Lonceng Bukan Sembarang Lonceng

Ingat gak dulu ketika sekolah kita bisa senang dengan guru A karena menjelaskannya bagus dan mudah dimengerti, sementara guru B (walaupun gantengnya ngelebihin si Bradley Cooper yang matanya biru, yang dadanya berbulu ituh, Ooop mulai lospokus deh hihi) :mrgreen:, ulangi lagi.  Sementara guru B koq ya gak bisa nangkep pelajarannya? Hihi bukan salah gurunya koq, dan juga bukan salah kita. Ada banyak sekali faktor yang memengaruhi keberhasilan suatu proses belajar mengajar, nah salah satunya adalah cara belajar seseorang.
Jadi begini, setiap orang memiliki model belajar yang berbeda satu dengan lainnya. Dengan mengetahui model atau cara belajar yang tepat maka kita dapat lebih mudah menyerap dan mengolah informasi yang diberikan kepada kita. Menurut Howard Garner (seorang professor yang banyak menulis mengenai human mind, learning and behaviour) terdapat tiga jenis model belajar; Visual, Auditory dan Kinethestic. Apa sih Visual, Auditori dan Kinetestik ituh? Semacam menu makanan.kah? 😛 hehe bukan sayang.
Lonceng Bukan Sembarang Lonceng 😉
Saya kasih contoh saja ya biar mudah. Apa coba yang terbersit di pikiran teman-teman ketika mendengar kata “lonceng”? Pasti jawabannya bermacam-macam. Sempat saya menanyakan hal tersebut ke murid-murid saya. Jawaban mereka bervariasi, ada yang bilang gereja, ada yang bilang hening, bahkan ada yang bilang berlari. Lho koq bisa begitu?
Iyaaa, jadi seseorang dengan tipe belajar visual atau melihat, begitu mendengar sesuatu akan langsung mengasosiasikan dengan sesuatu yang biasa ia lihat. Orang model begini akan cepat nangkep kalau metode mengajarnya banyak menggunakan slide atau sesuatu yang eye catching seperti gambar. Sedangkan seseorang dengan tipe belajar auditori adalah seseorang yang lebih senang mendengar. Tipe seperti ini akan maksimal hasil belajarnya pas dengerin ceramah atau datang ke seminar. Tipe yang terakhir adalah Kinethestic. Pernah gak lihat orang yang kalau mikir mesti jalan-jalan? Atau kalau lagi menjelaskan sesuatu tangan dan kakinya tuh gak mau berhenti bergerak? Ini adalah tipe kinestetik alias tipe pembelajar yang lebih nyambung dengan gerakan atau demonstrasi.
Visual, Auditory and Kinesthetic
Kalau kita sudah mengetahui model atau cara belajar kita maka hal tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan potensi kita. Misalnya, mau belajar cara nulis yang baik, belajar bahasa atau belajar ilmu-limu baru yang lainnya. Selagi ada kesempatan dan kemampuan, gak ada salahnya kan kalau kita terus mengembangkan diri dan talenta yang dititipkan pada kita? Lalu.. lalu.. Apakah menentukan cara atau model belajar kita cukup dengan satu pertanyaan tetang lonceng saja? Hihi tentu saja tidak bung dan nona manis ^_^ Ikutan tes komplitnya bisa disini dan kalo temen-teman mau tau lebih lebih jelas tentang metode VAK ini, bisa lari kesini.
Umm Sumprit saya gak tau, cewek ini tipe auditori yang lagi belajar ato dengerin musik 😛
Saya pribadi ternyata adalah tipe seimbang antara Visual dan auditory, jadi model pengajaran dengan slide atau  ceramah will do for me. Sementara adik saya yang lelaki, tanpa ikutan tes ini saya tau persis adalah tipe kinestetik. Lha, dulu klo ngapalin rumus-rumus fisika, adik saya ini bisa loncat-loncat dan jejer-jejerin batu di teras rumah :mrgreen:. Back then I thought he was crazy but  I realize he has different ways of learning. Adik saya hanya mencoba belajar dengan strategi atau metode yang paling memudahkan buat dia menyerap informasi.

At the end, sobat CE, apa sih tipe belajarmu? Visual, auditory ataukah kinestetik?

Kenali cara belajarnya dan maksimalkan potensi untuk berkembangnya ^_^

Iklan

41 respons untuk ‘Lonceng Bukan Sembarang Lonceng

Add yours

    1. Hihi kalau misalnya kita bukan ketiganya, tapi sebagai guru harus bisa mengakomodir kebutuhan setiap muridnya.
      Jadi persiapan untuk buat materinya dipikirin betul2, supaya murid visual, auditory atau kinestetik bisa tetep nyerap pelajaran dgn baik 🙂

  1. Karena aku tidak pernah lupa apa yang aku lihat dan apa yang aku baca, maka seperti kamu, visual auditory. Jadi jangan pernah bicara atau tulis sesuatu yang tidak benar deh, pasti aku inget 😀

  2. kayaknya gue lebih ke kinestetik deh ka…
    soalnya dulu kalo ngapalin pas mau ulangan, gue kudu bikin alat peraga segala plus mondar mandir dr ruang tamu sampe dapur. klo cuma diem aja, malah gak nyantel tu pelajaran!

    ihihihi….

  3. dari yang saya baca postingan embak saya mengira cara belajar saya adalah kinestetik.Karena saya kalo belajar itu selalu bergerak kesana kemari.thanks ya mbak informatif banget

  4. hmm..tengok yang punya rumah spedaaaa…eh spadaaaa :mrgreen:

    Yapzz..ternyata lumayan rumit juga Mba’E selain bahasa Inggris (maklum lidah wong kampung), untuk mencernakan pola pikir saya dan hasilnya selalu kepada kinesthetic (mboh bener apa ndak) :mrgreen: so tetep saya suka dengan tes nya *jadi belajar bahasa linggis lagih sama Mbah*

    -salam hangat-

  5. aku campuran antara kinestetik dan visual. jadi jaman sekolah, kalau ngapalin, harus dengan jalan-jalan. kalau sekarang, harus dengan corar-coret dengan tangan. dan baru nyadar juga, ternyata gaya coretanku bisa disebut menerapkan brain-map 😀
    tapi efeknya, orang lain jadi ga bisa meminjam coretan/catatanku deh, hiks. melayang dong kesempatan gebetan untuk pinjam catatan, trus ntar balikin ke rumah, trus ngobrol, trus… *loh jadi ngayal* 😀

  6. aduh, aku masuk yang mana ya Ka? Yang jelas kalo menghapal-hapal aku suka sambil nyatet, kalo ga susah inget, ga suka suasana berisik, tapi kalo kuping disumpel earphone lagu2 ga masalah. Itu kategori yang mana ya? 😀

  7. typeku visual – auditori, jadi aklau sudah baca, liat gambar plus dengerin dosen/guru ganteng menjelaskan wesssss dijamin sampe nenek2 juga masih inget tuh apa yg dipelajari hahahahaha….sayangnya gak pernah punya dosen/guru ganteng yang ngajarnya enak 😀

  8. Ini dia nih, saya inget jaman saya dulu SMA, pernah ada tes begini. Saya ini… gabungan antara auditory dan kinetic. Jadi, saya ini lebih suka kalo diterangin langsung ama orang. Memang begitu. :mrgreen:

    1. kalau yang nerangin cantik dan suara enak di dengar, pasti cepet masuk ke otak dan susah lupanya. he…he…he….
      itu bukan saya saja ajah tapi teman2 juga kan….ha…ha…ha…

      btw, tq nih sis sudah kasih linknya, kebetulan saya lagi cari program untuk test vak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: