Menjelajah Jalan Darat Sumatera
by cerita EKA on Sep.25, 2009, under Daily, Fresh-Travelwan, Voyage
Apa sih yang ada di benak ketika mendengar kata menjelajahi daratan Sumatera? Apakah yang terbayang di pelupuk mata adalah tikungan tajam berkelok, hamparan hijau hutan perawan plus jalanan rusak yang ajrut-ajrutan alias medan yang hancur? Jangan kira senyum kecut atau nyali ciut yang ada diwajah saya, justru yang seperti itu yang memacu adrenalin dan membuat darah ini bergejolak. Saya dan ayah saya (yang sama gilanya) sukses meyakinkan seluruh keluarga untuk mudik ke Tebing Tinggi, Sumut , dengan mobil dari Jakarta. Tanpa supir namun tentu berbekal peta
. Sebuah keputusan yang akhirnya bisa dilakukan setelah berdebat panjang dengan mama yang ngotot pulang dengan jalur udara saja. Hei, ini bukan soal pengiritan uang, ini petualangan! Dan aroma petualangan itu tercium kental di udara.
Kami berangkat jam sepuluh malam dari Jakarta agar bisa menyeberang Selat Sunda dan merapat di Lampung pagi-pagi benar. Sarapan sekedarnya di kota lampung yang terkenal dengan keripik pisangnya itu, perjalanan dilanjutkan dengan membelah jantung kota Bandar Lampung, terus melewati Bukit Kemuning, Baturaja dan Muara Enim. Kami harus bergegas, sebelum hari gelap harus bisa melampaui Lahat yang terkenal dengan bajing loncatnya itu. Jika matahari sudah condong sore dan Lahat belum juga terlewati, maka harus berhenti dikota Lahatnya. Perjalanan malam sesudah Lahat sangatlah rawan. Daripada pergi mengantarkan harta dan mungkin juga nyawa ke tangan perompak lebih baik cari selamat. Beruntung, semuanya sesuai perkiraan, kami melewati kota lahat pukul 15.30 sore jadi masih berani lanjut ke Muara Beliti dan berhenti di Lubuk Linggau pukul 18.30. Sudah menjadi kesepakatan bahwa kami tidak akan jalan malam. Jadi kami beristirahat memulihkan tenaga untuk perjalanan esok.
Keesokan pagi, sesudah tangki bensin diisi full, perjalanan pun dilanjutkan. Satu pelajaran penting, jangan pernah menunda untuk mengisi bensin karena jarak antara satu kota dengan kota lainnya sangatlah berjauhan. Dan belum tentu ada SPBU di setiap kota! Jadi jika bensin tinggal ¼ tangki haruslah disiplin mengisi. Mobil dipacu dengan kecepatan sedang antara 100 – 120km/jam. Jalanan masih mulus namun turun naik. Ada satu momen ketika melewati perbukitan rasanya mau menangis. Saya belum pernah melihat pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Bukan cuma hijau daun namun juga indahnya bukit. Sejauh mata memandang terhampar bukit – bukit lain dengan gradasi warna hijau dan kuning, berkilat diterpa matahari.
Disini jalanan yang kami lewati adalah jalan – jalan yang tidak ada tantangannya. Jalannya lurus-lurus dan lebar. Sebenarnya ini malah bahaya karena bisa bikin mata mengantuk. Namun ada tips mujarab untuk mencegah si kantuk itu muncul. Tahu sendiri kan orang batak kalau sendirian akan bernyanyi, kalau dua orang berkumpul main catur, nah kalau lebih dari tiga orang apalagi sampai ada 6 orang dalam satu mobil, tebak apa yang terjadi? Yep betul! Koor dengan pembagian nada suara yang terdengar
hihihi. Dijamin siapapun yang nyetir gak bakalan ngantuk deh ketika mendengar suara fals saya. Hahaha
Kota pemberhentian untuk bermalam setelah Lubuk Linggau adalah Bukittinggi. Di Bukittinggi saya lupa menginap dimana, namun hotelnya dekat sekali dengan benteng Fort De Kock. Waaah di kota yang sejuk ini saya sempat plesir ke Jam Gadang dan mampir ke Pasar Atas membeli kain bordir. Selain benteng, keadaan geografis kota Bukittinggi yang memang berbukit-bukit menghadirkan wisata Lembah Ngarai Sianok. Buktikan sendiri panoramanya, luar biasa indah!
Selain itu terdapat sebuah museum kebudayaan Minagkabau di Taman Bundo Kanduang dengan replika Rumah Gadang yang ciamik itu.
Selepas dari Bukit tinggi, menurut saya perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Karena harus melewati kelok sembilan. Jangan kira karena namanya Kelok Sembilan terus belokannya cuma ada sembilan yah. Belokannya banyak! Saking curam dan banyaknya kelokan, ketika belok, ekor mobil belum lurus, hidung mobil udah belok lagi! Adik bungsu saya sampai mabuk darat, muntah – muntah terus. Jalannya sempit banget, di satu sisi ada tebing, di sisi lainnya ada jurang. Pheeuw! Pernah memarkir mobil di gang yang sempit? Saking sempitnya sampai deg-degan takut nyenggol? Naaah jalanan melewati Kelok Sembilan ini jalannya kecil, bahkan tidak semua spot bisa berpapasan dengan bis. Kalo di gang sempit, nyenggol kan paling mobilnya lecet plus diomelin orang, nah kalo disini, meleng dikit nyawa taruhannya. Nyebur ngarai!
gambar dipinjam dari sini
Melalui kelok sembilan, saya merasakan kerjasama dengan para pengendara lain, karena gak bisa serabat serobot sembarangan. Dari jauh jika sudah melihat ada kelokan sempit namun ada bis yang sedang menuju, maka harus berhenti memberi jalan. Antisipasi. Bayangkan kalau papasan di kelokan yang sempit itu, apa gak terguling ke jurang? Hmmm, antisipasi dan saling mengalah ini sesuatu yang langka di Jakarta. Hiruk pikuk Jakarta seolah melegalkan keinginan menang sendiri, prinsipnya kalo bisa gue duluan ngapain ngalah. Nah kalau prinsip itu ngotot dibawa ke jalan lintas Sumatera, silahkan pulang membawa nama alias almarhum deh. Selepas kelok sembilan mata ini masih terus dimanjakan. Tuhan memang maha besar, panoramanya luar biasa. Jika bisa melihat apa yang saya lihat, pastilah semua bibir melontarkan puja puji syukur kepada Allah. Oh ya kalau dikota disenggol orang, mungkin mengumpat “monyet” nah disini tak perlu mengumpat, para monyet berkeliaran bebas
. Ular menyeberang jalan seenaknya, babi hutan sesekali juga nampak. Hutannya perawan. Ruaaar biasa! Liar bener.
Perjalanan yang biasanya ditempuh 3 hari 2 malam itu, kami tempuh selama 4 hari 3 malam. Kurang lebih 2000 km dari Jakarta. Lhaaa tiap ada spot yang bagus berhenti je. Makanya saya bilang ini adalah petualangan. Sayang, sedikit foto yang bisa ditampilkan karena dokumentasi itu banyak yang rusak tersapu banjir awal tahun ini. Lelah? Iya. Tapi senangnya bukan kepalang. Setelah itu kami pun sampai di Parapat dan menyeberang ke danau toba. Menikmati cantiknya alam Pulau Samosir sebelum esoknya bertolak ke Tebing Tinggi menuju rumah Opung.
Saya teringat petualangan beberapa tahun lalu tersebut ketika membuka – buka majalah travelwan, yang mengulas tentang Travel Writing Class – Make money with your journey. Heeeem semoga saya bisa jalan – jalan keliling Sumatera, keliling pelosok Indonesia, negara, bahkan benua lain dan menuliskannya. Wow, seru banget kan bisa mblusuk lalu bebas bercerita dengan gaya saya dan dipublikasikan di majalah. Hey, when you have the the joy, the FreSh ambiance and the Freedom of Sharing, isn’t very tempting?

So, cerita dong bagaimana mudik teman – teman semua?
Libur lebaran kemaren, saya sibuk ngulak-ngulik majalah travel aja
Popularity: 3%
Related posts:











October 4th, 2009 on 11:26 AM
Eka…
Wah mau jadi travel writer toh? Sip-sip…
Kapan2 kita jalan bareng deh!
Mang Manullang´s last blog ..Bencana: Ujian, Peringatan atau Azab?
October 5th, 2009 on 7:37 PM
mudik kemarin saya lewat darat juga. numpang bis yang lewat jalur timur yang lebih mulus. baliknya sih lewat udara…
di kampung saya jalan-jalan terus.
morishige´s last blog ..Langkah (16): Padang Bay City
October 6th, 2009 on 7:40 PM
Saya gak mudik mbak…

Silahturahmi ke teman N tetangga aja gak sempat, soal’x mesti bolak balik ke rumah sakit.
Dari hari pertama sampai hari ke 5 lebaran si mama masuk RS sih.
Kalo yang paling saya tahu soal Sumatra cuma tanah batak’ ama kain ulos.
Hmmm, padahal sebenernya sumatra itu luas, dibagi2 pula…
Cuma sumatra utara emang yang paling greget di hati
Kalo soal jalannya yang berkelok2, malah baru denger…
Lebih berkelok jalanan disana apa di Papua (terlebih Jayapura – Timika) yah..??
Zippy´s last blog ..Salah Persepsi
October 8th, 2009 on 6:11 PM
melintasi lintas sumatera merupakan pengalaman yang seru dan menarik. salah satunya adalah jalan lintas padang jambi. view pegunungan menjadi menu utama melintasi jalan tersebut. jika berangkat dengan bus (yang biasanya malam), maka kita tidak bisa menikmati sajian istimewa tersebut. jika anda pengen coba, lakukanlah dengan mobil pribadi. atau mo yang lebih ekstrem, start your motorcycle enggine….
Berry Devanda´s last blog ..Sumatera Earthquake : How to Donate
October 16th, 2009 on 8:52 PM
Dulu jaman kuliah, Padang – Bandung pake bis yang non AC pula.. kena asep rokok, debu karena jendela dibuka biar ada angin cepoi2, ga mandi.. lengkap deh.. nyampe2 dah kucellllll abiissss
Ade´s last blog ..…
October 22nd, 2009 on 10:15 AM
kapan yah bisa ngerasain pulang kampung, tapi jalan darat?? kayaknya seru banget kak…