Cerita EKA

Literature

Sanctuary

by cerita EKA on Feb.23, 2010, under Puisi - Poem - Poetry

Rumahku adalah kumpulan cinta

Siapapun boleh singgah disana

.

Wangi terbuai, mayang terurai

Diberanda, sayang pun bersemai (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 2%

35 Comments :, , , more...

Tak Ada Judul

by cerita EKA on Feb.18, 2010, under Anthology - Cerpen

Disclaimer: Cerpen ini adalah salah satu bagian dari rangkaian cerpen yang telah di publish sejak awal Januari lalu. Cerita kali ini durasinya lumayan panjang. Butuh waktu untuk mencerna dan membacanya ;) . Walaupun bisa dibaca terpisah tanpa membaca cerpen sebelumnya, namun apabila ada waktu (siapa tahu berminat membacanya), berikut adalah rangkaian cerpen terdahulu: 1. Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu 2. Kamu dan Pertanyaanmu 3. BERHENTI 4. Pelangi Rasa

UDARA DINGIN menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yang berperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia – catat: sudah halal! (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)

Popularity: 3%

57 Comments :, , , , , , more...

Surat Tanpa Perangko

by cerita EKA on Feb.14, 2010, under Puisi - Poem - Poetry

Surat Rahasia

Kepada Lelaki yang tak akan pernah kumiliki.

Kamu tahu? Aku kangen kamu. Kangen derai tawa yang kita bagi setiap waktu. Kangen suara beratmu menyapa diujung telepon dengan kawalan jutaan rindu. Menanyakan kabar, menggoda dengan rayuan gombal yang selalu sukses membuatku gemas dan tersipu malu. Ah, aku tersenyum sendiri, teringat akan leluconmu yang diselingi tiupan-tiupan halus ditelinga itu. Sikapmu yang acuh, gayamu yang angkuh; menggugah sebal sekaligus rindu. Kamu memang nakal, tapi aku mau :oops:

Kamu tahu? Dengan bilang “kangen kamu” sesungguhnya aku sedang menenggelamkan nurani kedalam dinginnya air di bak mandi. Biar beku saja ini hati. Karena sesungguhnya jalan kita berseberangan, tak boleh bersama walau genta sayang itu nyata. (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +2 (from 2 votes)

Popularity: 4%

68 Comments :, , , , , more...

Pelangi Rasa

by cerita EKA on Feb.03, 2010, under Anthology - Cerpen

Jemariku gemetar membaca barisan aksara yang muncul di ponselmu. SMS mesra pada jam 3 dini hari! Kutenangkan jiwaku, kudinginkan kepala yang mulai panas dengan amarah. Tak ada nama, hanya barisan angka, berarti nomor ini tak tersimpan dalam memori ponselmu. Perasaan tenang merayapi hati, mungkin SMS mesra ini cuma nyasar saja.

Hati-hati ku letakkan ponsel istriku itu pada tempatnya. Memang, kami sudah menikah namun privacy masing-masing kan harus tetap ada dan dijaga. Ku pejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur. Namun tak bisa. Aku gelisah. Tak bisa kupungkiri, aku (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 5.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +3 (from 3 votes)

Popularity: 4%

48 Comments :, , , , , , more...

BERHENTI

by cerita EKA on Jan.26, 2010, under Anthology - Cerpen

LANGIT KELAM tanpa rembulan ataupun bintang, gigiku bergemeletuk. Dingin angin yang menusuk tulang memaksaku merapatkan jaket tua yang telah hilang warnanya.  Pelan kubuka pagar depan, terdengar decit besi dari putaran engsel yang lama tak bermandikan pelumas. Aku pulang. Tepat ketika tiang listrik bertalu sebelas kali dipukul oleh para petugas ronda malam. Ah, lelah, penat, segala rasa bercampur di pundakku, namun itu semua kan luntur begitu melihat senyum manis istriku.

Bergegas aku masuk, ingin ku bersegera menemuai belahan jiwa- alasan ku hidup. Mencium lembut keningnya, memeluk pinggang rampingnya seraya membenamkan kepalaku kedalam ikal rambut hitamnya yang selalu harum dengan wangi shampoo. Tapi (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: -1 (from 3 votes)

Popularity: 4%

61 Comments :, , more...

Kamu dan Pertanyaanmu

by cerita EKA on Jan.14, 2010, under Anthology - Cerpen

TITIK PELUH menghias pias wajahmu. Disini, di pangkuanku, engkau terlelap tidur. Nyenyak seolah tanpa beban, padahal baru seminggu sebelumnya badai menghantam hidupmu, eh hidupku juga. Wajah ovalmu polos tanpa tersaput make-up, kamu nampak cantik, gadisku.  Sangat cantik. Aku lebih suka kamu disaat seperti ini, tak ada dempul yang katamu berkhasiat menyembunyikan kantong mata, tak ada saputan mubazir serbuk halus berwarna merah di pipi, lha wong pipimu selalu bersemu malu-malu tiap kali ku goda, pun tak ada pemulas bibir senada warna buah saga. Untuk apa sih pemulas itu? Kalau sudah bersamaku, warna itu tentu luntur tergerus lumatanku, jadi lain kali tinggalkan saja gincu itu. Aku suka berlama-lama memandangimu saat seperti ini. Sudahkah kukatakan bahwa kamu cantik ketika tidur? Ketika tak ada make-up sama sekali? Ah ya, sudah kukatakan itu di awal paragraph ini. Maaf, sepertinya aku mulai pikun. (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +4 (from 4 votes)

Popularity: 5%

81 Comments :, more...

Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

by cerita EKA on Jan.05, 2010, under Anthology - Cerpen

Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja. (continue reading…)

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 3.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +3 (from 3 votes)

Popularity: 6%

76 Comments :, more...

the Sponsors