Arsip Kategori: Cerpen

Surat Tanpa Perangko

Kepada Lelaki yang tak akan pernah kumiliki. Kamu tahu? Aku kangen kamu. Kangen derai tawa yang kita bagi setiap waktu. Kangen suara beratmu menyapa diujung telepon dengan kawalan jutaan rindu. Menanyakan kabar, menggoda dengan rayuan gombal yang selalu sukses membuatku … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , , , , , , | 74 Komentar

Bermain dengan Waktu

Suara – suara sumbang itu terus berdengung. Persis seperti dengungan nyamuk di telinga menjelang tidur. Menganggu dan menyebalkan! Mulai dari mengingatkan untuk makan, mandi, membaca hingga nonton TV. Mulai dari nada lembut, kesal, marah, hingga akhirnya datar tak bernada. Kenapa … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , , , , , | 77 Komentar

Vanya Bertanya (3) Tamat

Kilasan cerita lalu : Aku dan suamiku membesarkan Vanya, anak hasil hubungan diluar nikah Maya (sepupuku) dan pacarnya. Kami merawat Vanya dengan cinta kasih yang berlimpah, hingga ia tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas juga periang. Namun di ulang tahun … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , | 86 Komentar

Vanya Bertanya (2)

Kisah sebelumnya : Karena pergaulannya yang terlewat bebas, sepupuku Maya yang masih SMA hamil diluar nikah. Tante Febri, ibunda Maya, yang notabene masih tanteku, tidak menghendaki Maya mengasuh bayinya karena itu berarti mecoreng nama keluarga besar. Memberi aib. Namun sebenarnya … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , | 28 Komentar

Vanya Bertanya (1)

Serebrum otakku masih merekam dengan baik kejadian 5 tahun lalu di sofa ruang depan. Maya duduk menunduk sementara Tante Febri ibunda Maya terlihat tegang. Dalam dekapan Maya tidur bayi merah yang usianya tak lebih dari seminggu. Aku dan suamiku diam … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , , , , , | 51 Komentar

Situ Gintung – dalam Nestapa

Aku tersadar oleh lolongan sendu seorang ibu. Jasad kaku ada dipangkuannya. Keras ia menggoncang-goncangkan tubuh anak lelakinya namun tetap ia tak bergerak – karena nafas pergi meninggalkan raga. Dan histerislah sang ibu. Jeritannya pilu, sepilu nyawa yang melayang sebelum genap … Lanjut membaca

Ditulis pada Cerpen | Di-tag , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Komentar