Mampir ke Kedai Kopi Partungkoan

Sudah hampir 4 hari saya berada di Kabupaten Toba dan belum ketemu kopi yang enak. Bukannya saya nggak cari-cari, udah nanya-nanya ke beberapa orang kok tapi nggak nemu yang pas. Ada rekan kerja menyarankan salah satu kopi di Balige yang ternyata kopi kekinian dan saya kecewa sama rasanya. Tanya sama petugas hotel dan mereka pun menyarankan kopi kekinian juga, padahal saya cari yang tradisional. Apes. Hahaha. Tapi untung saya bukan tipe orang yang mudah menyerah, rasa penasaran itu tetap ada meski sudah hampir pulang.

Pada saat otw ke bandara, di dalam kendaraan, iseng saya tanya ke pengemudi tentang kopi tradisional di Toba ini. Dengan sumringah pengemudi menjelaskan bahwa saya harus mampir ke kedai kopi Partungkoan.

“Di depan sikik itu kedainya. Lewat kita nanti kalo mo ke bandara,” ujarnya penuh semangat.

“Cukup gak ya waktunya kalo kita singgah bentar, Amang?” Tanya saya tergoda untuk mampir tapi kuatir ketinggalan pesawat.

“Bisa, bisa. Harus mampir. Presiden Jokowi juga kemarin ngopi di sana setelah peresmian bandara Sibolangit. Enak kopinya,” katanya lagi berpromosi.

Saya tersenyum mendengarnya dan langsung mengiyakan untuk mampir ke Kedai Kopi Partungkoan yang terletak persis di depan pasar. Agak sulit kami mencari parkir karena pasarnya ramai namun beruntung akhirnya bisa dapat parkir pararel.

Kedai Kopi Partungkoan ini mungil dengan dinding kayu dan arsitektur lawas namun tetap terlihat mempesona. Ada beberapa lantai tapi yang dijadikan area ngopi hanya di bagian bawah saja. Tebakan saya, bagian atas dijadikan tempat tinggal.

Nampak beberapa pria duduk-duduk ngopi menempati 6 meja sambil ngobrol santai. Tentu saja suaranya keras, suau hal yang biasa di sini. Saya langsung masuk ke dalam dan mendapati beberapa foto publik figur yang pernah mampir, terpajang di dinding kedai. Termasuk Pak Jokowi! Benar kata supir tadi hehehe.

Dengan sigap pelayan yang ada di dalam kedai menyambangi dan saya pun langsung minta kopinya. Harganya murah sekali, 5 ribu rupiah per cangkir. Saya juga memesan 2kg untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Kopi Balige. Khas rasanya. Sedap!

Kopinya hitam pekat namun teksturnya agak encer, tidak pekat tapi terasa segar di lidah. Dimasak dengan air panas mendidih dan menyisakan ampas di bagian bawah cangkir. Sedap! Otentik sekali. Orang-orang sekitar sini menyesap kopi dengan roti, namun berhubung saya buru-buru jadinya nggak sempat nyicip rotinya deh. Well, semoga ini jadi pertanda bahwa akan balik lagi biar lengkap pengalaman ngopi dan makan rotinya. Ngarep! Hehehehe.

Mampir ke Kedai Kopi Partungkoan di Balige

Sambil menunggu kopi yang akan dibawa pulang ke Jakarta, saya pun foto-foto. Dan orang-orang di dalam kedai, tentu saja ngeliatin hahaha tapi lalu menyapa. Hangat. Melemparkan obrolan dengan sopan. Sehingga kami pun tertawa bersama-sama meski tidak saling kenal. Ah, hal-hal kayak gini ini yang jarang di dapat di kota besar yang rata-rata sangat individualis. Di sini, kami seolah kenal dan akrab lalu ngobrol tanpa sekat tanpa sungkan. Semua dianggap orang sendiri. Guyub.

Sungguh sebenarnya saya ingin sekali duduk santai lebih lama di kedai Kopi Partungkoan ini. Pengen tau sejarah namanya, cerita atau kisah uniknya. Kedai lawas pasti punya cerita sejarah yang panjang dan itu exciting. Namun saya berpuas diri bahwa paling tidak saya bisa menemukan kedai kopi tradisional di detik-detik terakhir saya hendak kembali ke Jakarta. Menurut saya itu sudah bonus banget. Hehehe. Lesson (re)learned, biar tau hidden gem suatu daerah emang paling bener tuh selalu tanya sama penduduk lokal dan pengemudi.

Selamat hari Rabu, Sobat CE. Sudah ngopi belum?

4 respons untuk ‘Mampir ke Kedai Kopi Partungkoan

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: