Sahabat dan Sepatu Cokelat

Kemarin malam kita membuat janji temu. Di sebuah kedai yang wangi dengan aroma kopi dan roti keju. Disini tempat kita bicara dari hati ke hati. Di areal bioskop yang tenar dengan arsitektur tahun 60an. Dekat-dekat gedung Proklamasi yang konon katanya tempat Bung Karno dan Bung Hatta dulu lantang bicara, mengobarkan janji kemerdekaan.
Ku lirik arloji di pergelangan tangan kiri, pukul delapan tepat. Ku hela nafas, sudah 30 menit engkau telat. Dan itu bukan kamu. Kamu adalah seorang wanita disiplin yang selalu cermat menghitung jarak dan waktu. Terlambat? Hemm, itu tak ada dalam kamusmu.
Sekedar membunuh waktu, sibuk aku berkicau di lini masa sebuah akun social media ketika tergopoh engkau datang. Dengan rambut panjang tergerai hingga sepinggang, camisol jambon dan pantolan hitam. Pump shoes yang kau kenakan begitu indah πŸ™‚ Cerah sekali pakaianmu, tapi tidak wajahmu. Seulas senyum dipaksakan terukir di bibir, tapi aku tahu itu dusta. Aku kan sahabatmu, hafal peta wajahmu seperti aku kenal betul lekuk tubuhku sendiri.
β€œKenapa darlink?” Tanyaku sambil mengedipkan mata, sekedar mencairkan suasana. Ya, suasananya memang harus dicairkan. Sahabatku itu datang dengan menyeret aura muram yang mencekam. Hampir saja ku kira aku ada di kuburan!
β€œGak apa-apa koq,” jawabmu sambil memainkan ponsel yang layanan RIM.nya sebentar lagi akan ditutup oleh bapak menteri kita yang terhormat itu. Ku raih tangannya, dan ku tatap lembut matanya. Ah, mata indah itu tak lagi berbinar. Disitu, yang kulihat hanya redup sinar. Hatiku tergores. Aku tak pernah suka melihat duka, apalagi dimata sahabatku sendiri. Belum sempat kutanya mengapa, tiba-tiba meluncurlah segala keluh kesahnya. Tentang rekan sekerjanya yang telah menyabotase ide-ide briliannya, yang telah memojokkannya dalam pelbagai rapat, yang telah juga mencuri hati atasannya. Lagi dan lagi wanita itu menyiksanya dengan pelbagai soal. Aku memang pernah mendengar bahwa wanita ular itu sungguh berbisa, tapi bukankah itu hidup? Dimana-mana ada saja orang jahat. Kita harus selalu maju saja kan? Namun yang mengguncang hati sahabatku itu ketika wanita itu juga mencuri kekasihnya. Pantas saja ia retak. Harga diri kawanku hancur sudah. Ia terisak. Hebat.
β€œIni, minum dulu kopi ini.” Kusorongkan cangkir putih kecil yang mengepul berisi kopi. Beda denganku yang menikmati susu hangat, kawanku ini lebih mencintai kopi. Tapi tak apa-apa, nanti kalau ia sudah kenal seks, pasti akan lebih ketagihan aktifitas bertukar peluh dan lendir yang nikmat itu ketimbang kopi. Ah, kopi sih nikmatnya hanya sejentik jari. :mrgreen:
Setelah tenang, hendak aku menyampaikan opini. Namun tiba-tiba anak kecil dengan pakaian lusuh mendahului bicara. Kenapa pula aku ini, sudah dua kali hendak bicara, Β namun selalu saja ada yang menyela…
β€œSemir mbak…”
Aku menoleh ke arah suara. Keningku berkerut, apa yang mau disemir? Sepatu cokelatku sudah mengkilat. Eh, tapi tiba-tiba terlintas pemikiran. Menolong seorang anak kecil dengan memberikan 2500 rupiah melalui hasil keringatnya tentu mendidik dan sekaligus menolong bukan? Maka kulepaskan sepatuku dan kubiarkan ia menyemirnya hingga lebih mengkilat lagi sampai-sampai sepertinya aku bisa bercermin disitu. (#hiperbola? Ya itu aku tahu πŸ˜€ ).
Ku alihkan pandang ke wajah sahabatku yang masih biru menahan pilu. Ku peluk dia dan lirih ku berbisik,

β€œAh, temanmu di kantor itu ibarat sikat sepatu saja. Biarlah ia menyakitimu, semakin ia sibuk menyikat-nyikat hatimu, semakin rusak bulu-bulu sikatnya. Β Sementara engkau akan semakin mengkilat, akan semakin cantik dilihat. Bukankah itu gunanya sikat sepatu? Menghilangkan debu dan memunculkan keindahan sepatu? Memunculkan kualitas sejatimu?”

Lalu hening, mungkin ia mencerna kata-kataku atau mungkin sedang menyusun kalimat-kalimat tanda tak sependapat. Aku tak tahu. Tapi begitu ku lihat senyum di wajahnya, hatiku lega. Ia menggamit lenganku. Kalau tak salah ingat, Midnight sale di mall besar depan air mancur itu sudah menunggu. Ah, sepertinya kami akan belanja sepatu. ^_^
Gambar dipinjam dari sini dan sini.
Iklan

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Literature dan tag , , , , , . Tandai permalink.

54 Balasan ke Sahabat dan Sepatu Cokelat

  1. Ikkyu_san berkata:

    wow…. aku baca sambil minum kopi
    dan memang nikmat… kopiku dan bacaanku siang ini
    but please, jangan ajak aku ke midnight sale ya?
    mau tahu alasannya? …..(mereka tak punya ukuran kakiku …hihihi)

    EM

  2. Chic berkata:

    sepatunya baguuuuuuus….
    *terditraksi gambar sepatu*

  3. Ping balik: Tweets that mention Sahabat dan Sepatu Cokelat | Cerita EKA -- Topsy.com

  4. Kimi berkata:

    Jadi, kapan Mbak kita beli sepatu bareng? Sepertinya aku butuh saran Mbak Eka nih kalau mau beli sepatu. πŸ˜€

  5. Debby berkata:

    aku suka kopi tapi sepertinya tak sabar juga bercerita tentang pengalaman terindah dr apapun yang kau tuturkan di atas kak… #mrgreen

    ya, kok sama, aQ jg lg cr sepatu cokelat ^__^

  6. monda berkata:

    nggaklah kalau sepatu coklatnya setinggi itu, bisa2 aku jadi raksasa nanti hi..hi…menjulang sendiri

  7. Budi berkata:

    Tinggi banget tuh hak sepatu..:-)

  8. septarius berkata:

    ..
    pesan moralnya ok banget mbak..
    hampir sama kayak ” pisau makin di asah makin tajam ” πŸ™‚
    ..

  9. MeyBengkulen berkata:

    “Biarlah ia menyakitimu, semakin ia sibuk menyikat-nyikat hatimu, semakin rusak bulu-bulu sikatnya. Sementara engkau akan semakin mengkilat, akan semakin cantik dilihat. Bukankah itu gunanya sikat sepatu? Menghilangkan debu dan memunculkan keindahan sepatu? Memunculkan kualitas sejatimu?” sungguh sepakat mb!!

    salam sy,

    mohon do’a jg atas brita duka di http://kakmila.wordpress.com/2011/01/04/semangat-sembuh-untuk-sausan/

  10. edratna berkata:

    Cerita indah..
    Juga sepatu indah..
    Tapi tak mungkin kubeli, lha iya, karena udah nggak kuat lagi pakai hak tinggi…

    Ada juga pesan moral:
    Kalau kekasih pindah ke lain hati, bukankah lebih baik merelakannya, daripada bikin hati sakit setelah menikah nantinya. Itu juga merupakan ujian baginya.

  11. pututik berkata:

    pesan semangat yang amat bagus, biarkan orang menjelek-jelekkan kita namun jika kita benar akan semakin cakap dan harumlah diri kita di pandangan orang lain.

  12. Sugeng berkata:

    Sepatu baru koq sudah bau πŸ˜†
    Mengajari anjal untuk mencintai jalan dengan memberi uang 2500 bagiku gak mendidik. Ups… bukan maksudku anak penyemir sepatu itu, mereka akan tetap mencintai dunianya dan melupakan kewajiban sekolah.
    Salam hangat serta jabat erta selalu dari Tabanan

  13. indobrad berkata:

    Sex may have its ups and downs, but a good coffee never fails you πŸ˜‰

  14. salam kenal ya kk.
    ini kunjungan pertama ane disini.
    btw sepatunya lucu. πŸ™‚

  15. mrpall berkata:

    tempat pertemuan yg romantis tuh….

