Menjajal Sensasi Soto Jamur Instan

Cita rasa itu tidak mengenal batas daerah atau batas hati, betul? Semua juga sudah tau kalau Indonesia kaya akan wisata kuliner. Tengok saja makanan berkuah bernama Soto, ragamnya banyak sekali. Ada soto Kudus dengan suwiran ayam dan kuah beningnya, Soto Medan yang disajikan dengan kuah santan beraroma daun sereh atau Soto Tangkar dari Betawi yang mangkuknya ramai dengan paru, babat,daging dan hati sapi.

Soto: makanan hangat berkuah yang konon katanya adalah masakan Cina bernama Caudo yang melebur bersama tradisi lokal.

Masakan Rumah

Tapi pengalaman bersantap macam-macam soto itu kalah dengan soto racikan nenek saya yang tinggal di Klaten. Beliau begitu lihai memasak soto dengan adonan bumbu yang tepat. Lidah pun menari-nari sementara tanpa sadar nasi di piring pun bisa nambah dua kali! Ho ho rakus ya? :mrgreen: haha. Saya biasa menikmati soto di meja kayu di ruang tengah sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan nenek dikawani anjing-anjing Golden peliharaannya. Ah, memori itu, memori indah yang selalu menyelipkan ketentraman ke dalam hati.
Namun privilege untuk menikmati soto masakan nenek tersebut bukan sesuatu yang mudah saya dapatkan, saya harus menempuh jarak 690km dengan waktu yang tidak sedikit untuk mencapainya. Beruntung, tempo hari saya dikirimi sampel 3 bungkus Sotoji. Dengan sedikit kreasi maka jadilah semangkuk soto yang mengingatkan saya pada harum masakan tangan nenek kesayangan saya itu :).

Sensasi Gurih

Walaupun terlihat kecil, ternyata porsi Sotoji ini cukup nendang di perut lho. Sensasi pertama muncul begitu mulai menyuapkan kuahnya. Bagi saya yang tidak pernah masak menggunakan MSG, rasa yang tercecap adalah gurih, tidak berminyak dan sedikit pedas. Rasa yang gurih-segar terkuar dari kuahnya yang bening sementara tekstur soun yang lembut berpadu sempurna dengan kenyalnya jamur tiram. Sungguh memanjakan lidah!
Sotoji pada dasarnya adalah soto instan dengan soun putih dan jamur tiram yang telah dikeringkan. Sebagaimana layaknya soto lain, penyajian Sotoji dapat diperkaya dengan sentuhan rasa lain sesuai selera. Bagi yang menyenangi gorengan atau kriuk, maka jamur tiram kering yang biasanya dimasak bersama sohun dapat ditaburkan di atas soto yang telah siap saji. Jamur tiram kering tersebut tidak perlu dimasak, digado seperti kerupuk gitu lho dan sila mencicipi sensasi makan soto yang berbeda :mrgreen:. Tapi saya tidak tahu risiko kesehatan karena jamurnya tidak dimasak ya, cuma sejauh ini saya dan suami baik-baik saja tuh ;). Sebagai opsi lain dapat ditambahkan jeruk nipis, tomat, ayam atau bahkan daging, tapi buat saya kemasan orisinil Sotoji sudah cukup membuat perut ini melonjak-lonjak kesenangan.
Kemasan Sotoji

Yang Saya Suka

Katanya Sotoji ini sudah lumayan terkenal di daerah Bogor, harga eceran di warung berkisar antara IDR. 3.500 โ€“ IDR. 3.700. Tapi blogger mendapatkan harga khusus lho ^_^ Berapakah itu? Simak di paragaraf berikutnya yaaa. Selain menyukai rasanya yang orisinal, saya suka dengan kemasannya yang mudah dibuka. Ada belahan untuk menyobeknya, jadi gak pusing nyari-nyari pisau atau gunting lagi pas masak bow. Soal kehalalalan? Tenaaang No. DEPKES RI dan logo halal dari MUI tercantum koq di kemasannya. Yang menarik, selain tertera tanggal kadaluarsa, untuk pelayanan konsumen disediakan alamat email suarakonsumen @sotoji. com, bukan alamat PO.BOX seperti lazimnya makanan instan lain. Email memang lebih mudah dan cepat digunakan. Weeh betul-betul memanfaatkan teknologi ya. Suka deh ^_^. Terus satu lagi yang bikin saya jatuh hati, kalorinya cuma 296 kkal/70 gram serving, gak bikin gendut! Yeaaay, lidah senang, diet pun bisa tetap jalan.
Nom.. Nom.. Nom.. Makan yuks ^_^

Peluang Usaha Yang Menggoda

Mengingat begitu mudah cara membuat dan betapa enaknya soto ini, akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu kardus Sotoji. 3 sampel gak cukup booow ๐Ÿ˜€ mau lagi, haha. Pesan di www. sotoji. com atau email ke sales@ sotoji. com. IDR 50.000/dus adalah harga khusus buat blogger sementara konsumen akan membelinya dengan harga IDR.60.000/dus masing-masing berisi 20 bungkus Sotoji. Senangnya jadi blogger, yeaaay *nari hula-hula*. Harga tersebut diluar ongkos kirim, tapi buat yang di Jabodetabek ongkirnya gratis plus bisa COD (Cash on Delivery) alias bayar di tempat. Saya sempat ngobrol dengan mas Rohmat, owner dari Sotoji ini, katanya kita bisa juga membuka usaha dengan menjadi Re-seller Sotoji. Dengan modal IDR 2.000.000, akan mendapatkan 40 dus produk, masing-masing berisi 20 bungkus, 1 spanduk dan 50 lembar poster. Di otak saya langsung berputar ide-ide, jika saya memiliki tempat yang strategis, dekat sekolah atau keramaian: membuka kedai soto khusus merk Sotoji ini bisa menjadi passive income yang bagus. Modal tidak terlalu besar, potensi bagus karena banyak yang suka soto apalagi jarang yang jual soto jamur kan? Dan lagi bisa memberi pekerjaan kepada orang yang menjaga kedainya. Aaaa…. Menggodaaaaa, peluang usaha ini sungguh menggoda jendral!
Saya mau ini cepat-cepat di jual di mana sajaaaa.
Soto jamur yang lezat dan mengandung serat serta protein nabati yang tinggi seperti Sotoji ini seharusnya bisa didapatkan oleh siapa saja dengan mudah. Namun sayang, ketika satu dus Sotoji yang saya beli tempo hari itu habis, terus terang saya kelimpungan mencari stoknya. Saya mampir ke Indomaret, ke Alfamart, ke Giant dan Careffour, hasilnya nihil. Sampai gempor saya menyelusuri lorong demi lorong di mini/supermarket tersebut tapi kemasan hijau dengan tulisan cokelat tersebut tidak saya dapatkan. ๐Ÿ˜ฆ bhiks

Beberapa Catatan Kecil:

Setelah puas mencicipi dan membedah-bedah Sotoji, saya punya sedikit catatan kecil nih:
  • Berkaca dari kesulitan mendapatkan Sotoji, PT Rastra Sukses Sejahtera sebagai produsen sekaligus distributor Sotoji perlu memikirkan distribusi Sotoji yang dapat menjangkau lebih banyak pihak. Bukan hanya pembelian secara online namun secara offline yang bisa langsung bersentuhan dengan konsumen. Misalnya didistribusikan ke mini/supermarket mungkin? Biar kalo tengah hari bolong saya lapar, saya bisa lari ke warung dan langsung masak Sotoji gitu :mrgreen:
  • Setelah distribusi beres, gimana caranya membuat Sotoji lebih dikenal masyarakat? Menggandeng blogger adalah salah satu langkah jitu yang saya acungi jempol untuk membuat gaung Sotoji di dunia maya terdengar. Tapi bagaimana dengan offline world? Program pemasaran dengan melibatkan masyarakat secara langsung nampaknya dapat menjadi pilihan. Boleh lho bikin lomba masak Sotoji dengan kreasi cita rasa unik daerah-daerah di nusantara. Atau bikin rekor masak Soto terbanyak se-Indonesia. Weeh bakalan seru tuh, daku mau banget ikut ambil bagian masuk MURI bareng Sotoji ๐Ÿ˜‰
  • Mempopulerkan peluang wirausaha dengan menjadi Re-Seller Sotoji kepada masyarakat luas. Ini seperti sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan program Re-Seller ini, secara tidak langsung Sotoji akan memiliki orang-orang di garis depan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat untuk mempromosikan Sotoji. Dari sisi konsumen sendiri, tentu saja konsumen merasa senang karena Sotoji dapat dengan mudah didapatkan di dekat mereka. Udah? Segitu aja? Hahaha enggak dong. Program Re-Seller Sotoji ini juga sejalan sekaligus membantu program UKM yang digalakkan pemerintah untuk memberdayakan ekonomi skala kecil dan menengah di masyarakat. Singkatnya sih, membuka lapangan pekerjaan sekaligus usaha ๐Ÿ˜‰ Keren kan?
***
Aiiih kenapa hari ini saya cerewet sekali? Gak terasa sudah siang, perut udah krucuk-krucuk. Daku mau makan siang dulu ah ^_^ Maksi bareng kita? Btw, sobat CE, sudah pernah nyicipin Sotoji belum sih?
Iklan

52 respons untuk โ€˜Menjajal Sensasi Soto Jamur Instanโ€™

Add yours

  1. DI mana-mana rame Soto Jamur Instan ini, jadi makin penasaran deh. Gak ada ya yg mau bikinin buat Rusa? Eka misalnya? *ditaleni di hutan*

  2. aaaaaakkkkkk aku jadi lapaaarrr…. sebenernya gak terlalu suka soto sih, tapi kalo instan kayak gini kayaknya boleh dicoba.. praktis soalnya, dan mudah dibikin kalau pas lagi laper di rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: