Membaca sebagai Bentuk Perlawanan  

Honestly, pernah nggak sih ngerasa drained sama sosial media? Tiap kali buka Instagram atau TikTok, rasanya tuh kek lagi diserang sama ribuan pencapaian orang lain. Entah itu jalan-jalan ke tempat wish list kita, buku-buku yang dibaca kok makin keren alias goals banget, atau sekadar FOMO (Fear of Missing Out) sama hal-hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat.

Nah, perasaan itulah yang saya alami sejak akhir tahun lalu. Kondisi kesehatan membuat saya mesti fokus sama pengobatan. Waktu yang ada digunakan buat konsul ke dokter, baca-baca soal diagnosis dokter, yeah saat itu saya memang lagi kurang fit, dan to be honest, melihat update hidup orang lain justru bikin saya overthinking soal keterbatasan diri. Nggak bisa ini itu karena ya ada prioritas lain, but… Saya sadar, ini namanya lagi diuji dan ujian tuh harus dijalani bukannya lari karena hidup ini kan perjalanan yaaaa, bukan pelarian. Hahaha. Nah, di titik itu, saya ngerasa butuh hal lain yang sehat. Akhirnya, mutusin buat hiatus bentar dari sosial media.

Bukan berarti saya membenci sosial media ya, guys. At some point, saya pernah mendapat banyak hal dari social media mulai dari trip, barang, sampe ya finansial. Tapi ya ada saatnya saya sampai di titik jenuh di mana algoritma sosial media tuh berasa muter terus dan bikin burnout. Di tengah kegelisahan itu, saya balik lagi ke sesuatu yang timeless: baca buku.

Menemukan “Oase” dalam Bentuk Buku

Sebenarnya dari kecil saya memang sudah hobi baca. Even back then, saya sering bolak-balik ke perpustakaan sejak kelas 1 SD. Tapi, kesibukan dewasa seringkali bikin hobi ini terabaikan. Sampai akhirnya, saya diajak seorang teman untuk ikutan silent reading—kegiatan baca bareng gitu.

Di sana, saya ketemu sama satu komunitas seru namanya “Cacing Buku”. Yes, you heard it right, plesetan dari book worm alias kutu buku, tapi versi yang lebih fun dan Indonesia banget. Saya cuma kenal 3 orang dari 14 orang anggotanya jadi komunitas ini bener-bener baru buat saya. Kegiatannya simpel, tapi meaningful. Kami punya sesi biblio battle di mana para kandidat mempresentasikan buku kesukaan mereka, terus kami voting deh buku mana yang paling menarik. Tenang, abis itu nggak dibaca bareng kok, ini cuma voting for fun aja. Hahaha.

Fun fact, : Saya pernah ter-influence parah gara-gara salah satu anggota presentasi tentang buku—yang bahasannya menarik banget—akhirnya saya langsung checkout di toko online right on the spot! Padahal bacaan yang sekarang saja belum kelar. The lipstick effect I guess hahaha.

Di komunitas ini, kami sharing apa saja. Mulai dari curhat soal buku, tukar rekomendasi, sampai gosip-gosip ringan soal penulis atau plot twist cerita. It’s basically a safe space for book lovers.

Membaca: Sebuah “Act of Resistance”

Nah, balik lagi ke topik utama. Kenapa saya bilang membaca itu bentuk perlawanan? Karena di tengah dunia yang serba instan dan fast-paced, di mana algoritma sosial media memaksa kita untuk terus scrolling dan mengonsumsi konten pendek, membaca buku adalah sebuah act of resistance.

Saat membaca, kita dipaksa untuk melambat. Kita belajar lagi cara berpikir panjang (deep thinking), memahami alur yang kompleks, dan meresapi setiap kalimat. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap attention span kita yang makin hari makin pendek. I think it’s an act of taking back control of our time.

Membaca bukan sekadar hobi atau cara mengisi waktu luang, tetapi aktivitas yang memiliki landasan ilmiah kuat dalam memberikan dampak positif bagi kesehatan kognitif, emosional, dan mental. Katanya sih banyak manfaat dari membaca, mulai dari meningkatkan konektivitas dan fungsi otak, mengurangi stress, sampai bikin nggak pikun di usia lanjut. Weh, banyak yaaaa.

Anw, pas masuk ke komunitas ini, awalnya sempat ada rasa imposter syndrome. Literally, saya merasa beda sendiri! Kenapa? Karena buku-buku yang saya sukai itu biasanya novel, kumpulan cerpen, atau cerita-cerita kekinian yang light. Sementara teman-teman yang lain pembahasannya berbobot banget: soal feminisme, pergerakan politik, agama, filsafat… Wow, berat-berat banget, ya!

Tapi guess what? It turns out, saya tidak sendirian. Ternyata ada banyak juga teman-teman lain yang punya selera yang sama dengan saya. I don’t feel alone anymore. Komunitas ini luas banget dan sangat inklusif. Tidak ada label-labelan, tidak ada rasa judgemental. Yah, seringnya ledek-ledeka aja. And that is so healthy.

Kembali dengan Resiliensi yang Lebih Tinggi

Sekarang, my reading challenge on Goodreads is on track. Saya lagi menikmati kumpulan cerpen yang super menarik dan rasanya so satisfying. I’m really happy for reading books and everything. Senang banget bisa menikmati “kekayaan” literasi di tengah dunia yang bising ini.

Ngemeng-ngemeng soal social media, di awal April, saya sempat memberanikan diri log in lagi karena ada kebutuhan terkait pelatihan. And honestly, pas pertama kali masuk, kepalanya langsung pusing. Too much information! Tapi, karena saya sudah punya “modal” dari rehat sebelumnya dan kondisi kesehatan yang mulai membaik, saya merasa lebih resilient. Saya sudah punya acceptance yang lebih tinggi. Saya bisa memilih apa yang ingin saya lihat, dan tidak lagi terjebak dalam scrolling yang tidak sehat.

Komunitas “Cacing Buku” ini anggotanya memang belum banyak, belum ada 20 orang, tapi vibes-nya super alive! Semua orang boleh gabung, mau yang suka silent reading atau yang mau ikut diskusi aktif, everyone is welcome. I’m just a ‘penggembira’ there, tapi berada di antara orang-orang yang cinta membaca itu beneran refreshing banget.

Jadi, buat kalian yang lagi ngerasa penat sama noise di dunia maya, maybe it’s time to pick up a book? Kalian lagi baca buku apa sekarang?  

Baca juga:
1. Buku Kenangan Masa Kecil
2. Buku Bagus
3. Caffee buat WFC di Jakarta

2 respons untuk ‘Membaca sebagai Bentuk Perlawanan  

Add yours

Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.

Atas ↑