Nalar & Kalbu


alar mengatakan bahwa tak ada yang pantas untuk dipilih. Mereka semua telah tercemar. Bau bangkainya saja sudah tercium padahal bungkusnya belum terbuka, begitu argumennya. Namun Kalbu dengan suara kesejukannya mengingatkan bahwa kita harus ikut menentukan nasib bangsa. Harus ikut bertanggung jawab. Karena golput bukan pilihan (walaupun tidak memilih sebenarnya juga suatu pilihan waras ! )... Continue Reading →

Situ Gintung – dalam Nestapa


Aku tersadar oleh lolongan sendu seorang ibu. Jasad kaku ada dipangkuannya. Keras ia menggoncang-goncangkan tubuh anak lelakinya namun tetap ia tak bergerak – karena nafas pergi meninggalkan raga. Dan histerislah sang ibu. Jeritannya pilu, sepilu nyawa yang melayang sebelum genap ia berusia 17 tahun. Kulihat sekeliling, oh Tuhan tempat ini porak poranda, rumah hancur, mobil... Continue Reading →

Mana Visimu, Mana Misimu, Kuberi Suaraku


Menjelang pemilu, jalan – jalan ibu kota penuh sesak dengan atribut dan spanduk para anggota calon legislatif (caleg) yang menjual profil diri agar masyarakat mencontrengnya (saya tidak tahu apa kata dasar contreng ini sudah masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia atau belum, kalau ada yang tau boleh bantu saya?) Awalnya saya tak ambil peduli dengan spanduk... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: