Apakah Kamu Pernah Marah?

Hadeuh itu pertanyaan retoris kayanya ya :mrgreen: masa iya ada yang gak pernah marah sih? Eh tapi coba angkat tangan dulu siapa yang belum pernah marah? Gak ada? Semua pernah marah kan? Demikian juga saya! πŸ˜›
Jadi begini, hari Minggu sore kemarin saya dan suami berencana beribadah sore hari. Semuanya berjalan begitu indah. Saya dengan wangi shampoo dan lotion lembut dibantu dengan suasana sore hari Jakarta yang lengang; syahdu karena mendung serta jingga senja hari. Ah! Pokoknya suasananya mantap sekali. Lalu saya dan suami terlibat sebuah pembicaraan. Pembicaraan yang mengakibatkan otot-otot wajah saya menegang, aliran darah terpacu kencang serta lengkung bibir saya yang tadinya mengembang tersenyum berubah membulat kesal. Ah, suami saya baru saja melalukan kesalahan fatal, disaat mood saya lari pecicilan karena PMS mendera, ternyata ia mengucapkan kata yang membuat saya merengut kesal. Iya, saya marah. MARAH sangat. Hingga saking marahnya, saya bilang saya mau pulang saja. Malas ke gereja. Rasanya gak damai sejahtera banget ke gereja tapi hati lagi bersungut-sungut kesal.
Love

Love is patient, love is kind, it isn’t jealous, it doesn’t brag, it isn’t arrogant. Love puts up with all things, trusts in all things, hopes for all things, endures all things. Love never fails.

Awalnya suami saya ngomel juga, bingung dan menyalahkan saya yang punya reaksi tak masuk akal untuk jawaban ringannya. Duh bang! Kamu koq gak tahu siy, istrimu ini lagi sensitif banget! Kalah deh tuh alat tes kehamilan yang dijual di pasaran. Tapi, memang saya tak salah pilih suami, ia tahu pasti bagaimana harus menjinakkan amarah saya. Kalem sekali ia bilang bahwa saya harus tetap ke gereja, no matter what. Dikatakannya hal itu dengan penuh wibawa. Dengan otoritas seorang suami kepada istrinya. Dan saya pun diam tergugu. Terpaksa menuruti kata-katanya. Terpaksa? IYA! Terpaksa sangat. Pengen lari pulang kala itu.
Dengan rasa tidak nyaman dan dahi berkerut tengang (Cih, beneran deh rasanya gak enak) saya meletakkan bokong saya di bangku empuk gereja seraya berbisik, β€œSaya masih marah sama kamu lho, Bang” Suami saya diam, tidak menjawab. Lalu saya berdoa pelan di dalam hati, Tuhan saya datang ke rumahMU. Setelah itu saya menyanyikan sebuah penyembahan mengikuti Worship Leader. Aneh! Tiba-tiba amarah saya lenyap. Serius! Lenyap tak berbekas. Hilang sama sekali. Itu tidak sifat saya. Biasanya, jika saya marah, saya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dan waktunya itu tidak cepat, yaaah paling cepat 4 jam lah.

Time of refreshment

Tapi kemarin itu benar-benar amarah saya luruh. Saya tahu, saya dijamah Tuhan. Saya sedang merasakan hadirat dan keagungan Tuhan. Saya merasakan energi kekekalan yang luar biasa meruntuhkan benteng-benteng amarah saya. Semua hilang, berganti dengan kelembutan hati.Β  Dan hati saya pecah. Betapa Tuhan begitu baik pada saya. Betapa Tuhan adalah Allah luar biasa yang bisa mengubah sekeping hati yang keras menjadi selembut kapas. Betapa saya menyadari bahwa hidup saya ini bukanlah apa-apa. Jika Tuhan mau, hanya dengan jentik tanganNya saja saya bisa jadi apa saya yang Ia kehendaki. Saya hidup oleh karena perkataanNya saja, how come I sweat small matters into big things?
Apakah kamu sedang marah saat ini? Dalam takaran dan situasi serta kondisi yang tepat, amarah itu perlu tapi hati-hati dengan hatimu πŸ˜‰ jangan sampai pahit karena amarah..
.
.
.
Pics are borrowed form here and here
Iklan

Tentang Ceritaeka

A Lifestyle and Travel Blogger. Choco addict. High-heels fans also a culinary worshiper. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Galeri | Pos ini dipublikasikan di REFLECTION dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

46 Balasan ke Apakah Kamu Pernah Marah?

  1. salam manis berkata:

    soal marah itu pasti laah …
    namanya manusiawi kan ?? πŸ˜€

    tapi sebisanya untuk mengendalikan marah itu yg luar biasa ….

