Cerita EKA

Tag: Danau Toba

Sejumput Rinduku di Pulau Samosir – Danau Toba

by cerita EKA on Sep.10, 2009, under Daily, Fresh-Travelwan, Voyage

Pulau Samosir do…

Haroroakku Samosir do

Ido asal hu

Saitongingottoku

Na na na…

Memori saya melayang jauuuuuh, jauh tinggi sekali ketika mendendangkan lagu dari kerabat satu marga, bapak tua Nahum Situmorang di MP3 player komputer. Iramanya riang dengan tiupan seruling dan gondang batak yang khas, sepertinya artikel ini cocok sekali dibaca dengan lagu itu. Silahkan diputar dulu.

Negara kita merupakan gugusan kepulauan yang indah dan teringatlah saya kepada pulau Samosir. Pulau unik karena terletak di dalam pulau juga ; Pulau Sumatera. Hmmm, adakah di dunia ini, pulau di tengah pulau juga? Pulau cantik yang berada di tengah – tengah danau Toba tempat ompung, ompung buyut dan para tetua lainnya dilahirkan.

Photobucket Tahukah kamu bahwa Pulau Samosir adalah pulau vulkanik ? (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 3%

73 Comments :, , , , , , more...

gue ini supir Medan Bung !

by Eka Situmorang-Sir on Apr.15, 2009, under Daily

PhotobucketSore itu nyaring bunyi klakson bersahutan memekakkan telinga. Mengalahkan suara penyiar radio favorit yang sedang cuap – cuap jenaka. Ku keraskan lagi volume radio yang selalu aku setel di frekuensi 87 koma titik titik FM (biar gak dibilang promosi ^_^ ) Maksud hati agar bising klakson itu tergilas renyah vokal duet wanita – pria namun heran tetap saja bunyi nyaring itu yang dominan menelusupi gendang telinga.

Sore menjelang malam di Jl. Prof. Dr. Satrio atau yang lebih beken dengan nama Casablanca mobil mungilku parkir gratis sekitar 25 menit. Hujan menciptakan genangan air dan menyebabkan kemacetan mengular di seantero Jakarta. (Jangan salahkan hujan, salahkan saja …….. – tolong bantu saya isi titik-titiknya). Badan jalan dipenuhi mobil, motor, mikrolet serta bis agak besar berwarna kuning menyala. Sesak. Bagaikan tumpukan ikan sarden dalam kaleng. Samar masih kudengar deru mesin, karena sepertinya mesin – mesin mobil yang lain telah dimatikan sang empunya. Hemat bensin mungkin. Daripada bengong – bengong tak karuan (dan lagi kata teman kantor kebanyakan bengong bisa mati, terbukti dengan matinya 5 ekor ayam peliharaannya yang sering bengong – suueek gue disamain sama ayam ! ) maka kusambar tas kosmetikku. Dalam macet pun wanita harus tampil cantik dong, should feel SEXY everywhere, everyday, EVERYTIME !! ;) (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 2%

83 Comments :, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , more...

Pria Berseragam Loreng itu MEMBUNUHKU

by cerita EKA on Mar.24, 2009, under Anthology - Cerpen

Setiap terang bulan bapak selalu duduk terpekur memandangi langit melalui beranda rumah. Malam ini pun tak terkecuali. Tak diindahkannya ajakku agar masuk ke dalam. Diusianya yang sekarang aku cemas paru – paru tuanya itu tak kuasa menahan dingin angin malam. Belum lagi rokok kretek yang selalu menjadi karibnya. Memperparah keadaan saja. Sekali ini pun jawabnya tak berubah saat ku pinta kembali beliau untuk pindah ke dalam.

“Jangan kau ganggu aku Duma,” hanya itu. Dan sesudah itu ia seolah tenggelam dalam kepulan asap kreteknya. Dunianya yang tak tersentuh. Bahkan oleh aku – anaknya. Esok harinya lakon bapak di depan beranda rumah itu ia tekuni lagi. Lakon yang telah ia jalani selama 2 tahun terakhir sepeninggalan omak. Tak dipedulikannya ladang kami, tak dihiraukannya pula kebun sawit kami. Kami anak-anaknya yang tak pandai berladang ini harus mengurus itu semua. Mulanya ku pikir paling lama 3 bulan saja bapak akan duduk diam seperti itu. Tapi… hingga sekarang bapak lebih memilih memandangi canda burung gereja di dahan daripada berbicara denganku. Sia – sia bapak tua datang dari Samosir untuk menghiburnya. Sia – sia namboru atau bahkan tulangku datang mangapuli. Tak ada satupun yang mampu menembus dunianya. Mata bapak tetap kosong. Sekosong jiwanya.

Bapak…

Walaupun kasat mata ia ada bersamaku namun entah dimana jiwanya. Hilang. Aku tak tahu. Yang dipikirkannya hanya omak dan boru siakangannya yang tak pulang – pulang. Ya, boru siakangannya. Lima tahun lalu kakakku itu pergi mengejar impian. Ke Jakarta katanya. Omak tak setuju tapi bapak mendukung. Hiburnya ke omak:

“Tak apa, disanapun ia tinggal dirumah amangborunya. Galaknya amangborunya itu. Pasti ia tak bisa macam-macam”.

Katanya kemudian pada kakakku:

“Baik – baik kau di Jakarta boruku. Biar kau buka jalan untuk adik-adikmu. Biar Sihar, Togar dan Duma kuliah di Jakarta pula nanti. Aku tak mau anakku hanya melihat ladang saja. Harus jadi orang besar kalian nanti”

Begitulah, kakak pergi ke Jakarta bersama dengan 1 kebun sawit kami sebagai bekalnya. Binar mata bapak penuh harap saat melepas kakak. Manusia boleh berencana tapi takdir berbicara lain. Angan bapak kandas tatkala setahun kemudian kakak bilang ia mau mangoli padahal belum tamat pula kuliahnya. Pahit. Tapi yang lebih membuat bapak dan omak murka hingga tak sepatah katapun keluar, tatkala melihat calon hela.nya itu. Melalui sinar matanya aku tau omak berang bahkan bapak sudah sedia parang. Tapi apa daya, pria pilihan kakak dikawal 8 orang bersenjata.

Kulihat bang Sihar dan Bang Togar pun sudah merah menahan amarah. Ah kakak… betapa beraninya kau bawa pulang pria berseragam. Tak ingatkah kau sumpah bapak dulu? Bahwa tak akan dibiarkannya keturunannya menikah dengan siapapun yang berseragam. Terlebih seragam loreng. Tak ingatkah kau kak, ompung kita dianiaya, dinjak-injak tentara hanya karena memberi minum laki-laki terluka dari kampung seberang. Hanya karena air, ompung dianggap anggota gerakan terlarang dari provinsi perbatasan hingga mati ditembak tanpa diadili dianggap layak baginya.

Kak, sakit hatiku melihat kesedihan bapak. Jiwanya habis digerogoti rasa bersalah memberikan ijin kakak ke ibu kota. Omak pun tak kuasa menahan pilu hingga ajal cepat menjemputnya. Itupun kau tak pulang, bahkan pusaranya pun belum sekalipun kau bersihkan. Pahit nian hati bapak. Sudah ditinggal borunya, ditinggal omak pula. Perih aku kak, manakala kulihat bapak. Sayup kudengar suara bapak bersenandung dari beranda:

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani

Ai hodo boruku, boru panggoarani, Sai sahat dana dirohani.

“Kak, pulanglah. Bapak masihol,” kataku melalui telepon. Lirih dari seberang sana ia menjawab, “Aku tak bisa pulang. Pria berseragam loreng itu membunuhku dek, membunuh jiwaku.”

Aku diam untuk kemudian pecahlah tangisku.

Eka Situmorang-Sir – Pontianak 20 Jan

2009

Glossary:

  • Bapak tua : Saudara laki –laki bapak yang lebih tua
  • Namboru : Saudaraperempuan bapak
  • Amangboru : suami darinamboru
  • Tulang : Saudara laki – lakiomak
  • Mangapuli : menghibur dukakarena ada yang meninggal
  • Boru siakangan : Anakperempuan pertama
  • Mangoli :menikah
  • Hela : menantu
  • Ai hodo boruku, borupanggoarani: Kamulah putirku, anak perempuan yang membawanamaku
  • Sai sahat dana dirohani:terkabullah apa yang kau cita – citakan
  • Masihol : rindu

Eka Situmorang-Sir – Pontianak 20 Jan

2009

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0 (from 0 votes)

Popularity: 1%

23 Comments :, , , , , , more...

the Sponsors