Kemeja Putih Berkancing Tujuh

#Minggu Pagi

Photobucket

Sedikit buru-buru aku merapikan anak poni di dahi, menjepit bulu mata dan menebalkannya dengan maskara (tentu saja waterproof),  menyaput pipi dengan blush on natural dan menutup sesi palsu-memalsu wajah dengan pulasan lipgloss bening mengkilat diatas bibir berlipstick pink. Aku mematut diri di kaca. Rasanya riasan hari ini cukup natural untuk pergi ke gereja, tidak terlalu medok seperti orang mau pergi dugem namun juga tidak terlalu sederhana hingga orang bisa mengira aku sakit tipus karena pucatnya wajah. Kusambar tas berisi Alkitab yang ada di meja dan menghampiri suami yang sudah siap dibelakang kemudi delman mobil. Kata maaf terucap karena urusan memoles wajah ini, kami jadi sedikit lambat berangkat dari rumah.

Cepat mobil dipacu, namun sayang, sudah bergegas saja kami tetap terlambat sekitar lima menit untuk ibadah di Minggu cerah itu. Begitu sampai di gereja, kursi-kursi sudah banyak yang penuh. Dan kami pun terpaksa mengolahragakan otot leher berusaha mencari kursi kosong disela-sela jemaat yang berdiri mengangkat nyanyian pujian. Persis seperti angsa dengan leher panjangnya yang berusaha mencari makanan diantara tingginya ilalang. Untungnya celingak-celinguk itu tidak bertahan lama karena seorang wanita awal empat puluhan dengan kemeja putih dan senyum hangat datang menghampiri. Ramah Ia membimbing kami menuju deretan bangku tengah yang ternyata masih menyisakan beberapa kursi kosong. Satu, dua, tiga kursi. Yup! Jumlahnya pas untuk diriku, suami, dan tas putih kesayanganku :)

Wanita dengan kepribadian menarik tadi menjabat tanganku sebelum menyilakan untuk duduk. Kami pun bertukar senyum. Setelah itu dengan khusuk aku mengikuti ibadah pagi. Di akhir kebaktian, ketika tiba waktunya memberikan persembahan kolekte* barisan wanita dengan kemeja putih berbaris rapi maju kedepan. Dengan senyum lebar mereka mengambil kantung kolekte kemudian mengedarkannya kepada semua jemaat yang ada. Aku memandangi barisan wanita tersebut tanpa berkedip. Dengan kemeja putih dan rok hitam panjang semata kaki mereka memberi diri melayani. Para wanita pengerja gereja tersebut terlihat begitu anggun, penuh kharisma, sinar kemuliaan seolah terpancar dengan kuatnya. Tak terkecuali wanita awal empat puluhan tersebut.

Aku tergagap, wanita anggun tadi sudah ada didepanku dan menyodorkan kantung kolekte. Lagi-lagi ia tersenyum memamerkan geligi putihnya. Ah, teringat senyum lebarnya menghangatkan hati yang tadi terburu-buru, lembut jabat tangannya seolah menyalurkan aliran kasih kedalam vena yang tadi tergagap karena terlambat. Ia terlihat suangat anggun bagai malaikat, begitu damai dengan kemeja putih dan rok hitam panjang itu. Walaupun tubuhnya tertutup rapat namun ia nampak sangat memesona. Kharisma yang begitu besar membuatku terbenam dalam auranya. Ada rasa aneh menyelinap di dada. Mungkinkah ini waktuku untuk melayani juga? Untuk melepaskan semua rok pendek atau pakaian dengan belahan dada rendah? Untuk menjaga gaya pakaian dan tingkah lakuku? Pertanyan-pertanyaan yang patut direnungkan lebih dalam.

#Senin Pagi

Ku keluarkan sebuah kemeja putih berkancing tujuh dari dalam lemari. Bayangan keanggunan wanita pengerja gereja kemarin masih lekat dalam ingatan. Auranya, kharismanya, kemuliaannya. Ah, aku menghela nafas. Saat sekali lagi kupandangi kemeja putih yang ada dalam telapak tangan. Tekadku bulat. Aku akan mengenakan kemeja putih berkancing tujuh tersebut. Namun tentu dengan tiga kancing atas dibuka. Don’t be ridiculous, belum sanggup aku berpakaian rapat macam mereka.

Photobucket

*Kolekte: suatu prosesi di dalam ibadah Nasrani dimana jemaat memberikan uang sebagai persembahan untuk dikelola gereja.

Tentang Ceritaeka

A wife. Known as a friendly cheerful person with a non-stop talking character. Choco addict. High-heels fans also a traveling lover. Simply give her friendship, love, freedom and FUN will be in the air.
This entry was posted in Cermin Diri - Reflection, Daily and tagged , , . Bookmark the permalink.

88 Responses to Kemeja Putih Berkancing Tujuh

  1. DM says:

    Duh, pikiran nakalku hampir saja membaca begini:
    “Kuhampiri tas berisi Alkitab yang ada di meja dan kusambar suami yang sudah siap …” rupanya kebalik. Maap. (Kata maaf terucap karena urusan memoles tulisan ini, aku jadi sedikit lambat membaca :grin: )

    Yang membut wanita itu begitu memesona bukan semata pakaiannya. Mungkin betul. Tapi lebih dari itu, karena beliau memilik Taksu. Taksu asalnya dari dalam. Dari hati. Kau bisa kalau kau mau ;-)
    .-= DM´s last blog ..Suksma =-.

  2. Pingback: Stop Press! - Cerita EKA

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

Gravatar
WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s