Tips Naik Tuk Tuk Agar Terhindar dari Scam

Rintik hujan mengguyur atap transparan di lobby Siam Paragon Mall, Bangkok dengan deras. Langit sudah gelap dengan gemuruh petir serta beberapa sambaran kilat terlihat di udara. Saya sibuk memegang ponsel untuk memesan taksi digital. Hmm susah banget mencari taksi (baik digital/online maupun taksi konvensional) kalau hujan dan rush hour gini. Pengen naik Tuk Tuk tapi kok ya ragu-ragu takut kena getok harganya.

Saya dan Adrian menengadah dengan cemas melihat kilat-kilat petir memecah langit Bangkok yang kelam. Kami baru saja selesai belanja dan makan sore setelah mengikuti Temple Hopping Tour. Ada 3 kuil yang kami kunjungi: Wat Traimit, Wat Pho, dan Wat Benchamabophit. Semuanya cantik dan menawan hati. Namun sekarang, karena hujan deras, kami kesusahan mencari taksi untuk pulang.

“Dapat nggak Grabcar-nya?” Tanya Adrian yang tangannya sudah penuh dengan barang belanjaan (saya) :mrgreen:. Psst, salah satu perk saya adalah tiap belanja berdua sama Adrian udahlah dibayarin juga dibawain. Hahaha.

“Ujan, Bang. Susah nih nggak dapet-dapet. Tau ndiri kan biasanya jadi langka kalo ujan.”

“Nggak naik Tuk Tuk aja?”

Saya mengangat wajah dari layar ponsel yang dari tadi saya pandangi. “Kamu mau?”

“Ya maulah. Yang penting cepat balik hotel. Udah capek, dingin pulak.” Jawabnya santai ditutup dengan kerling nakal dan senyum menggantung yang penuh arti.

Jiah, saya malah jadi nggak konsen kan dikasih senyum genit gitu! Bukan saat yang tepat buat ngegombal gini, Bang. Bukan saat yang tepat! 😀 Rutuk saya dalam hati, meski sambil tersenyum. Malu dan tersipu-sipu. Hahaha.

“Dari tadi banyak Tuk Tuk seliweran, mending dicegat aja daripada nungguin taksi lama.” Imbuh Adrian lagi. Saya mengangguk setuju lalu mulai celingukan mencari Tuk Tuk.

Kalo pas naik Tuk Tuk hujan turun, nggak usah kuatir basah. Ada plastik penutupnya gini.

Susah-susah Gampang Menawar Tuk Tuk di Bangkok

Begitu melihat ada Tuk Tuk masuk ke dalam pelataran mall, saya langsung pasang aksi. Setelah penumpangnya turun, supirnya saya dekati dan saya tunjukkan nama hotel tempat kami menginap yang menjadi tujuan akhir. Kenapa nunjukkin nama hotel via ponsel? Kenapa nggak ngomong aja? Sederhana aja, menghindari miskomunikasi. Kalo tertulis kan jelas, apalagi beberaa hotel menulis nama jalan pake huruf Thailand yang nggak pake alfabet itu lho.

Supir Tuk Tuk mengatakan sesuatu tentang ongkosnya, cuma saya nggak paham dia ngomong apa. Memanglah aksen orang Thailand kalo lagi ngomong Bahasa Inggris itu bikin stress, susah dimengerti 😀 Bahkan pada liburan saya sebelumnya, saya pernah dibuat hampir gila karena nggak mudeng mereka ngomong apa :mrgreen: .

Baca juga:

  1. Hampir Gila di Bangkok

  2. Itinerary Liburan Bangkok

  3. Senam Jantung di Chatuchak Weekend Market

Tak hilang akal, saya keluarkan kalkulator di ponsel. Ia mengetikkan angka yang langsung saya pelototin karena nggak masuk akal. Masa harganya sama dengan Grab padahal ongkos di Grab aja udah kena surcharge rush hour?!

Saya ketikkan angka yang saya mau dan ia menggeleng sambil melambaikan tangan menolak. Okay, saya naikkan sedikit lagi (tapi tetap di bawah harga Grab), ia tetap menolak dengan tangannya.

Ya udah, saya tinggal pergi 😀 Ya gimana ya, kami kan susah komunikasi karena Bahasa Inggrisnya sang pengemudi minim. Kalo udah nggak ada kesepakatan yowis tinggal wae, toh? Itu aja kami ngobrol cuma dorong-dorongan kalkulator sambil kasih gestur bahasa tubuh. Hahaha.

“Lha nggak jadi naik Tuk Tuk?” Tanya Adrian saat melihat saya melangkah pergi.

“Mahal.” Jawab saya singkat.

Adrian menaikkan pundaknya tanda pasrah. Memang, kalo urusan tawar menawar Adrian nyerah, biasanya langsung dikasih ke saya. Dasar cowok, maunya simpel aja hahaha 😀 .

Sesungguhnya saya udah pasrah aja. Kalo emang nggak dapat taksi atau Tuk Tuk, saya berencana masuk ke mall lagi cuci mata sambil nunggu lalu lintas reda.

Eeeh, tapi supir Tuk Tuk mah kayak di Jakarta aja. Sukanya jual mahal. Hahaha. Nggak nyampe 8 langkah saya balik badan, dia udah manggil saya dan bilang setuju dengan ongkos yang saya minta.

Yeay! Sore itu kami bisa pulang sambil strolling around jalanan kota Bangkok di sore hari. Lihat videonya di sini ya:

Sekilas Tentang Tuk Tuk

Tuk Tuk adalah kendaraan roda tiga yang merupakan moda transportasi populer di Bangkok. Dulu sebelum Bangkok punya MRT dan BTS, Tuk Tuk jadi pilihan masyarakat Bangkok (dan juga turis) untuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya.

Bentuknya Tuk Tuk tuh kayak Bajaj kalau di Jakarta atau Betor (becak motor) di Medan. Suara bisingnya juga sama. Ngeyel pengemudinya apalagi, nggak ada beda. Hahaha.

Nama Tuk Tuk sendiri berasal dari mesinnya yang kalo mereka datang mendekat tuh kedengerannya kayak Tuk tuk tuk tuk gitu. Iseng, saya coba dengerin dan ternyata bener lho suaranya mirip. Hahaha!

 

Naik Tuk Tuk atau Naik Taksi?

Saya sering mendengar cerita-cerita orang yang kena scam / kena tipu soal ongkos Tuk Tuk atau taksi di Bangkok. Makanya di awal tadi saya sempat ragu-ragu mau naik Tuk Tuk. Tapiiiii, kalo saya ditanya pilih naik taksi atau naik Tuk Tuk maka jawaban saya adalah “TERGANTUNG”.

Lha maksudnya gimana? Gini, kalo mau experience like a local sih ya hayuks cobain naik Tuk Tuk. Seru banget lho. Bisa jantungan ngeri-ngeri sedap pas supirnya ngebut tapi bisa ketawa-ketawa juga karena ya memang menyenangkan! Hahaha. But bare in mind, sebelum naik Tuk Tuk mesti siap dengan drama nawar atau kena getok. Hehehe.

Kalau mau worry free bebas dari hal kayak gitu, saya sih pilih naik Grab. Nggak ribet kok karena pake apps yang sama kayak yang di Indo. Terus, yang saya senang banget tuh, pembayarannya kan bisa kartu debit/kredit. Cashless. Plus bisa dapat diskon di perjalanan berikutnya kalo supir Grab datang lebih dari 10 menit. Banyak untungnya. Hahaha.

Tuk Tuk di jalanan Bangkok. Meski seru namun naik Tuk Tuk tuh rawan scam atau kena getok harga. Simak Tips Menawar Tuk Tuk Agar Terhindar dari Scam atau Penipuan di sini ya.

Tapi di saat-saat tertentu saya akan menggunakan taksi konvensial. Contohnya nih, saat ddari Bandara menuju hotel. Di jam-jam tertentu nggak ada mobil Grab yang beroperasi, udah paling bener ya pake taksi konvensional. Atau di saat rush hour, tarif konvensional bisa lebih murah.

Jadi kalo dilema antara naik Tuk Tuk, taksi konvensional atau taksi digital, ya dipilah-pilah aja senyamannya kamu aja gimana.

Tips / Cara Menawar Tuk Tuk Agar Terhindar dari Scam atau Penipuan

  1. Cari tahu terlebih dahulu harga transportasi lain dengan tujuan yang sama sebagai perbandingan. Jadi bisa tahu perkiraan ongkosnya. Saya sih biasanya cek di aplikasi Grab dulu.
  2. Tawar gila-gilaan, pokoknya jangan takut atau malu nawar. Supir Tuk Tuk biasanya udah naikkin harga duluan apalagi kalau tahu kita ini turis. Sedikit tips, nawar mulai dari 75% juga boleh.
  3. Siapkan kalkulator, buat jaga-jaga kalo kesulitan memahami bahasa Inggrisnya yang kadang sulit dimengerti karena dialek atau pelafalannya kurang jelas.
  4. Hati-hati sama scam atau kedok penipuan dari supirnya yang bilang ada tempat rahasia yang keren. Kadang-kadang dibawa ke toko yang udah kerjasama dengan mereka. Langsung tolak aja, gpp banget bilang No, kalau emang nggak mau ke situ.
  5. Pakai Tuk Tuk untuk jarak dekat aja. Kalo jauh lebih enak naik Grab atau taksi, gak perlu ajrut-ajrutan dan kenapa panas/polusi. Tuk Tuk kan kendaraan terbuka gitu, Bok. Meski kalo ujan sih ada terpal yang diturunin gitu tapi tetep aja lebih nyaman taksi untuk jarak jauh.

Selamat hari Senin, Sobat CE. Punya pengalaman menawar Tuk Tuk di Bangkok, Bajaj di Jakarta atau Betor di Medan? Share dong.

Baca juga:

1. Exploring Chao Phraya River

2. Mengunjungi Wat Arun

 

Iklan

18 respons untuk ‘Tips Naik Tuk Tuk Agar Terhindar dari Scam

Add yours

  1. gue sm temen2 gue pernah nolak, eh teteuppp dibawa juga ke toko perhiasan. pdhal kami lg ngejar waktu ke suatu tempat, takut tempatnya tutup… akhirnya naik apa? Kita bayar tuh tuktuk terus tinggalin dan naik taksi dengan gondok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: