Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.
by cerita EKA on Jan.05, 2010, under Anthology - Cerpen
Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.
“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja.
“Mungkinkah ini waktu bagi kita tuk berpisah?” tanyamu tanpa berani menatapku. Dan aku diam tergugu, sebuah pertanyaan pahit dengan kadar kebenaran. Ada pedih didalam hatiku. Ada hati yang teriris-iris mendengar kata-katanya. Perih. Aku menutup telingaku, tak mau mendengarnya bicara lagi. Oh, duhai Lelaki.. Tolong… Tolonglah aku. Kumohon berhentilah bicara.
“Ku harap hidupmu bahagia dengan atau tanpaku,” bisikmu lirih ditelinga seraya menyibakkan ikal anak rambutku. Kata-katamu bagai pisau tajam yang merobek jantung. Ingin rasanya kutampar saja bibirmu namun kulihat dadamu turun naik. Susah payah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru, tanda kau pun mulai tak mampu mengontrol rasa yang mengharu biru. Situasi yang sungguh aku benci; terluka oleh Lelakiku yang dengan topengnya berusaha kuat padahal sisi dalam hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping juga.
Lirih katamu tadi kusambut dengan titik air menggantung di sudut mata. Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Siapakah yang mampu berpisah denganmu wahai Lelaki. Engkau yang menghias malam-malamku dengan lelucon jenaka, yang menyapaku di pagi hari dengan pesan-pesan puitis nan romantis, yang menemani hari-hariku dengan segala rengekan manja juga polah merajuk yang gila. Lelaki lain mungkin sudah menyerah menghadapiku, namun kamu tidak. Kamu terus ada, sabar juga setia. Setia jadi tempatku berkeluh kesah, setia meyakinkanku bahwa rasa itu nyata dan terus bertumbuh. Dan sekarang? Setelah kita berdua sedemikian yakin akan rasa ini, realita menampar rasa. Menghempaskan mimpi kembali ke bumi.
Semenjak hari itu, semenjak sore kelabu itu, kulalui setiap detik waktu dengan sengsara menahan rindu, teringat belai kasihmu. Dengan tatapan kosong memandang kotak ajaib di ruang tamu padahal pikiran ini melayang jauh pada memori kencan-kencan rahasia kita. Dengan isak yang tertahan diujung kamar (hati-hati jangan sampai suami mendengar) terbayang kecup mesra bibirmu melumat bibirku. Dengan kuah sayur yang berlebih takaran asinnya karena terngiang semua kata-kata gombalmu. Rayuan sampah yang sesungguhnya mampu menggetarkan sukmaku. Dan hari-hariku pun kelabu. Tak ada warna disitu, karena tak ada kamu. Aku ini bagai mayat hidup yang berusaha menjalani hari. Yang tersisa hanya raga padahal jiwa dan roh sudah melayang meminta bersamamu jika bisa.
“Bagaimanakah aku bisa bahagia jika tak ada kau dalam hidupku?” suaraku tercekat menahan tangis di gagang telepon. Setelah sekian hari, mungkin tujuh, tak mampu lagi logika mengatur hati. Hati yang memerintah logika, jadi kutelepon dia. Namun senyap yang menyambut kata-kataku. Tak ada jawaban, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Beberapa saat kemudian ada jawab dari seberang sana,“Temui aku ditempat biasa.”
Dan begitu melihatmu di ujung senja pantai kesayangan kita, aku menghambur dalam peluk kekar tanganmu. Tangisku pecah. Ah, sedemikian aku rindu pada Lelakiku, pada suara bariton khasmu yang selalu mampu menenangkanku, pada wangi jantan yang membuatku merasa aman. Dan kamu pun mengangkatku hingga sejajar dagu, lalu bibir ini bersatu. Berpagutan liar seolah lama tak bersua padahal hitungannya tak lepas seminggu saja. Meluapkan emosi tertahan yang menyiksa. Liar, panas, ganas. Senja elok itu ditutup dengan dengan gumulan tubuh yang berpeluh. Berdua nafas kita tersengal riuh.
Bukan kali pertama kita berusaha berpisah, karena kata orang cinta kita ini cinta terlarang. Entah siapa yang membuat aturan bahwa ini cinta terlarang, cinta halal atau haram. Aku benci aturan itu! Aturan konyol yang memaksa memadamkan cerita kasih ini. Namun entah mengapa, setiap kali mengambil keputusan untuk menyudahi roman cinta, setiap kali pula gagal. Paling lama tak bersua dari Ahad ketemu Ahad saja, namun rindu yang menggedor jiwa lebih keras dari keputusan untuk berpisah. Ah, sepertinya cinta sialan yang terlarang ini begitu kuat, mencengkeram erat bagai maut mengintai daging sekerat. Persetan dengan terlarang, ke laut saja itu norma. Kau adalah dosa terindah yang pernah kubuat dan jika ku harus dirajam karenanya… Biar, biarlah itu adanya. Kau. Aku. Kita. Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu……
Popularity: 6%
No related posts.
72 Comments for this entry
4 Trackbacks / Pingbacks for this entry
-
Kamu dan Pertanyaanmu - Cerita EKA
January 14th, 2010 on 12:27 PM[...] wajahmu. Disini, di pangkuanku, engkau terlelap tidur. Nyenyak seolah tanpa beban, padahal baru seminggu sebelumnya badai menghantam hidupmu, eh hidupku juga. Wajah ovalmu polos tanpa tersaput make-up, kamu nampak [...]
-
BERHENTI - Cerita EKA
January 26th, 2010 on 9:25 PM[...] 1. Kau. Aku. Diujung Senja Merah Itu [...]
-
Pelangi Rasa - Cerita EKA
February 3rd, 2010 on 3:51 PM[...] 1. Kau. Aku. Diujung Senja Merah Itu [...]
-
Tak Ada Judul - Cerita EKA
February 18th, 2010 on 10:01 AM[...] apabila ada waktu (siapa tahu berminat membacanya), berikut adalah rangkaian cerpen terdahulu: 1. Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu 2. Kamu dan Pertanyaanmu 3. BERHENTI 4. Pelangi [...]





January 11th, 2010 on 2:34 PM
Pass …
as ussual …
Hehehehe
#EKA#
thank u yah udah mampir hehehe
Iya Oom
January 11th, 2010 on 3:11 PM
Keren, sedih , haru, berjuta tanya pun hinggap
#EKA#
Tapi jangan sampai bingung ya eda
anny´s last blog ..Tidak musti menjadi “….”
January 11th, 2010 on 4:30 PM
keren sista
#EKA#
Thank u ya P&M
January 11th, 2010 on 4:42 PM
lhooo…komenku koq ndak bs masuk yah?
#EKA#
ada nih
bisa koq P&M
January 12th, 2010 on 10:42 AM
bikin yang lebih panjang mbak,,hehe
#EKA#
nantikan saja hehehe
Okeh!
risdania´s last blog ..Miss my new year trip
January 12th, 2010 on 1:51 PM
bermain kata2 lagi ya teh, hehehe….
bagus juga..
#EKA#
Iya.. kata2nya saling silang membentuk kalimat
thank u pujiannya Yos
January 12th, 2010 on 5:01 PM
udah mbaaaak..
bikin novel ajaaaa
#EKA#
doain aja Sari
January 13th, 2010 on 11:07 AM
setuju sama sari, mbak… ayo ayo tulisannya dipanjangin, trus kirim ke penerbit… =)
#EKA#
Aiiih kalian berdua koq hobinya ngompor2in
yoan´s last blog ..Another Nothing
January 13th, 2010 on 1:59 PM
uh, rimanya, temanya, sensasinya,
sungguh luar biasa.
dasar eka,
bloger tiada dua.
hidup cerita eka!
#EKA#
Aiiih uni, saya bisa terbang kepentok plafon kalo dipuji uni terus gituh
marshmallow´s last blog ..Gulai Telur dan Asam Lambung
January 14th, 2010 on 1:46 PM
oooowhhhh…
selingkuhhh lagii…
Tapi kau membawakannya dengan apik.. aku hampir bisa merasakan kegalauan yang dirasa tokoh utama..
coooooool!
#EKA#
Thank u ya Lenaaaa
jilena´s last blog ..Tantangan baru dalam dunia kerja
January 15th, 2010 on 11:19 PM
Entah lah mba… Gw gak suka cerita cinta manja terlebih selingkuh.. Gw gak bisa nikmatin ceritanya, penuh pertanyaan “Masa sih sampe segitunya?” di setiap cerita-cerita cinta kayak gini.
Buat Gw cerita yang kayak gini keliatan bangat bohongannya, karena Gw gak percaya sampe segitunya… mungkin karena Gw juga gak pernah ngerasa yang dibilang “cinta” sampe membutakan mata, bahkan mata hati…
ANW pemilihan kata-katanya bagus… kalo disisi ini Gw suka
#EKA#
biar tahu rasanya hahaha
Cerpen ini hadir dari hasil mengamati dan campuran sedikit imajinasi Bow. Heem mungkin lu perlu kesambet cinta dulu kali yah
January 17th, 2010 on 12:17 PM
Sudahlah, Juwitaku. Mari kita hentikan petualangan cinta terlarang kita ini. Biarkan aku menghindar dari kerlingan indah bola matamu. Tak usah kau simpan lagi rayuan gombalku di dalam bilik hatimu. Mungkin ini hanya ombak kecil yang sedang menggoncang biduk rumah tangga kita masing-masing.
#EKA#
Tak ada rayuan gombal yang terucap… bukankah kita bicara dengan bahasa tubuh?
Dan kamu menikmatinya bukan?
racheedus´s last blog ..Hikayat Si Pandai Besi dan Si Tetangga Cantik
January 20th, 2010 on 6:32 PM
keren banget tulisan dan bahasanya mbak
#EKA#
Trims yah
andipeace´s last blog ..Bergaya Dengan Kacamata
January 21st, 2010 on 3:33 PM
ooooohhhh….
#EKA#
Uuuuuuuuuuuuuh
January 22nd, 2010 on 11:00 AM
Selingkuh emang punya sensasi yang mendebarkan. Dan banyak orang yang suka dengan debaran itu hehehe…..
#EKA#
hahaha
Termasuk kamu? Suka juga?
ketauan deh! ^_^
Hajier´s last blog ..Ngeblog di tahun 2010
January 23rd, 2010 on 7:45 PM
biarkan cinta itu terus mengikuti arusnya
biarkan dia mendesir bak ombak yang senantiasa menyapu sang pantai….karena tak pernah mengikuti aturan yang pasti
#EKA#
hehehe
Cinta memang tak bisa diatur2
zulhaq´s last blog ..Sinting Masuk Kelas (SMK)