Aku tersadar oleh lolongan sendu seorang ibu.
Jasad kaku ada dipangkuannya. Keras ia menggoncang-goncangkan tubuh anak lelakinya namun tetap ia tak bergerak – karena nafas pergi meninggalkan raga.
Dan histerislah sang ibu.
Jeritannya pilu, sepilu nyawa yang melayang sebelum genap ia berusia 17 tahun. Kulihat sekeliling, oh Tuhan tempat ini porak poranda, rumah hancur, mobil tersangkut di atas pohon, sampah ada dimana-mana, bangkai ternak, bangkai ayam, balok kayu, genteng, perkakas rumah, semuanya bertebaran tidak pada tempatnya. Daerah ini luluh lantak ! Jerit kesakitan, tangis, duka, dan raut kebingungan terlihat di setiap wajah. Bau anyir darah menyeruak. Hawa kematian begitu kental di udara, sepertinya malaikat pencabut nyawa masih berkeliaran disini. Memastikan bahwa takdir kematian setiap orang harus terlaksana. Tak boleh ada yang luput !
Dadaku sesak.
Diantara sedu sedan kami, ada beberapa orang yang berkunjung dengan mobil kinclong berpelat merah, berambut sasak tinggi dan pakaian bagus tidak pada tempatnya.
Sambil membagi-bagikan makanan dan selimut, terselip bendera partai diantaranya.
Tuluskah mereka ? Hanya Tuhan yang tahu.
Kesal sekali penderitaan kami dijadikan komoditi mencari simpati pesta demokrasi awal April nanti. Benci aku melihatnya tapi emosi ini sudah terkuras habis hingga tak mampu berkata apa-apa.




sebuah peringatan kepada kita dari Tuhan…
Jika TUHAN menghendaki apalah daya kita sebagai mahluk lemah,
Tapi jangan lah bencana ini melemahkan kita, mari kita jadikan pelajaran dalam hidup…!!!
BTW : thanks linknya kk