Alkisah di suatu bilangan Jakarta bagian Selatan terdapat sebuah perusahaan bernama PT. Maju Terus Indonesia Jangan Pernah Mundur, tbk (lebay hihi). Salah satu karyawati dari perusahaan tersebut ialah seorang gadis manis berparas jelita yang imut dan menggoda. Sebutlah namanya EKA
(dilarang protes, kalau mau protes bikin cerita sendiri wee
)
Ada banyak suka dan tentu saja juga duka selama mengabdikan diri di perusahaan ini. Tapi ada beberapa hiburan yang selalu membuat tertawa geli. Salah satunya terhibur dengan kosakata pak Bos. Bos ini baru tinggal di Indonesia kira – kira 3 bulan setelah bekerja lebih dari 20 tahun di luar negeri. Kenapa saya bisa geli? Simak saja percakapan berikut yang terjadi di suatu sore yang cerah ketika mentari jingga masih malas – malasan untuk tenggelam…
“Pak, saya pulang duluan ya,” kata saya sopan meminta ijin pada atasan.
“Lho koq pulang cepet? Ini baru jam enam lho, gak malu sama matahari yang masih bersinar terang?,” jawabnya dengan tanya tanpa memalingkan wajah dari depan komputer.
Saya diam tertegun, ah masa pulang jam 6 dibilang pulang cepat siy pak. Tangan ini kemudian garuk – garuk kepala, harusnya kan saya pulang jam 5, lha ini saya sudah extend satu jam masih di cap pulang cepet. Aiiih.
Namun saya hanya terseyum saja (senjata andalan saat tak tahu harus bersikap bagaimana), memamerkan deretan geligi putih rapi hasil pakai behel selama 4 tahun waktu kuliah dulu. Saya berencana menyodorkan argumen bahwa mulai dari Januari, ini adalah kali pertama saya pulang jam 6. Biasanya kan jam 7, lebih sering lagi jam 8 atau jam 9 malam tergantung jam berapa suami saya selesai bercengkerama dengan barisan angka dan neraca. Ya betul, karena saya pulang kan dijemput suami. Tapi belum sempat saya menggunakan hak jawab, ternyata pak Boss tiba – tiba angkat bicara lagi.
“Aaaah saya tahu kamu mau pergi ajojing ya. Okelah see you tomorrow.” Katanya dengan senyum lebar. Oh ternyata tadi pak Boss hanya menggoda mengenai matahari. “Ya sudah, sana cepet. Met ajojing ya,” ujarnya lagi sambil mengibas – ibaskan tangan mengusir, setelah melihat saya diam seperti patung kayu.
Bergegas saya angkat kaki setelah sebelumnya berterima kasih dan pamit sopan pada Pak Boss. OK. Tadi saya mematung bukan karena bingung dibercandain bos. Tapi karena berusaha mencerna apa arti kata ajojing. Sepertinya duluuuuuuu sekali di akhir tahun 80.an pernah dengar kata ini. Nah kalau sekarang, yang biasa dipakai adalah “dugem” a.k.a. “clubbing”. Oh my, clubbing paaak… Clubbiiiiing bukan ajojing
Oke, jadi kapan terakhir ajojing ?

Wanna some Tequila dear ?




Ekaaa, gue ga mau tequila. Gue maunya teh botol… Hehe…
Huahahahaha..
poto lo bok.. gak kuattttt….
girl.. gw juga gak mau tequila, gw mo pesen es teh aja deh hahaha..
wedewww, fotonya nggak tahan euy!!!
yukkzzz goyang yukzzz
Wah..Kebalik ni, saya cuma taunya ajojing.
jadi inget masa muda….
cieeee…., sok tua bangeeeetttt……
wakakakak…
ajojing? clubbing? bahasa mana itu? *dulu anak ndeso, sekarang tetep ndak gawul*
Dugem …
Pake kacapipi item …
aaarrggghhh niat amat yak …
hehehe
eka…. jijik ih fotonya
yah ampun gue gak sangka loe bisa seperti itu (apaan sih yang gue omongin :p)
kaya ikalna aja….
jojing jojing jojing….
hahahaha…..
#EKA
waaah gue ketinggalan jama.
ada illannya juga ya?
kaya lagunya naif…”ajojing”
para pemudi pemuda….kita ajojing bersama…
#EKA
ada lagunya juga ya:)
waaah cari di u tube ah
saya biasanya sih ajojing di lapangan, minggu pagi.. haha..
itu sih joging yak…
kosakata bapaknyaa.. perlu diupgrade.
ups. jangan2 tu bapak masih ngira ini masih zaman orba?
#EKA
huhahahahaha belum dicek soal orbanya