Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

Tanganmu dingin meremas jemari ini. Sedingin salju yang menutupi pohon plum yang berbunga di awal Januari. Sedingin hawa kematian yang berhembus leluasa di kamar jenazah. Sedingin, ah sedingin jiwa kita. Tanpa perlu kata-kata, kita berdua tahu untuk apa kita bersua. Disini, dipinggir pantai dengan hamparan pasir putih engkau menggenggam ruas-ruas jariku kuat, seolah menyatakan keenganan untuk berpisah. Tak ada aksara. Apalagi belai manja. Hanya debur ombak bermain dengan camar saja. Ironis, di depan elok semburat jingga mentari, kita diam dalam pikiran dan luka yang menyayat rasa.

“Ia mulai curiga. Sering ia mengecek ponselku diam-diam,” kataku memecah sepi. Kamu bergeming, hanya merapatkan pelukmu di pinggulku. Tak ayal kusenderkan kepalaku di pundak, mencari kehangatan. Ah bukan, tepatnya berusaha mencari perlindungan dari rasa gentar juga gelisah yang makin meraja.

“Mungkinkah ini waktu bagi kita tuk berpisah?” tanyamu tanpa berani menatapku. Dan aku diam tergugu, sebuah pertanyaan pahit dengan kadar kebenaran. Ada pedih didalam hatiku. Ada hati yang teriris-iris mendengar kata-katanya. Perih. Aku menutup telingaku, tak mau mendengarnya bicara lagi. Oh, duhai Lelaki.. Tolong… Tolonglah aku. Kumohon berhentilah bicara.

“Ku harap hidupmu bahagia dengan atau tanpaku,” bisikmu lirih ditelinga seraya menyibakkan ikal anak rambutku. Kata-katamu bagai pisau tajam yang merobek jantung. Ingin rasanya kutampar saja bibirmu namun kulihat dadamu turun naik. Susah payah berusaha menghirup oksigen banyak-banyak untuk mengisi rongga paru, tanda kau pun mulai tak mampu mengontrol rasa yang mengharu biru. Situasi yang sungguh aku benci; terluka oleh Lelakiku yang dengan topengnya berusaha kuat padahal sisi dalam hatinya mungkin sudah hancur berkeping-keping juga.

Lirih katamu tadi kusambut dengan titik air menggantung di sudut mata. Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Siapakah yang mampu berpisah denganmu wahai Lelaki. Engkau yang menghias malam-malamku dengan lelucon jenaka, yang menyapaku di pagi hari dengan pesan-pesan puitis nan romantis, yang menemani hari-hariku dengan segala rengekan manja juga polah merajuk yang gila. Lelaki lain mungkin sudah menyerah menghadapiku, namun kamu tidak. Kamu terus ada, sabar juga setia. Setia jadi tempatku berkeluh kesah, setia meyakinkanku bahwa rasa itu nyata dan terus bertumbuh. Dan sekarang? Setelah kita berdua sedemikian yakin akan rasa ini, realita menampar rasa. Menghempaskan mimpi kembali ke bumi.

Semenjak hari itu, semenjak sore kelabu itu, kulalui setiap detik waktu dengan sengsara menahan rindu, teringat belai kasihmu. Dengan tatapan kosong memandang kotak ajaib di ruang tamu padahal pikiran ini melayang jauh pada memori kencan-kencan rahasia kita. Dengan isak yang tertahan diujung kamar (hati-hati jangan sampai suami mendengar) terbayang kecup mesra bibirmu melumat bibirku. Dengan kuah sayur yang berlebih takaran asinnya karena terngiang semua kata-kata gombalmu. Rayuan sampah yang sesungguhnya mampu menggetarkan sukmaku.  Dan hari-hariku pun kelabu. Tak ada warna disitu, karena tak ada kamu. Aku ini bagai mayat hidup yang berusaha menjalani hari. Yang tersisa hanya raga padahal jiwa dan roh sudah melayang meminta bersamamu jika bisa.

Senja Merah“Bagaimanakah aku bisa bahagia jika tak ada kau dalam hidupku?” suaraku tercekat menahan tangis di gagang telepon. Setelah sekian hari, mungkin tujuh, tak mampu lagi logika mengatur hati. Hati yang memerintah logika, jadi kutelepon dia. Namun senyap yang menyambut kata-kataku. Tak ada jawaban, hanya helaan nafas saja yang terdengar. Beberapa saat kemudian ada jawab dari seberang sana,“Temui aku ditempat biasa.”

Dan begitu melihatmu di ujung senja pantai kesayangan kita, aku menghambur dalam peluk kekar tanganmu. Tangisku pecah. Ah, sedemikian aku rindu pada Lelakiku, pada suara bariton khasmu yang selalu mampu menenangkanku, pada wangi jantan yang membuatku merasa aman. Dan kamu pun mengangkatku hingga sejajar dagu, lalu bibir ini bersatu. Berpagutan liar seolah lama tak bersua padahal hitungannya tak lepas seminggu saja. Meluapkan emosi tertahan yang menyiksa. Liar, panas, ganas. Senja elok itu ditutup dengan dengan gumulan tubuh yang berpeluh.  Berdua nafas kita tersengal riuh.

Bukan kali pertama kita berusaha berpisah, karena kata orang cinta kita ini cinta terlarang. Entah siapa yang membuat aturan bahwa ini cinta terlarang, cinta halal atau haram. Aku benci aturan itu! Aturan konyol yang memaksa memadamkan cerita kasih ini. Namun entah mengapa, setiap kali mengambil keputusan untuk menyudahi roman cinta, setiap kali pula gagal. Paling lama tak bersua dari Ahad ketemu Ahad saja, namun rindu yang menggedor jiwa lebih keras dari keputusan untuk berpisah. Ah, sepertinya cinta sialan yang terlarang ini begitu kuat, mencengkeram erat bagai maut mengintai daging sekerat. Persetan dengan terlarang, ke laut saja itu norma. Kau adalah dosa terindah yang pernah kubuat dan jika ku harus dirajam karenanya… Biar, biarlah itu adanya. Kau. Aku. Kita. Teronggok mesra di ujung senja merah itu, bergemuruh, berusaha mencurangi takdir dan waktu. Entah sampai kapan mampu begitu……

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
This entry was posted in Anthology - Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

76 Responses to Kau. Aku. Di Ujung Senja Merah Itu.

  1. jilena says:

    oooowhhhh…
    selingkuhhh lagii…

    Tapi kau membawakannya dengan apik.. aku hampir bisa merasakan kegalauan yang dirasa tokoh utama..

    coooooool!

    #EKA#
    Thank u ya Lenaaaa :)
    .-= jilena´s last blog ..Tantangan baru dalam dunia kerja =-.

  2. Gandi Wibowo says:

    Entah lah mba… Gw gak suka cerita cinta manja terlebih selingkuh.. Gw gak bisa nikmatin ceritanya, penuh pertanyaan “Masa sih sampe segitunya?” di setiap cerita-cerita cinta kayak gini.

    Buat Gw cerita yang kayak gini keliatan bangat bohongannya, karena Gw gak percaya sampe segitunya… mungkin karena Gw juga gak pernah ngerasa yang dibilang “cinta” sampe membutakan mata, bahkan mata hati…

    ANW pemilihan kata-katanya bagus… kalo disisi ini Gw suka :D

    #EKA#
    Cerpen ini hadir dari hasil mengamati dan campuran sedikit imajinasi Bow. Heem mungkin lu perlu kesambet cinta dulu kali yah ;) biar tahu rasanya hahaha

  3. racheedus says:

    Sudahlah, Juwitaku. Mari kita hentikan petualangan cinta terlarang kita ini. Biarkan aku menghindar dari kerlingan indah bola matamu. Tak usah kau simpan lagi rayuan gombalku di dalam bilik hatimu. Mungkin ini hanya ombak kecil yang sedang menggoncang biduk rumah tangga kita masing-masing. ;-)

    #EKA#
    Tak ada rayuan gombal yang terucap… bukankah kita bicara dengan bahasa tubuh?
    Dan kamu menikmatinya bukan?
    .-= racheedus´s last blog ..Hikayat Si Pandai Besi dan Si Tetangga Cantik =-.

  4. andipeace says:

    keren banget tulisan dan bahasanya mbak :lol: :lol:

    #EKA#
    Trims yah ;)

    .-= andipeace´s last blog ..Bergaya Dengan Kacamata =-.

  5. itempoeti says:

    ooooohhhh…. :roll:

    #EKA#
    Uuuuuuuuuuuuuh ;)

  6. Hajier says:

    Selingkuh emang punya sensasi yang mendebarkan. Dan banyak orang yang suka dengan debaran itu hehehe…..

    #EKA#
    Termasuk kamu? Suka juga? :P hahaha
    ketauan deh! ^_^

    .-= Hajier´s last blog ..Ngeblog di tahun 2010 =-.

  7. zulhaq says:

    biarkan cinta itu terus mengikuti arusnya
    biarkan dia mendesir bak ombak yang senantiasa menyapu sang pantai….karena tak pernah mengikuti aturan yang pasti

    #EKA#
    Cinta memang tak bisa diatur2 :P hehehe

    .-= zulhaq´s last blog ..Sinting Masuk Kelas (SMK) =-.

  8. Pingback: BERHENTI - Cerita EKA

  9. Pingback: Pelangi Rasa - Cerita EKA

  10. Pingback: Tak Ada Judul - Cerita EKA

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s