Hesti Ingin Menari

Sesudah itu hanya lirih suaranya terdengar memanggil nama Hesti lagi. Ada getar dalam suara ibu ketika menyebut namanya, getar kepahitan juga kekecewaan. Getar kesedihan yang diikuti pecahnya tangis pilu. Hesti bingung melihat ibu menangis, seharusnya kan ia yang meneteskan bulir – bulir air asin itu. Bukankah ia yang dipukuli pantatnya, tapi mengapa ibu yang bercucuran air mata? Hesti tidak mengerti. Tak sanggup otak Hesti berpikir lebih jauh, sekarang yang ia pikirkan adalah perih di telinga juga nyeri di pantatnya. Perlahan Hesti beranjak meninggalkan ibu menangis sendiri.

—–

Hesti membagi sampur menjadi dua bagian sama panjang lalu mengikatkannya ke pinggang. Ia memijakkan kakinya diatas kendi tanah liat dan mulai melenggokkan bokongnya pelan sambil sesekali mengibaskan kain sampur ke kiri dan ke kanan. Mulutnya menggumamkan nada – nada tak beraturan yang seolah menjadi musik bagi tarinya. Sumringah wajah Hesti, aura kebahagian khas anak kecil terpancar jelas dari wajah mungilnya. Dengan sampur dipinggang dan kendi diujung kaki, di dalam kamar ini Hesti seolah berada di atas panggung di tonton banyak orang yang mengelu-elukannya. Hesti tersenyum. Senyum seorang penghibur sejati. Namun tidak lama.

“Hestiiii…. !” teriak ibu seraya melucuti sampur di pinggang dan menyeretnya ke pinggir tempat tidur. Hesti diam terpaku, hardikan ibu seolah menghujam keras ke ulu.

“Berapa kali ibu katakan, bahwa kamu tidak boleh menari ha? T.I.D.A.K B.O.L.E.H !!” ibu berteriak sambil menjewer kuping Hesti keras – keras. Sakit rasanya. Tapi Hesti sudah terbiasa dengan rasa sakit, sudah akrab dengan hardik dan jewer ibu tiap kali Hesti tertangkap basah menari. Jadi Hesti tidak menangis, ia diam dalam sakit yang tertahan. Hanya ada tanya dalam benak Hesti, kenapa ibu demikian marah mendapatinya berikat sampur atau bahkan hanya bersenandung gending jawa pelan. Ibu selalu murka jika ia bersinggungan sedikit saja dengan seni yang indah itu. “Ya Tuhan, susah sekali mendidikmu. Kenapa tarian begitu menarik perhatianmu ha?!!” jerit ibunya lagi namun kali ini tidak lagi menjewer kuping Hesti yang sudah merah melainkan memukul pantatnya dengan kumpulan lidi yang biasa membersihkan kasur. Hesti meringis tapi tidak menangis. Dan cabikan lidi kian keras menghantam pantat Hesti yang tadi gemulai ia lenggokkan.

“Dasar kamu memang anak nakal, NAKAAAAAL…!!” teriak ibu sambil memukul pantat Hesti sangat keras, keras sekali ! Saking kerasnya Hesti hampir menjerit dan meminta ampun. Namun tangan ibu berhenti. Sesudah itu hanya lirih suaranya terdengar memanggil nama Hesti lagi. Ada getar dalam suara ibu ketika menyebut namanya, getar kepahitan juga kekecewaan. Getar kesedihan yang diikuti pecahnya tangis pilu. Hesti bingung melihat ibu menangis, seharusnya kan ia yang meneteskan bulir – bulir air asin itu. Bukankah ia yang dipukuli pantatnya, tapi mengapa ibu yang bercucuran air mata? Hesti tidak mengerti. Tak sanggup otak Hesti berpikir lebih jauh, sekarang yang ia pikirkan adalah perih di telinga juga nyeri di pantatnya. Perlahan Hesti beranjak meninggalkan ibu menangis sendiri.

——

Sundari tak habis pikir, mengapa Hesti anak perempuan semata wayangnya yang belum juga genap sepuluh tahun umurnya itu sangat tertarik untuk menari. Padahal Sundari tidak pernah mengenalkannya pada tarian. Sundari benci pada tari, pada kendi, pada kain sampur, pada gending jawa, pada gamelan pada apa saja yang berkaitan dengan gemulai perempuan dalam tarian. Semua itu hanya mengingatkannya pada umi, nenek Hesti. Umi yang sibuk menari kesana kemari, dari satu pentas ke pentas lain. Dulu Sundari begitu mengagumi Umi, yang badannya lentur ketika menari, yang tubuhnya sintal dibalut jarik bermotif lurik, yang buah dadanya segar menggoda ketika berkebaya. Umi begitu memesona, suaranya merdu ketika menyenandungkan lagu – lagu jawa, meninabobokan Sundari dalam tidurnya. Umi adalah segalanya.

