Borobudur, Apa Kabarmu?

Lagi-lagi Hampir Sunrise di Borobudur

 “Always believe that something wonderful is about to happen.” – unknown

Suara alarm dari ponsel saya menjerit nyaring memekakkan telinga. Membuat saya terloncat dari tempat tidur karena kaget. “Bajigur!” Gerutu saya sambil mematikan ponsel dan kembali menarik selimut lagi. Magelang saat itu cukup dingin jadi saya cukup posesif sama selimut. Namun belum juga mata terpejam sempurna, nggak sampai 10 menit ponsel saya kembali menjerit-jerit dengan kerasnya. Saking kerasnya itu hantu-hantu juga terloncat kaget deh keknya. Hahaha. Tapi kali ini instead of merem lagi, saya memaksa membuka mata lebar-lebar dan melirik jam yang ada di ponsel. Kenapa pulak ini alarm bunyi terus ya?

03.00

waktu yang tertera di layar ponsel.

 Jam 3 pagi!! Kenapa ponsel saya berdering jam 3 pagi? Pikir saya bingung antara ngantuk, mata yang sepet banget pengen bobok dan otak yang nggak sinkron. Namun pelan tapi pasti ingatan bawah sadar saya menyeruak dan mengingatkan saya bahwa hari ini jadwalnya kami melihat sunrise di Borobudur. Begitu ingatan itu semakin jelas, saya langsung loncat dari tempat tidur, gosok gigi dan ganti baju. Gilak! Tentu saja saya nggak mau telat buat melihat matahari terbit di Candi Buddha terbesar di Asia Tenggara ini. Sungguh deh, pasang alarm berkali-kali itu berfaedah banget! 😀 Hahaha. Kamu tipe yang pasang alarm berlapis gitu juga, nggak? Kalo iya, toss!

Setengah jam kemudian, pukul 3.30 pagi semua orang dalam rombangan kami sudah siap dan langsung meluncur ke Candi Borobudur. Ohiya, satu-satunya akses melihat matahari terbit adalah melalui hotel ini yang memang berada satu area dengan candi. Untuk Candi Borobudurnya sendiri resmi buka jam 6 pagi (dan kalo masuk jam segitu ya sunrise-nya udah ilang dong ya). So mau nggak mau ya mesti lewat akses hotel. No other way.

 

Harga Tiket Masuk dan Cara Melihat Sunrise di Candi Borobudur

Sebelum masuk kami membeli tiket di pendopo hotel terlebih dahulu. Pemeriksaan masuk ke sini berlapis kayak di bandara jadi ya siap-siap buka jaket dan ikat pinggang ya.

Harga tiket masuk melihat Matahari Terbit Candi Borobudur dari Hotel Manohara adalah:

Lokal IDR 350.000,-/orang

Mancanegara IDR 450.000/orang.

Tiket ini sepaket dengan senter yang dipinjamkan untuk menunjukkan jalan (ya gelap ya bok menuju Borobudur sebelum subuh itu makanya butuh senter) lalu nanti ketika senter dikembalikan maka kita akan mendapatkan suvenir selendang batik yang cantik. Btw saya nggak dapat selendangnya, bukan karena saya nggak ngembaliin senter tapi justru karena saya nggak ngambil senter pas di awal-awal sebab merasa senteran sama teman udah cukup. Ya kan meneketehe kalo bisa dituker selendang ya bok 😀 hehehe. Lain kali deh kalau ke sana lagi.

Baca juga:

  1. Hampir Sunrise di Borobudur

  2. Borobudur

  3. Merayakan Waisak di Borobudur

Setelah urusan tiket selesai, kami pun menuju gerbang Candi Borobudur, saat itu jarum jam menunjukkan waktu pukul 04.00 pagi. Kami semangat banget karena pengen secure spot buat melihat salah satu momen indah ini sekaligus dapat tempat yang oke untuk memotret. Tapi semangat kami patah. Anuh, sebagai cagar budaya ternyata Candi Borobudur hanya boleh dibuka pukul 04.30. Saya coba nego-nego sama penjaganya tapi hasilnya nihil. Ya sudah, terima nasib berdiri di pinggir pagar gerbang macam anak sekolah telat masuk dan dipelototin gurunya. Hahaha.

Ternyata menunggu 30 menit demi gerbang dibuka nggak terlalu membosankan. Kami mencari cara untuk membunuh waktu: ya ngobrollah, ya ngitung ada berapa pasang kakilah (which is a lil bit silly karena ya tinggal itung aja orangnya berapa lalu kali dua kan? :mrgreen: ) sampe mencoba membuat uap dari udara yang dihembuskan melalui mulut. Maklum dingin! Hahaha. Gpp deh kayak anak kecil yang penting enggak bosan.

Duduk diam dalam samar kegelapan menunggu sunrise

Lalu tepat jam 4.30 gerbang di buka, bagai anak panah kami meringsek cepat menuju ke Candi Borobudur. Saya bareng sama rombongan fotografer yang semangat motretnya itu kayak singa lagi mengejar rusa. Melihat bara passion di mata para fotografer itu menyalakan semangat juga dalam diri, saya pun ikut lari-lari kecil di belakang mereka.  Nggak nyampe 15 menit maka kami pun sampai di undakan teratas Candi Borobudur. Saya duduk manis sementara para fotografer tersebut sibuk menyiapkan peralatan mereka. Ya tripodlah, ya lensalah dan segala macam lainnya. Btw kami orang pertama yang sampai di sana! Jadi bebas pilih spot mana aja. Hehehe. Ada gunanya juga bangun jam 3 pagi. Hehehe.

Namun keheningan yang kami rasakan tidak berlangsung lama, rombongan orang-orang pun perlahan datang memenuhi Candi Borobudur. Membuat saya komat-kamit bersyukur karena sudah datang pagi hehehe.

 

Sunrise yang Gagal Maning

Tunggu punya tunggu ternyata matahari tidak muncul sempurna pagi itu karena mendung. Awan abu-abu berarak di ufuk timur tapi tidak ada yang mengeluh atau menggerutu karena walaupun sedikit mendung, Borobudur tetap memberikan pesona yang luar biasa!

“You’ve gotta dance like there’s nobody watching, love like you’ll never be hurt, sing like there’s nobody listening, and live like it’s heaven on earth.” William Purkey.
Candi Borobudur
Teruslah bermimpi hingga semesta mendengar dan berkonspirasi mewujudkan mimpimu.

Credit untuk 3 foto di atas: @overrated_outcast

Sedikit tips saat berada di Candi Borobudur adalah cari angle-angle yang cantik tapi nggak perlu sampe manjat-manjat stupa. Ingat, ini tempat ibadah. Ohya karena tempat ibadah, seringkali kita akan menjumpai para biksu yang datang bekeliling untuk berdoa. Biasanya mereka merapalkan doa sambil bergumam namun gumaman yang halus itu terasa ibarat musik yang teduh menentramkan hati. Berbahagialah jika bertemu para biksu dan mendengar rapalan doa-doanya.

Selalu merasa sangat keci berada di sini. Aura magicalnya sungguh indah.

Sebenarnya sudah kali kedua saya ke Borobudur demi berusaha melihat sunrise, namun sayangnya tetap belum kesampaian. Yang pertama dulu gagal karena nggak ngerti gimana cara masuknya sementara yang sekarang karena cuaca alam. Nggak, saya nggak kecewa justru malah ada alasan buat balik lagi, kan? Hahaha. Namanya alam, kita kan nggak bisa memprediksi gimana. Justru serunya perjalanan itu saat tidak semuanya berjalan sempurna, karena kalo kata Bunda Dorce kesempurnaan itu hanya milik Tuhan belaka! 😛 Sesungguhnya ngalaman selama dalam perjalanan melihat sunrise itu saja sudah bikin saya bahagia. Mulai dari bangun pagi, nunggu di depan agar sampe lari-lari cari spot foto yang bagus. Serius, buat saya itu menyenangkan.

Selalu ada alasan untuk kembali ke Candi Borobudur, Magelang.

Menginap di Mana kalau Mau Lihat Matahari Terbit di Borobudur?

Hampir 2 jam lamanya kami berada di Candi Borobudur yang dibangun di abad ke-9 ini kemudian kami pun kembali ke hotel. Ada banyak pilihan hotel bagus di Magelang yang merupakan lokasi di mana Candi Borobudur berada. Mau yang resort, mau hotel bintang 1-5 juga ada bahkan guest house pun tersedia. Tempo hari saya menginap di Plataran Heritage Borobudur, sekitar 15 menit saja dari candi. Namun, apapun pilihan hotelnya silakan booking melalui pegipegi.com. Web-nya mudah digunakan dengan layanan CS 24 jam jadi kalau ada apa-apa nggak kuatir bingung karena ada yang siap siaga membantu.

 

Selamat berakhir pekan, Sobat CE. Sudah kesampaian melihat matahari terbit sempurna di Candi Borobudur belum? Kalo belum, ya udah sini sini toss dulu sama saya 😀

Iklan

9 respons untuk ‘Borobudur, Apa Kabarmu?

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: