Saat sedang asyik membaca cerpen Juru Tangis dalam Tiga Babak karya Ade Mulyono, seorang prosais dan esais dari Tegal, sayup-sayup saya mendegar suara mesin ketik bertalu. Tik tak tuk, tik tak tuk, lalu disusul “sreeeeet”, suara bergeser yang khas ketika tuas panjang digerakkan tanda mesin ketik berganti paragraf. Saya mengeryitkan dahi, mengangkat kepala dari Buku Kumpulan Cerpen Kompas yang sedang dibaca dan mencari tahu asal suara yang terdengar kontras itu. Gimana nggak kontras, Rumah Baca Anjangsana di Bogor ini terkenal dengan desir angin, gesekan daun dan gemericik aliran air sungai yang menjadi pengiring saat membaca buku… Lha ini.. Kenapa ada suara lain?
Namun suara mesin ketik itu tidak menganggu, justru menumbuhkan rasa ingin tahu. Akhirnya saya turun dari teras belakang di mana saya membaca dan menghampiri Aghatis, sang pembuat puisi on the spot. Senyumnya lebar meski terkesan malu-malu tapi nada keramahan jelas menguar.

“Ini apa ya?” Saya bertanya polos.
“Saya buat puisi dari cerita Mbak,” jawabnya santun dengan jari-jari kaki yang saya liat bergerak ke atas dan ke bawah. Hmm mungkin gugup?
“Caranya gimana?” Tanya saya lagi
“Ya, Mbak cerita aja apa yang mau diceritain.”
“Saya nggak tahu mau cerita apa,” kata saya sambil nyengir. Anuh, sebagai orang yang sedikit bingung ketika harus berinteraksi dengan orang baru di luar circle yang saya tau dan juga rasa nggak nyaman berbicara tentang diri sendiri secara langsung, hal ini sedikit membuat canggung. Beda saat ngemsi, saya yang lead orang, saya yang menggali agar orang bicara tapi kalo saya mesti bicara tentang diri saya sendiri ke stranger, aduh mulut saya mendadak kaku. Hahaha.
“Cerita apa aja. Mbaknya kenapa main ke sini? Apa yang dirasakan sekarang? Apa ada yang sedang dikejar?” Agathis mencoba menggali cerita dan setelah itu kata demi kata pun mengalir dari bibir saya yang saat itu sedang tidak tersaput lipstick. In English. Hahaha kebiasaan deh, kalo belum merasa nyaman, saya cenderung membatasi diri dengan language switching alias berbicara pakai Bahasa Inggris karena dengan begitu ada jarak emosional yang saya ciptakan. Berbicara dengan bahasa asing membuat saya memproses sesuatu secara lebih kognitif dan lebih lambat, jadi secara sadar tidak menunjukkan relung-relung yang memang tidak ingin saya bagi. Hal ini selaras dengan Emotional Distancing Hypothesis yang jurnalnya diterbitkan oleh Universidad del País Vasco, Spain.
Untungnya Agathis tidak apatis, justru mengangguk-angguk, mendengarkan penuh khidmat dan sesekali bertanya untuk menggali lebih dalam. Saya kadang nggak relate sama apa yang ditanyakan atau topik yang sempet dibahas seperti rasa ingin tahu saya untuk naik Jaklingko, naik MRT di Jakarta atau sekedar bercerita tentang rasa takjub tentang penjual cilor karena baru-baru ini aja saya makan cilor hasil digeret rekan kerja ke penjaja pinggir jalan di sebelah kantor yang seumur-umur tak pernah saya sambangi. Sempat saya merasa nggak enak, takut dibilang bodoh or worse ignorance jadi saya pun meminta maaf padanya. Namun Agathis hanya tergelak dan berkata santai, “I grew up in the neighborhood with people who live in the bubble and they, you, are not snob, you guys simply don’t know the outside world.” Dikatakan dengan penuh rasa pengertian dan penerimaan yang membuat hati saya hangat karena ketidaktahuan saya dimengerti dan diterima tanpa dihakimi. Hihihi.


Suasana teduh dan adem yang melatari pembuatan puisi on the spot ini
Puisi on Spot
Konsep mengenai puisi in the spot ini mengingatkan saya pada Theresia Rumthe yang juga rajin membuat puisi dengan mesin ketiknya. Seseorang bercerita, lalu para penyair ini membuat puisi dari situ kemudian kita membayar seikhlasnya (pay as you wish). Namun meski konsep ini sudah saya dengar dari beberapa tahun lalu tapi baru kali ini saya beneran melihat dan mengalaminya langsung.
Ada rasa apresiasi yang besar yang saya sampaikan kepada Agathis. Saya kagum dengan pilihan hidupnya, berdansa dengan kata-kata setelah menyediakan telinga bagi pelanggannya padahal ia sendiri kuliah jurusan Fisika! It takes focus, soft heart and wild imagination. Katanya ada 2 orang pembuat puisi yang hadir di Rumah Baca Anjangsana secara bergantian. Yang satu adalah Agathis yang nampaknya lebih nyaman berkarya dengan Bahasa Inggris dan yang satu lagi karya-karyanya banyak bahasa Indonesia. Saya penasaran dengan penyair satunya lagi. Lebih tepatnya saya penasaran dengan karya yang akan ia hasilkan. Ada tempat khusus di hati tentang puisi karena dulu sewaktu saya masih berseragam putih merah, mamak saya sering menenteng saya ke sana ke mari untuk melihat pertunjukan puisi di Jogja sana. Kota yang memang kental dengan budayanya. Jadi sore di pojok taman ini terasa jadi lebih berarti.

Makna di Balik Kata
Wah ini puisinya nggak straight forward sama sekali, malah penuh metafora hahaha. Tapi saya senang bacanya. Kira-kira saya menafsirkannya begini:
“Gue orang yang selalu penasaran. Gue suka melihat dunia dan bertanya-tanya tentang banyak hal: tentang mimpi gue, posisi gue dalam hidup, masa depan, kenangan, batasan, dan apakah langkah kecil yang gue lakukan sekarang benar-benar membawa gue ke tempat yang gue mau. Tapi kadang rasa ingin tahu itu berubah jadi overthinking dan ketakutan. Gue bahkan sampai bertanya-tanya kenapa gue harus memikirkan semua hal sedalam ini.”
Karena menurut saya punch line-nya ada di kalimat ini: “sometimes, I’m just curious, why am I so curious?” alias “Kenapa sih gue mikirin semuanya?!?”🤣
CURIOUS.
Bukan sad.
Bukan ambitious.
Bukan lost.
Curious.
Agathis yang bikin puisi ini sepertinya melihat saya sebagai seseorang yang nggak bisa sekadar menjalani hidup tanpa bertanya “kenapa?” Hahaha. Ya bener juga sih, wong stamp hunting aja saya analisa dulu added value-nya apa. Hihihi. Eh stamp hunting ini bisa jadi bahan blog berikutnya! Yeay, Hehehe.
Anw, sore yang menyenangkan dengan pengalaman baru yang memberi nuansa berbeda. Puisi ini saya simpan, diselipkan di dalam buku yang saya tamatkan sore itu. Sebagai pengingat bahwa kadang hidup bisa dinikmati dengan sederhana. Sesederhana puisi in the spot yang bikinnya perlu effort.
Btw, apakah ada seseorang yang pernah buatin kamu puisi?*
* Kalo saya, dibuatin lagu pernah sih, sama 2 orang malah (satu mantan, satu teman) tapi dibuatin puisi baru kali ini. Pengalaman yang berbeda. Hehehe
Baca Juga:
1. Ketemu Penulis Favorit
2. Membaca Sebagai Bentuk Perlawanan


Tinggalkan komentar