Penggoda Iman di Sore Hari

Ku lirik jam meja yang duduk manis dengan jarum pendek di angka empat dan jarum panjang terpatri di angka duabelas. Ah Sedikit malas aku menyeret diri ini ke kamar mandi, rasanya masih ingin leyeh-leyeh dikamar saja deh. Namun matahari telah beranjak senja, dan kulit tubuh ini sudah berteriak-teriak minta dimanjakan oleh busa lembut sabun cair. Jadi aku memang harus bersegera melakukan ritual sore itu.

Kusambar handuk dan 30 menit kemudian raga ini puas bercengkerama bersama air dan sabun. Wuuuuiiih segar deh rasanya! 🙂 Wangi sabun beraroma citrus benar-benar memompa semangat baru hingga bibir ini pun bersiul-siul riang. Namun siulanku terpaksa berhenti sesaat setelah aku keluar dari kamar mandi. Disana, diujung dapur aku lihat sosok yang sungguh tak ingin ku temui.

“Mau apa disini?” tanyaku ketus.

“Aku mau kamu mengelus-elus tubuhku seperti dulu” jawabnya kalem.

“Sinting kamu!” umpatku kesal .

“Ayolah… emang kamu gak kangen sama aku? Semenjak bersuami kamu tak pernah lagi menyentuhku. Padahal dulu kamu begitu betah memadu kasih denganku.”

“Enggak! Enggak kangen!” tukasku sengit. Berani sekali dia berkata begitu padaku. Pada perempuan yang telah menikah.

“Masa kamu gak mau melumuri tubuhku ini dengan ramuan khususmu itu? Ramuan yang selalu bikin aku klepek-klepek itu?” katanya lagi sambil mengerjapkan mata hitamnya. Dan ketika ia berkata begitu, terpaksa aku meneguk air liur pelan.  Tak bisa kupungkiri, pesona raganya begitu memikat. Tubuhnya kekar dengan kilat merah yang eksotis. Bulu-bulu halus diwajahnya, bikin aku geli ketika menciuminya. Arrrgh! Tapi aku ini perempuan bersuami!

“Suamiku bentar lagi pulang, sebaiknya kamu tidak disini,” jawabku sambil memperbaiki letak handuk yang sedikit melorot.

“Ayolah…” rajuknya lagi.

“Pergiiii….!” teriakku seraya berlari ke arah ruang tidur  dan membanting daun pintu dengan kerasnya.

“Masa kamu gak ingat, kita kan melakukannya dimana saja, tapi paling sering ya di dapur” kudengar suaranya menembus dinding kamarku. Oh kuharap ia diam, kuharap  ia mati kena penyakit pes karena digigit tikus dapur. Sebel aku mendengar rayuan gombalnya itu!!!

“Aku janji, sebelum suamimu pulang pasti sudah selesai. Apa kamu tidak mau merasakan sensasi itu lagi? Sensasi panas dengan keringat yang bercucuran?”

Sialan! Ia mempermainkan emosiku dengan kenangan lama yang kusuka. Nuraniku bilang jangan keluar kamar namun otakku memberi dalih bahwa jam tujuh masih lama dan sepertinya jalanan macet karena hujan, suami pasti pulang telat maka bermain sedikit dengannya di dapur tentu tak apa. Dan ternyata suara terakhir yang menang. Kubuka pintu dan segera aku berlari seperti kuda lepas dari kandangnya menuju dapur. Ok! Ini saatnya!! Dari tadi ia berteriak-teriak terus menggoda, maka sekarang akan kulumat ia.

Senyumnya terkembang begitu melihatku, dan tanpa memberinya kesempatan untuk bergerak, segera kuseret ia ke “sink”. Kurebahkan dan segera kukuliti. Hei kamu udang segar yang menggodaku untuk memasak padahal tubuh ini sudah wangi aroma citrus, rasakan ya……… Sukur kamu! Salah sendiri kenapa juga pake ajian merayu. Sekarang aku akan melumatmu dalam panasnya minyak! Berikan aku sensasi kepuasan yang nikmat dengan lezatnya dirimu yang telah kuolah ya! Keringatan karena panasnya minyak gpp deh, justru itu sensasi dari memasak 🙂 yang penting kamu bermetamorfosa sebagai makanan lezat 😛 Jadi untuk makan malam ini aku akan masak Udang Goreng Tepung Bumbu. Bahannya gampang banget koq:

  • ½ kg udang sedang, cuci bersih
  • Tepung terigu
  • Tepung Tapioka
  • 4 buah bawang putih
  • Cabai merah secukupnya
  • Lada secukupnya
  • Garam secukupnya

Cara membuat:

  1. Campurkan tepung terigu dengan tepung tapioka dengan komposisi 4:1
  2. Haluskan bawang putih, lada, cabe, dan garam.
  3. Campurkan bumbu yang sudah dihaluskan kedalam tepung.
  4. Ambil ¼ bagian tepung dan pisahkan ke dalam mangkok. Tambahkan air secukupnya  ke tepung yang ada di dalam mangkok.
  5. Rendam udang dengan tepung yang telah dibumbui tadi +/- 30 menit.
  6. Panaskan minyak. Sementara itu, ambil udang dari rendaman air tepung dan gulingkan kedalam sisa tepung bumbu yang tadi disisihkan. Lumuri udang dengan tepung secara merata. (Kubagi juga nih pada pembaca semua, ramuan rahasia yang bikin suamiku klepek-klepek :P)
  7. Goreng udang hingga warnanya menguning. Makin kering makin baik, karena kumis udang dan kaki-kakinya semakin kering digoreng akan semakin gurih rasanya.
  8. Sudah deh siap disajikan 🙂
Udang Tepung
Udang goreng batch 1 😛

Gampang kan? Dan saya selamat dari perselingkuhan di sore hari ini, karena sebelum suami pulang saya sudah mandi lagi dan yang pasti wangi lagi dengan udang goreng tepung yang nikmat sebagai lauk makan malam 🙂 selamat deh gue hehehe 😛 Artikel ini dibuat untuk menjawab tantangan pakde Cholik akan resep masakan. Tuh pak, saya buktikan saya ini bisa masak lhooo 🙂

Iklan

68 respons untuk ‘Penggoda Iman di Sore Hari

Add yours

  1. huahahaha ada2 aja lu ka pembukanya…. 😛
    btw jadi three some dong akhirnya, ada lu, suami lu dan udang. haha.

    tak kusangka.. ternyata eka jago masak… hehe. bagi dong udang gorengnyaaaaaaaaa… :d
    .-= arman´s last blog ..Swine Flu =-.

  2. wempi terkesan ma taplak meja lu. mirip punya mendiang nenek wempi dulu. masih ada yang ngejual taplak model seperti itu ya skarang, di jekate lagi. 😆

  3. Glek pertama….nelen ludah sendiri… Glek kedua….masih juga nelen ludah sendiri…. Glek yg ketiga…terpaksa deh, aku harus nelen ludah juga…hehe (apa bedanya yaaa….??)

    Sampeyan ini memang jago dalam meracik kata dan makanan…. Percaya deh…. 🙂

  4. hohoho.. gua baru tau lu jago masak juga ya mba? pasti enak banget deh udangnya… *ngiler*..
    besok2 kalo kita ketemuan, sok atuh dibawa hasil masakannya.. kan gua mo nyobain juga…

    huaaaaaaaaaa.. poto gua udah diganti… xixixix thanks 🙂
    .-= quinie´s last blog ..pengakuan =-.

    1. tapi mbak…
      ini beneran lu yang masak ya?
      sebelum dibuktikan dengan mengirimkannya kerumah saya, kayaknya belum percaya deh…
      @ ratu,kenapa pake kipas seh? panas ya?

  5. hmmm… melihat gambarnya sih enak, tapi kudu dibuktikan dulu nih…
    *mencatat apa yang harus ditagih kalau ketemu Eka*

    pembukaannya mantap banget Ka… bikin merinding euy, hahaha…
    .-= vizon´s last blog ..kapok =-.

  6. ga tertarik! karena alergi udang, hehehe..
    tapi klo di dalemnya bukan udang, kayany boleh2 aj siy mbak.. (idih, siapa juga yg mau bikinin elu pen..)

    Tapi ngomong2, tepung bumbunya bukan tepung bumbu instan ya? Wah asik nih mbak.. Minus MSG. Kapan2 saya coba ah klo lagi pengen bikin goreng2an sehat.. 🙂

  7. Kayaknya enak deh kak 🙂
    kapan” mo dicoba deh resepnya, kapan kita masak bareng?

    Kalau resep desya mah, ambil pasir, semen, air dengan ukuran 3:4, kemudian diaduk-aduk agar bisa jadi tembok yang kuat 😀

  8. :mrgreen: seperti biasa Hot words hehehehehe…
    teryata oh ternyata…makanan kesukaanku!!!

    bagi dunk mbak!!!

    dan ohya…kalau dapet hadiah dari pakde…bagi2 ya mbak 😛

  9. huakakakakakkkk, otak ngeres tertipu. awalnya gw pikir yang hot banget. dalam hati, “fiksi yang menggoda nih”. eh ternyata ada udang di balik bakwan

    *meununggu bagian, kelaperan euy*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: