Mengenal Kebudayaan Papua melalui Festival Danau Sentani

Exploring the world is one of the best ways to explore the minds. – Rebecca Saint-

Terik matahari langsung menyapa pipi begitu mendarat di Bandar Udara Sentani. Saya melepaskan jaket yang semalaman erat memeluk tubuh dan mengenakan kacamata hitam untuk menahan silaunya matahari.

“Selamat datang di Jayapura,” orang-orang menyapa sambil menjabat tangan saya erat lengkap dengan senyum manisnya. Saya sedikit terperangah mendapat sambutan sehangat itu, tak ada jarak, tak ada canggung, yang ada hanya keramahan. Keramahan yang langsung membuat saya merasa akrab dan nyaman. Lelah setelah menempuh perjalanan selama 10 jam lebih (karena delay saat transit di Makassar dan Biak) menguap bersama matahari Papua tergantikan dengan excitement untuk melihat Festival Danau Sentani.

Bangga bisa ikutan Festival Danau Sentani

Festival Danau Sentani (FDS) yang setiap tahunnya berlangsung antara tanggal 19-23 Juni ini sudah diadakan sejak tahun 2007 lalu dan di tahun 2018 ini merupakan penyelenggaran yang ke-XI. Wow, bravo Kabupaten Jayapura yang sudah konsisten melaksanakan ini. Sesungguhnya saya kurang mengenal Sentani, yang saya tahu adalah Jayapura. Nah, begitu kemarin menginjakkan kaki di Sentani, baru saya paham bahwa Sentani adalah pintu gerbang untuk kota-kota lain di Papua. Pintu gerbang yang menyimpan banyak pesona dengan Danau Sentani (Lake Sentani) yang terdapat di Pantai Kalkhote, Kabupaten Jayapura, Indonesia menjadi ikonnya.

BUDAYA PAPUA: TARIAN ISOSOLO MEMBUKA FESTIVAL DANAU SENTANI DENGAN GEGAP GEMPITA

Pekik membahana terdengar dari beberapa perahu besar yang sudah dihiasi dengan daun kelapa dan daun Khamea. Puluhan orang berada di atas kapal kayu sambil bernyanyi dan menari. Tidak ada pengeras suara, tidak ada tambahan bantuan sound system namun suara mereka saat melakukan Tarian Isosolo nyaring terdengar memecah keteduhan Danau Sentani. Menghentak seiiring dengan ritme tifa yang dipukul dengan penuh irama. Membawa aura kebahagiaan yang membuat saya ingin ikut bergabung dan berdansa!

Saya selalu menyukai Kebudayaan Papua yang sering muncul dalam acara-acara TV. Ini kali kedua saya melihat tarian adat Papua, yang pertama saat di Raja Ampat dulu namun ini kali pertama saya melihat Tarian Isosolo –  tarian wajib pada Festival Danau Sentani (FDS). Isosolo merupakan seni tradisi masyarakat Sentani yang menari di atas kapal dari satu kampung menuju kampung lainnya. Merujuk pada situs Kebudayaan Kemdikbud, Isosolo sesungguhnya terdiri dari dua kata yaitu ISO dan HOLO/SOLO. Iso memiliki definisi bersukacita dan menari mengungkapkan suasana hati sedangkan Holo/Solo bermakna sekelompok orang. Dengan kata lain Isosolo (kadang orang menyebutnya juga sebagai Isolo) berarti sekelompok orang yang bernyanyi dan menari mengungkapan perasaan dan suasana hati.

Dan suasana hati penuh sukacita itu jelas tergambar dengan baik pada masyarakat Papua. Sorak gempita terlihat dari wajah-wajah, rumbai penari di atas kapal meliuk-liuk seiring dengan tarian yang merupakan penghormatan kepada kebibawaan ketua adat (ondofolo). Eksotis! Terlebih para penari mengenakan pakaian adat Papua lengkap seperti Yonggoli (rok rumbai-rumbai), cawat (malo/ambela), manik-manik (mori-mori), Noken (Holbhoi), dan Tifa (wakhu).

Festival Danau Sentani yang meriah dengan tarian Isosolo, tarian adat Papua khususnya di wilayah Sentani

Saya berdiri di tepi danau bersama ramai orang yang bersorak-sorai. Semua terbius oleh seni tari dan atraksi budaya Papua yang begitu memikat. Sesekali terlihat gerakan tarian memanah, kemudian memutar, bergoyang dan pekik nyanyian kembali pecah. Saya terpana, tarian Isosolo ini begitu memukau, membawa semua yang ada di Danau Sentani seolah berada di alam lain. Rasanya seperti trans! Gemuruh di dada menghentak, tangan saya ikut menari bersama lagu yang dibawakan dalam tarian Isosolo. Sesekali saya menekan tombol shutter pada kamera namun sesungguhnya saya pengen banget ikut naik ke kapal dan ikut menari bersama mereka! Luar biasa! Kalau nggak inget kamera itu berat, kayaknya saya pengen nyebur dan ikut bergabung menari di atas kapal. Hehehe.

Ada Apa di Festival Danau Sentani?

Selama 5 hari Festival Danau Sentani digelar, ada banyak hal yang bisa ditonton dan dilakukan. Stan-stan makanan, penjual souvenir, penjual benda-benda khas Papua berjajar rapi. Entah berapa rupiah yang bergulir di sini namun nampaknya Festival Danau Sentani menjadi salah satu iven yang mendenyutkan roda ekonomi sekaligus mengeratkan keakraban.

Seni melukis tubuh alias body painting

Satu yang menarik hati adalah Kompetisi Seni Melukis Tubuh dan Wajah. Diikuti oleh banyak peserta bahkan ada dari negara tetangga segala; Papua New Guine, kompetisi ini bikin saya kagum sama ketrampilan mereka.

Seni melukis wajah di Festival Danau Sentani. Hasilnya kayak apa? Tonton videonya ya.

Nggak ketinggalan, saya pun ikut nyobain face painting dong. Nah, si kakak yang melukis wajah saya itu ternyata penggemar Jerman (ahey, saat FDS berlangsung kan Piala Dunia 2018 juga lagi jalan) alhasil wajah saya digambar dengan warna-warni khas bendera Jerman. Warna hitamnya aja yang diganti dengan warna putih. Hehehe. Tapi saya suka lho, dan ternyata cat yang digunakan tidak mudah luntur oleh keringat walau begitu gamang dibersihkan dengan air. Kalau kamu datang ke FDS next time, harus cobain face painting ini ya!

Selain itu ada banyak panganan tradisional yang digelar juga di sini. Satu yang menonjol adalah Ulat Sagu! Ulat sagu bisa dimakan sebagai cemilan sendiri tapi ulat sagu yang sudah dipanggang begini lebih enak dimakan pakai sayur kangkung dan keladi tumbuk. Uuuh maknyus! Ulat Sagu sendiri kaya protein lho.

 

Collosal Dance: Pecah di Sentani!

Rintik hujan masih sedikit menetes namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk menghadiri penutupan FDS. Selain rangkaian acara sambutan dari para pejabat terkait, penutupan FDS juga diisi dengan tarian adat dari masyarakat Sentani serta persembahan lagu dari Papua Original.

Tarian yang sudah disiapkan sebulan lebih lamanya, menggabungkan sisi tradisional masyarakat Papua dengan modernitas masa kini. Beberapa kali decak kagum penonton terdengar saat melihat efek 3D serta tarian tradisional yang dibawakan dengan kekinian.

Namun pecah sesungguhnya itu adalah saat terakhir Papua Original menghentak dan mengajak para pendukung acara serta masyarakat yang ada turun dan menari bersama. Ajakan yang langsung bersambut layaknya tanah menyambut hujan, semua masyarakat yang tadinya tertib ada di pinggir lapangan langsung berlari turun memenuhi lapangan. Intip videonya di sini:

Semua menari dengan riang gembira. Bernyanyi dengan sepenuh hati. Saya sempat bingung namun kemudian ikut larut dalam suasana. Tua muda, besar kecil rancak menari! Membentuk ular panjang kemudian memecah menjadi beberapa lingkaran. Awalnya kecil kemudian membesar saat beberapa orang bergabung. Saya terpana, tarian ini tidak dikoordinasi, masyarakat tidak dilatih namun seolah dapat luruh menyatu secara natural. Di atas panggung, Papua Original masih bersemangat bernyanyi, sementara di bawah panggung semua elemen masyarakat lebur dalam kebersamaan. Luar biasa, begini seharusnya sebuah festival rakyat diadakan!

Beberapa orang yang menari mengajak saya ikut bergabung tapi kamera saya agak berat jadi saya jingkrak sedikit aja karena ngeri kebanting. Hihihi. Namun di sela-sela riuhnya suasana saya sempat ngobrol sama mereka. Katanya mereka senang banget bisa dance bareng gini. “Kakak, ini pertama kali begini. Kakak, kami suka! Ini beda!” Begitu kata mereka yang membuat saya juga ikut larut dalam sukacita mereka.

Congrats, Sentani! FDS ke-XI ini sukses mencuri hati masyarakat. Festival yang membumi, tanpa jarak dan sekat. Terima kasih Sentani dan Ayo Jalan-jalan for having me to witness this amazing event.

 

Selamat Hari Kamis, Sobat CE.

Apa Festival Seni dan Atraksi di daerah Kalian?

Iklan

39 respons untuk ‘Mengenal Kebudayaan Papua melalui Festival Danau Sentani

Add yours

  1. kemarin ngiler lihat ig storynya bang leonard dkk, pengalaman yang berharga dan berkesan tentunya bisa ke sini bareng2 blogger kece lainnya. kayaknya sebagai WNI wajib deh berkunjung ke Papua seumur hidup minimal sekali lah…

  2. Mbaaa aku merinding iiih nonton keseruan videonyaaa :D. Pwngeeeeen banget bisa ada di sana. Nyesel ga pernah ke papua, padahal dulu papaku sempet kerja di sana bbrp tahun. Tp wkt itu kita sekeluarga ga ikut memang. Tp krn tempat papa jauuuh di pelosok, kita ga prnh mau tiap diajak kesana :(. Skr ini nyeselnya..

  3. Kok keren banget sih acara penutupannya.
    Coba kalo saya nunggu bentar, pasti bakalan liat tarian dengan efek yang keren.
    Apalagi liat di stories kak Eka yang penontonnya pada ikutan nyanyi.
    Huhu seru banget kayaknya.
    Sampai sekarang masih penasaran nyobain ulat sagu hidup 😂😂

  4. Aku menikmati banget perjalanan Mbak Eka dan temen-temen di sosmed (terutama IG story) dan langsung syok pas bagian ulat sagu hahaha. Syok lainnya pas liat betapa cakepnya tanah Papua. Keren banget! Dan aku jadi bener-bener keinget sama film Denias. ❤

  5. Megah!
    Jauh dari kesan ketertinggalan
    Tapi hal yg paling membuat saya penasaran adalah seperti apa sih udara papua.. Karena kita tahu sendiri, jumlah pohon masih lebih banyak dari populasi manusianya..
    Sesejuk apa sih tanah papua. 🙂
    maybe someday, saya bisa singgah kesana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: