Cerita EKA

Kiamat di 2012?

by cerita EKA on Nov.23, 2009, under Cermin Diri - Reflection, Movie

Film 2012 besutan sutradara Jerman Roland Emmerich ini mencuri perhatian publik karena temanya yang kontroversial: katanya sih kiamat bow! Duh sapa sih yang gak penasaran dengan akhir dunia ini? Gimana sih visualisasinya? Nah rasa penasaran tersebut yang membuat saya rela mengantri selama hampir 60 menit untuk mendapatkan tiket ajaib itu! Jangan salah, bukan berarti saya dapat kursi yang enak karena udah ngantri dari jauh-jauh hari alias dari sebelum 21 Cineplex Setiabudi Building dibuka, memang dapat di baris A yang paling atas tapi di pojok kanan! Alhasil setelah nonton kepala saya tengkleng alias pegel sebelah plus tumit kaki rasanya nyut-nyut (yang ini akibat berdiri ngantri dengan highheels setinggi 7cm. Manyun! Tambah manyun lagi ternyata si Frozzy beli pake M-tix gak pake ngantri! @#$%^&*?!

Ngantri

Nih liat antriannya. Parah kan?!

Film ini bercerita mengenai bencana alam yang telah diprediksi oleh para ilmuwan (geologis) berupa gempa dengan skala diatas 9 richer yang menimbulkan tsunami di seluruh jagat bumi. Untuk mengantisipasi musnahnya manusia dari sapuan tsunami  maka dibuatlah 7 bahtera besar. Siapa yang bisa masuk ke bahtera tersebut? Jelas dong yang berduit! Sementara di sisi lain terdapat seorang penulis Jackson Curtis berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya dengan cara apapun walaupun itu harus menyelundup ke bahtera besar. Sebenarnya menurut saya film ini bukan film mengenai akhir bumi lho, tapi tentang bencana alam dalam skala besar. Akhir ceritanya, dunia gak kiamat. Karena masih ada manusia yang bisa selamat melanjutkan kehidupan di daratan baru, benua Afrika.

Alur cerita film ini mudah ditebak, beberapa bagian bahkan kurang mampu memainkan perasaan padahal momennya pas sekali. Serba nanggung dan serba tidak masuk akal. Masa ada hujan vulkanik, bola api berterbangan ganas, pesawat kecil bisa lolos tanpa lecet sedikitpun. Mbok ya ekor pesawatnya kena dikit gitu lho biar rada membumi hehe. *siap-siap dikemplang. Sok ngatur-ngatur sutradara hehe.

Walau begitu untuk sound effect juga cara pengambilan gambarnya saya memberikan jempol. Momen ketika kota perlahan ludes ditelan gempa, atau tsunami mengintai di depan mata lumayanlah bikin deg-degan. Rasanya seperti diseret ke dalam film tersebut. Coba ada 3Dnya, weeeh kayaknya mantep deh! Btw untuk hasil yang maksimal disarankan untuk menonton di bioskop.

Terlepas dari jalinan ceritanya yang buat saya biasa banget, saya mempunyai catatan pribadi setelah menyaksikan film 2012 ini. Ada moral value tentang pentingnya kebersamaan keluarga. Tentang mengampuni dan memaafkan, karena sungguh kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Sakit sekali rasanya jika kita tidak bisa mengatakan “I love you or I am sorry” kepada orang-orang terdekat kita atau sekedar mengucapkan kata selamat tinggal kepada mereka. Kiamat itu rahasianya Tuhan, mungkin di 2012, atau bahkan mungkin besok. Kita tidak tahu! Namun yang pasti hari itu akan datang. Timbul pertanyaan, apakah kita siap? Adegan dimana seluruh keluarga pasrah saling berpelukan saat tsunami menyerang menggetarkan hati saya. Apabila saya mengalami kejadian itu, pada saat tidak berdaya karena tidak ada lagi tempat aman atau daerah untuk menyelamatkan diri, apakah saya sudah siap? Apakah saya dapat tersenyum penuh keyakinan bahwa roh ini akan dijemput Tuhan untuk masuk ke Taman Firdaus? Selagi masih ada waktu, saya ingin membenahi diri. Mohon maaf jika ada perbuatan atau perkataan saya yang pernah menyinggung hati. Yukz, mari bijaksana mempergunakan setiap detik yang ada untuk kebaikan sesama juga menyenangkan hati Pencipta kita.

Luv,

Eka Situmorang-Sir

VN:F [1.8.4_1055]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.4_1055]
Rating: +1 (from 1 vote)

Popularity: 3%

No related posts.

:

51 Comments for this entry

Leave a Reply

CommentLuv Enabled

the Sponsors