Birth (Kopdar) Day di Kota Gudeg

Akhir November lalu, selama enam hari saya berada di Yogyakarta. Bukan semata karena libur panjang atau menengok nenek yang berdomisili di Klaten, namun karena saya punya keterkaitan yang erat dengan kota pelajar ini, saya lahir dan menghabiskan masa kecil disini. Mengenal tarian, puisi dan segala rimanya, relief cantik candi juga pluralitas manusia yang ada. Dan rasanya luar biasa dapat menjejakkan kaki kembali di kota yang mengajari saya untuk menikmati setiap bentuk budaya secara utuh. Ini kali pertama untuk saya merayakan kembali hari jadi saya setelah 21 tahun meninggalkan Yogyakarta. Kenangan indah berlompatan di kepala dan senyum saya pun mengembang begitu memasuki kota pelajar ini. Dan Sabtu, 28 November 2009 lalu kenangan saya akan Yogyakarta pun bertambah satu lagi.

***

“Hon ayo cepetan nyetirnya.” Kata saya memburu-buru suami.

“Ini udah cepet banget tahu. Kamu tahu kan bahaya nyetir ngebut-ngebut? Training DSFLnya kemaren gimana?” Tanya suami kalem.

Dan saya pun hanya bisa dongkol di dalam hati. Arrrrgh…. Bolehkah kali ini saja nyetirnya buru-buru dikit. Pleaseeeee!!! Teriak saya dalam hati yang tidak terealisasi. Saya memang pengen buru-buru sampai di daerah Sagan Yogyakarta karena hari itu ada janji kopdar dengan blogger-blogger kondang di Yogyakarta. Saya pengen buru-buru ketemu dengan bunda Tuti Nonka (yang dulu ssst.. cerpen-cerpennya sempat saya curi baca dari majalah remaja mama saya), pengen buru-buru ketemu dengan Uda Vizon yang blognya sering menginspirasi saya, pengen buru-buru ketemu Muzda yang sudah berbulan-bulan hiatus, OMG juga pengen buru-buru ketemu Wijna, yang punya special interest pada candi, soalnya pengen nanya-nanya harga tiket Borobudur karena paginya saya seperti dipalak ketika dimintai IDR 200.000 hanya untuk lihat sunrise di Borobudur saja (ini nanti jadi postingan khusus deh ;)). Tuuuh.. kalo ada agenda janjian sama orang-orang hebat begitu, pastinya pengen buru-buru kan?

Akhirnya setelah kesasar sekitar 2km, kami pun menemukan Restoran Bumbu Desa yang ternyata tadi sebenernya udah kami lewati. Cuma gak ngeh karena saya sedang memohon-mohon biar nyetirnya cepetan (lesson to learn: jangan memecahkan konsentrasi pengemudi dengan celotehan jika tidak ingin tersasar :P). Agak malu euy.. saya datang terlambat 30 menit dari yang dijanjikan 😉 maafkan ya teman-teman. Tapi walaupun malu, tetap saja senyam-senyum tak tahu malu menyapa bunda Tuti, Uda Vizon, mbak Icha (kekasih eh salah istri tercintanya Uda), Muzda yang mesam-mesem saja. Duduk sebentar Wijna pun muncul dengan helm sepeda di kepala. Wedeeew kirain saya paling telat ternyata masih ada Wijna yang lebih telat lagi hihihi.

Diomelin dulu aja ini anak 😛 (padahal sendirinya telat tapi marah-marahin orang lain hihihi)

Pertemuan ini adalah pertemuan pertama saya dengan bunda, uda dan mbak Icha namun pertemuan kedua untuk Wijna dan Muzda. Pertemuan gado-gado dengan rentang usia dan latar belakang profesi yang sangat bervariasi. Walau begitu, tak ada rasa sungkan lhooo di antara kami.. Tawa renyah juga canda riuh renda terdengar di sela-sela pembicaraan. Wih! Saya bahagia sekali bisa ketemuan! 😉 For me it means putting a writing into a face 😉 . Dan seperti biasa bibir ini berceloteh ria tanpa ada remnya padahal semua sudah kelaparan. Sudah dua kali uda Vizon coba menawarkan agar kita memesan makanan tapi dasar lagi kesenengan ya tancap gas aja terus nyerocos 😀 hahaha. Hingga tiba-tiba bunda Dyah Suminar datang. Wow! It’s a surprise 😉 It’s an honour to meet the lady of this city; ibu Walikota Yogyakarta. Saya pernah beberapa kali menyambangi blog beliau, namun… ketemu langsung? Weleh! Ini namanya rejeki!! (minjem kata-katanya bunda Tuti) hehehe. Jadi cap cip cus… pesan makan plus lanjut ngobrol poto-poto donk ;).

Say Cheeseeee

Berhubung saya sedang diet (caution: married itu bikin gemuk! :P) maka hanya beberapa sendok nasi saja yang saya taruh ke piring makan. Dan ternyata itu sukses bikin bunda Tuti misuh-misuh karena dianggap mempermalukan beliau yang udah duluan menyendok nasi agak banyak (padahal nasinya bunda gak beda jauh lho sama saya.. sama-sama dikit koq). Hihihihi. Bun.. Bun… belum tau aja strategi saya, emang makan nasi cukup sedikit saja. Tapiiii itu karena saya menyisakan ruangan untuk dessertnya! 😛 hehehe.

Porsi Diet Bunda Tuti 😛

Sementara asyik terkekeh-kekeh bercerita panjang lebar mulai dari jalan pantura hingga pantai nan indah di Jogja, telinga saya menangkap bunyi-bunyian yang agak keras dari arah pintu. Ribuuut banget! Jadi mau tak mau kepala ini menoleh kebelakang. Semua orang di dalam restoran itupun menoleh ke arah suara. Dan saya liat para pelayan restoran membawa gendang, angklung, ya berbagai macam instrumen musik sambil bernyanyi-nyanyi.

musik komplit plit pliiiit 😉

Huh! Gak tau apa orang lagi kopdar, lagi seru-seru bercerita.. kenapa juga ini orang rese nyanyiin lagu keras-keras. Mau menghibur? Aduuuh.. Batin saya protes, mbok ya musik klasik aja yang disuguhkan. Atau kayaknya ada yang ulang tahun deh.. dan dalam hati, saya merutuki siapapun orang yang berulang tahun di restoran ini tepat ketika saya kopdar; cari perhatian aja itu yang ultah, teriak nurani ini. Bukan apa-apa…. Boooow… Kopdarnya kan jadi mesti teriak-teriak kalo background musiknya tarling begini. Bibir ini langsung mecucu sambil memalingkan wajah. Dan tanpa sengaja mata saya bertemu dengan mata Muzda yang memberikan isyarat-isyarat tertentu dengan tangan dan bibirnya. Namun karena RIBUT, bener deh itu musik ribut banget, saya gak ngerti Muzda ngomong apa. Tangan saya pun bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan tanda gak nangkep maksudnya Muzda.

Ya sudah, saya coba mengalihkan perhatian dari musik tarling khas sunda kembali ke percakapan riuh rendah tadi. Namun gak bisa! Serius GAK BISA!! Duuuuh L kopdar ini terinterupsi oleh musik Sunda. Karena semua mata di restoran itu terpusat pada sepuluh pemain tarling yang walaupun ribut tapi nada dan suaranya memang cantik, selaras dan harmoninya indah. Sambil menyuapkan lauk-pauk saya amati mereka…. Mereka berhenti di meja pertama. Oh, pasti yang ultah di meja pertama, saya mengambil kesimpulan. Namun tak berapa lama mereka meninggalkan meja itu. Lalu berhenti di meja kedua… Ya..ya… Biasalah dikecohkan dulu, sekarang yang ultah pasti di meja kedua kembali batin saya bicara. Namun, ketika saya mulai ngobrol lagi dengan mbak Icha saya lihat para pemusik tadi melewati meja kedua, ketiga, juga keempat.. dan menuju ke arah meja kami. Lho..lho.. ini maksudnya apa? Saya coba mengingat-ingat memangnya yang ultah di meja kami itu siapa ya? Muzda? Wijna? Kayaknya bukan deh… Bunda Tuti atau jangan-jangan bunda Dyah Suminar? Ya.. pasti beliau batin saya berkata. Haduuuh saya gak bawa kado… hiks.

Namun ketika saya melihat senyum Muzda yang rada-rada gimana dan juga uda Vizon menyuruh saya berdiri. Saya baru sadar…

OALAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH….

Yihaaaa dapat medali! Medali kacang & cabai merah 😉 idiiih gue disuruh masak kayaknya neeey 😛

Sumpriiit saya baru ingat kalo kemarin itu saya kan yang ultah! Dan kejutan ini untuk saya!!! OMG ternyata saya terkecoh, ternyata orang yang saya rutuki tadi di dalam hati karena ultahnya ribut banget adalah saya sendiri. (Ini namanya senjata makan tuan :P) Hahahaha.. haduuuh saya gak nyangka sama sekali.

Tiup Lilin. Tapi lilin pengusir laler. Mana lalernyaaa??? Mau ditiup ney :p hehehe

potong tumpeng merah putih 😉

dapat double kiss!! 😉 dilarang ngiri hehehe

Sungguh ini benar-benar kejutan yang tak terduga. Memang kemarin bertambah lagi usia saya dibumi ini, namun sungguh saya gak mengira kalau sahabat-sahabat maya yang baru pertama kali bertemu, mau repot-repot menyiapkan acara special begini. Full music, ada tumpeng beras merah putih, ada kalung kacang panjang dengan cabai merah yang besar. Ada sahabat-sahabat maya yang sekarang menjadi sahabat nyata begitu tulus mendoakan yang terbaik untuk hari jadi. Sungguh saya terharu. Udah mau nangis rasanya, nangis bahagia tentu, tersentuh dengan cinta kasih yang dinyatakan. Namun karena suasana begitu ceria dan pemain musik tarling ngerjain saya, mulai dari disuruh potong tumpeng, makan tumpengnya hingga disuruh tiup lilin pengusir laler 😛 rasa haru tersebut terlampiaskan dengan senyum sukacita. Rasanya indah, rasanya bahagia.. dan sungguh saya ingin berbagi rasa itu kepada semua teman-teman blogger.

Tak mau berpisah 🙂

Matur nuwun sanget Bunda Dyah Suminar, Bunda Tuti Nonka, Uda Zivon & Mbak Icha, Muzda, Wijna, juga Titik yang tak bisa hadir. Kopdar di Bumbu Desa kemarin adalah salah satu momen yang tak akan saya lupakan. Saya disuguhi keramahan khas Yogyakarta, kehangatan sahabat-sahabat tercinta. Saat menuliskan ini, air mata saya menetes, ucap syukur saya kepada Yang Kuasa karena momen indah kemarin yang Tuhan anugerahkan kepada saya melalui sahabat-sahabat blogger di kota Gudeg. Kopdar (ultah) yang begitu luar biasa. Mohon maaf tulisan ini baru bisa diterbitkan dua minggu setelah acara… Kemarin tersita dengan penerimaan CPNS. Terima kasih untuk Uda Vizon dan Bunda Tuti yang langsung posting di hari H :).

Ah, saya mengerti kenapa Katon Bagaskara selalu ingin pulang lagi…. Karena saya pun merasakan itu sekarang…. Yogyakarta nantikan saya kembali 😉

Iklan

35 respons untuk ‘Birth (Kopdar) Day di Kota Gudeg

Add yours

  1. Wahaha … foto nasi saya muncul juga 😀 . Itu lauknya banyak banget bukan cuma buat saya sendiri lho … hihi!

    Selamat ulang tahun, Eka. Seneng banget pas kopdar bisa ikut merayakan ultah Eka (meskipun nggak sempat bawa kado wong saya diberi tahu Uda Vizon pada detik terakhir sebelum berangkat ke resto, padahal kayaknya saya sudah bakal telat).
    .-= Tuti Nonka´s last blog ..Argo Gede … Jes Jes Jes … Tuiiit!! =-.

  2. Kalimat Katon itu memang benar adanya Ka. aku merasakan kehangatan Jogja yang sangat luar biasa, sehingga membuatku tak hendak meninggalkannya…

    Kehangatan dan keramahan Jogja itulah yang saat ini sangat mempengaruhiku… Semoga persahabatan kita semakin hangat dan berarti ya Ka… salam buat Adrian… 😀

  3. Akhirnya di posting juga …
    Ada delay nya nih …

    Sekarang Eka bisa merasakan Keramahan Para Nara Blog Yogyakarta …

    Saya pun ingin segera kembali kesana lagi …
    Saya ingin sekali berkunjung langsung ke kweni tempatnya uda vizon …

    Kemarin waktu saya bertemu … rasanya 2 jam tidak cukup …

    Eniwei … as ussual …
    THIS IS THE BEAUTY OF BLOGGING !!!

    Salam saya

  4. gw juga pernah mendekam di jogja..
    sekitar 6 taon menimba banyak ilmu di sana
    walau udah lama juga gak ke jogja
    rasanya banyak hal yang ingin diulangi dan coba diperbaiki
    tapi kenangan itu, cukup pahit.
    walau berharap ada satu kesempatan yang ingin disempurnakan
    kenangan, yang membuat aku terlempar ke jakarta
    .-= elmoudy´s last blog ..Perjalanan Sunyi =-.

  5. hufhh…akhirnya sampe juga di post yg ini neh..huahuahua..ada yang ga sadar kalo ntu hari ultah na 😯 deuhh ena’e bisa kopdaran sama sobat yg jauh hiks.. 😥 yg deket aja ogut susah ketemu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: