Yang Tersembunyi di Balik Relung Hati

Seharian kemarin timeline saya baik Facebook, Twitter, Path, BBM dan SMS penuh dengan ucapan Selamat Hari Raya Iedul Fitri dan permintaan mohon maaf lahir dan batin. Ucapan tersebut begitu bervariasi, ada yang to the point, ada yang dibungkus kata-kata indah penuh bunga-bunga ada juga yang nyinyir dengan bilang “gak mau kata yang indah-indah yang penting maafin gue, ya!” Hahaha. Mau gak mau saya terkekeh membacanya, tapi saya terpekur cukup lama memandangi satu kata ini:

Forgiveness is a gift you give yourself –Suzanne Somers.

Pada hakekatnya memaafkan adalah hal yang kita lakukan untuk diri kira sendiri, karena membawa kesembuhan hati, meringankan langkah kaki dan jiwa ini terbebas dari belenggu kemarahan.  Kita tahu itu, seperti kita tahu bahwa brokoli baik bagi tubuh sementara gorengan tidak. Namun seberapa banyakkah dari kita yang dengan sukarela memperbanyak makan brokoli dan mengurangi  menyantap nikmatnya gorengan yang tinggi kolesterol itu? Seberapa banyak dari kita yang benar-benar memaafkan bukan karena itu kebiasaan yang dilaksanakan pada hari Raya atau perintah agama namun dengan kesadaran penuh untuk berdamai?

Forgiveness isn’t something we do for others, we do it so we can get well and move on.
Saya merenung cukup lama, memilin-milin rambut saya sehingga membentuk gelombang. Pekerjaan sia-sia, rambut saya sudah ikal dari sananya :mrgreen:. Pertanyaan-pertanyaan tadi butuh dijawab: jawaban yang jujur. Beranikah kamu saya menjawabnya? Bukan sekedar pemanis bibir, bukan sekedar mengatakan yang seharusnya dikatakan sesuai dengan ajaran agama atau norma-norma hidup yang berlaku, tapi jujur. Beranikah? Apakah kamu betul-betul meminta maaf dan memaafkan orang yang bersalah padamu? Setulus-tulusnya, sesungguh-sungguhnya? “Oalaah Ka, itu pribadi banget, urusan masing-masing oranglah,” saya dapat mendengar batin saya bicara.
Saya berani menuliskan ini karena telah sekian lama melihat kemunafikan, melihat begitu manisnya seseorang di depan orang lain tapi belum juga punggung orang tsb berlalu dari ujung koridor, luapan kata-kata tak enak telah terdengar di udara. Ya, saya sering menjadi saksi hal-hal begitu sehingga kadang saya mempertanyakan banyak hal.

Tapi kemudian saya berpikir, baik itu tadi tradisi, perintah agama atau sungguh tulus permintaan maaf: yang penting sudah memulai! Bagaimanapun saya mempertanyakan apa yang tersembunyi di balik relung hati sesorang ketika meminta maaf, ketika mengucapkan selamat Hari Raya tetap tidak akan memberikan dampak apa-apa. Itu urusan masing-masing pribadi dengan nuraninya. ”Bukan urusanmu, Kaaaa!” kali ini batin saya berteriak lebih keras :mrgreen: Jadi ada baiknya saya kembali mengenakan kaca mata positif dan mengapresiasi keputusan berdamai (entah itu tulus atau tidak). Tak lupa saya mengucapkan:

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1433, Mohon maaf jikalau ada yang tak berkenan. Mari melangkah dari awal lagi sobat CE 🙂

Pics are borrowed from here and here.
Iklan

35 respons untuk ‘Yang Tersembunyi di Balik Relung Hati

Add yours

  1. Sama-sama mbak Eka. Maaf kalau aku ada salah. 😀
    Sempet mikir juga sih soal maaf-maafan ini. Walaupun tulus atau enggak tulus, setidaknya ada usaha dari masing-masing pihak untuk berusaha minta maaf dan berusaha memaafkan (memaafkan itu kadang sulit lho. :roll:). Perkara dimaafin atau enggak itu sih balik ke pribadi masing-masing.

  2. ya kalo berani ngomong harusnya bener2 tulus dari hati ya ka…
    walaupun ya gak menutup kemungkinan ada orang2 yang munafik atau asal ngomong, walaupun beda di hati… tapi ya yang penting diri kita sendiri lah. mau orang lain gimana terserah mereka ya, yang penting kita harus tulus. 🙂

  3. hhmmm … sebuah perenungan ya dalam …
    Yang jelas … betul kata kamu … itu semua adanya di dalam hati …

    Maaf Lahir Batin Eka …
    (dan ini insyaALLAH … dari dalam hati …) 🙂

    Salam saya Eka
    Have a nice holiday !

  4. mungkin salah satu cara menunjukkan ketulusan, nyari kata2 ucapan maaf yang kreatif dari internet biar kesannya lain dan ada usahanya. 😆 *sama aja gak jamin* met lebaran mbak eka… maaf lahir-bathin.. (Insya Allah tulus haha)

  5. Setuju sekali mbak … memaafkan itu ibarat pil pahit, tetapi itulah yang menyembuhkan … dan hanya yang bersangkutan saja yang bisa tahu karena itu tersembunyi di balik relung hati …
    Selamat Idul Fitri mbak Eka… 😀

  6. maaf lahir batin, eka.

    ada satu yang aku belum dan entah apakah akan bisa maafkan. yang lain, insya allah sudah aku maafkan.

    Tuhan memang maha pengampun. tapi aku manusia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: