Pernah lihat ikan berwarna hijau metalik? Atau koneng terang? Well, beruntungnya saya, dua minggu lalu berkesempatan untuk menikmati ikan-ikan ciptaan Tuhan yang maha indah itu berenang bebas di depan mata lengkap dengan karang dan koral yang ciamik
Sabtu 26 September 2009
Berangkat pagi-pagi buta dari rumah saya yang diujung berung menuju Pelabuhan Muara Angke. Jangan bayangkan kapal mewah macam speedboat, yang menyeberangkan adalah kapal perahu bow! Perahu kayu. Sesak dan penuh. Rada ngeri siy, tapi melihat semua teman pada enjoy aja, ya sudah saya telan bulat-bulat ketakutan itu. Hamba serahkan nyawa hamba ditanganMu ya Tuhan (lebay.com mariiii silahkan ditimpuk, tapi pake duit yee
) Lama perjalanan antara 2-3 jam jika berangkat dari Muara Angke, harga tiketnya IDR 30.000. Tapi kalau mau cepat ya bisa berangkat dari Ancol, cuma 1 jam juga sampai namun tiketnya 4-5x lipat mahalnya.
Tenang kapal yang dari Muara Angke bukan seperti ini koq, walaupun mirip-mirip (cuma lebih gede aja). Ini kapal yang menghubungkan antara pulau satu dengan lainnya. Meski namanya Pulau Seribu, ketika saya coba menghitung buka webnya Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, ternyata hanya tinggal sekitar 110 pulau saja yang ada. Itupun tidak semua bisa ditinggali. Kami menginap di Pulau Pramuka, pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Seribu. For your information, listrik dan air tawar sulit disini. Ya namanya juga dipulau gitu lhoo. Listrik hanya nyala di malam hari saja, mulai jam 4 sore hingga jam 7 pagi. Jadi kalau mau kesini, siapin deh baterai handphone atau kamera. Khusus buat hape, walaupun baterai sudah penuh, itu bukanlah jaminan bisa tetap kontak dengan dunia luar. Karena…. Sinyal susah!
Provider A**S, and E**A tewas seketika, yang kuat bertahan cuma yang dibintangin si Luna Maya doank.
Setelah leyeh-leyeh plus makan siang sebentar langsung siap-siap deh mau snorkling. Tujuan pertama adalah Pulau Semak Daun.
Akhirnya setelah 20 tahun lebih saya tinggal di Jakarta, dan sepanjang hidup itu belum sekalipun menginjakkan kaki di salah satu kabupaten yang dulunya merupakan bagian dari kotamadya Jakarta Utara, tempo hari bisa juga setor muka ke pulau-pulau
. Asli saya baru tahu bahwa sepelembaran batu dari Teluk Jakarta ada pemandangan seelok ini dengan biaya terjangkau, cukup IDR 475.000 /orang sahaja sudah all in (harga sharing trip).
Setelah puas snorkling dan berenang di laut bermandikan cahaya, menjelang sore kami pulang untuuuuuk…… YUP! Makan-makan donk
eunaaak tenan, ada bermacam ikan, cumi, udang, lobster smua tersedia
hehehehe plus menyanyikan satu lagu ulang tanggal untuk Citra yang katanya genap berusia 17 tahun plus-plus
hehehe
Hari kedua kami menuju ke Pulau Kotok. Ini merupakan pulau penangkaran Elang Bondol yang menjadi maskot ibukota negara ini. Tahu gak sih, Elang Bondol atau elang laut itu kian lama kian menyusut populasinya. Di konservasi ini, ada tiga sarang untuk para elang-elang yang gagah. Dua di darat dan satu lagi di laut. Setelah mereka nanti terbiasa dan sudah cukup kuat maka mereka akan dilepas ke alam bebas.
Oh ya pulau Kotok ini juga merupakan tempat penyu bertelur. Sedangkan untuk suami saya, ini adalah tempat untuk molor!
hahaha
Sayang sekali, gak ada waterproof camera. Jika ada pasti sudah saya bagi deh foto-foto karang dan koral cantik yang indah-indah itu. Maaf ya kali ini, mesti puas liat-liat poto narsis saya saja
Btw, tempo hari saya pernah menulis mengenai ekowisata dan saya sedih tidak dapat mempraktekkannya dengan benar padahal ada kesempatan di depan mata. The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 mengatakan bahwa:
“Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people.”“Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.
Saya sempat menginjak karang di pulau Semak Daun dan ada yang memarahi karena itu bisa mematikan kehidupan si karang tersebut. Weleh! Mana saya tahu. Oleh karena itu, saya pribadi berpendapat, siapapun yang datang untuk snorkling itu selayaknya dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai bagaimana kita menikmati keindahan terumbu karang dan ikan-ikan itu tanpa merusaknya. Hal yang saya cemaskan adalah banyak wisatawan yang tidak mengerti mengenai hal ini (bukan karena sengaja ingin merusak ya). Oleh karena itu sosialisasi akan pentingnya berwisata alam (ecotourism) selayaknya gencar dilakukan. Jika tidak, keindahan alam itu bisa hilang terkena jamahan manusia.
Satu dosa lagi soal pelanggaran definisi ecotourism yang saya lakukan adalah saya lupa menjaga harmonisasi dengan penduduknya. Bingung? Saya kasih contoh ya, karena namanya pantai maka saya menyiapkan busana yang (menurut saya) cocok dipantai. Namun ternyata kurang sesuai dengan budaya masyarakat disana.
Ketika berjalan di dermaga menggunakan pakaian ini, ada yang nyletuk.. ”waaah yang maen ke pulau Seribu sekarang pakaiannya mulai terbuka ya.” Padahal baju sundel bolong yang saya pakai itu jelas-jelas untuk menunjukkan bahwa saya manusia beneran! Tuh liat punggung saya gak bolong koq. Aniway, trip ke Pulau Seribu kemarin selain memberikan foto-foto keren, juga pelajaran yang luar biasa. Mulai dari kebersamaan, keceriaan, keindahan alam dan rasa bangga akan cantiknya alam Indonesia. Travel Warning: Indonesia is dangeriously Beautiful!
Walaupun pulangnya saya ketinggalan kapal, terombang-ambing di ombak yang agak gede (sempet agak mabok makanya pas pulang tidur doank) tapi saya pengen lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Ohya soal ketinggalan kapal itu, pahit deh padahal saya sudah lari-lari, sudah melambai-lambaikan tangan dari kejauhan namun itu kapal terus saja melaju meninggalkan saya dengan kecemasan karena next boat is tomorrow! Alias mesti nginep semalem lagi booow…. Untungnya ternyata masih ada satu kapal cadangan di dermaga lain yang berjarak +/- 500m dari situ. Untung deh!
Bisa pulang juga
Soooo, see you in the next trip!













wah, enaknyoo!! pengeeenn!!
bersyukurnya.. bisa menikmati ciptaan TUHAN yang begitu idaaaaaaaaaaaaah di kepulauan 110.. (berdoa semoga punya kesempatan kesana)
*btw, itu yang di foto punggung nya sapa ya Sist.. kok gedee banget*
xiixixix… piss
Eka, aku iri…..
Foto2nya indahhhhhh banged….
suasananya jg menyenangkan, berenang mesra pula ya dengan suami ihihhihih…
guaaa suka main ke pantai.. bukan untuk berjemur, tapi buat lari2an karena kena ombak. Padahal cuma dipinggir pantai doang. secara, gua ga bisa berenang
Travel writing. Keren, Ka!
Dan kini aku yakin: punggungmu tak bolong seperti yang banyak didengung-dengungkan…
.-= DM´s last blog ..Suksma =-.
nice punggung… eh nice photos maksud saya bu….
yaiyalah bukan sundel bolong…. mana ada sundel bolong cakep kayak kak eka 
.-= marina´s last blog ..Dear God =-.
hwaaa seruuuuuu
tmpatnya sangat bagus lautnya masih biru hijau …