Esensi Pendidikan dan Legitimasi Nilai

An educational system isn’t worth a great deal if it teaches young people how to make a living but doesn’t teach them how to make a life. -Unknown-

Apakah memori yang terpatri ketika ditanya bagaimana sekolah dulu? Menghafal nama pahlawan, nama ibu kota suatu provinsi atau menghafalkan letak suatu negara di sebuah peta yang kosong? Begitu? Jika benar, berarti pengalaman kita sama :mrgreen: saya juga begitu koq. Dijejali hafalan ini dan itu tanpa mengerti apa sih relevansi ilmu pengetahuan yang saya hafalkan tersebut buat kehidupan nyata. Teori sosial, rumus fisika, hukum Newton atau teori gravitasi yang saya baca dan hafalkan semalam suntuk itu, saya pindahkan ke kertas ujian, dapat nilainya: kalau bagus disimpan, kalau jelek dibuang. Tapi dampaknya di kehidupan nyata apa? Saya tidak tahu dan mungkin banyak siswa-siswa lain juga yang tidak tahu. Gak heran kalau banyak murid mengeluh pelajaran itu berat banget, tapi pengusaha yang menerima pegawai-pegawai pandai lulusan universitas terkemuka juga mengeluh kenapa mereka tidak siap kerja.

Tidak, saya tidak menyalahkan kurikulum atau para guru, mereka adalah orang-orang garda depan yang harus menjalankan kebijakan suatu program dengan salah satu Key Performance Indicator-nya adalah murid mampu menjawab ujian sekian persen. Mau tidak mau banyak guru jadi memaksa murid untuk menghafal, tidak memberi ruang bagi murid untuk berpikir aktif. Tapi sekelumit pengalaman saya di kelas III SMP ini mungkin bisa menjadi sedikit pembanding.
Ketika SMP saya bersekolah di sebuah sekolah yang baru didirikan di pinggiran Jakarta. Kalau tidak salah ingat, saya adalah angkatan ke-III ketika memasuki sekolah tersebut. Guru-guru yang ada pun sebagian besar adalah guru-guru baru. Tapi justru itu yang membuat saya merasa senang bersekolah di situ dan tidak meminta pindah. Guru-guru baru yang ada di sekolah itu tidak menjejali saya dengan latihan soal yang banyak atau memaksa saya menghafal Teori Evolusi Darwin. Tidak begitu. Saya ingat di pelajaran Biologi saya diajak membedah ikan mas yang pagi harinya saya beli di pasar. Saya membuktikan sendiri kebenaran gambar yang ada di dalam buku bahwa aorta ikan itu berbeda dengan kodok. Saya diberikan kesempatan membuktikan; bukan hanya harus manut, nurut, percaya dicekoki oleh gambar atau kata guru saja. Lalu ketika pelajaran Bahasa Indonesia, kami tidak melulu disuruh membaca paragraf-paragraf panjang untuk menghafal sinonim, antonim dan hal-hal membosankan seperti itu, tapi diajak ikut menyelami larik demi larik sebuah karya sastra dan bagaimana puisi seorang Chairil Anwar mampu mengobarkan semangat juang bangsa. Sementara itu pada saat jam olahraga kami tidak hanya disuruh lari keliling lapangan atau panas-panasan mempraktekkan gerakan senam terbaru. Kami dibagi dalam beberapa kelompok, diberikan dasar permainan basket kemudian bertanding. Selain saya tahu bahwa basket jelas bukan olahraga favorit saya, di situ saya juga belajar tentang tanggung jawab kelompok, mengerti pentingnya kerja sama dan taat kepada instruksi kepala regu juga semangat sportifitas.
Lulus dari SMP itu, saya tidak mengumpulkan satu ijazah baru hasil hafalan, tapi saya memperoleh cara berpikir baru dan pengalaman yang memperkaya jiwa yang menjadi bekal dasar menghadapi kehidupan. Saya tidak tahu apakah setelah saya lulus guru-guru baru tersebut perlahan mengubah cara mengajarnya karena digerus tuntutan kurikulum atau tetap kreatif namun yang pasti saya berhutang banyak pada mereka. Salam hormat saya :).
***
Bercermin pada pengalaman saya bersekolah itu, saya membuat kesimpulan pribadi bahwa terlepas dari bagaimana kurikulum atau fasilitas sekolah, guru yang juga adalah pendidik memegang peranan penting dalam membentuk watak seseorang (yang secara akumulatif menjadi watak bangsa nantinya) melalui perkembangan kepribadian, pembentukan pola pikir, dan nilai-nilai yang diinginkan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, kita tidak bisa melihat buahnya dalam sehari dua hari namun hasilnya baru terlihat berpuluh tahun kemudian. Dan jika boleh jujur, bagaimana hasil pendidikan kita saat ini?
Menjawab pertanyaan tersebut akan menjadi debat kusir yang panjang. Pepatah tua berkata, orang bijak nan pandai tidak memperpanjang masalah namun akan mencari solusi dari masalah tersebut. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Menurut saya, kita dapat mengambil bagian dalam investasi jangka panjang tersebut dengan melengkapi pendidikan formal yang ada. Seperti Christanto Sir menuliskan dalam salah satu catatannya berjudul Tumpukan Ijazah, kita dapat mengajarkan anak kita belajar IPA dengan menyentuh/memetik daun sendiri, mengamati, terus dipikirkan bisa dibuat apa. Atau menulis rumus hukum gravitasi fisika, dipikirkan bisa dibuat apa. Belajar PPKN mungkin mengambil salah satu pasal UUD, lalu “ditimbang sendiri” apakah sudah cukup adil buat rakyatnya. Berani mencoba.
Sejatinya metode pengajaran yang digunakan di sekolah dan di rumah bukan hanya metode belajar pasif di mana murid diminta menghafal, memindahkan apa yang ia baca di dalam buku lalu mendapatkan legitimasi melalui ijazah dengan nilai yang baik tapi tidak bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuannya untuk memecahkan problematika sederhana. Yang tak kalah penting untuk dikembangkan adalah proses belajar aktif yang mampu membangun atmosfir kemandirian berpikir. Dengan begitu siswa dapat mengusahakan bagaimana teori dan rumus yang njlimet itu dapat dipindahkan dari atas kertas ke dalam paparan dunia nyata. Contohnya televisi yang selalu nongkrong di ruang keluarga itu. Si kotak dengan multi warna itu nampak sederhana, tapi gak bisa dipungkiri kan kalau benda itu adalah suatu perpaduan rumit antara visual, audio, berbagai macam teori, dll. namun ditengah kerumitan yang dibalut kesederhanaan tersebut, TV mampu menghibur atau memberikan informasi baru untuk menambah wawasan bagi yang menontonnya. Berguna banget! Larry Page dengan Google, Alexander Graham Bell dengan temuan telephonenya, J. Lagie Baird dan C.F. Jenkins dengan temuan televisinya, mereka adalah contoh orang-orang yang mengubah teori di atas kertas menjadi solusi dan bermanfaat bagi kehidupan.
Bukankah pendidikan itu seharusnya begitu? Mengajak peserta didik berpikir, menganalisa, dan memberikan manfaat nyata serta solutif bagi kehidupan.

-ooO00-

.
.
Referensi bacaan:
– Prof. Dr. Renald Kasali., “Keluar dari Kecakakapan Ujian,” Harian Seputar Indonesia, 31 Mei 2012
– Christanto Nugroho Sir, “Tumpukan Ijazah,” Catatan Pribadi, 3 November 2012.

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kontes-Award-Lomba dan tag , , , , . Tandai permalink.

19 Balasan ke Esensi Pendidikan dan Legitimasi Nilai

  1. dennyleo berkata:

    Saya termasuk siswa yang pandai dulu di sekolah, begitu juga di bangku perkuliahan, tapi bagiku semua pelajaran sama membosankannya, kenapa? karena sangat memeras otak demi mendapatkan nilai dan nilai yang baik. Bersyukur saya masuk Politeknik dan semua paradigma tentang pendidikan langsung diubah, yaitu harus bisa mempraktekkannya.

    • Ceritaeka berkata:

      Wow! Beruntunglah mas Denny bisa punya kesempatan mencicipi pendidikan yang aplikatif 🙂
      Selain masa akhir SMP itu saya juga baru merasakan pendidikan yang aplikatif dan gak membosankan itu waktu kuliah bahasa. Semoga makin banyak pendidik-pendidik yang bisa mengajarkan kemampuan berpikir mandiri ya sehingga proses belajar-mengajar jadi menyenangkan.

  2. Kurnia Septa berkata:

    Kemandirian berpikir. Dari dulu sering disuapi, dengan disuruh menghafal. Sekarang sudah ganti, bagaimana siswa membangun pengetahuannya sendiri, menemukan sendiri. Pendidik hanya mengarah, memfasilitasi. Ah, tapi itu juga tidak mudah, katanya hanya guru yg kreatif yg bisa.

    Saya rasanya nggak jadi ikut lomba ini lagi deh 😦

    • Ceritaeka berkata:

      Aku rasa kamu salah satu guru yang kreatif lho Septa 🙂
      Yuks ikutan lombanya yuks, ramein biar memperbanyak khazanah opini tentang pendidikan di Indonesia. Siapa tahu bisa menginspirasi banyak orang.

  3. ~Ra berkata:

    Kalau boleh ngulang, duit segerobag yang dulu dipakai bayar sekolah mending buat beli.ruko deh.. terus dagang.. Tapi kalau nggak sekolah apa bisa dagang ya? 😀

    • Ceritaeka berkata:

      Sebenarnya ilmu yang didapat di sekolah itu bagus lho, dasar2 marketing misalnya yang nantinya akan dipakai buat dagang kalau punya ruko. Nah masalahnya gimana menjembatani teori yang dipelajari dengan aplikasinya di kehidupan riil 🙂 mengembangkan kemandirian berpikir jadi teori yang ada bisa berguna secara nyata 😀

  4. danirachmat berkata:

    andaikan saya juga sekolah di sekolah dengan sistem pengajaran sekolahnya Mba Eka, bisa jadi saya bakalan cinta biologi.
    dan legitimasi nilai seharusnyalah bukan yang utama memang.

  5. h0tchocolate berkata:

    wuih, keren banget tulisannya. Kalimat terakhir yg paling super keren 🙂 Mudah-mudahan (as usual) kakak menang lagi dah 😉

  6. Lidya berkata:

    kalau aku bilang kurikulum kita disini banyak ya

  7. niee berkata:

    Menurut aku tetep pendidikan kita kurikulumnya terlalu berat. perlu ada revisi untuk beberapa isi matapelajaran deh.

    Ya walaupun emang seh dari dulu selalu berfikir buat apa seh belajar sejarah, fisika, biologi itu? gak kepake juga buat kerja ntar. Kecuali matematika ya. kalau itu penting, buat ngitung uang.. hihihi

  8. adolf Bramandita berkata:

    Tulisan yang merefleksikan sejauh mana pendidikan sekarang ini membekali peserta didik untuk siap berada dalam situasi apapun. Mengingat saat ini ada kemungkinan peserta didik tidak mengetahui tujuan dalam hidupnya. Setidaknya tujuan setelah lulus mau memilih jurusan apa atau mau kerja. Esensi pendidikan adalah mengantar peserta didik menemukan tujuan hidupnya dan peran guru membantu peserta didik menemukan tujuan itu. Bukan malah menjerumuskan pada kesesatan berpikir sesaat. Atmosfer pendidikan sejatinya melahirkan generasi bagaimana berpikir bukan apa yang dipikirkan. Salam

    • Ceritaeka berkata:

      Nah! Itu dia.. Banyak peserta didik yang gak tau tujuan hidupnya. Betul, betul pendidik semestinya bisa mengarahkan seraya mengubah cara berpikirnya menjadi pola pikir aktif.

      • Adolf berkata:

        Jangan lupa seorang guru adalah pendidik bukan pengajar saja, artinya sikap yang harus mendasari pendidik dalam mendidik adalah menolong, bukan mengambil alih, mencarikan pengarahan. Memberikan kebebasan berpikir untuk menentukan tujuan hidup adalah salah satu proses pembelajaran yang diperoleh. Kebebasan inilah yang harus dihayati sebagai kesadaran pribadi dengan segala konsekuensinya. Dan yang paling penting adalah peserta didik tidak dicerabut dari akarnya sebagai manusia. Karena pendidikan adalah memanusiakan manusia. Salam

  9. Poed LovecikHa berkata:

    aku mau nanya esensi itu appa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s