Semilir angin menerpa anak rambut saya ketika bau humus dari pepohonan menyergap rongga hidung. Siang itu saya bertandang ke Rumah Baca Anjangsana di daerah Tajur, Bogor. Ini adalah sebuah rumah dengan konsep perpustakaan publik yang semi terbatas. Maksudnya gimana? Ya, kita bisa baca koleksi buku yang tersedia namun dengan membayar HTM yang cukup murah. Dan terbatas, karena memang tempatnya tidak besar. Rumahnya sederhana, ya kayak rumah biasa tapi justru itu daya tariknya. Letaknya di pojok jalan buntu sehingga pengunjung yang mampir harus memarkirkan mobilnya di area SKI Tajur, kurang lebih 20 meter dari situ. A little walk never hurts, right? Jalan kaki sebentar itu justru jadi pemanasan yang pas sebelum kita masuk ke zona tenang.
Sudut-Sudut Ruang yang Bernyawa
Setelah membayar HTM, saya pun meletakkan tas di loker dan menguncinya, perlahan saya masuk ke dalam rumah ini dan langsung terkesima. Koleksi buku dari berbagai macam genre mulai dari novel, buku non-fiksi sampai komik berjajar memanjakan mata di antara meja-meja tempat kita bisa duduk bersimpuh membaca. Satu hal yang paling eye-catching adalah lemari buku khusus yang didesain mengitari pintu masuk, serta lemari lain di bawah tangga. Detail-detail kecil ini betul-betul “memberi nyawa” pada tempat ini. Rasanya jauh dari kesan perpustakaan yang kaku; tempat ini terasa sangat hangat, intim, dan welcoming.



But wait, the real highlight is at the back! Gongnya ada di halaman belakang sih, sebuah ruang hijau dengan pepopohan rimbun di mana kita bisa gelar tikar lalu gegoleran membaca itu betul-betul konsep yang saya sukai. Ditambah lagi gemericik suara air dari sungai yang ada di balik tembok seolah membuat kami yang ada di sana terputus dari bisingnya dunia. Tidak ada suara musik (well, namanya juga rumah baca kan), tidak ada orang ngobrol cekikikan, yang ada hanya buku, angin, air dan udara sejuk. Cocok banget buat orang-orang yang ingin baca buku dengan suasana berbeda dari dalam kamar.
Ngomong-ngomong soal suasana berbeda, dulu saya terbiasa membaca buku di dalam kamar saja. Diapit 4 tembok di setiap sisi dengan bantal dan guling yang bikin nyaman gegoleran dan saya merasa cukup dengan itu. Namun semenjak beberapa tahun lalu saat saya mulai rajin piknik ke ruang terbuka, saya merasakan membaca di tempat-tempat berbeda itu punya pengaruh yang berbeda juga. Ada rasa senang tersendiri. Benar apa yang dikatakan B.J. Fogg dan James Clear dalam bukunya Tiny Habits / The 2-Minute Rule yang mengatakan bahwa mengubah sesuatu dari skala yang sangat kecil dapat menurunkan resistensi mental dan memicu lonjakan emosi positif. Tiap habis baca buku (baru) di tempat baru, kok rasanya happy gitu. Hehehe.



Memberi Napas Lebih Panjang pada Suatu Benda
Balik ke Rumah Baca Anjangsana, sayangnya saat saya datang, halamannya sudah cukup padat dengan hamparan tikar, akhirnya saya pun memilih duduk di teras dengan pemandangan ke arah taman. Saya menikmati betul sore yang indah itu ditemani secangkir Salt Caramel Coffee sambil menamatkan Kumpulan Cerpen Kompas Tahun 2023. A truly therapeutic afternoon.
Anw, saya sempat berbicang dengan Ryan pemilik Rumah Baca Anjangsana yang mengelola tempat ini bersama dengan istri dan adiknya. Ia bercerita bahwa konsep rumah baca ini hadir dari hasrat ingin memberikan kehidupan kedua (second life) yang lebih panjang untuk suatu benda. Rumah tua milik keluarga yang dimiliki sejak 2007 namun kosong semenjak covid ini pun dijadikan rumah baca dengan diisi barang-barang milik sendiri. Memberi napas lebih panjang untuk: rumah lawas ini, meja catur yang dipakai menjadi meja bacaaan, pajangan dinding dari oleh-oleh saat mereka bertamasya ke luar negeri sampai ke kursi antik khas tahun 90an yang mengisi ruang duduk. Hati saya terasa hangat mendengar kisah dibalik cikal-bakal rumah baca ini karena selaras dengan value yang saya anut: sebisa mungkin suatu benda bisa memberi manfaat lebih digunakan. Itulah sebabnya saya sering mendonasikan buku-buku yang sudah saya baca ke perpustakaan, agar lebih bermanfaat buat anak-anak sekitar atau sekedar membawa tas-tas kain ke mana-mana biar nggak beli-beli tas kain lagi. Ryan bercerita dengan sangat rendah hati namun letup semangatnya jelas betul terlihat dari setiap kata yang ia ucapkan.

Ketika Mesin Ketik Mengetuk Sunyi
Saat kami bercakap-cakap, dari kejauhan terdengar suara mesin ketik yang bekerja bersahut-sahutan dengan suara angin. Saya sempat mengeryitkan dahi, bertanya-tanya kenapa ada mesin ketik di sini dan Ryan pun bercerita singkat bahwa itu adalah Agisthi, pembuat puisi on the spot. Wah menarik, dan pengalaman menarik dengan Agisthi ini tentu bakal saya tulis khusus karena seru banget!
Sore itu betul-betul sore yang berfaedah karena saya menamatkan sebuah buku, menyegarkan jiwa di alam dan mendapati percakapan manis tentang nilai hidup dan mimpi yang bisa seiring sejalan. Kalau kamu lagi pengen cari suasana baru buat baca buku, silakan mampir ke Rumah Baca Anjangsana. Mungkin bisa memberi kebahagiaan kecil buat harimu.
Rumah Baca Anjangsana
Alamat: Jalan Pd. Tajur indah No. 11
Jam operasional: Senin-Rabu pkl. 09.00-16.00 dan Sabtu-Minggu pkl. 09.00-17.00
HTM:
- Orang dewasa: Rp. 20.000,- (free voucher makan/minum senilai 15k)
- Anak-anak: Rp. 10.000,- (free voucher makan/minum senilai 5k)
Baca juga:
1. Membaca sebagai Bentuk Perlawanan


Tinggalkan komentar