    *komen dari judulnya ajah* :p

  2. RiMuTho berkata:

    haha,,,,,,, ha,,,,,,ha,,,,,,,, pertamax baca tulisan mbak

  3. hampir sama, kalo saya lagi marah banget, jalan keluarnya kalo ga wudlu (bersuci dengan air sesuai tuntunan agama Islam), ya minimal cuci muka dan cuci tangan…

  4. indobrad berkata:

    like it. hati yang bersungut-sungut bisa mudah dilembutkan oleh sentuhan Tuhan lewat ibadah dan pujian. gak semua orang bisa seperti itu. GBU πŸ™‚

  5. nuuii berkata:

    Hampir mirip, kalau aku lagi marah, kesel atau memang mood-nya lagi jelek langsung ambil wudhu trus sholat, doanya lamaaaaa… kadang doanya kayak curcol dgn sang pencipta hihihi

    Yang agak BT itu pas lagi marah eh pas “halangan” nga bisa sholat (curcol) dech.. kalau udah kayak begitu curcolnya di akun alter-ego twitter :)) #pengakuan

  6. mbandah berkata:

    eh eh trus lanjutan critanya gimana? maaf maaf an sama suami mbak?
    *penasaran sama endingnya*
    hahaha..

  7. jarwadi berkata:

    respon suami tahu marah kamu mereda lebih cepat dari biasanya bagaimana kak?

    may all God blesses be yours ya πŸ˜‰

  8. NRifa berkata:

    ” Kalem sekali ia bilang bahwa saya harus tetap ke gereja, no matter what. Dikatakannya hal itu dengan penuh wibawa. ”

    Tuhan memang baik.. sangat sangat baik πŸ™‚

  9. DV berkata:

    Jadi marahmu hilang karena lagu penyembahan apa karena Tuhan, Ka? Hahahhaa.. *ngibrit dilempar panci

    • Ceritaeka berkata:

      Baca yg cermat donk ndoro Donnyyyy πŸ˜‰
      => Saya sedang merasakan hadirat dan keagungan Tuhan. Saya merasakan energi kekekalan yang luar biasa meruntuhkan benteng-benteng amarah saya
      Nah itu menurutmu karena apa coba?

  10. hotchocolate berkata:

    dijamah Tuhan. saya suka kalimat itu, kak πŸ™‚ pengalaman pribadi juga soalnya πŸ™‚ eniwei, glad to read your post again πŸ™‚

  11. latree berkata:

    apakah aku pernah marah? sering hahahaha…
    menurutku marah itu seperti api. sekali dituruti makin berkobar-kobar.

    beberapa waktu ini aku sedang marah banget. tapi aku berusaha diam menahan diri. sampai sakit kepala dan sesak dada. tapi alhamdulillah dengan diam malah perlahan-lahan ilang πŸ™‚

  12. titiw berkata:

    Somehow kok aku bergetar baca ini ya mbak Eka.. Emang deh, kita jadi manusia itu, sesombong-sombongnya.. Semarah-marahnya.. tetep aja masih ada yg di atas, yaitu Tuhan..
    PS: di agamaku, kalo suami udah ngomong sesuatu (yang gak membahayakan kita), istri wajib ngelaksanain mbak.. So you’ve already done your part as a good wife.. πŸ˜‰

  13. Nieke berkata:

    Hmmm, pas banget ke sini dalam keadaan kesal, bukan bener2 marah sih tapi yaa, cukup bikin hati gak nyaman 😦 dan biasanya memang emosi itu semakin susah dikontrol pas lagi dapet. Harusnya sih bisa wudhu seseringnya, trus shalat. Tapi ini? Yah, berdo’a aja sama Tuhan buat minta ketenangan. Btw, cukup penasaran, Suami mbak Eka baca blognya mbak gak ya? Hehehe πŸ˜€

  14. deapurnama berkata:

    aku sendiri malah sering tuh marah-marah hahaha klo ada yang ksel dikit aja mrah hihihihihi

  15. sha berkata:

    Hehehhe kalo marah ala saya biasanya mendiamkan orang yang bikin sebel itu, mbak. Trus kalo udah saking sebelnya, nangis sendiri dehh… dan sama seperti mbak Nuii di atas, biasanya doa setelah sholat jadi makin lama. πŸ™‚

  16. Kurnia Septa berkata:

    sering…. disiram air baru mulai agak reda

  17. Asop berkata:

    Marah?
    Sering, Mbak. 😦

    Dan menurut saya, marah itu melelahkan. Capek. 😦
    Guru SMP saya dulu, katanya, kalo habis marah mesti makan sate 25 tusuk. πŸ˜† Gak heran, tubuhnya gemu sekali. :mrgreen: Kalo udah begini, marah itu juga bikin bokek (kalo setiap marah kudu makan 25 tusuk sate).

    Oh ya, dan saya udah sadar sejak SMA, bahwa jangan main2 dengan cewek yang lagi PMS. Jangan cari masalah. Tapi gawatnya, saya gak tahu cara menilai cewek PMS atau nggak dari jarak jauh! πŸ˜†

  18. mubarika berkata:

    Senang baca tulisan ini. Betapa bersyukur dan indahnya dijamah Tuhan dengan cara lembut.

  19. tuaffi berkata:

    wew.. lain kali kalau marah, langsung ketemu Tuhan saja Mbak.. Jadi gag perlu nyimpen sampe 4 jam.. πŸ˜€

  20. outbond malang berkata:

    good luck πŸ™‚
    salam knal πŸ™‚

  21. Chici berkata:

    Hihihi memang marah dikala PMS itu kadang-kadang nggak masuk akal penyebabnya ya mbak, dikit-dikit BT. Kalo aku lagi marah sih biasanya diem mbak, atau ngehindar bentar dari penyebab marahnya biar nggak berlarut-larut marahnya. Tapi memang yg paling jitu itu ya Wudhu (>o<)b

  22. fickry berkata:

    di agama gue ada anjuran kalo kita lagi marah,, maka dianjurkan duduk,, nah, kalo masih belum berkurang amarahnya,, maka harus rebahkan badan.. tapi kalo masih belum pulih juga emosinya,, maka ambil air wudhu.. hehe,,,,

    tapi bener sih ya, ketika emosi memuncak,, yang paling utama diinget adalah Allah. insya Allah segala urusan beres. hihi.,,

    eh ka maen-maen dan komen di blognya pak putera sampoerna dooooong hihi.. ada versi bahasa dan inggrisnya.. terakhir, updatenya ttg Indonesia Mengajar.. tapi boleh komen di postingan2 yg lainya ..ya ya ya.,,,, :p

    http://www.puterasampoerna.com/?lang=in

    Ditunggu yak.. #mekso

  23. @yankmira berkata:

    dengan menyesal aku katakan “Iya mba” tepatnya aku kena syndrome pms juga, emosi gampang sekali terpancing, ditambah anak-anak yang kelebihan energi… otomatis saya harus memiliki energi lebih banyak buat mereka. Tuhan maha pembolak bali hati manusia, semga kita selalu terhindar dari marah yang berlebihan ya mba, makasih sharingnya πŸ™‚

  24. Aditya Eka P berkata:

    Nah, ini ni kelemahan saya. Saya biasanya suka dipendam. Baru bisa meledaknya kalau ga dikamar, sengaja ke mana gitu atau pas lagi sholat. Biasanya ujung-ujungnya nangis. Aquarius terlalu sensitif sepertinya *malah curhat*

  25. ambar berkata:

    hemmmchh …..

    saya prnah marah,,bhkan sering
    hehheheh

  26. Lidya berkata:

    aku juga pernah marah kak, biasalah cewe terlalu sensi ya πŸ™‚ tapi benar loh kak kalau marah trus berhubungan dengan Nya langsung hilang marahnya

  27. niee berkata:

    iya.. ibadah memang cara yg paling tepat untuk.meredakan amarah kan ya mbak πŸ™‚

  28. farikah berkata:

    sering buanget…..
    bener gk ya gampang mrah bisa cpet tua

  29. anna berkata:

    hm… pasti ada perasaan lega ya, bisa menghilangkan marah dengan cepat..
    karena marah itu bikin segala sesuatunya gak enak…

  30. Doni berkata:

    syukur kalo sudah lega mbak semoga selalu dilapangkan hatinya πŸ˜€
    *some links are removed*

  31. Natalia berkata:

    Merasa tersentil… *lagi banyak memendam pikiran dan emosi*… >.<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s