Akhir-akhir ini lagi ngetren banget stamp hunting buat dikumpulin di stamp passport. Mulai dari Museum Passport, Library Passport, sampai Lego Passport juga ada. Tapi berhubung saya ini bukan tipe yang die-hard fans perpustakaan atau museum—yang biasanya baru ke sana pas ada kerjaan atau proyek tertentu—malah lebih sering nongkrong di coffee shop atau restoran, saya akhirnya memutuskan untuk punya satu passport aja buat semuanya. Kuliner, MRT, open top tour, sampai museum, semuanya digabung dalam satu buku kenangan yang saya namai: STAMP TRAVEL MEMORY.
Nah, pertanyaan berikutnya yang langsung hadir di kepala: cara ngelompokin stempelnya berdasarkan apa ya? Berdasarkan lokasi atau jenisnya?
Sebagai orang yang suka jalan-jalan sekaligus suka bikin sesuatu yang estetik, saya langsung mikir panjang. Kalau tujuannya cuma punya satu passport yang bakal terus dipakai bertahun-tahun, menurut saya ada dua filosofi penyusunan yang bisa dipilih:
- Opsi 1 – Berdasarkan lokasi: Kenapa saya lebih suka ini? Karena nanti pas buka halaman “Glodok”, rasanya kayak buka album kenangan satu kawasan. Ada memori pas makan bakmi, lanjut naik MRT, terus malamnya ikut walking tour. Satu halaman menceritakan satu perjalanan utuh secara emosional.
- Opsi 2 – Berdasarkan kategori: Kuliner, Transportasi, Museum, Event, Wisata. Ini memang jauh lebih rapi secara klasifikasi. Kalau ada orang lain yang lihat, mereka langsung tahu mana stempel kuliner atau museum, ibarat sebuah katalog.



Stamp hunting sedang jadi tren side quest di tengah bisingnya kota. Kiri: jalur KRL di Jakarta, tengah: stempel di Open Top Tour Centre, kanan: stamp passport milik saya.
Kenapa Lokasi Menyimpan Cerita Terbaik
Tapi for sure, dari awal kan saya memang sudah punya passport khusus untuk negara-negara lain. Jadi, pilihan yang paling masuk akal buat saya ya stamp hunting didasarkan pada destinasi, bukan jenisnya. (This is me, you may have different opinion!) Di lembar-lembar itu, saya selalu menyelipkan momen kecil karena yang paling saya hargai dari sebuah perjalanan bukan sekadar tempatnya, tapi cerita di baliknya.
Hal ini sejalan dengan konsep psikologi memori dan nostalgia. Dalam berbagai studi psikologi mengenai autobiographical memory dan tangible mementos, para ahli mencatat bahwa objek fisik yang terhubung langsung dengan pengalaman nyata—seperti stempel, tiket, atau kartu pos—berfungsi sebagai jangkar emosional (memory anchors) yang membantu otak kita merajut kembali rasa, tawa, dan kehangatan di masa lalu. Seperti kata pepatah klasik perjalanan, “We do not remember days, we remember moments.”
Itu juga yang bikin saya masih ingat Labuan Bajo bertahun-tahun kemudian, masih ingat momen motret gunung karena Bapak, dan masih semangat bikin storytelling sebagai tour guide. Karena bagi seorang pencinta perjalanan, lokasi menyimpan cerita, sedangkan kategori hanya menyimpan daftar.



Stamp hunting di Kyoru Space at Japan’s Foundation yang punya satu stempel di setiap musimnya. Saya baru mengumpulkan 2 stamp musim panas dan musim gugur.
Jadi, buku STAMP TRAVEL MEMORY ini saya susun rute stamp hunting-nya berdasarkan lokasi.
Rute Stamp Hunting ala EKA di Jakarta:
- Blok M
- Matalokal (8 stamps)
- Cap Roti Buaya (1 stamp)
- Rumah Kecil Talenta (1 stamp)
- Ruang Ruuti (1 stamp)
- Malaystreetresto (1 stamp)
- Abah Jeka
- Titik Temu
- Kopi Aloo (3 stamps)
- Blok M Hub (1 stamp)
- Transportation Stamp
- MRT: Dukuh Atas, Transport Hub Dukuh Atas, Blok A, Haji Nawi, Cipete, Dukuh Atas Interchange.
- Stasiun KRL (KAI Railly): Jakarta Kota, Tanjung Priuk (keluar stasiun), Pasar Senen (keluar stasiun), Jatinegara, Manggarai, BNI City, Tanah Abang, Bogor, dan UI. Plus Gambir tapi harus punya tiket KA jarak jauhnya karena lokasi stamp ada di dalam stasiun.
- Sudirman dan Thamrin
- Koryu Space at Japan’s Foundation (1 stamp setiap musim)
- Open Top Tour Ratu Plaza (3 stamps)
- Open Top Sarinah (11 stamps)
- Pasar Baru dan Pos Bloc
- Poster House 77 (5 stamps)
- Sovlo (1 stamp)
- Open Top Tour (5 stamps)
- Coffee Croissant Canggu (1 stamp)
- Toko Kopi Maru
- Cikini
- Pos Kantoor (tersedia 40 stamps, tapi saya cuma dapat 12 stamps karena berapapun beli kartu posnya, maksimal dapat 12 stamps per orang/datang. Kalo mau sih datang bareng teman dan join deh supaya bisa dapat lebih banyak stamps sekali datang hehehe)
- Smiljan Pelopor
- Glodok Petak Enam
- Popat
- Something to keep
- Homme Caffe
- Kota Tua
- Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Keramik, Museum Wayang, Museum Sejarah Jakarta
- Same Bakery
- Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
- Bayt Al- Qur’an & Museum Istiqlal
- Indonesia Science Center, Museum Transportasi, Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Penerangan, Museum Batik Indonesia, Museum Listrik & Energi Baru, Museum Prangko Indonesia (sekarang lagi renovasi total), Museum Pemadam Kebakaran Pertama, Museum Hakka, Museum Indonesia (bayar lagi HTM 10k/orang), Museum Asmat, Museum Pusaka
- Jalan Medan Merdeka
- Museum Nasional
- Perpustakaan Nasional
- Galeri Nasional
- Matraman dan Senen
- Smiljan Makarya
- Museum Kebangkitan Nasional
- Bonus: Bogor
- Rumah Baca Anjangsana
- Uncle Joe SKI, Uncle Joe Surya Kencana, dan lainnya



Stamp hunting di Pos Kantoor Cikini, sambil kirim kartu pos, sambil meet up sama kawan






Stamp hunting sambil nyobain naik KRL jalur merah dan biru ditemani Kak Petty! Ma kasih dear



Stamp hunting sambil MRT date dan ngunjungin negara Blok M


Sambil walking tour sambil stamp hunting
As I’ve told you in earlier post, stamp hunting itu sebenarnya cuma side quest yang saya jalani kalau memang ada waktu luang ke area tersebut. Sekalian kencan sama Abang waktu ke Blok M dan nyobain MRT date. Sekalian hang out bareng teman (Dewi) pas di Cikini, atau sekalian jalan-jalan keliling dari satu stasiun ke stasiun lain pas nyobain KAI Railly. Seru, relaxing, dan menyenangkan! Hahaha.
Sekarang, tbh saya lagi ragu sama diri sendiri karena diracuni teman-teman sesame tour guide buat beli museum passport. Lagi dipertimbangkan deh. Kita tahu banget kalau stamp hunting ini sebenarnya nggak krusial-krusial amat, lha nggak ngaruh juga stempel-stempel itu dikumpulin mau buat apa, yekan? Tapi having fun during the process is what we are seeking for. Proses menikmati detiknya itu yang justru berharga. Anggep aja, orang lain hobi mancing, saya hobi stamp hunting. Hahaha.
Anw, kalau Sobat CE mau stamp hunting bareng ke rute-rute ini, just colek me yaaaa!

