Sekayuh Untukmu


“Kamu sekolah yang tinggi nak,” begitu kata bapak padaku setiap hari, setiap pagi, setiap Ia selesai sarapan. Dan setelah berkata begitu, selalu Ia tersenyum sembari menepuk pundakku kemudian menghampiri sepeda tuanya. Meninggalkan rumah hingga sore menyapa. Setelah itu aku sendiri mesti bergegas ke sekolah, jika tidak, tentu aku akan mendapat tatapan mata tajam yang sungguh... Continue Reading →

Vanya Bertanya (1)


Serebrum otakku masih merekam dengan baik kejadian 5 tahun lalu di sofa ruang depan. Maya duduk menunduk sementara Tante Febri ibunda Maya terlihat tegang. Dalam dekapan Maya tidur bayi merah yang usianya tak lebih dari seminggu. Aku dan suamiku diam seribu bahasa, entah harus bersikap bagaimana. Dengan suara parau menahan tangis, Maya berkata lirih,” Mbak... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: