Surat Untuk Sahabat

Disclaimer:

Sebuah postingan yang cukup panjang karena ini curahan hati berbalut keping-keping memori.

Hening subuhku riuh, dipecah oleh dering ponsel yang tak kunjung berhenti. Sedikit malas aku menghampiri meja diujung kamar untuk mematikannya. Namun sejenak aku tertegun memandang ponsel itu. Di situ, dilayar persegi itu, bukan tertera wake up u lazy gal seperti biasanya namun sepotong kata “Ultah Rosi”.

Bibirku bergetar, kenangan masa lalu kita terputar. Dua belas tahun lalu aku mengenalmu, saat sama-sama kita memasuki bangku kuliah. Kamu dengan rambut bobmu dan poni menutupi dahi, tak lupa gaya sporty: ransel juga sepatu basket.  Masih ku ingat merknya, Reebok bukan? Warnanya putih dengan totol-totol silver di kedua sisi: membuatmu sigap  dan lincah bergerak.

Darimu aku mengenal majalah Cosmopolitan pertama kali 😉 Waktu itu kuliah siang kita dibatalkan, ada jeda 4 jam sebelum kuliah terakhir di sore hari. Berbondong-bondong kita pergi ke kos Arnilah untuk menghabiskan waktu. Disana, kamu mengeluarkan majalah dewasa itu. Lalu mengajakku membacanya bersama-sama. Aku menolaknya. Yah, kamu tahu bagaimana cara bapak membesarkanku; keras sekali. Majalah seperti itu bukan konsumsiku. Namun itu tak lama, celotehmu tentang masturbasi, tentang ciuman dan segala macam membuatku tergelak dan ketagihan membaca tips-tips seks yang ada. Eh, sekarang aku malah terkadang menulis cerpen dewasa! :mrgreen:

Darimu aku belajar untuk menjadi diriku sendiri. Seperti engkau yang cuek walau muka selalu mengeluarkan minyak berlebih, membuat pipimu selalu mengkilat berminyak-minyak begitu. Ah, sepertinya aku kualat karena dulu sering meledek ladang minyak diwajahmu, dua tahun terakhir kelenjar minyak diwajahku aktif sekali 😛 sekarang aku yang sering diledek pengusaha minyak, hahaha.

Darimu aku belajar untuk mendengarkan. Setiap hari kita selalu ngobrol hingga dua jam di telepon. Padahal tadi di kampus telah bersama-sama hampir 6 jam lamanya! Tapi bagi kita, tetap ada kebutuhan untuk bicara pribadi, untuk berceloteh hanya berdua saja. Bahkan selesai kuliah pun kita berusaha untuk bekerja di kantor yang sama supaya bisa tetap bareng-bareng. And still, walau telah menghabiskan 8 jam bersama di kantor, setiap malam telepon kita selalu sibuk karena dipakai untuk berbagi mimpi, bicara segala macam keresahan khas perempuan di pertengahan usai 20; mulai dari dikejar-kejar nikah, kecilnya gaji pertama hingga ketakutan jadi perawan tua! 😀 Ah, how silly we were at that time.

Darimu aku mengenal arti persahabatan. Kamu bahagia saat aku bahagia, kamu sedih ketika aku meneteskan air mata. Ingatkah kamu, satu kali pukul 10 malam aku meneleponmu sambil terisak-isak ketika pacar 4 tahunku (“Pria yang dulu sempat namanya tak dapat lagi kusebut” a.ka. Voldermot) mencampakkan aku. Kamu hanya bilang, it’s his lost. Dan selama enam bulan yang penuh kekacauan itu, you were there for me. Kamu gunakan hobimu memotret untuk menghiburku. Aku, yang kepayahan sekali karena patah hati, sedikit-sedikit jadi semangat karena sering diajak jalan-jalan dan dijadikan obyek fotomu. Ah, kamu tahu betul betapa banci kameranya aku ini 😀 dan kamu pandai mengakomodirnya!

Darimu aku belajar untuk selalu bersikap dan berpikir positif. Jarang sekali ada pikiran negatif terlontar dari bibirmu. Bahkan ketika keadaan benar-benar sangat buruk, kamu masih bisa tersenyum dan berusaha melihat keadaan tersebut dari angle yang positif! Ketegaran dan sikap positifmu menghadapi segala macam persoalan yang datang bertubi-tubi membuatku mengacungkan empat jempol sekaligus buatmu. (Biarlah aku jatuh kejengkang, yang penting dirimu dapat jatah empat jempol semua hehehe).

Darimu aku belajar mengenai keihlasan serta mengucap syukur dalam segala hal. Waktu itu dengan gembira kamu bercerita bahwa ada tawaran pekerjaan yang lebih baik di suatu perusahaan. Iseng aku bertanya, “bolehkah aku mengirimkan CV bersama-sama denganmu?” Dan kamu mengiyakan. Tak dinyana, aku yang diterima tapi engkau tidak. Rasa bersalah menghantui. Namun ketika kata maaf kuucapkan, ringan engkau menjawab,”Gpp, itu belum rejeki Rosi.” Aku terpaku lama sekali kala itu. Kamu yang memberitahuku tentang lowongan itu, kamu yang sangat mengincar posisi itu… Dan aku hanya iseng namun justru aku yang mendapatkannya. Aku kira kamu akan marah, atau bahkan jadi benci. Kamu berhak, sangat berhak untuk bersikap begitu. Tapi jawabanmu begitu sejuk hingga tak mampu aku bicara satu kata pun. Beruntung! Setahun kemudian ketika kamu mencoba lagi, akhirnya kamu diterima ^_^ Yeaay! Untuk kedua kalinya kita bekerja di kantor yang sama.

Darimu aku belajar bahwa sahabat akan mengusahakan kebahagiaan buat sahabatnya. Saat masih sedih karena putus dengan Voldermot itu, seorang pria datang mendekati. Namun trauma membuatku menjaga jarak walaupun dalam hati mulai mau. Lalu datang ide untuk pergi ke Serang mengunjungi sahabat kita Arnilah yang sudah menjadi uztadzah. Ia mengajar di salah satu pondok pesantren di dekat Anyer sana. Susah buatku dapat ijin pergi jalan-jalan jika ada lelaki, dan kamu dengan sigap menelpon, merayu bapakku. :mrgreen: suara lembut nan innocentmu mampu membuat bapak mengijinkanku pergi (ya..ya.. kamu memang selalu jadi bemper saat aku gak dapat ijin dari bapak dan herannya bapak selalu nurut sama kamu hahaha). Kamu dan Dina ikut dalam konspirasi berusaha mendekatkan aku dengan pria itu, pria yang sekarang menjadi suamiku! Sungguh aku berterima kasih padamu, juga Nila dan Dina. Eh btw, maaf ya. Kedudukanmu sebagai fotografer sekarang diambil alih oleh Adrian 😉

Well I guess you are my partner in crime. Kamu tahu semua dosa-dosaku. (please jangan jual info rahasiaku ke orang lain yah 😛 repot ntar hahaha). Kamu adalah sahabat jiwa, dalam arti yang sesungguhnya. Namun sayang keadaan tak lagi sama. Salahku, semenjak beda kantor aku kian sibuk dengan pekerjaan hingga lupa menyapamu. Bahkan minggu lalu saat kamu menyapa di kotak chatt pun aku tak mampu menanggapi dengan cepat. Maafkan aku.

Untuk sahabatku Rosita,

SELAMAT ULANG TAHUN. Hei kamu yang tertua diantara kita 😀 kamu duluan yang memasuki kepala tiga. Hahaha. Terima kasih untuk semua yang pernah kita lalui bersama. (hugz and kisses). Walau kesibukan memisahkan kita, tapi di dalam hatiku kamu tahu, aku mengasihimu. Persahabatan kita teruji. Teruji waktu juga permasalahan. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat. Semoga rumah tanggamu bahagia selalu, kebahagian melingkupi hari-harimu dan kesuksesan selalu ada mengikuti jejak kakimu. Besok sebelum mengajar, akan ku sempatkan mampir, and let’s we catch up some things together.. aku mau denger Vino udah bisa apa sekarang..

Miss you,
Your Ka
(U usually call me “KA” bukan Eka atau EKAK)
19 Juli 2010
Iklan

29 respons untuk ‘Surat Untuk Sahabat

Add yours

  1. tulisannya bagus, ada rasa ingin komen walau sedikit, alangkah indahnya sebuah persahabatan yang seperti berikut ini:
    ” persahabatan itu bagaikan tangan dengan mata, saat tangan terluka, mata ikut menangis, saat mata menangis, tangan pun kan menghempasnya, ” salin menolong, dan bekerja sama, sekian koment ku, trimakasih, sukses slalu

  2. mbak, fotonya mbak rosi yg mana nih? 😉
    memang asyik ya mengenang masa2 indah bersama sahabat, mbak eka…
    titip slmt ultah jg buat mbak rosi ya…
    life begins at 30…. 😀

  3. beberapa waktu lalu gw jga sangat merindukn sahabat

    juga mengalamu ujian persahabatan

    juga melalui waktu waktu yag tak begitu banyak saling bicara karena kesibukan masing masing

    but you know what, friends will always find a way back to their friendship
    sebuah jalan pulang

    🙂

  4. bagus banget surat untuk sahabatnya.. semoga dibaca oleh si sahabat..

    sejujurnya, baru sekali ini berkunjung ke cerita EKA, tapi langsung ketagihan! dari tadi masih ngendon disini baca2in postingan mbak yang lama2.. menyenangkan sekali disini!

    salam kenal ya mbak eka 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: