Tak Ada Judul

Disclaimer: Cerpen ini adalah salah satu bagian dari rangkaian cerpen yang telah di publish sejak awal Januari lalu. Cerita kali ini durasinya lumayan panjang. Butuh waktu untuk mencerna dan membacanya ;) . Walaupun bisa dibaca terpisah tanpa membaca cerpen sebelumnya, namun apabila ada waktu (siapa tahu berminat membacanya), berikut adalah rangkaian cerpen terdahulu: 1. Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu 2. Kamu dan Pertanyaanmu 3. BERHENTI 4. Pelangi Rasa

UDARA DINGIN menyeruak ke dalam ruangan tidur kami. Ruang tidur yang berperan ganda sebagai peraduan dan saksi bisu. Ruang ini adalah kawan gelak tawa saat gurau suami terlontar meredakan rajukku. Ruang ini merupakan saksi derai airmata, saat keinginan dan kenyataan tak berjalan seiringan. Ruangan ini jugalah yang meredam lenguh cumbu mesra sepasang anak manusia – catat: sudah halal!

Seiring hawa sejuk yang merasuk tulang, kupandangi wajah belahan jiwa yang terlelap dalam manis buaian mimpi. Semakin kupandangi, perlahan semakin aku mengakrabi perasaan yang dulu pernah ada. Rasa itu lamat-lamat muncul. Rasa sayang yang membuatku sukarela membatalkan rencana kuliah ke negeri Kangguru agar bisa menikah dengannya. Perasaan kasih yang membuatku yakin (tanpa rasa menyesal sedikitpun) untuk berhenti bekerja agar bisa sepenuhnya mengurus rumah tangga. Dulu, dulu semuanya terasa indah. Namun sekarang…, entah apa yang terjadi, sepertinya kami semakin menjauh. Walau raga ini bernaung disatu atap, walau tubuh ini berbagi ranjang yang sama, namun ada jarak yang membentang, hatiku (ataukah hatinya?) mulai beranjak pergi.

Ku raba dadaku dan airmataku meleleh. Ditengah semua rasa ketidakpuasaan pun kesepian ini, kutahu rasa itu… (rasa yang dulu membuatku berkata ya pada lamarannya) masih tergores dalam loh hati ini. Meski telah tertutup oleh minimnya waktu untuk bersama, oleh kurangnya romantisme dan kata-kata cinta, oleh asa dan realita yang  tak mampu berkawan, namun yang pasti, aku masih mencintainya. Sungguh!

Bola mataku tertuju ke jam meja di sisi tempat tidur, manakala beker futuristik hadiah kuis di TV itu melakukan tugasnya dengan baik: berdering nyaring. Tanda buatku memulai aktivitas. Ku alihkan pandang. Kudapati sang pangeran membuka matanya pelan, kemudian tersenyum lembut melihatku. Ah, perasaan ini lembut, selembut sutera. Sempat kutangkap perasaan tak tentu dari sorot matanya, seperti rasa galau juga marah dan kecewa. Tapi senyum lembutnya itu mengaburkan gulana dari paras wajahnya.

Tegap dan pasti, Ia beranjak menuju sudut ruangan. Dengan tangan kokohnya menyambar kayu coklat berbentuk aduhai. Elok lekuk tubuhnya. Sementara jenjang lehernya dihiasi enam utas tali yang terlihat rapuh namun memiliki kekuatan luar biasa. Baru kemudian aku tahu tali itu mempunyai merek! d’addario. Dipangkunya sang gitar Spanyol yang oleh pembuatnya diberi nama: Prudencio Saez. Kemudian perlahan ia mengecup keningku dan berbisik lembut, “Kita awali hari ini dengan doa, kali ini kamu pilih lagu pujiannya”.

Feeling Guilty

Aku mengganguk seiring kabut rasa tertolak dan keengganan yang melesak cepat dari hati. Begitu banyak pertanyaan yang berputar dikepala. Membuat pening dan mengaduk-aduk emosi jiwa. Masih layakkah aku untuk berdoa? Masih maukah Tuhan memberikan wajah kudusNya guna memandangku?  Masihkah? Derai airmata membasahi pipi. Astaga, maukah Tuhan mendengar seru dari bibir yang telah melumat lidah pria yang bukan suaminya?  Tidakkah Tuhan memandang rendah istri yang menyerahkan diri dibelai, dijilati dan disetubuhi kekasih gelapnya? Arrrrrgh! Rasa bersalah itu kian merajalela. Sesak, sesak sekali! Dadaku sesak sekali!! Terus memburu nurani, mencengkeramnya kuat, persis seperti kucing menerkam tikus buruannya. Katakan padaku, masih layakkah aku? Aku tak pantas ada disini, di pelataran Rumah Doa Tuhan. Aku ini kotor! Menjijikkan. Binal. J.A.L.A.N.G. Ya.. silahkan caci aku, boleh kalian memakiku. Perempuan NAKAL yang berselingkuh. Katakan saja sekeras-kerasnya! Jangan hanya bicara diam-diam dalam hati. Bilang! Bilang sekeras-kerasnya!! Oh For God sake! Hakimi aku, hukum aku, jangan hanya diam! Namun semua jeritanku itu tak terdengar, tersangkut di pangkal tenggorokan bersama bulir-bulir air yang menetes.

Ku lihat suamiku tekun berdoa sambil terus memetik dawai gitarnya. Cepat kuhapus airmata ini. Tak boleh ia melihatku menangis. Nanti bisa curiga. Untuk sekian waktu aku hanya diam tanpa tahu harus bagaimana, kecuali memandangi wajah khusuknya. Sekejab ia mengangkat wajah dan tiba-tiba tanganku diambilnya. Dimatanya kulihat duka. Seperti rasa perih, namun terbalut kasih? Ah, entahlan. Hatiku bergetar. Aku takut.  Rasa bersalah ini begitu mendera.

Beberapa tarikan nafas diambilnya lalu pelan kudengar ia berkata,” Aku tahu semuanya. Aku tahu tentang dia.” Bibirku terbuka, kaget tak terkira. Sepertinya… Ah, mungkinkah akhirnya ia telah tahu?  Apa yang harus aku katakan padanya? Tidak, tidak, seharusnya ia tidak tahu. Cepat aku menguasai keadaan. Dalam situasi seperti ini aku harus tenang.

“A.. a.. apa maksudmu?” tanyaku. Berusaha menyembunyikan galau sementara otak ini berpikir keras akan jawaban apa yang harus disediakan. Semoga getar kebohongan yang merambat dari suara ini tak terdengar. Namun kulihat matanya.. Ah lagi-lagi mata itu berselimut duka. Hatiku sakit.

“Ka.. kamu….,” Ia berhenti sebentar. Mengumpulkan nafas.

“Kamu mengkianati…. cinta…. kita,” ucapnya terpatah-patah. Tajam ekor matanya mulai menyiksa. Aku meneguk air liur, dapat kurasakan dadaku berdebar lebih cepat dari biasanya. Telapak tanganku dingin. Sangat dingin.

“Kamu….,” lagi-lagi ia berhenti sesaat untuk mengambil nafas. Seolah mengumpulkan segenap tenaga untuk bicara.

“Kamu… mengingkari janji setia kita di depan Allah. Di depan jemaat. Di depan keluarga.” Suaranya parau. Tangannya meremas jemariku. Sudut mataku mulai panas. Teringat janji yang kuucapkan sambil berlutut di Altar. Kala itu aku bersumpah setia! Hingga maut saja yang memisahkan. Tapi lihat aku, lihat aku sekarang. Ditinggal kesibukan sebentar saja, aku telah berpaling. Rasa bersalah itu kembali datang. Namun, ku keraskan hatiku. Aku tak boleh menangis! Tidak di depan dia!! Aku harus mengelak. Aku harus menyangkal. Aku masih mencintainya. Dan pengakuan hanya akan memperburuk keadaan. Aku tak sanggup kehilangan dirinya.

“Kamu memberikan tubuhmu yang telah menjadi satu daging dengan tubuhku, kepada orang lain.” Nada suaranya pahit, sepahit empedu. Aku menunduk. Tak mampu melihat wajahnya, terlebih matanya! Dalam diam, makin kukeraskan hati ini. Walau dadaku mulai perih seperti ditusuk ribuan jarum rasa bersalah teringat janji di depan altar! Suci hanya untuk suami!

“Hatiku hancur. Kamu menginjak-injak sakralnya per…” Tak diselesaikan kalimat tersebut. Getir. Helaan nafasnya telah bercampur dengan ingus dan air mata. Senyap sejenak. Aku tenggelam dalam lautan susah.

“Tapi….,” katanya lagi… Ia menghela nafas panjang. Inhale.. exhale.. Pelan. Pelan sekali… Menghirup oksigen kedalam paru-paru sebanyak mungkin.. Makin kukeraskan hatiku, mungkin sekarang hatiku sudah sekeras batu. Mendengarnya bicara, dapat kurasakan sakitnya. Ah, hatiku pun terasa sakit melihat perih jiwanya. Aku memang jalang! Perempuan apa aku ini??! Brengsek! Nuraniku terus bicara. Ditengah bimbang antara rasa bersalah dan segala tipu daya penyangkalan yang akan kuberikan, kuberanikan diri mengangkat wajah, melihat raut mukanya. Mata kami beradu… Ah, mata itu… mata pria yang kucintai itu…  Mata lelaki yang menemani hari-hariku selama ini, mata yang memancarkan cinta. Sementara mataku sendiri menyiratkan dusta. Kelopak ini makin panas. Bingung, harus bagaimana. Aku sadar aku menyakitinya… Tapi.. tapi.. jika aku mengakui segalanya.. tentulah ia akan murka. Namun mata itu.. mata suami yang kucintai itu… Mata itu tidak menghakimi, hanya memandang penuh arti. Dan mata itu selaras dengan bibirnya lirih berkata,

“Aku memaafkanmu.”

Tangisku meledak! Hatiku pecah. Aku dipeluk. Erat. Dan aku meraung bersama kepingan-kepingan kekerasan jiwa yang luluh lantak. Deras air mata membanjiri pipi.

Forgiven

Aaaah… Aku bersiap untuk segala kalimat menyalahkan terucap dari bibirnya. Aku memang salah, seharusnya aku ini dicaci, dimaki, bahkan kalau perlu dihina! Oh, dirajam pun aku pantas! Tapi kau dengar? Kau dengar itu? Aku… aku.. d.i.m.a.a.f.k.a.n. Tubuhku bergetar hebat. Sedu sedan memenuhi ruangan. Tak percaya ia kan berkata begitu, tapi aku tahu suamiku. Pelukannya tulus, hangat nafasnya ditengkukku penuh cinta. Sungguh! Bahasa kasih mengalahkan segalanya. Kubalas rentangan tangan suamiku dengan rasa malu namun juga syukur, ia tidak mempersulit hidupku. Kuciumi tangannya, pipinya, ciumku bercampur dengan rasa asin yang bergulung. Dan aku terus menangis hingga airmataku habis.

Fajar menjelang di ufuk timur. Disini aku terdiam. Menikmati denting indah dawai gitarmu dalam peluk hangat cintamu.

***

P.S.

Ilustrasi dipinjam dari sana dan sini. Cerpen ini pengembangan dari sebuah catatan pendek yang pernah saya buat. Asli, keabisan ide untuk ngasih judul. Bagusnya dikasih judul apa yah…?

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
This entry was posted in Anthology - Cerpen and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

58 Responses to Tak Ada Judul

  1. Yessi says:

    happy ending ha? please..jangan selingkuh lagi :P
    ehehehhe..

    judulnya apa ya? ummm..gimana kalo “Aku memaafkanmu” aja ;)

    #EKA
    Belum endiiing :P
    .-= Yessi´s last blog ..Menikah =-.

  2. marshmallow says:

    setuju sama yang lain. “aku memaafkanmu” sounds good. tapi dari judul aja langsung ketebak ending-nya dong, ya?

    huah! akhirnya keren. kesucian cinta yang dilandasi ketaatan kepada tuhan mengalahkan segalanya.

    #EKA
    Makanya bingung uni.. judulnya apaan yah..
    biar gak ketebak enidngnya hehehe
    .-= marshmallow´s last blog ..Nineteen Minutes =-.

  3. Rian says:

    lama aku tak singgah disini. makin keren aja, komen dulu baru baca

    #EKA
    Kemana aja? koq udh lama gak mampir?

  4. papadanmama says:

    bagus Ka, aku suka critanya ‘happy ending’ :D

    #EKA
    Belum ending ini P&M :)

  5. Bro Neo says:

    masih mo diolor olor kayak sinetron lagi gak eka??

    Judul: kasih memaafkan (kayak judul lagu gereja yach??)
    .-= Bro Neo´s last blog ..nJajah Desa Milang Kori =-.

  6. beuh! ada yang true story pulak?
    cerpennya keren. pengampunan memang tema yang asyik untuk dikelola. ah, pengen bikin cerpen ah :)
    .-= Slamat P Sinambela´s last blog ..Tuhan Agamanya Apa? =-.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s