.

Namun kekaguman Sundari luruh tatkala satu malam melihat Umi menari di suatu panggung. Tanpa kendi namun dengan sampur jingganya Umi menggaet para lelaki untuk mendekat padanya, mengintip ranum payudaranya, menebar senyum penuh menggoda seolah ingin mengajak para pria dengan aroma minuman keras itu untuk tidur bersamanya. Sundari kecil kecewa. Lebih kecewa lagi ketika melihat pria – pria itu mulai menggerayangi tubuh Umi dan Umi tidak menyuruh mereka berhenti, justru menikmati. Bahkan senyumnya bertambah lebar ketika mereka menyelipkan uang dalam belahan dada. Ah, Umiiiii…. jerit Sundari dalam hati dengan linangan air mata yang tak berhenti. Mengapa Umi membiarkan laki – laki itu mecolak – colek pantat Umi, memegang pinggang Umi, menciumi tengkuk Umi, mengapa Umi? Padahal Umi yang bilang bahwa tubuh Sundari ini berharga, tak boleh ada satu pun pria menjamahnya, kecuali suami. Namun mengapa sekarang Umi menelan ludah sendiri? Pantaslah Umi selalu melarang Sundari melihat Umi pentas menari, pantaslah Sundari tak pernah tahu siapa bapak. Umi bilang bapak Sundari sudah mati, tapi mengapa tak ada pusara yang bisa Sundari taburi bunga. Semua teka – teki itu terjawab sudah.

.

Dan sekarang Hesti tumbuh seperti Umi. Menari seperti bagian dari diri Hesti yang tak terpisahkan. Entah berapa jeweran dan pukulan Sundari layangkan agar Hesti mau berhenti menari. Namun makin dilarang makin sering Sundari memergoki Hesti menari. Dan sore ini, mendapati Hesti menari diatas kendi, dengan senandung lagu mengiringi goyangan pantat dan sampurnya, Sundari seperti disengat lebah. Dari mana Hesti mendapatkan kendi itu, darimana Hesti belajar senandung itu ? Umi sudah mati, terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan.  Sekalipun oleh seorang ahli. Tak ada yang mengajari Hesti menyanyi atau menari namun mengapa Hesti begitu gemulai diatas kendi ? Dan Sundari pun menangis lagi.

—-

Hesti diam di pojok ruangan, tangannya bergantian mengelus telinga dan pantatnya.

“Jangan menari lagi ya Hesti, “ suara lembut dari wanita berambut putih terdengar halus ditelinganya.

“Tapi Hesti mau menari seperti nenek menari di atas kendi,” jawab Hesti merajuk.

“Jangan nak, ibumu sedih. Anak yang baik tidak boleh membuat ibunya sedih.”

“Tapi Hesti hanya ingin menari…. kenapa ibu mesti sedih ketika Hesti menari…? Hesti ingin menari nek. Hesti ingin memakai sampur, berkebaya ketat dan berjarik lurik seperti nenek.”

“Sudahlah Hesti, lupakan itu semua. Lebih baik kamu belajar memasak saja,” kata nenek sambil mengelus rambut juga kupingnya yang sakit tadi.

“Tapi nek….”

“Kamu ngomong sama siapa Hesti ? “ pertanyaan ibunya memotong percakapan Hesti dengan wanita berambut putih yang selalu memintanya untuk dipanggil nenek. Sundari berdiri tegak di ujung pintu.

“Sama nenek bu… ini nenek berdiri di sebelah Hesti,” jawab Hesti sambil menunjuk sisi kirinya.

Sundari terkesiap, tak ada siapa – siapa disana. Hanya sampur berwarna jingga yang dulu sering dipakai umi teronggok di ubin.  Sundari jatuh tak sadarkan diri.

Eka Situmorang – Sir

June 2009

Iklan

71 respons untuk ‘Hesti Ingin Menari

Add yours

  1. asyik pertamax..
    mau menilai tulisannya, hmm, hening… lama….
    lalu berkata, “Bagus”

    cuma bisa bilang gitu aja, itu jujur loh 🙂

    #EKA
    Terima kasih ya Daniel 🙂
    Hey kayaknya baru pertama kali kasih komen yah
    Waaah bisa langsung pertamax 🙂 hebaaat !

    1. ah…
      kak tulisan ini menusuk banget ke hati
      ….
      aku terharu membacanya

      #EKA
      terima kasih 🙂
      nih, tissue (sambil nyodorin kotak tissue)

  2. mantap mbak..
    aku baca dari awal ampe akhir. bener2 ga sanggup melewatkan satu kata pun.
    ceritanya udah bagus, tapi penuturan ceritanya malah lebih bagus lagi… hebat…

    #EKA
    Aiiih macan jadi tersipu – sipu malu nih 🙂
    ke-GR-an gue hahaha

  3. benar-benar sang novelis…. mbak eka ini..
    saya jadi trenyuh membacanya mbak… kata-kata perkata seakan penuh makna…
    lanjutkan..!!
    hihihi.. malah kampanye..

    #EKA
    ha ha ha gak boleh kampanye disini
    ntar bisa masuk spam hahaha

  4. Waw..waw..waw..
    Tumben bikin cerpen lagi..hikxkxkkxkxkx..

    Lagi ingat pada apo ene mbakyu..???

    #EKA
    Lagi inget sampur jingga :p
    hahaha

  5. Weks… tercekat, ternyata kamu sudah ganti nama.. Sundari.. eh Hesti…

    Great story!

    #EKA
    Heayaaaa sopo sing ganti jeneng tho?
    😀

  6. Kerennn Ka ceritanya, gimana ama si Laila Ka…??? Lanjut juga lah…???

    #EKA
    Laila kan puisi doank, mo dilanjutin susah 😉
    kalo ada ide sih pasti dilanjutin

  7. seneng aku kalo eka lagi khilaf…
    pelampiasannya ke cerpen…
    tapi kalo lagi normal, beuhhhhh sekseh booo..

    cerpennya keren..
    4 thumbs up 🙂

    #EKA
    4 thumbs ?
    means jempol kaki juga
    iyuuuuw bau mas 😀

  8. merinding membacanya
    Lanjut Eka, Go Go Go!!!

    btw, jd ingat 10 th yg lalu waktu KKN, benar2 geleng2 kpala…
    adegan2 spt itu terpampang jelas di muka umum… anak2 jg banyak 😦
    kalo di kota2 besar, biarpun smp striptis, tp kan pengunjungnya limited, lha ini di desa2 justru terpampang dg sangat jelas (meskipun gk smp striptis sih..)
    dan ujung2nya sering sama antara striptis di kota besar dan tayub/ronggeng di desa-desa….
    hesti & teman2nya lah hasil nyata-nya

    #EKA
    Bukan Hesti mas, kan dia masih belajar nari.
    Tapi si Umi yang begitu…

  9. Ah mengingatkanku pada ronggeng dukuh paruk. kalau itu versi ahmat tohari kalau ini versi eka.
    begitu mengena, sosial budaya ditelan sekali cerita.

    #EKA
    Malah itu belum baca mas. Buku atau cerpen juga ?

  10. sampur itu apa Ka?
    sampur itu kereta deh keknya
    bener gak eh apa sepur ya??
    set dahhh gw oon banget

    #EKA
    Yg kereta itu emang sepur
    tapi kalo sampur itu selendang panjang buat nari mbak 🙂

  11. hehehe.. tatuuuut… aaaaaaaaah.. kabuuuuuuur..
    Salam Sayang.. mbaaaaaaak

    #EKA
    kenapa takuuut :0
    cuma sampur jingga doank kow

  12. tuh kan….dah banyak yang ngomporin bikin buku, cin……ayo….ayo….nulis…*gantian ngomporin* hehehehehe

    #EKA
    hahaha awas lu ntar gue kasih PR lagi lho 😀

  13. buah kan jatuh gak jauh dari pohonnya.
    berarti hesti kecil telah menyukai tari adalah warisan sang nenek.
    kadang kita gak bisa men judge sesuatu hanya dari prasangka kan?

    sudahlah…harusnya si hesti kecil dibiarkan saja hanya sebaiknya diarahkan ke yg positive.

    Mbak eka…tulisanmu kali ini serem 😛

    #EKA
    betul ya Ria.. diarahkan yg positif

  14. mbak Eka, tolong sampaikan pesan sy ke Hesti: “menarilah dikau Hesti, asal jangan pernah dikau nakal seperti Umi”…
    bwt Sundari: “bimbinglah Hesti agar menjadi penari yg tdk seperti Umi”…
    gaya berceritanya sungguh indah mbak..
    _salam anget_

    #EKA
    Nanti disampaikan pak ke mereka.
    Terima kasih pujiannya 🙂

  15. hey, kok kayak tari bondan ya? dulu lagi SD aku nari itu… bawa payung dan boneka… berputar2 di atas kendi…

    😉

    #EKA
    memang tari bondan

  16. Huaaa…Mbak Eka ngingetin waktu mendiang ibuku melarang aku ikut ekstra kurikuler nari saat aku SMP dan jadilah aku ikut ekskul masak (krn ibuku memberi 2 pilihan : masak atau jahit), yg akhirnya aku tahu trnyata itu “pesan terakhir” ibuku krn setahun kemudian ibu meninggal dan itu “memaksa” aku jadi “ibu rumah tangga” yg harus berurusan dg dapur (tapi aku sangat menikmatinya).
    Jadi alasan orang MELARANG memang berbeda-beda kan, tetapi pasti ada “sesuatu” di balik larangan itu.

    #EKA
    Turut berduka soal ibunya ya mbak.
    Btw jadi mbak Yoes, yg memasak ya buat keluarga, berkat ekskulnya, masak jd terlatih.
    Heem ibunda sudah punya firasat ya mbak…

  17. hesti…nama adik temen baik saya yang juga pinter menari. sekarang malah ambil jurusan tari.
    cerpennya ada sambungannya gak mba eka?

    *o iya, maaf di postingan kemaren saya bilang “mbah”, maksudnya mba! :mrgreen:

    #EKA
    Waaah kebetulan yg tidak sengaja itu soal nama Hesti 🙂
    iya deh klarifikasi diterima… asal beneran mbak, bukan mbah 😉

  18. ihhhh jadi ngeri, takut.. malam ini tidur sendirian nih…
    tapi ceritanya memang mantap banget

    #EKA
    Gimana pak, ketemu nenek ga?

  19. Komen panjang lebarnya udah di FB yaa, Kaa, ahaha.. cuman mo nanya, si Hesti sempet kenal ama Umi ngga, Kaa?

    #EKA
    hihi nantikan di sequel berikutnya 😀
    btw sampur itu selendang panjang untuk menari

  20. lagi..lagi..lagi…
    i waNt more…i want more..i want more…^_^

    *ceritax bagusss mba..*

    #EKA
    Thank U Chie 🙂
    more? tongkrongin aja
    kek MTV hehehe

  21. cerita begini nih .. bikin saya halusinasi ..
    ngomong-ngomong … bini saya (sundari) kok dibawa-bawa …
    royaltinya dong mbak .. royalti .. 😀

    #EKA
    Hihihi mana tahu kalau istrinya mas cayo namanya mbak Sundari
    royalti ? xixixi minta ama wordpress aja mas hehehe

  22. Keren!
    Banget!!

    Inspirasinya dari mana Mb’ ..?

    #EKA
    Dulu kecil gue suka menari, pas ceritain betapa senangnya gue dikursusin nari sama nyokap
    koq ya malah jadinya begitu hehehe

  23. Hesti itu sebenernya ingin menari apa ya? kok dilarang nenek nya.

    #EKA
    Menari biasa aja, cuma krn ibunya gak suka jadi neneknya melarang
    walaopun sempat berkunjung

  24. Saya suka baca cerita ini, Ka…
    so sweet….
    even sedikit bergidik juga baca cerita si nenek yg datang berkunjung…

    #EKA
    Thank you 🙂

  25. heran deh
    dsini kok ssh bgt komen ya
    jgn2 IP gw lo banned ya ka?

    #EKA
    Heey u never did any harm, kenapa juga gue banned 😀
    koneksi lu aja kali tuuuh 🙂

  26. sumpah deh, horor! kalo di kampung saya Blora, itu namanya tayub mbak. dan memang persepsi orang negatif, soale ya itu, isinya minuman keras, njoged sambil mabuk, gerayang-gerayang. tapi apa memang dulu pertama kali tayub sudah seperti itu atau jaman yang sudah merusaknya, kayak rusaknya dangdut sekarang, saya ndak tau.

  27. Trauma ibunya ya…
    Hm… membuat saya belajar mba eka.. lebih baik traumatisnya diceritakan dg komunikasi yg baik, bukan dg memukul… KDRT ituh! walo maksud Ibunya baik…

    Great story 😉

  28. Wah..wah…idenya apik. meski datang dari hal sederhana, tapi dirangkai dengan menarik. Perpindahan penuturnya, bergantian dari Hesti ke Sundari juga membuat cerita ini lebih menggetarkan.

    pernik-pernik Jawanya belajar dari mana, Eda? 😀

  29. sepertinya….mbak eka nih punya bakat jadi penulis…., pemakaian kosakata, gaya penulisan, mixing antar budaya, ide original, kadang -2 juga sense of humornya bagus, kenapa gg mulai membuat sebuah buku ? ini opportunity banget lho mbak …talenta yg gg boleh diabaikan…

  30. Sundari tak habis pikir, […] Padahal Sundari tidak pernah mengenalkannya pada tarian.

    Sampai dibagian sini dah langsung ketahuan kalo cerita ini bersentuhan dengan dunia roh. :mrgreen:
    Keren juga! 😉

    #EKA
    hahahhaa tertebak ditengah2 yah 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: