkan kaki di jalan ini, berhimpitan dengan banyak manusia, berbenturan dengan ragam suku dan budaya. Tentu saja kita harus pandai-pandai menawar jika berbelanja di sini. Tapi jika mau aman, pergi saja ke toko Mirota di ujung jalan Malioboro. Komplit jualannya dengan harga pas. Tentu tidak akan tertipu namun kita akan kehilangan berinteraksi dengan orang-orang di sepanjang jalan Malioboro itu. Jam-jam tertentu di Mirota akan ada seorang ibu yang mendemonstrasikan cara membatik dengan canting dan malam yang panas. Sayang gak sempat mengabadikan momen itu, saya terlanjur tenggelam di teduh mata sang Ibu.
Plang inilah yang sempat saya jepret di Mirota. Filososinya indah banget. Semoga saya bisa menerapkannya 🙂

Mampir ke Taman Sari

Puas berbelanja, Pak Heru, rekan kerja saya di Kantor Regional Yogyakarta menawarkan untuk kami mampir ke Taman Sari. Tawaran ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan, berkali-kali ke Yogya bahkan pernah tinggal 10 tahun di sini tapi saya memang belum pernah mampir ke Taman Sari. Duh! Ndeso bener ya saya? :mrgreen:. Taman Sari ini adalah suatu situs taman yang dibuat pada abad ke-18, fungsinya banyak sekali. Bukan cuma sebagai  tempat pemandian putri-putri raja zaman dulu, namun Taman Sari juga berfungsi sebagai tempat meditasi, tempat beristirahat bahakan juga sebagai benteng pertahanan.  Pertama memijakkan kaki, aura berbeda muncul. Suatu aura yang sulit dijelaskan, namun saya tahu ada yang sedang mencoba berkomunikasi dengan saya. Secara halus saya mencoba menghindari energi itu dan memilih untuk lebih fokus menikmati eloknya bangunan Taman Sari. Kami menyewa seorang tour guide yang banyak menceritakan sejarah Taman Sari, lebih detilnya nanti saya tuliskan terpisah saja ya.

Terpesona Eloknya Candi Prambanan

Hari sudah melewati pukul 2 siang. Setelah makan bakso di pinggir jalan, saya dan 2 kawan kebingungan. Mau ngapain lagi? Pesawat masih 4,5 jam lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk melongok sejenak ke Candi Prambanan, tempat Loro Jonggrang dulu membohongi Bandung Bondowoso yang berniat menikahinya sehingga konon katanya dikutuk menjadi arca batu karena tipu muslihatnya tersebut.
Menikmati senja di Candi Prambanan. Eksotisme tersendiri 🙂
Lihaaat… Lihaaaat.. Aku sudah menjadi raksasa! Aku lebih besar daripada Candi Prambanan! ^_^
Putri yang teronggok di antara puing-puing batu candi. | putri?! Putri katamu, Ka? Namamu kan EKA bukan Putri. #monolog :mrgreen:
Yep, 8 jam yang efektif sekali 🙂 Terima kasih Mas Heru yang begitu baiknya mengantarkan saya menyusuri Yogyakarta dan sekitarnya.
Salam kangen Yogyakartaku! Kota Berhati Nyaman dengan banyak kenangan ^_^
Apakah, Sobat CE sudah pernah ke Jogja? Ke mana dan ngapain saja?
Iklan

53 respons untuk ‘When You Have 8 Hours only in Yogyakarta

Add yours

  1. Aku udah ke Yogya beberapa kali Mb, itu juga karena punya suami orang Yogya 🙂 Dan bener deh suasana di Yogya bikin kita jatuh cinta, pasti pengen balik lagi ke sana. Budayanya itu loh masih kental banget. Banyak tempat-tempat pariwisata yang wajib dikunjungi kalo ke Yogya.

    Oia kalo ke Yogya lagi penasaran mau kunjungin Taman Sari yang Mb Eka bilang 🙂

    1. Sudah lama dibuka kembali Bil 🙂
      Sudah bisa masuk areal dalam candi dan beberapa candi, cuma kalau yang masih renov ya belum dibuka, kalau gak salah ada 2 candi yang belum boleh dimasuki.

  2. Jogja emang selalu bikin kangeeeenn… paling enak jalan pagi-pagi di sekitar keraton dan alun-alun, tenang, anteng, ga rusuh kaya pagi di Jakartaaa.. hihihi…

    Kalau ke Jogja lagi aku juga mau mampir ke Taman Sari aaah,, berkali-kali ke Jogja belum pernah singgah ke sana.. 😀

    1. Beneeeeeeeer.
      Tenang dan teduhnya Jogja itu… Duh! Gak ada yang ngalahin.
      Ayok mbak ke Taman Sari, itu masih banyak foto-foto lain tapi daku ndak upload 😀 Cantik banget koq

    1. Lho memangnya harus?
      Yang pakai sarung itu kalau pakai celana pendek setahuku, kalau udah pakai celana panjang gpp.
      Tapi Candi Prambanan ini gak terlalu ketat sih soal pakaian, gak kayak candi-candi Hindu di Bali mbak

  3. Sedikit tips mak. Kalau ke Mirota jam 8 pagi pas buka itu lebih enak. Malamnya nggak lihat Sendratari Ramayana? Aku lbh suka nonton sendratari drpd jalan2 ke candinya. Bisa foto2 dg para penari juga.

    1. Wow! Thank you mbak, ini tips berguna banget. Jam 8 pagi ya? Siiiip.
      Aku belom nonton sendratari Ramayana, alasannya tuh karena aku gak tahan begadang mbak 😀 lha mulainya aja udah jam 8 selesainya malem banget.
      Tapi semoga kali lain aku bisa nonton *berjanji pd diri sendiri* 🙂

  4. Ullen Sentalu udah dicoba belum? Tapi gemes kalau ke sana, tournya selalu terbatas jadi gak puas liat2 isi museumnya. Padahal liat museum itu kan gak bisa dimenitin.

  5. Akyu ingin! Terakhir kesana waktu kuliah, waktu kuliah si sering karena deket Semarang-Yogyakarta, tapi sekarang jarang 😦
    Tapi aku mau ke Bali duluuuu..daaah.. :)))

  6. baru aja bulan kemaren dari sana mbak…jogja emang selalu punya cerita,,, 🙂
    tak terkecuali saya..hmmm rasanya pengen kesana lagi 🙂
    cuma belum sempat ke candi karena waktunya dikit bget mbak 😉

  7. Yogya adalah kota yang statik, pembangunan kotanya tidak begitu pesat. Kata orang di sana, Yogya ya begini-begini saja. Saya sudah enam kali ke kota Yogya sehingga bisa menyimpulkan tidak banyak berubah dari kota ini. Jangan salah tulis ya, nama yang benar untuk kota Yogya itu adalah Yogyakarta, bukan Jogjakarta atau Djogjakarta, atau kota Jogja. Itu bisa kita lihat dari nama resmi kerajaan Mataram di daerah itu yang berbunyi “Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningngrat”. Kesultanan ini didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 (Sumber: Wikipedia). Tetapi orang sudah terlanjur salah mengucapkan nama “Jogjakarta” atau “Djogdjakarta” atau “Jogja” saja. Ini semua disebabkan warisan ejaan lama yang menuliskan bunyi “y” sebagai “j” dan bunyi “j” sebagai “dj”.

  8. udah pernah terakhir kali tahun 2006, bapak saya orang jogja, tapi jarang ke jogja sayanya, sekali ke jogja pinjam motor sepupu dan nekat keliling, dan akhirnya nyasar, di sana kan rata-rata jalanya pada satu arah,

  9. aku pernah ke JOgjaaa!
    ke tempat tinggal mbak-mbak dan mas-masku di suryowijayan!
    kemarin juga abis travelling kesana,
    dan nggak lupa buat foto di depan plang jalan malioboro
    😀

  10. Dulu banget mbak, satu dasawarsa yang lalu. Yang saya ingat hanyalah kemahiran saya tawar menawar, jadi temen saya se bis nguntitin saya mlulu kalo belanja di sekitaran keraton n malioboro, sampai2 saya memisahkan diri, biar bisa menikmati Jogja.. Kapan lagi yaaaa??

  11. yg lagi pose di batu-batu itu cantik banget euy 🙂 siluet candi saat senja pun cantiiiik :). Terakhir ke Jogja tahun 2008 kak, ke Prambanan, Taman Sari, Mirota, Malioboro, Vredeburg 😀 ahhh pokoke Jogja kerenlah 🙂

  12. Apa yang membedakan antara Jogja dan Bali secara keseluruhan? Culture Jogja tidak lepas dari sejarah Mataram Hindu yang sudah dikunjungi Mbak Eka (Candi Prambanan), periodisasi sejarah kemudian berganti di Era Mataram Islam, nah disinilah keraton Ngayogyokarto bermula. Maka culture keraton jogja tumbuh dalam inkulturasi budaya Hindu ke era Islam, dan tentu saja bertautan ke duanya, sehingga kita bisa lihat sebuah mozaik kejayaan HIndu dan Islam. ini semau di terwakili oleh keraton jogja dan Solo. Islam kemudian tumbuh di tengah masyarakat, yang saat itu masih belum sepenuhnya meninggalkan ritual dalam agama Hindu. Walaupun di zaman sekarang tidak lagi terlalu tampak. Bagi orang jawa tulen masih ada yang menjadikannya sebagai pedoman hidup. Dan di beberapa pelosok desa masih bisa dijumpai kegiatan dibalut dengan tidak melepaskan Hindu dan Islam.
    Di Bali keadaan jauh berbeda, sejak Majapahit runtuh segala ke-hinduan masih hidup dan berkembang di Bali. Bahkan sudah menjadi nilai dan pedoman kehidupan di tengah masyarakat Bali. Budaya di Bali masih cukup kuat mempertahankan ke Hinduan tidak hanya pada ritual saja, tapi merasuk di setiap jiwa orang Bali. Maka tidak heran banyak dijumpai tempat ritual/tempat doa yang termanifestasikan melalui Pura dan tempat doa di pinggir jalan. Tidak menutup kemungkinan orang Bali dimanapun akan membawanya ke setiap ujung dimana orang Bali tinggal. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: