Suatu Pagi di Pantai Losari

 

Katanya belum sah ke Makassar kalau belum mampir ke Pantai Losari… Jadi saya agak sakit hati gimana gitu waktu tiga tahun lalu saya ke Makassar dan nggak bisa nongkrong lama di pantai terkenal ini. Gimana nggak sakit hati.. Nginepnya aja di pinggir pantai, tapi karena urusan kerjaan yang menyita waktu dari pagi buta sampai malam gelap maka saya harus bilang BHAAAAY sama Pantai Losari :D. Nggak sempet menikmatinya bok!

Tapi itu tiga tahun lalu… Sekarang saat saya ke Makassar lagi maka Pantai Losari jadi agenda utama buat dikunjungi. Biar sah ke Makassar, biar kekinian, biar hipster. Eh 😛 Hihihi.

Abang becak yang setia nganterin dan nungguin kami di pantai. Tenaaang... bayarannya didobel kok :P

Abang becak yang setia nganterin dan nungguin kami di pantai. Tenaaang… bayarannya didobel kok 😛

Pagi-pagi sekali saya dan teman saya, Diah, nyetop becak dari depan hotel. Maklum yaaa… Di Jakarta becak udah dilarang, jadi rasanya seneng banget bisa naik becak di sini. Hihihi. Losari kami datang!

SAH KE MAKASSAAAAAR :mrgreen:

SAH KE MAKASSAAAAAR :mrgreen:

Masjid terapung. Sayang, pas mau masuk pagernya digembok. Padahal kan penasaraaaan...

Masjid terapung. Sayang, pas mau masuk pagernya digembok. Padahal kan penasaraaaan…

Saya menghirup udara panjang-panjang memenuhi rongga paru-paru. Rasanya segar dan menyenangkan. Pantai Losari di saat pagi masih terasa sepi walau tetap ada beberapa orang yang menyusuri bibir pantai juga. Saya menikmati betul langkah kaki di jalan setapak yang dibuat pemkot Makassar sambil sesekali memotret beberapa patung yang menjadi pemanis pantai. Ahya, pantai ini jadi salah satu scene di dalam novel perdana saya Labirin Rasa. Hayooo, udah baca belom?

"Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai." Love this motto of Makassar city. In my opinion it's somehow pumping the spirit to fight of what we believe, to never give up even when we stumble on obstacles.

“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai.” Love this motto of Makassar city. In my opinion it’s somehow pumping the spirit to fight of what we believe, to never give up even when we stumble on obstacles.

Menikmati Pantai Losari di saat pagi terasa sangat berbeda jika matahari telah terbenam. Saat malam sebelumnya saya mampir, Pantai Losari terasa galak. Banyak penjaja makanan tak beraturan dengan segambreng pengamen yang agak memaksa. Penjaja kaki lima tersebut bagai buah simalakama sih. Di satu sisi, pantai jadi ramai pengunjung namun di sisi lain jadi bikin agak semrawut. Dan ngenesnya, pantai nggak keliatan dari jalan karena tertutup para penjaja makanan tersebut. Kontras banget perbedaannya saat pagi: Pantai Losari terlihat ramah, bersih dan menyenangkan. Bikin betah deh. Kalaupun ada yang berjualan tapi nggak berjubel.

Pantai Losari 3Anyway melanjutkan jalan kaki pagi, saya melihat beberapa penduduk nampak menikmati juga suasana pantai ini. Ada yang sarapan, ada yang olahraga atau malah bengong aja gitu ngeliatin laut. Saya senang melihatnya, pantai itu ya seharusnya begini, kembali menjadi hakikatnya sebagai ruang publik tanpa sekat :). Semoga terus terpelihara ya ^_^

Sobat CE, sudah pernah mampir ke Pantai Losari? Yuks.

Baca juga:

1. Galau di Fort Rotterdam

2. Desir Mencekam di Gua Batu Bantimurung

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sulawesi dan tag , , , , . Tandai permalink.

56 Balasan ke Suatu Pagi di Pantai Losari

  1. iRa berkata:

    Warna langitnya keren….suka suka suka

  2. jarwadi berkata:

    tulisanmu tentang traveling selalu membuai kak eka. ajarin dong

  3. Fahmi (catperku) berkata:

    Sekarang sih pinggiran pantai losari sudah baguuus~ aku kesana 2011 masih renovasi sana sini~ jadi pengen kesini lagi kak 😐 Eh, jangan lupa beli pisang epe, dimakan di tepi pantai losari. maknyuss~ :9

  4. dani berkata:

    Langitnya cerah banget itu Mbak Eka. Suka deh sama langitnya

  5. Breldine berkata:

    wah udah bagus yah..
    sedihnya aku kesana, 2 tahun lalu masih kotor soalnya patung patung baru dibuat..
    sekarang apik ya.. 🙂

  6. Idah Ceris berkata:

    Labirin rasa? Belum bacaa. . . 😀
    Belum pernah ke sana, Mbak. Pingiins. . .

  7. Dita berkata:

    Pengen ke Makassar 😦
    Dulu pernah mampir losari pas udah mlm banget, pengen sunsetan disana

  8. langinya biruuuuuuuuuuu banget, cuaca pas cerah ato kameranya yg sip (nikon yak?) hihihi….btw becaknya lucu gt yah pake pintu kecil di bagian kaki 🙂

  9. Febriyan Lukito berkata:

    Belum pernah ke sana. eh itu kubah mesjidnya dari jauh kayak topi gitu deh.

  10. Goiq berkata:

    kalo mo naik becak harus ditanya dulu dari awal berapa harganya. jangan kejadian kaya aku pas di sana, bapaknya bilang naik aja dulu nanti di bahas di jalan. eee sepanjang jalan ngeles pas ditanyain harga. yang ada harus bayar 100 ribu.. sedih

  11. cK berkata:

    Aku pas ke sana lagi hujan. Tapi udah masuk ke Mesjid terapungnyaaa…

  12. Titik Asa berkata:

    Terpesona dgn keindahannya walau hanya melalui foto-foto yg Mbak tampilkan disini…
    Ah Mbak ini, kangen naik becak juga rupanya…

    Salam,

  13. Aku gak foto-foto di pinggir Losari. Fokusku cuma satu: kepiting!

  14. rizzaumami berkata:

    Aduh pengen ke sanaaa. Dulu ke sana pas tahun 2010, masih SMA, main-main, malah muter-muter ke outlet buat nyari oleh-oleh, main pantainya bentar. Pengen lagi dehhh.

  15. bukanrastaman berkata:

    saya kalo ke makkasar cuma transit aja.. huhuhuhuhuhuhu

  16. F. Nisa berkata:

    belum pernah ke sana. dilihat foto2nya kayaknya tempatnya bagus ya…. keren deh

  17. hildaikka berkata:

    Wiii aku sukaaaa banget pantai yang luas terus pemandangannya biru-biru begitu. Lovely bangeeeets 🙂

  18. Ping balik: Galau di Fort Rotterdam | Cerita EKA

  19. mylittlecanvas berkata:

    Makassar bagus2 ya kak tempatnya, pengen banget kesana! X)

  20. Ping balik: Desir Mencekam di Gua Batu Bantimurung | Cerita EKA

  21. iPul Gassing berkata:

    Pantai Losari ini jadi dilema buat saya pribadi..

    di satu sisi Pantai Losari sudah jadi ikon kota, tapi di sisi lain ada banyak pertentangan karena reklamasi yang sedikit banyak merusak lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.
    makanya saya jarang mengajak orang ke Losari, kalaupun terpaksa mending ke sana pagi kayak begini atau sore pas sunset..hihi

  22. Aldini Hwang berkata:

    Kak, kakak penulis juga? Minta email, dong, pengen chat-an sama kakak. BTW, aku juga suka nulis dan kebetulan tinggal di Makassar. 🙂
    Salam kenal, Kak. ceritanya kereen…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s