  16. andinoeg berkata:

    bener tuch kata pacar kamu..

  17. Hariez berkata:

    hohoho…kirain cerpen mba’E, pas sampe yang layanan RIM nya mau dihapus, OMG ternyata cerita beneran toh *di pentung sepatu kinclong* :mrgreen:

    ogut sangat setuju dengan kata-kata mba’E “Biarlah ia menyakitimu, semakin ia sibuk menyikat-nyikat hatimu, semakin rusak bulu-bulu sikatnya. Sementara engkau akan semakin mengkilat, akan semakin cantik dilihat.” sangat mengena dan ringan untuk dicerna πŸ™‚

    salam hangat

  18. arman berkata:

    ah alasan buat beli sepatu baru ya? huahahaha….

    nice writing ka… πŸ™‚

  19. Mbak Ekaaa,,, untuk kutipan katanya itu lowh,, saya sangat menyukainya,, ^^

    Hmm,,, gimana kabarnya Mbak Eka,,??? Sudah lama saya tidak silaturahim ke sini,,,

    Semoga sehat dan salam semangat selalu πŸ™‚

  20. yanete berkata:

    benar juga ya mbak..
    biarin aja kalo ada yng pengen menyakiti kita..
    toh semakin busuk hati seseorang..hidupnya tidak akan merasa nyaman..
    krena yang ada hanya dendam..

  21. depz berkata:

    nice quote

    ehh pa kabar bo? lama ga crta2 πŸ˜€

  22. rayafr berkata:

    aih senengnya kalau punya teman yang selalu bisa memberi solusi…
    salam kenal ya Eka dari fitri πŸ™‚

  23. Hangga Ady berkata:

    Mampir dimari πŸ™‚ Salam..

  24. gerhanacoklat berkata:

    cerita yang indah ini menyadarkanku bahwa tak ada gunanya membalas perlakuan jahat dari beberapa blogger yang terus menerus mengusik hidupku

    terima kasih adikku sayang

  25. Shohibul K.U.C.B berkata:

    Sahabat tercinta,
    Dengan hormat saya mengundang sahabat untuk mengikuti pagelaran Kontes Unggulan Cermin Berhikmah (K.U.C.B) di blog saya -New BlogCamp-
    Silahkan menulis cerita fiksi mini yang bisa diambil hikmah atau dipetik pelajaran darinya, lalu daftarkan di New BlogCamp.
    Hadiahnya sih biasa-biasa saja tetapi sensasinya sungguh luar biasa karena sahabat akan terkagum-kagum dengan bakat anda dalam menulis sebuah cerita fiksi.
    Jika anda berminat silahkan menyimak ketentuan dan syaratnya di :
    http://newblogcamp.com/kontes/kontes-unggulan-cermin-berhikmah
    Terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

  26. aishi lely berkata:

    kata2 yang indah… saya suka perumpamaan itu πŸ™‚

  27. achoey el haris berkata:

    kau sahabat yg baik
    menguatkan dengan baik

    Oh ya mbak Eka, saya bangga mbak pernah datang ke MJ
    kini MJ dah 3 kali ditayangkan di TV πŸ™‚

  28. myisti berkata:

    koleksi sepatu ya mba? hehe…

  29. anna berkata:

    Quote nya bagus banget, Eka….
    hm, sampe berkali-kali saya baca.. bagus.. dan bener bangettt.. πŸ™‚

    salam saya πŸ™‚

  30. nice story kak….. btw, soal RIM itu.. cape deh…. πŸ˜€

  31. enno berkata:

    daripada mblusukan di sale,mending ikut ke jogja kaaa….
    ehehehe…

    πŸ˜›

  32. chocoVanilla berkata:

    Ohh, Eka, pandainya engkau merangkai kalimat penuh makna πŸ˜€

  33. Ria berkata:

    hehehehe…sepatu emang bisa jadi perumpamaan bagus ya mbak!
    aku suka sepatu! dan kopi….

    sahabat, kopi dan sepatu…they are my favorite things!! πŸ˜‰

  34. advertiyha berkata:

    Sip, matab banget nih cerita kak.. πŸ™‚
    ngena banget petikan kata2 soal sikat sepatu itu, tak perlu memikirkan sikap buruk orang lain, santai aja , cuek aja, ntar juga capek sendiri, ya kan?? hehe… πŸ™‚

    aku suka banget pilihan kata2nya,, brilian..

  35. MENONE berkata:

    ikutan belanjanya…………………

  36. tutinonka berkata:

    Menurut saya, kalau kita diperlakukan secara buruk, secara tidak adil, maka kita boleh membela diri. Tidak harus berupa serangan balik, tetapi mengatakan kepada orang yang berbuat buruk kepada kita, bahwa dia tidak boleh mencuri ide-ide kita, tidak berhak memperlakukan kita seenaknya sendiri. Jika itu merugikan kita di mata sejawat atau atasan, kita buktikan bahwa kitalah pemilik asli ide-ide itu.

    Tentu, perlawanan itu kita lakukan secara baik, profesional, dan proporsional …

  37. ais ariani berkata:

    mbak ekaaa… aku lagi ngerasa galau karena sesuatu dan suka banget baca tulisan mbak eka nyang ini. uhuy cihuy laaah…
    semakin sibuk menyikat, semakin bersinar lah kita
    ahay. rangkaian ceritanya mengalir lembut.

  38. Ina berkata:

    Hahaha…perasaan muram dan sepatu. πŸ˜€
    Nice story,jeng.

  39. @helgaindra berkata:

    aih kata katanya dalem banget tuh kak
    kalimat yang pas buat temen yang lagi banyak masalah

    hehehe

  40. vizon berkata:

    Aih… sebuah perumpamaan yang cihuy, Ka…
    Sebagaimana juga yang dikatakan oleh tetua kita, besi semakin ditempa, semakin tajam ia… πŸ™‚

  41. mylitleusagi berkata:

    suka sama tulisannya… πŸ™‚
    bener banget..biarin aja orang jahat sama kita..
    orang ngambil semua ide kita..
    toh sebenernya dia sedang menggali kuburannya sendiri..
    dan kita yang selalu tertindas sedang belajar banyak hal bukan..
    suka sama analogi sepatunya.. πŸ™‚

  42. yustha tt berkata:

    kalau aku punya jempol sembilan, kuacungkan semuanya mb…
    aku setuju dengan paragraf bercetak miring itu…

    miss u kk’… *hug*

  43. Mood berkata:

    Lagi nyari tukang sikat hati nih K, biar hatiku kembali kinclong dan bercahaya.

  44. Robby Gondez berkata:

    Analogi yang bagus and keren kalimat ceritanya πŸ™‚

  45. Arik Agustini berkata:

    rangkaian kata yang indah…dengan perumpamaan sikat sepatu, semakin disikat semakin mengkilat dan cantik…

  46. Asop berkata:

    Walaaah, “darlink” pake “k”, kayak “kacaw” pake “w” (kacau), “cacad” pake “d” (cacat), sama “mantab” pake “b” (mantap). πŸ˜†

    *kacaw nih komen*

  47. ellys berkata:

    halooo mbak..what should i call u ya πŸ˜€ setuju bgt dengan analogi semir sepatunya..salam kenal ya πŸ˜€

  48. niQue berkata:

    What a nice thought! Perumpamaan dengan semir sepatu hmm .. saya jadi terinspirasi.
    thanks … πŸ™‚

  49. ladeva berkata:

    Mau ikutttt kalo belanja sepatu, hahahaha *saya penggila sepatu dan tas soalnya* tapi sampai sekarang belum punya rak sepatu sendiri. Sampai Mama saya bilang: “Deva, beli dong rak sepatu!” Saya mikir, saya kan punya kotak sepatu untuk masing-masing sepatu dan saya masih ada space di samping lemari baju saya, eh Mama saya kekeuh beliin saya rak sepatu yang gede banget. Akhirnya (karena gengsi, masa udah kerja masih dibeliin rak sepatu) saya bilang sama Mama saya, “Udah, ntar Deva yang beli”. Tapi sampai sekarang sepatu sudah nambah dan saya belum beli rak sepatu. Hahahahaha….(pelit banget yach). *curcol*

  50. mrpall berkata:

    sepatune sip…yg nulis tambah sip ajah…

  51. iiN berkata:

    mmm.. Mba Eka emang the best deh kalau ngasih solusi **mengingat ulang saran-saran mba Eka di P.Tidung.. πŸ™‚ hiii…

  52. Alris berkata:

    Bacaan ringan bikin aku pengen buat tulisan dari hal-hal kecil seperti posting ini. Makasih bikin aku ketiban ide setelah membacanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s