Vanya Bertanya (3) Tamat

Kilasan cerita lalu :

Aku dan suamiku membesarkan Vanya, anak hasil hubungan diluar nikah Maya (sepupuku) dan pacarnya. Kami merawat Vanya dengan cinta kasih yang berlimpah, hingga ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas juga periang. Namun di ulang tahun Vanya yang ke tiga, Maya datang. Dan kunjungannya adalah kunjungan rutin yang merisaukan hati. Akankah ia mengambil cahaya kalbuku? Meminta darah dagingnya yang sudah ku rawat dengan sepenuh hati?

————————–

.

Semenjak itu Maya adalah pengunjung tetap kediamanku, tentu saja jika tidak ada jadwal terbang. Namun sesibuk – sibuknya, minimal sebulan sekali akan ia sempatkan menengok Vanya. Ia sering memberikan Vanya bermacam hadiah dan mengajaknya bercanda. Mereka sungguh akrab, dan itu membuatku resah. Walau aku yang membesarkan Vanya, namun tak dapat dipungkiri Maya adalah ibu kandungnya. Bukankah darah lebih kental daripada air? Maya memang pernah berjanji tak akan mengambil Vanya dariku namun kemungkinan itu tetap terbuka lebar. Bukankah dulu dia bilang titip Vanya. Titip. Menitipkan berarti suatu saat akan diambil. Aku takut.

.

Besok adalah ulang tahun Vanya yang kelima, dan seperti biasa akan ada pesta ulang tahun. Namun aneh, mendung menggelanyuti wajah Vanya sedari pagi. Padahal aku sudah berjanji akan membelikan sepeda mini dengan keranjang sebagai hadiah. Heran juga kenapa tiba – tiba murung seperti menjadi nama tengahnya. Aku sedang sibuk di dapur dengan tepung, gula dan telur ketika Vanya menarik – narik celemekku.

“Bunda, tante Maya mana? Koq gak dateng – dateng ?”

Oh ini rupanya, ini penyebab ia murung hingga roti oles yang kubuatkan tadi pagi tak dimakannya. Boro – boro disentuh, dilirik saja tidak. Ini biang keroknya ! Ia mencari Maya !! Huh, padahal aku sudah capek – capek mendekorasi ruangan, aku sudah sibuk memesan katering untuk pesta nanti sore, aku sudah menyebar undangan ke anak – anak tetangga. Aku ! Iya aku yang sudah berlelah – lelah. Kenapa Maya yang dicari, kenapa ?! Aku diamkan saja pertanyaan Vanya tak terjawab. Namun Vanya terus menarik – narik celemekku. Keras kepala juga ini anak, persis ibunya.

“Bunda, tante Maya mana? Tante Maya mana ? Nanti tante Maya datang kan bunda? Datang kan?”

Aaarrrrhh ! Maya lagi, Maya lagi.

“Vanya..!” hardikku keras.

“Dari tadi cari-cari tante Maya terus ! Gak liat apa bunda lagi repot hah?!” teriakanku membahana memecah hening dapur. Ia terlonjak kaget. Mungkin suaraku bagai guntur di wajah mendungnya. Dan ia pun terdiam. Melihat titik – titik air di sudut matanya, ah, kenapa hatiku yang pedih? Aku tak pernah membentaknya, sekalipun tidak. Ini adalah yang pertama dan aku bertekad akan menjadi yang terakhir. Aku telah berjanji untuk mendidiknya dengan kasih bukan dengan teriakan.

“Maafkan bunda Vanya, bunda capek, sekarang Vanya bobo siang dulu ya, besok pas ulang tahun Vanya, tante Maya pasti datang. Pestanya kan besok,” hiburku sambil mengelus rambutnya.

“Benar bunda?” tanyanya memastikan. Dan aku mengangguk dalam perih. Ternyata Vanya lebih mencari Maya. Kupalingkan wajah, tanpa kusadari air mataku menetes. Setelah Vanya pergi dengan senyum tersungging di bibirnya, kuletakkan adonan yang masih setengah jadi. Hilang sudah semangatku untuk memanggang kue, biarlah besok aku memesan kue tart dari toko seberang saja. Kulepaskan celemek dan aku pun menuju kamar. Aku ingin menangis, aku ingin mencurahkan perasaanku pada bantal dan seprei. Ini tak adil. Aku, aku yang mencebokinya ketika kecil dulu, yang berjaga semalam suntuk ketika badannya panas karena imunisasi, yang memeluknya ketika bermimpi buruk. Aku yang melimpahinya dengan cinta, yang membesarkannya dengan penuh sayang. Namun Maya dan Vanya memang semakin lengket dua tahun terakhir. Jika beberapa lama Maya tak datang menjenguk, pasti Vanya sudah ribut meminta ditelponkan. Ada rasa tersisih.

Aku terbangun dengan kecupan lembut di pipi. Suamiku sudah pulang rupanya. Lho jam berapa ini, pastilah aku jatuh tertidur karena menangis. Cepat aku bangun dan membuatkan mas secangkir teh hangat. Ada yang aneh, biasanya jam 4 sore Vanya akan membangunkanku karena ia akan pergi main ke tetangga sebelah. Aku memang harus dibangunkan, karena pagar kugembok rapat demi keamanan. Hanya aku dan mas saja yang punya kuncinya. Hidup di Jakarta, siapa yang mau mengambil resiko? Namun ini aneh, kalau mas sudah pulang berarti ini sudah jam 6 sore, dan tak terdengar suara Vanya. Tiba – tiba perasaanku tak enak.

Segera setelah aku meletakkan cangkir teh, ku cari Vanya di kamarnya. Tapi tidak ada, ke kamar mandi juga tak ada, kupanggil – panggi namanya namun tak ada sahutan. Mas yang mendengar suara kuatirku pun segera ikut mencari. Vanya, kamu dimana nak? Maafkan bunda nak, bunda gak bermaksud membentakmu, bunda hanya takut kehilanganmu. Kamu dimana sayang? Pekikku dalam hati. Setelah sibuk mencari di dalam rumah, akhirnya kami temukan Vanya tertidur di ayunan taman belakang. Tempat favoritnya bermain. Segera kupeluk dan kuciumi dia, namun ternyata badannya panas. Mas menenangkanku bahwa itu panas biasa, mungkin karena kelelahan bermain. Tapi menurutku ini bukan panas biasa, mas tidak tahu siapa yang dicari Vanya tadi siang. Cukup diberi obat penurun panas dan kompres saja kata Mas lagi. Dan aku pun menurut.

Segera ku gendong Vanya kedalam, ia membuka matanya dan bertanya, “Bunda, tante Maya mana?” hampir terlepas Vanya dari gendonganku, untunglah Mas sigap menangkap. Ketika itu telepon berdering dan aku pun bergegas ke ruang tengah. Diseberang sana tante Febri menangis meraung – raung, pesawat yang diawaki Maya hilang dalam penerbangan dari Jayapura menuju Oksibil jam 2 siang tadi. Persis ketika Vanya menarik – narik celemekku. Aku terduduk lesu. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan Vanya ?

TAMAT

Iklan

86 respons untuk ‘Vanya Bertanya (3) Tamat

Add yours

  1. waduh… ya bonding anak ama ibu biologisnya gak bisa hilang emang ya.. ada telepatinya…

    nice story ka!!

    #EKA
    apalagi mereka kan makin dekat
    jadi ya bondingnya terasa ya …

    1. waqduh, kangen bangen sama mbak eka. im sorry so much baru bisa nunggul lagi.xexexe…
      btw, bonding apaan yak? maksudnya hubungan gitu?? 😀

      #EKA
      bonding = ikatan, hubungan.
      dlm kasus ini ikatan batin antara anak dan ibu kandungnya

  2. *menangis*

    haia, ka … jarang bw sekalinya bw disodori cerita mengharukan begini …
    nice story. i love the way you write and explore ur emotion.

    great !!!

    #EKA
    Thank u dayu 🙂

  3. Wah…nice..
    Bgn tidur baca ini,huhu terharu..
    Eh TUHAN luar biasa ya, Dia udah satukan Vanya kecil dgn bunda, krn trnyta Maya akan TUHAN panggil sblm Vanya dewasa, sblm Vanya memahami hidup & mati…

    #EKA
    Sudah diatur 🙂

  4. baca cerita terakhirnya ini rada2 sad ending ya…
    hubungan batin ibu dan anak itu memang ga bisa dipisahkan

    #EKA
    gue msh belum ngerti, soal kontak batin yg seperti itu 🙂
    ada koneksi kali yah
    kan hubungan darah memang kuat sekali

  5. Ternyataa.. ini toh pertanyaan si Vanyaa.. hmm.. kira2 jawaban macam apa yang akan dia dapatkan yaa? 😀

    #EKA
    Nah koq malah ditanya balik siy 😀
    hehehe

    1. Hahaha.. abis khan udah tamaaatt.. berhubung masih nggegantung jadi mending nanya langsung ama sang penulis gimana sang bunda menjawab pertanyaan si Vanya itu, ahahaha ^o^

      #EKA
      nah.. gimana kalo pertanyaannya lu aja yg jawab hehehe 😀

  6. Hmm rute pesawat disana memang rawan….
    Poor Vanya *pat *pat
    Poor Maya

    Poor Bunda.. kayaknya ngerasa bersalah juga dia

    Nice Story! 😀

    #EKA
    Iyalah… kan tadi sempet bentak2

  7. udah layak nih jd penulis pro….

    heyy para penerbit… silahkan maen ke blog ini. dan kontak admin blog ini…

    urusan uang biar gw , ka 😀

    #EKA
    heh
    kalo soal duit cepet nyamber aja lu yah hihihi

  8. Awesome… 🙂
    Rasa penasaran dipuaskan dengan tragedi…
    Ceritanya sangat bagus. Kalo diterbitin bagus banget dong. Saya bakal ikut jadi pengedarnya (kayaq ubas aja jadinya), :-p

    #EKA
    pengedar obat amang ? :p hehehe

  9. Baru beberapa hari ndak mampir ke blog ini, dah ada 3 tulisan berantai. Baguslah, jadi aku bisa langsung membacanya secara kontinyu. Aih…sad ending toh..? I like that, karna hidup itu ngga selalu indah, kayak sinetron-sinetron, ya kan Ito?

    Mantabh…menggugah… we want more… we want more… we want more *sambil bawa-bawa Poster Eka*

    #EKA
    bawa2 poster??
    weleeeh gue di demo 😀 hehehe

  10. HIks.,…hiks..hiks….Kasian sekali si Vanya Mbak 🙂

    HIngga akhirnya tidak bisa bertemu dengan Ibu kandungnya lagi
    T_T

    Salam nangis Bocahbancar

    #EKA
    cup..cup..
    jangan nangis dunk.. nanti gak bisa ke pameran pendidikan international lagi 🙂

  11. nah kan, apa gw bilang ….endingnya gwgw jadi ikutan sedih nih…..abis sebel trus emosi sekrang jadi sedih deh….hem…
    cerita yg bagus….dalem banget …and kena banget pesannya…..

    ” PAKAILAH KONTRASEPSI “…….

    #EKA
    hahahaha
    keren juga hikmah yg bisa lu petik 🙂

  12. Aku langsung nelepon kerumah kelar mbaca yang satu ini… 🙂
    Memang umur, jodoh dan rejeki adalah rahasia illahi – semoga Ya Allah perjalanan mudik-ku lancar.

    Trims buat kisah seru mengharu biru ini, salam hangat dari afrika barat!

    #EKA
    Lho belum mudik juga mas?
    Saya doakan semoga lancar selalu…
    salam hangat..

  13. duhhhh mata gw berkaca2 nih mbak 😦
    anak kecil memang kadang punya ingsting yg kuat apabila orang terdekatnya terkena musibah..
    ini pernah kejadian sama ponakanku, dia nangis seharian nyari mamanya ternyata mamanya pingsan waktu di kantor…duhhhh sedih

    tapi memang harus ada satu yg pergi agar semuanya bahagia bukan 😀

    #EKA
    tapi skr bundanya bingung
    gimana jawab pertanyaannya Vanya itu…

  14. waduw bu.. lama aku tak kesini…
    ceritanya seru, sedih….
    memang ibu hebat meramu kata…

    #EKA
    Thank u 🙂
    kamu kemana aja ?
    gak pernah muncul sini…

  15. akhirnya Mbak Eka yang mendapatkan Vanya,,,
    Tapi caranya mendaptkannya sungguh tragis, harus ada yang dikorbankan hiks hiks hiks….

    #EKA
    tidak ada yg menjadi korban…
    sudah ada yg mengatur 😉
    yaitu mood nulisnya hehehe

    1. fiksi yang di angkat dari kisah nyata orang lain dan di sambungkan dengan tragedi pesawat yang ilang. sungguh imajinasi yang luar biasa…..*bener gak tuh* ha ha ha

      #EKA
      fiksi nya bener, nah kisah nyata?
      mungkin ada tapi gue gak mengalami langsung siy 😀
      ato jgn2 lu ye yg hamilin si maya ha? =))

  16. hikz hikz hikz….
    cedih banget….
    hampir semua bulu kuduk berdiri membaca cerpen ini…
    teh eka bisa aja membuat cerpen kek gini…

    darah yang mengaliri tubuh anak tidak akan pernah cair walaupun sejauh apapun mereka terpisah, ikatan ini akan selalu ada dan tidak akan pernah sirna….

