Hadeuh itu pertanyaan retoris kayanya ya
masa iya ada yang gak pernah marah sih? Eh tapi coba angkat tangan dulu siapa yang belum pernah marah? Gak ada? Semua pernah marah kan? Demikian juga saya!
Jadi begini, hari Minggu sore kemarin saya dan suami berencana beribadah sore hari. Semuanya berjalan begitu indah. Saya dengan wangi shampoo dan lotion lembut dibantu dengan suasana sore hari Jakarta yang lengang; syahdu karena mendung serta jingga senja hari. Ah! Pokoknya suasananya mantap sekali. Lalu saya dan suami terlibat sebuah pembicaraan. Pembicaraan yang mengakibatkan otot-otot wajah saya menegang, aliran darah terpacu kencang serta lengkung bibir saya yang tadinya mengembang tersenyum berubah membulat kesal. Ah, suami saya baru saja melalukan kesalahan fatal, disaat mood saya lari pecicilan karena PMS mendera, ternyata ia mengucapkan kata yang membuat saya merengut kesal. Iya, saya marah. MARAH sangat. Hingga saking marahnya, saya bilang saya mau pulang saja. Malas ke gereja. Rasanya gak damai sejahtera banget ke gereja tapi hati lagi bersungut-sungut kesal.

Love is patient, love is kind, it isn’t jealous, it doesn’t brag, it isn’t arrogant. Love puts up with all things, trusts in all things, hopes for all things, endures all things. Love never fails.
Awalnya suami saya ngomel juga, bingung dan menyalahkan saya yang punya reaksi tak masuk akal untuk jawaban ringannya. Duh bang! Kamu koq gak tahu siy, istrimu ini lagi sensitif banget! Kalah deh tuh alat tes kehamilan yang dijual di pasaran. Tapi, memang saya tak salah pilih suami, ia tahu pasti bagaimana harus menjinakkan amarah saya. Kalem sekali ia bilang bahwa saya harus tetap ke gereja, no matter what. Dikatakannya hal itu dengan penuh wibawa. Dengan otoritas seorang suami kepada istrinya. Dan saya pun diam tergugu. Terpaksa menuruti kata-katanya. Terpaksa? IYA! Terpaksa sangat. Pengen lari pulang kala itu.
Dengan rasa tidak nyaman dan dahi berkerut tengang (Cih, beneran deh rasanya gak enak) saya meletakkan bokong saya di bangku empuk gereja seraya berbisik, “Saya masih marah sama kamu lho, Bang” Suami saya diam, tidak menjawab. Lalu saya berdoa pelan di dalam hati, Tuhan saya datang ke rumahMU. Setelah itu saya menyanyikan sebuah penyembahan mengikuti Worship Leader. Aneh! Tiba-tiba amarah saya lenyap. Serius! Lenyap tak berbekas. Hilang sama sekali. Itu tidak sifat saya. Biasanya, jika saya marah, saya butuh waktu untuk menenangkan diri. Dan waktunya itu tidak cepat, yaaah paling cepat 4 jam lah.

Time of refreshment
Tapi kemarin itu benar-benar amarah saya luruh. Saya tahu, saya dijamah Tuhan. Saya sedang merasakan hadirat dan keagungan Tuhan. Saya merasakan energi kekekalan yang luar biasa meruntuhkan benteng-benteng amarah saya. Semua hilang, berganti dengan kelembutan hati. Dan hati saya pecah. Betapa Tuhan begitu baik pada saya. Betapa Tuhan adalah Allah luar biasa yang bisa mengubah sekeping hati yang keras menjadi selembut kapas. Betapa saya menyadari bahwa hidup saya ini bukanlah apa-apa. Jika Tuhan mau, hanya dengan jentik tanganNya saja saya bisa jadi apa saya yang Ia kehendaki. Saya hidup oleh karena perkataanNya saja, how come I sweat small matters into big things?
Apakah kamu sedang marah saat ini? Dalam takaran dan situasi serta kondisi yang tepat, amarah itu perlu tapi hati-hati dengan hatimu
jangan sampai pahit karena amarah..
.
.
.
Pics are borrowed form here and here
Like this:
3 bloggers like this post.
Tentang Ceritaeka
A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
Catatan ini telah ditulis dalam
REFLECTION dan di-tag dengan
amarah,
anger,
Contemplation,
love,
Marah,
pernikahan,
praying,
suami. Penunjuk
permalink.
Merasa tersentil… *lagi banyak memendam pikiran dan emosi*… >.<