    salam kenal n menanti kunjungan balik dari sahabat 😀

    #EKA
    Salam kenal juga mas….
    darah memang lebih kental drpd air
    ikatan batin jadi ada.
    Jika wktu lengang saya akan dtg berkunjung 🙂

  17. seru n sedih banget mba ceitanya…
    bisa aja sie menghubungkan kejadian dengan ceritanya…
    bener2 bakat yang rrruuuuuuuaaaarrrrrr biasa nih hehehe…

    tak tunggu cerpen2 menarik lainnya yah 😀
    Iklan Gratis

    #EKA
    Silahkan ditunggu 🙂
    thank u ya udh jd pengunjung setia mas 🙂

  18. thumbs up!!

    mbak Eka, jago banget nulisnya…….jadi pengen terus membaca…..
    kreatif banget…
    nama blognya jadi Eka’s great stories aja kalo gituh…

    sip tenan Mbak! suerrr…

    #EKA
    hihihi… kepala gue kepentok ceiling 😀
    ke GR an niy hahaha

  19. waaah ga nyangka begini akhirnya.. kok ga hepi ending sih?? xixixi

    btw, next story, judulnya : Bunda Vanda menjawab?!

    #EKA
    kalo lu yg bikin gimana Rat 😀
    gue udh bunu ide hehehe

  20. woww wowww wowww….sungguh kejadian yang sanagat memilukan, mengiris perih dihati, menyayat jiwa yang tenang, mengalirkan air mata yang mengendap. kenapa bunda maya harus pergi??? kenapa bundan pergi sebelum vanya tumbuh dewasa??? kenapa harus pergi di saat vanya ulang tahun??? kenapa harus sekarang dan saat ini..hikzzz hikzzz hikzzzz *vanya menangis terisak isak*….

    begitu kuatnya ikatan bathin antara seorang dengan bundanya. hingga dia mencari bundanya disaat ada sesuatu yang terjadi pada bunda. pencarian itu ternyata wujud dari kekuatiran seorang malaikat kecil terhadap bundanya……

    vanya….kamu jangan takut, om zulhaq disini siap menjadikanmu anak semata wayang, yang akan om rawat dengan bunda luna maya kekekekekekekekek….

    harus ada sambungannya lagi niy…tanggung, biarkan vanya sampe dewasa, sampe jatuh cinta sama om zulha yang paling ganteng kekekekeekkekke

    #EKA
    Hiyaaaaaaaaaaa
    kalo gue gak tahu lu sinting gue kira lu pedofil deh
    masa doyan anak kecil hahaha
    Tapi ikatan batin itu misteri yang KUasa..
    enatah gimana, bisa dtg tepat waktunya..

    1. Tidak tepat lewat depan rumah juga sih, tapi di perempatannya. RS Bhayangkara Polda kan berada satu komplex dengan rumah saya di KPR Polda. Ada 20 kantong berisi 15 jenazah, soalnya pada tercerai berai di lokasi kecelakaan, baru dirangkai2 di RS. Tadi pagi sudah pada diberangkatkan ke tempat pemakaman masing2. Kebetulan mobil kargo saya pas jalan didepan konvoi mobil jenazah yang ke arah gudang bandara. BTW kenapa ngeri? (o_0)”\

      #EKA
      gue selalu gak nyaman aja deket jenazah… entah kenapa…
      seolah masih merasakan kehadiran malaikat pencabut nyawa..
      euuuuh.. 😦

  21. *speechless*
    turut sedih untuk Vanya yg kehilangan ibunya..
    turut berduka untuk tante Maya yang telah berpulang..

    *masih speechless*

    😦

    #EKA
    Makan nano2 dulu ? 😉
    biar kaget mungkin 😉 hehehe

  22. oh ya…lupa!!
    semalam keburu teler, belum komen terakhir

    harusnya ceritanya di tamatin dengan ending perayaan ULTAHnya Vanya…terserah mau nulis dia sedih bgt atau di tulis, mbak menjelaskan dengan sedikit ngeles ke vanya, dan dia menerima penjelasan dan mau merayakan ultahnya tanpa bunda maya…karena pas perayaan ada om zulhaq yang datang menghibur dan memberikan suasana dan senyum baru buat vanya huakakakakakk

  23. Ini baru kudengar lagi istilah “darah lebih kental dari air”..
    hiks ..ceritanya mengharukan …
    Nulis lagi .. yuk..!

    #EKA
    hayuuuuks 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: